Oleh: Dadan Adi Kurniawan
Staff Pengajar di Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret, Surakarta
Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id




A. Penetapan Objek KKL Sejarah

  • Tahap pertama dalam mendesain kegiatan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) Sejarah ialah menetapkan tempat atau objek. Tempat atau objek-objek yang akan dikunjungi dapat berupa situs, bangunan, museum, atau studi banding ke suatu lembaga/institusi semisal kampus, dinas kearsipan, dinas purbakala, dll.
  • Khusus kunjungan studi ke Perguruan Tinggi bisa dilakukan ke kampus-kampus yang memiliki jurusan/prodi Pendidikan Sejarah atau Ilmu Sejarah. Rincian kegiatannya bisa berupa Kuliah Umum, Kunjungan Laboratorium, FGD Kurikulum dan Jaminan Mutu, atau Penjajakan Kerja Sama (MoU/MoA) seperti tukar mengajar dosen tamu, riset penelitian bersama, tukar artikel jurnal, bimbingan skripsi/tesis, menguji skripsi/tesis, atau lainnya.
  • Pemilihan rute dan objek KKL idealnya ditetapkan pihak internal Prodi (bukan dari mahasiswa, kecuali untuk tempat-tempat wisata tambahan). Tempat atau objek-objek disesuaikan dengan kebutuhan [kurikulum] Prodi, sebagai misal dalam rangka menunjang pengetahuan dan pengalaman mahasiswa tentang sejarah kebudayaan Praaksara, kebudayaan Hindu-Buddha, kebudayaan Islam, masa VOC dan Kolonial Belanda, era Pergerakan Nasional, masa pendudukan Jepang, sekitar revolusi kemerdekaan, dan era setelah kemerdekaan (Orde Lama, Orde Baru, Reformasi).
  • KKL Sejarah bertujuan untuk “menyeimbangkan” wawasan teoritis dan pengalaman langsung di lapangan sehingga tercipta pemahaman yang komprehensif (menyeluruh) dan kesadaran yang lebih holistik (utuh).
  • Sesuai namanya, sebagian besar objek-objek KKL Sejarah yang dikunjungi hendaknya memiliki “nilai sejarah” atau “edukasi sejarah”. JANGAN sampai mayoritas objek yang dikunjungi malah bersifat wisata non-sejarah, sedangkan objek-objek sejarah hanya segelintir.
  • Meskipun namanya KKL Sejarah, beberapa objek tertentu bisa bersifat “wisata bebas” untuk tujuan rekreasi dan hiburan. Sebagai contoh terdapat selingan objek wisata alam, wisata kuliner, wisata budaya, wisata ekonomi kreatif, atau lainnya.


B. Objek-Objek Wisata Sejarah

Dalam konteks Pulau Jawa (khususnya di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jakarta), berikut penulis sajikan tempat-tempat atau objek-objek utama dan alternatif yang bisa dijadikan opsi kunjungan KKL Sejarah:

1. Provinsi Jawa Timur

Candi-Candi di Jawa Timur

  1. Kompleks Candi/Situs Trowulan di Kabupaten Mojokerto, terdiri dari: (a) Candi Brahu, (b) Candi Gentong, (c) Candi/Gapura Waringin Lawang, (d) Candi Bajang Ratu, (e) Candi Tikus, (f) Situs Kumitir yang masih proses penggalian dan penelitian, (g) Kolam Segaran, (h) Candi Minak Jinggo, (i) Situs Sumur Upas/Candi Kedaton, (j) Museum Trowulan/Museum Majapahit, (k) Pendopo Agung Trowulan, dan (l) Makam Troloyo (kompleks makam Islam yang sudah eksis di era Hindu Majapahit).
  2. Candi Panataran di Kabupaten Blitar (kompleks candi terbesar di Jawa Timur, dibangun lintas periode/kerajaan).
  3. Candi Jawi di Kabupaten Pasuruan (peninggalan kebudayaan era Kerajaan Singasari).
  4. Candi Singosari di Kabupaten Malang (salah satu candi terakhir era Kerajaan Singasari, memiliki arca Dwarapala terbesar di Indonesia).
  5. Candi Badut di Kabupaten Malang (salah satu candi paling tua di Jawa Timur).
  6. Candi Jago di Kabupaten Malang (peninggalan kebudayaan era Kerajaan Singasari).

