Views: 94

Views: 94

Pendahuluan

Berdasarkan hasil tracer study yang dilakukan Prodi, didapatkan fakta bahwa dalam kurun waktu 10-15 tahun terakhir, lulusan Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS yang kemudian melanjutkan studi S2 terbilang cukup banyak. Ada yang langsung, ada pula yang jeda 1 atau 2 tahun bahkan lebih. Sebagian besar lulusan melanjutkan studi ke Prodi S2 Pendidikan Sejarah UNS (UNS memiliki prodi S2 dan S3 Pendidikan Sejarah). Sebagian lainnya melanjutkan ke beberapa perguruan tinggi lain (beberapa studi lanjut ke S2 Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada).

Sayangnya, jumlah lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNS yang kemudian melanjutkan S2 di luar negeri terbilang masih sangat sedikit. Berdasarkan informasi yang ada, lulusan S1 Prodi Pendidikan Sejarah UNS yang berhasil lanjut studi ke luar negeri baru tercatat 3 orang, antara lain di Suleyman Demiral University di Turki (Angkatan 2019), University of Lucknow di India (Angkatan 2016), dan Lancaster University di Inggris (Angkatan 2013). Ketiganya berangkat studi lanjut S2 belum lama ini (2024 dan 2025) sehingga saat ini masih proses menempuh perkuliahan di luar negeri. Mereka bertiga bisa dibilang sebagai “perintis dan pelopor” yang mengawali tradisi studi S2 ke luar negeri bagi lulusan Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS (dengan catatan jika tradisi ini akan terus berlanjut ke depannya).

Melanjutkan studi ke luar negeri memang bukan perkara mudah. Selain faktor penguasaan bahasa asing (utamanya bahasa Inggris), juga terdapat faktor-faktor lain yang dijadikan pertimbangan seperti siap tidaknya berpisah sementara dengan keluarga di rumah, tertarik tidaknya ke luar negeri, atau masalah keberanian/mentalitas. Namun bersamaan dengan itu semua, ada faktor lain yang tidak kalah penting. Apa itu? Masalah kesiapan finansial selama menempuh studi di sana. Lanjut studi S2 tidak sekedar soal niat dan siap bahasa semata, tetapi juga harus memikirkan secara matang perihal pembiayaan (untuk 2-3 tahun di negeri orang).

Untuk itu, sebuah hal yang wajar bila mereka yang melanjutkan studi S2 di luar negeri, mati-matian berjuang mendapatkan beasiswa pendidikan. Beasiswa itulah yang nantinya sangat berarti dalam menopang biaya pendidikan (SPP/UKT, ujian, penelitian, buku, jurnal, media/alat penunjang belajar, dan lain-lain) dan juga biaya hidup sehari-hari (akomodasi/kos/apartemen, makan, pulsa, pakaian, transportasi, dan lain-lain).

Sayangnya, tidak semua orang (dalam hal ini para lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNS) mengetahui informasi perihal tawaran-tawaran beasiswa pendidikan S2 ke luar negeri. Sejauh ini yang paling familiar adalah beasiswa LPDP dan BPI. Ada sebagian mahasiswa yang memang belum paham (tidak mendapatkan informasi) perihal tawaran beasiswa S2 sehingga akhirnya tidak pernah mencoba. Ada sebagian yang sudah mengetahui tetapi takut mencoba (entah takut jauh dengan keluarga, terkendala bahasa, atau faktor lainnya). Ada sebagian yang sudah mengetahui tetapi malas mencoba karena tahu bahwa syarat-syaratnya cukup rumit atau berat. Namun ada pula mereka yang tahu dan memberanikan diri mencoba peruntungan mendaftar beasiswa S2 dan akhirnya diterima.

Dalam kerangka inilah tulisan pemberitaan singkat ini dibuat. Tujuannya agar informasi terkait tawaran-tawaran beasiswa studi lanjut S2 utamanya beasiswa ke luar negeri semakin tersebar secara luas. Tidak hanya pada tataran perluasan informasi saja, tentunya agar lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNS yang melanjutkan S2 ke luar negeri semakin banyak ke depannya.

Dalam kesempatan ini, akan disajikan pengalaman dan kiat-kiat bagaimana memperoleh beasiswa S2 Perguruan Tinggi di Turki (untuk beasiswa S2 di negara lain insyaAllah menyusul). Tak hanya itu, juga diceritakan bagaimana protret sistem perkuliahan di Turki, tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi, dan strategi seperti apa agar mampu beradaptasi mengikuti perkuliahan di sana.

