Views: 9
Views: 9
Kuliah Umum Dosen Tamu dengan tajuk Pariwisata di Jawa Masa Kolonial, dihadiri oleh mahasiswa dan dosen Prodi Pendidikan Sejarah, serta tamu undangan dari komunitas wisata sejarah
SURAKARTA – Pada Kamis (20/02/2025), Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS menggelar Kuliah Tamu dengan tema “Pariwisata di Jawa Masa Kolonial” yang dilaksanakan di Aula Gedung Pascasarjana FKIP UNS. Pemateri yang diundang untuk membawakan materi tersebut adalah Dr. R. Achmad Sunjayadi, yang merupakan dosen dari Departemen Sejarah Universitas Indonesia. Kuliah tamu ini dihadiri oleh mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah dari berbagai angkatan, para dosen dari Program Studi Pendidikan Sejarah, serta tamu undangan dari komunitas wisata sejarah di Solo Raya. Secara khusus, acara ini diselenggarakan agar mahasiswa mendapatkan wawasan bahwa pada masa kolonial tidak selalu menyoal tentang politik, namun juga ada sisi pariwisata yang bisa dikaji.
“Kuliah ini sangat menarik karena kami juga merupakan komunitas pecinta sejarah di Sukoharjo. Karena itu, saya mengikuti acara ini,” ujar Surya, salah satu perwakilan anggota Komunitas Mbako Mbaki, Sukoharjo.
Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Program Studi S1 Pendidikan Sejarah FKIP UNS, Dr. Musa Pelu, M.Pd. Beliau menyampaikan bahwa acara ini bermanfaat bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan mereka mengenai sejarah pariwisata di Jawa. Selain itu, sambutan juga disampaikan oleh Wakil Dekan Akademik dan Penelitian FKIP UNS, Dr. paed. Nurma Yunita Indriyanti, M.Si., M.Sc. Dr. Nurma menyampaikan bahwa acara ini sangat menarik karena mengandung nilai-nilai penting, yaitu sebagai pendidik, pengembang, edukator, dan wirausaha, yang diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa setelah lulus.
Acara kemudian dilanjutkan ke sesi utama yang disampaikan oleh Dr. R. Achmad Sunjayadi sebagai narasumber dengan Yasmin Nindya Chaerunissa, M.Pd., sebagai moderator. Dr. Achmad menjelaskan bahwa istilah “kolonial” pada awalnya memiliki makna yang netral, merujuk pada hunian atau pemukiman di wilayah baru. Namun, dalam perkembangannya, istilah ini menjadi sangat erat dengan konsep penjajahan akibat pengalaman historis berbagai bangsa yang mengalami eksploitasi dan dominasi oleh kekuatan asing. Dalam konteks Indonesia, kolonialisme sering dikaitkan dengan kekuasaan Belanda yang berlangsung selama berabad-abad. Meski demikian, klaim bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 360 tahun sebenarnya kurang tepat. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pada awal kedatangannya, VOC bukanlah representasi dari Kerajaan Belanda, melainkan sebuah perusahaan dagang swasta yang memiliki kewenangan politik dan militer atas wilayah yang dikuasainya.
Lebih lanjut, Belanda sebagai negara yang kita kenal sekarang tidak langsung muncul sebagai entitas yang berkuasa atas Nusantara. Pada abad ke-17 hingga ke-18, wilayah yang kemudian menjadi Belanda masih berada dalam dinamika politik yang melibatkan Republik Bataaf yang didirikan atas pengaruh Prancis. Baru setelah Belanda terbebas dari kendali Prancis, Raja Willem I memimpin negara tersebut dan membentuk sistem kolonial yang lebih terstruktur di Hindia Belanda. Dengan demikian, kolonialisme Belanda di Indonesia bukanlah sebuah proses tunggal yang berlangsung sejak awal kedatangan VOC, melainkan melalui tahapan-tahapan perubahan politik dan administrasi yang kompleks.
Berlanjut hingga perkembangan pariwisata kolonial di Jawa saat Indonesia telah diduduki oleh Jepang. Pada akhir 1941, Hindia-Belanda secara resmi menyatakan perang terhadap Jepang sebagai respons terhadap agresi militer Jepang di Asia-Pasifik. Ketegangan ini berujung pada serangan Jepang ke wilayah Hindia-Belanda pada Januari 1942, yang akhirnya memaksa pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat pada 8 Maret 1942. Setelah pendudukan, Jepang segera melakukan reorganisasi berbagai sektor, termasuk transportasi dengan membentuk Rikuyu Sokyoku (Dinas Kereta Api) pada 1 Juni 1942. Selain itu, pada bulan yang sama, pihak militer Jepang meminta Japan Hotel Association untuk mengambil alih operasional hotel-hotel di Asia Tenggara, termasuk di wilayah Jawa, sebagai bagian dari strategi pengelolaan sumber daya dan fasilitas yang sebelumnya dikuasai pemerintah kolonial Belanda. Hotel-hotel bergaya kolonial yang sebelumnya diperuntukkan bagi wisatawan Eropa pun dialihkan untuk wisata tentara Jepang di Indonesia.
Setelah penyampaian materi, moderator memandu jalannya sesi diskusi. Banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap acara ini. Narasumber menjawab berbagai pertanyaan, baik yang berkaitan langsung dengan materi maupun di luar materi, dengan sangat jelas dan komprehensif. Salah satu peserta yang bertanya yaitu Ilham Putra, mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2023 yang bertanya kepada narasumber mengenai bagaimana keadaan pariwisata di Hindia Belanda saat perang sedang berkecamuk di Eropa. Pertanyaan yang tertuju kepada materi yang disampaikan narasumber ini tentu sangat menarik untuk dibahas, narasumber menjawab “Selain alamnya yang indah, pada akhir tahun 20-an, ketika Jawa sudah dianggap tidak murni lagi karena sudah semakin modern ditambah lagi munculnya gerakan nasionalis yang semakin radikal, perhatian dialihkan ke Bali yang masih dianggap murni dan relatif lebih aman. Dalam beberapa media promosi pariwisata buatan pemerintah kolonial pada 1920-1930 berupa imaji eksotis, contohnya adalah potret perempuan Bali yang digunakan dalam iklan-iklan pariwisata”.
Peserta Kuliah umum menilai bahwa acara ini sangat bermanfaat bagi mereka karena pembahasan tema kali ini juga bersinggungan dengan materi yang dipelajari di perkuliahan. “Sangat menyenangkan bisa mengikuti kembali Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, apalagi dengan tema yang sangat unik dan mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat tentang Pariwisata Jawa Masa Kolonial. Materi yang disampaikan oleh Bapak Dr. R. Achmad Sunjayadi mudah dipahami dan sistematis. Sesi tanya jawab pun berlangsung lancar dan mendorong saya untuk semakin mendalami topik ini. Semoga ke depannya Prodi Pendidikan Sejarah terus mengadakan kegiatan positif seperti ini” jelas Rakha, mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2022.
Acara ini ditutup oleh moderator dan MC, kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama.

























❤️❤️