Views: 10

Views: 10

Pada hari Kamis, 24 Juni 2022, Tim Riset Group Keilmuan dan Pembelajaran Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP, Universitas Sebelas Maret yang beranggotakan Prof. Dr. Sariyatun, M.Pd., M.Hum., Prof. Dr. Leo Agung S, M.Pd., Dr. Akhmad Arif Musadad, M.Pd., Drs. Tri Yuniyanto, M.Hum., dan Nur Fatah Abidin, S.Pd., M.Pd., telah menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, yang bertajuk, “Workshop Penelitian dan Penulisan Metode Praktik Baik (Best Practice) bagi Guru Mata Pelajaran Sejarah di Karanganyar”.

Acara ini dilaksanakan di Aula SMA Negeri 1 Karanganyar dan diikuti oleh perwakilan guru sejarah dari SMA, SMK dan MAN di Kabupaten Karanganyar. Acara ini mengundang Dr. Akhmad Arif Musadad, M.Pd. selaku pembicara.

Acara ini diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sambutan-sambutan dari Dr. Sutiyah, M.Pd., M.Hum. selaku kepala program studi S1 Pendidikan Sejarah, FKIP, Universitas Sebelas Maret, Dra. Suliyastuti, M.M selaku kepala sekolah SMA Negeri 1 Karanganyar dan Drs. Heru Sudiyatmoyo selaku wakil ketua MGMP Sejarah Karanganyar.

Acara ini dimulai dengan penyajian materi oleh Dr. Akhmad Arif Musadad, M.Pd. dengan di moderatori oleh Nur Fatah Abidin, S.Pd., M.Pd. Pada kesempatan kali ini, Dr. Akhmad Arif Musadad, M.Pd. menyajikan materi mengenai soal inovasi pembelajaran abad 21 dan kurikulum merdeka. Dr. Akhmad Arif Musadad, M.Pd. menuturkan bahwa guru difasilitasi untuk terus berubah, melakukan inovasi. Guru tidak bisa jika mengajari murid seperti dengan yang dulu diajarkan padanya. Pembelajaran abad-21 merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan teknologi. Guru harus mengimplementasikan TPACK dalam pembelajaran. Sejarah tidak boleh hanya mengandalkan hafalan, apalagi kondisi Indonesia yang mempunyai literasi yang rendah. Siswa harus mempunyai kemampuan literasi dan pengetahuan yang memadai, hal tersebut harus dicontohkan oleh guru. Ada 3 macam kurikulum saat ini, nanti bertahap kedepannya akan menjadi kurikulum merdeka. Kurikulum yang berjalan sekarang ini lebih berorientasi pada substansi materi. Akibatnya guru hanya kejar tayang menyelesaikan materi sehingga tidak mengetahui dan memperhatikan siswanya apakah sudah paham materi atau belum. Sedangkan kurikulum merdeka akan lebih mengedepankan kompetensi.

Dr. Akhmad Arif Musadad, M.Pd. lebih lanjut menuturkan bahwa revolusi industri mengubah kehidupan seperti cara hidup, bekerja, berhubungan antara satu dengan yang lain. Perubahan yang cepat dan pesat, kita harus membuat anak didik kita fleksibel. Munculnya new society atau Society 5.0. Indonesia mempunyai harapan dengan visi misi negara maju pada tahun 2024 yang didukung oleh SDM dan SDA. Guru mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan SDM. Untuk menunjang kualitas SDM diperlukan keterampilan yaitu dibutuhkan keterampilan hidup. Semua karya besar adalah hasil dari kerja sama. Agar manfaat sejarah itu semakin terasa jangan hanya menggunakan cara belajar hafalan. Cara belajarnya harus direvisi dan ditingkatkan lebih baik. Siswa perlu mempelajari kecakapan hidup abad 21, to know, to do, to be, to live together. Puncaknya adalah karakter untuk nantinya hidup di masyarakat. Kecakapan abad 21 yang dibutuhkan seperti kualitas karakter, kompetensi, dan literasi dasar. Guru harus siap menghadapi perubahan. Pengembangan nilai-nilai karakter seperti olah hati, olah raga, olah pikir dan olah karsa. Guru harus memahami keadaan muridnya. Guru harus mendukung siswa dan memfasilitasi agar karakter siswa dapat berkembang dengan baik. Guru profesional adalah guru yang mau berubah, terus belajar dan berinovasi, mampu menguasai teknologi digital dan ICT, berorientasi pada karier dan kehidupan masyarakat. Jika siswa senang dalam belajar maka akan lebih menciptakan suasana yang nyaman untuk belajar sehingga pemahaman materi lebih mudah..

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para guru antusias untuk bertanya terkait dengan soal inovasi pembelajaran abad 21 dan kurikulum merdeka. Acara berikutnya adalah penyusunan laporan praktik baik (best practice) oleh guru yang dibimbing langsung oleh Dr. Akhmad Arif Musadad, M.Pd. Seusai penyusunan laporan praktik baik (best practice), acara ditutup oleh pembawa acara.

Diharapkan dengan adanya acara workshop ini, guru-guru sejarah di Kabupaten Karanganyar dapat terus berinovasi dalam pembelajaran sejarah pada abad 21 untuk meningkatkan maupun mengembangkan pembelajaran lebih menarik dan efektif. Inovasi pembelajaran dengan berbagai program inovatif diharapkan akan melahirkan mental-mental siswa yang lebih kreatif sehingga guru dapat memberikan pembelajaran yang baik dan bermakna bagi peserta didik.

Komentar