 

Tawaran Beasiswa dan Cara Meraihnya

Pemerintah Turki menawarkan program beasiswa bernama Türkiye Bursları (YTB) yang dapat diikuti oleh seluruh pelajar dari berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Program beasiswa ini dapat diikuti bagi pendaftar S1, S2, S3 hingga exchange (pertukaran pelajar). Sistem beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Turki ini langsung terintegrasi antara beasiswa dan kampus-kampus di Turki, sehingga pendaftar tidak perlu repot-repot mendaftar secara mandiri ke kampus di Turki untuk mendapatkan LoA (Letter of Acceptence). Apabila pendaftar mendapatkan beasiswa YTB, secara otomatis akan langsung mendapatkan penempatan kampus dan jurusan. Hal tersebut dikarenakan beasiswa YTB telah bekerjasama dengan lebih dari 200 universitas yang ada di Turki.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka peluang diterima beasiswa YTB yang cukup besar setiap tahunnya. Total pendaftar dari seluruh dunia mencapai angka sekitar 150.000 orang dengan jumlah diterima 4000-5000 pelajar setiap tahunnya. Dari jumlah yang diterima tersebut, Indonesia rata-rata dapat mengirimkan 70-100 orang sebagai penerima beasiswa YTB. Peminat yang cukup besar juga dipengaruhi karena beasiswa ini tidak mewajibkan adanya TOEFL/IELTS. Sebaliknya mahasiswa akan diberikan kesempatan untuk belajar bahasa Turki selama satu tahun yang akan digunakan sebagai bahasa pengantar dalam perkuliahan nantinya. Selain itu, bagi pendaftar program S2 dan S3 tahapan beasiswanya cukup simpel yaitu hanya administrasi dan wawancara.

Info lengkap mengenai Beasiswa Türkiye Bursları (YTB) dapat diakses melalui website resmi https://www.turkiyeburslari.gov.tr/ atau Instagram @turkiyeburslari. Calon pendaftar dapat memahami syarat-syarat yang ditentukan dan membuat akun pendaftaran untuk selanjutnya mengisi portofolio administrasi yang dibutuhkan. Program beasiswa dari pemerintah Turki ini biasanya akan dibuka pada bulan Januari – Februari setiap tahunnya. Seluruh proses pendaftaran beasiswa ini gratis dan dapat dilakukan secara online, namun untuk proses wawancara biasanya dilakukan secara langsung bersama tim beasiswa dari Turki di Jakarta sekitar bulan Mei atau Juni.

Benefit yang ditawarkan oleh beasiswa YTB mulai dari biaya kuliah, uang beasiswa setiap bulannya, visa pelajar, tiket pesawat, asuransi kesehatan, asrama, hingga program self development dan jalan-jalan gratis di Turki. Beasiswa Türkiye Bursları (YTB) menjadi salah satu program beasiswa incaran yang popular bagi seluruh pelajar di dunia. Meski tahapan pendaftarannya terlihat mudah, pada nyatanya banyak pendaftar yang tidak cukup sekali-dua kali agar tembus lolos beasiswa ini. Selain niat dan keinginan yang kuat, apalagi yang perlu disiapkan?

 

Yang Harus Disiapkan

Selain niat, tekad dan keberanian, banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh calon pendaftar beasiswa Türkiye Bursları (YTB). Seperti halnya beasiswa ke luar negeri lainnya, ada banyak berkas yang menanti untuk diurus oleh para pendaftar. Pertama, calon pendaftar perlu membuat akun beasiswa melalui website Türkiye Bursları, selanjutnya tahap pengisian portofolio dimulai. Pendaftar akan diminta mengisi data diri, informasi pendidikan, kegiatan akademik dan sosial yang pernah diikuti, pengalaman kerja/magang, pengalaman volunteer, hingga surat rekomendasi dan lain sebagainya. Berkas-berkas ini hanyalah tahap permulaan sebelum akhirnya pendaftaran pada bulan Januari – Februari dimulai.

