
Pada hari Kamis, 6 April 2023 bertempat di Aula Pascasarjana Lantai 3 FKIP UNS, Program Studi S1 Pendidikan Sejarah berhasil menyelenggarakan Kuliah Tamu Dosen Pakar Kesejarahan dengan tema “Refleksi Probematika Perkotaan di Masa Kolonial dan Relevansinya Pada Mata Kuliah Sejarah Indonesia Masa Kolonial”. Kali ini, Prodi Pendidikan Sejarah UNS menghadirkan narasumber dosen dari dua kota ternama di Indonesia yakni Yogyakarta dan Surabaya. Kedua narasumber ini adalah Dr. Abdul Wahid, M.Hum, M.Phil dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dr. Sarkawi B. Husain, S.S., M.Hum dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Kagiatan kuliah tamu dosen ini dipandu oleh seorang moderator, Isawati, S.Pd., M.A., dosen Prodi S1 Pendidikan Sejarah FKIP UNS.
Kegiatan kuliah tamu dosen diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Program Studi Pendidikan Sejarah, Dr. Sutiyah, M.Pd., M.Hum. Kegiatan selanjutnya masuk pada kegiatan inti yaitu pemaparan materi dari kedua narasumber. Pemateri pertama yaitu Dr. Abdul Wahid dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memaparkan tentang ruang lingkup permasalahan kota khususnya masa kolonial Belanda yang bisa dikaji menjadi judul-judul skripsi mahasiswa. Ruang lingkup sejarah perkotaan sangatlah luas seperti modernisasi, globalisasi, lembaga-lembaga kesehatan, pendidikan, dan Dr. Sarkawi B. Husain, S.S., M.Hum dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.
Output utama dari kuliah tamu dosen ini adalah munculnya tema-tema baru yang bisa digarap menjadi judul skripsi ke depannya. Selama ini, judul-judul skripsi dengan metode historis cenderung bersifat politiksentris (berkutat pada kajian-kajian politik). Sedangkan kajian-kajian sejarah perkotaan masihlah asing atau bisa dikatakan masing sangat jarang yang mengkaji. Paling banyak kajian yang beririsan dengan tema perkotaan adalah kajian tentang sejarah transportasi kereta api. Padalah kajian tentang sejarah perkotaan sangatlah luas meliputi seperti modernisasi, pendidikan, kemiskinan, pembangunan, sarana prasarana, perubahan sosial, perubahan gaya hidup, pers, mobilitas sosial, filantropi, birokrasi pemerintahan, lembaga-lembaga, desentralisasi,d an masih banyak lainnya. Dr. Abdul Wahid menjelaskan bahwa kajian tentang sejarah perkotaan khususnya masa kolonial tidak perlu ditakuti karena sumbernya tidak melulu harus arsip-arsip yang berbahasa Belanda melainkan bisa memanfaatkan sumber-sumber koran yang berbahasa Melayu yang relatif mudah untuk dibaca dan dipahami para peneliti (mahasiswa S1).
Melengkapi apa yang sudah dipaparkan oleh narasumber pertama, Dr. Sarkawi B. Husain, S.S., M.Hum selaku narasumber kedua dari Universitas Airlangga menyampaikan tentang masalah kesehatan, masalah sampah dan masalah tinja khususnya di kota Surabaya masa kolonial. , Dr. Sarkawi B. Husain, S.S., M.Hum melihat berbagai masalah perkotaan tersebut dari perspektif kebijakan kolonial dan tradisionalisme masyarakat pribumi saat itu. Beliau menegaskan bahwa masalah perkotaan adalah masalah yang kompleks dan pelik yang susah dipecahkan sejak masa kolonial Belanda. Bahkan Pemerintah Kolonial Belanda sendiri dianggap gagal dalam mengatasi problematika perkotaan di Surabaya tahun 1990-an. Selaras dengan Dr. Abdul Wahid, beliau juga menegaskan bahwa sejarah perkotaan adalah tema yang masih terbuka lebar untuk dikaji menjadi penelitian skripsi. Berbagai aspek tentang problematika perkotaan baik masa kolonial maupun pasca kolonial sangat menarik untuk dikaji.
Kuliah tamu kali ini mendapat antusiasme dari para audien (mahasiswa). Bahkan mahasiswa yang ikut tidak hanya dari Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, melainkan hadir pula dosen dan beberapa mahasiswa dari IAIN Raden Mas Said Surakarta. Kegiatan kuliah tamu dosen pakar kesejarahan ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara narasumber, dosen dan seluruh mahasiswa selaku peserta kuliah tamu.