Makam Walisongo di Jawa Timur

  1. Makam Sunan Ampel di Kota Surabaya (berada di tengah kota, dikenal sebagai Bapak Para Wali, makamnya terbuka alias tidak diberi cungkup tertutup seperti halnya makam para wali pada umumnya).
  2. Makam Sunan Gresik/Maulana Malik Ibrahim di Kabupaten Gresik (wali paling senior dalam konteks 9 wali, makamnya terbuka alias tidak diberi cungkup tertutup, justru berada lebih rendah dengan makam-makam kubur di sampingnya).
  3. Makam Sunan Giri di Kabupaten Gresik (berada di sebuah area perbukitan, pengunjung harus naik tangga cukup tinggi, lokasinya agak berdekatan dengan situs Giri Kedaton).
  4. Makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban (lokasi makam cukup dekat dengan Alun-Alun Tuban, tepatnya berada di belakang Masjid Agung Tuban).
  5. Makam Sunan Drajat di Kabupaten Lamongan (berada di wilayah perbukitan yang agak tinggi, pengunjung harus melewati beberapa teras bertingkat).

Museum, Monumen, Dinas Arsip, dan Benteng di Jawa Timur

  1. Museum Trinil di Kabupaten Ngawi (museum manusia dan kebudayaan purba yang cikal bakalnya tidak lepas dari peran Eugene Dubois).
  2. Benteng Van den Bosch di Kabupaten Ngawi (dikenal dengan sebutan Benteng Pendem, berlokasi tidak jauh dari pusat kota Ngawi).
  3. Museum Majapahit (Museum Trowulan) di Kabupaten Mojokerto (salah satu museum tua di Mojokerto, tempat menampung berbagai temuan arkeologis terutama berkaitan dengan sejarah Kerajaan Majapahit).
  4. Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember di Kota Surabaya (berada di pusat kota, menyajikan episode perjuangan rakyat Surabaya di awal kemerdekaan).
  5. Museum Pendidikan Surabaya di Kota Surabaya (bekas Sekolah Taman Siswa, menyajikan koleksi sejarah terkait alat-alat dunia pendidikan).
  6. Museum Mpu Tantular di Kabupaten Sidoarjo (memiliki koleksi kebudayaan praaksara, arkeologi, sejarah, seni, dan lain-lain).
  7. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur di Kota Surabaya (salah satu pusat koleksi pustaka dan arsip daerah di Jawa Timur).

Studi Banding ke Kampus [Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah] di Jawa Timur

  1. Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di Surabaya = Prodi Pendidikan Sejarah.
  2. Universitas Negeri Malang (UM) di Malang = Prodi Pendidikan Sejarah dan Prodi Ilmu Sejarah.
  3. Universitas Airlangga (UNAIR) = Prodi Ilmu Sejarah.
  4. Universitas Jember (UNEJ) di Jember = Prodi Pendidikan Sejarah dan Prodi Ilmu Sejarah.
  5. Universitas PGRI Madiun di Madiun = Prodi Pendidikan Sejarah.
  6. Universitas PGRI Banyuwangi di Banyuwangi = Prodi Pendidikan Sejarah.