Kedua, apabila pendaftaran beasiswa telah dibuka, setelah melengkapi seluruh portofolio, pendaftar akan diminta menulis LOI (Letter of Intent), research plan, hingga memilih universitas dan jurusan. Setelah memastikan berkas lengkap pada tahap administrasi, pendaftar bisa melakukan finalisasi pendaftaran. Ketiga, bagi pendaftar yang lolos ke tahap wawancara, pengumuman akan disampaikan melalui email dan akun beasiswa masing-masing. Perlu diingat bahwa proses beasiswa ini memakan waktu yang lumayan lama karena pendaftarnya ratusan ribu dari berbagai negara di dunia. Pada tahap wawancara peserta akan diminta untuk datang ke Jakarta bertemu dengan tim beasiswa YTB yang hadir dari Turki dengan membawa berkas-berkas yang sebelumnya sudah didaftarkan. Selanjutnya tahap pengumuman akhir yang paling ditunggu-tunggu biasanya akan diumumkan sekitar bulan Agustus – September. Keberangkatan penerima beasiswa ke Turki biasanya akan dijadwalkan pada bulan Oktober.

 

Gambaran Kuliah S2 di Turki

Sebagai penerima beasiswa Türkiye Bursları (YTB) yang saat ini tinggal di Turki, penulis (Aulia) tengah menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiswa S2 Jurusan History di Suleyman Demirel University. Pada awal kedatangan di Turki, ada banyak hal yang perlu diurus, seperti berkas daftar ulang ke universitas, pendaftaran kuliah bahasa, registrasi asrama, pengurusan akun bank Turki, hingga pembuatan Ikamet (semacam KTP Turki sebagai izin tinggal). Penyesuaian dengan lingkungan baru, perbedaan cuaca, perbadaan bahasa dan budaya menjadi tantangan tersendiri. Apa yang dialami secara langsung seringkali tidak seindah postingan sosial media. Perlu mental dan motivasi yang kuat untuk dapat bertahan tinggal serta berkuliah di luar negeri.

(Potret Kedekatan Mahasiswa Internasional di SDU)

Pada tahun pertama di Turki, penerima beasiswa YTB akan mengikuti kuliah Bahasa Turki di kampus masing-masing. Pada kenyataannya, mempelajari bahasa baru bukan hal yang mudah tapi bisa diusahakan. Saat mengikuti kuliah bahasa biasanya kita akan ditempatkan satu kelas dengan mahasiswa internasioal lain sehingga akan membuka pintu relasi dan jaringan secara lebih luas. Kuliah di Turki bukan hanya membawa kita untuk mengenal budaya Turki, tapi juga mengenal budaya dari berbagai negara di dunia. Penulis seolah menjadi salah satu “duta budaya dan pariwisatanya” Indonesia di Turki. YTB juga menyediakan program self development yang di dalamnya sering dibarengi dengan jalan-jalan gratis di Turki. Ini adalah kesempatan emas bagi para mahasiswa internasional untuk dapat menjelajahi Turki lebih luas.

(Gedung Perkuliahan di SDU)

(Perpustakaan SDU)

Tahun kedua kuliah di Turki, penerima beasiswa YTB yang telah berhasil mendapatkan sertifikat C1 Bahasa Turki dapat melanjutkan perkuliahan di jurusannya masing-masing. Hampir seluruh universitas di Turki yang telah bekerjasama dengan YTB mempunyai fasilitas yang lengkap dan modern bahkan berstandar internasional. Ruang perkuliahan yang nyaman, laboratorium yang lengkap, perputakan yang memadai, rumah sakit kampus, ruang terbuka hijau yang luas serta para staff pengajar yang ramah dan profesional. Jika dibandingkan dengan Indonesia, nuansa perkuliahan di Turki terasa lebih santai dan nyaman. Komunikasi dengan para hoca (dosen), senior/kakak tingkat, dan teman seangkatan terjalin lebih akrab dan santai.

(Meydan/Lapangan Utama Kampus SDU)

Sebagai penutup, perlu kita pahami bahwa dibalik setiap keindahan ada sebuah perjuangan yang perlu terus diusahakan. Hal-hal baik jangan hanya ditunggu, tapi bisa kita raih melalui usaha dan doa. Meski terkadang merasa “biasa saja”, rupanya meraih beasiswa ke luar negeri bukanlah hal yang mustahil bagi penulis, tentunya sangat mungkin juga untuk para pembaca. Oleh karena itu, ciptakan peluangmu untuk cita-cita besar yang kamu impikan, semangat!

 

Oleh: Aulia Fatimatuz Zahra, S.Pd. (Mahasiswa S2 Jurusan Sejarah Suleyman Demiral University Turki; Alumni Prodi Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2019)/ Dadan Adi Kurniawan (Prodi Pendidikan Sejarah UNS)

Komentar