2. Provinsi Jawa Tengah

Candi-Candi di Jawa Tengah

  1. Candi Dieng di Kabupaten Banjarnegara/Wonosobo (kompleks yang terdiri dari beberapa candi, berada di dataran tinggi).
  2. Candi Gedong Songo di Kabupaten Semarang (kompleks yang terdiri dari beberapa candi, berada di dataran tinggi).
  3. Candi Borobudur di Kabupaten Magelang (Candi Buddha terbesar di Indonesia).
  4. Candi Pawon di Kabupaten Magelang (tidak terlalu jauh dari Candi Borobudur).
  5. Candi Mendut di Kabupaten Magelang (tidak terlalu jauh dari Candi Borobudur).
  6. Candi Sewu di Kabupaten Klaten (berlokasi di sebelah utara Candi Prambanan, masih masuk kompleks Prambanan raya).
  7. Candi Bubrah di Kabupaten Klaten (berlokasi di sebelah utara Candi Prambanan, masih masuk kompleks Prambanan raya).
  8. Candi Lumbung di Kabupaten Klaten (berlokasi di sebelah utara Candi Prambanan, masih masuk kompleks Prambanan raya).
  9. Candi Plaosan di Kabupaten Klaten (berlokasi di sebelah timur laut Candi Prambanan, masih masuk kompleks Prambanan raya).
  10. Candi Sojiwan di Kabupaten Klaten (berlokasi di sebelah selatan Candi Prambanan, masih masuk kompleks Prambanan raya).
  11. Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar (berada di lereng barat kaki Gunung Lawu, berada pada ketinggian yang cukup curam).
  12. Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar (berada di lereng barat kaki Gunung Lawu, berada pada ketinggian yang cukup curam, lebih curam dibanding Candi Sukuh).

Makam Walisongo di Jawa Tengah

  1. Makam Sunan Kudus dan Masjid Menara Kudus di Kabupaten Kudus (berada di pusat kota yang datar, terdapat menara masjid yang ikonik, kompleks makam berada di belakang masjid).
  2. Makam Sunan Muria di Kabupaten Kudus (berlokasi di atas bukit/gunung, pengunjung akan merasakan sensasi tersendiri ketika naik ojek/jalan kaki menuju atau turun dari makam).
  3. Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Kabupaten Demak (lokasinya tidak begitu jauh dari Masjid Agung Demak dan Alun-Alun Demak).
  4. Masjid Agung Demak dan Makam Raja-Raja Demak di Kabupaten Demak (salah satu masjid tertua di Jawa yang kerap menjadi prototype bentuk masjid-masjid/langgar di Indonesia, lokasi makam raja-raja berada di belakang Masjid, terdapat museum di samping masjid).

Keraton, Masjid Keraton, Makam Keraton, dan Benteng di Jawa Tengah

  1. Keraton Kasunanan di Kota Surakarta (berlokasi di dekat titik 0 kilometer Solo, benteng Vastenburg, dan pasar Klewer, di sekelilingnya terdapat pagar tembok kerajaan yang tinggi dan berlapis).
  2. Puro Mangkunegaran di Kota Surakarta (menawarkan pendopo agung dan istana kerajaan yang megah dan estetik).
  3. Masjid Agung Keraton Surakarta di Kota Surakarta (dekat alun-alun utara keraton, bersampingan dengan Kampung Kauman).
  4. Kampung Batik Laweyan, Masjid Laweyan, dan Makam Ki Ageng Henis Laweyan di Kota Surakarta (kampung tua sebagai pusat produksi batik terkemuka di Surakarta sejak era kerajaan).
  5. Kampung Batik Kauman dan 3 langgar tua di Kota Surakarta (kampung batik terpopuler selain Laweyan, pusat tempat tinggal para pemuka agama Islam, berdekatan dengan Masjid Agung Keraton Surakarta).
  6. Astana Mangadeg, Astana Girilayu, dan Astana Giribangun di Kabupaten Karanganyar (makam para penguasa/adipati Mangkunegaran, makam Presiden Soeharto dan keluarga, ketiga kompleks makam berada di lereng barat/kaki Gunung Lawu).
  7. Lawang Sewu di Kota Semarang (bekas Kantor Pusat Administrasi Perkeretaapian Belanda).
  8. Kota Lama Semarang di Kota Semarang (berada di wilayah pesisir utara Semarang, menyajikan bangunan-bangunan tua kolonial).
  9. Benteng Vastenburg di Kota Surakarta (dekat keraton, dekat titik 0 kilometer Solo, dekat Pasar Gede, dan dekat Balaikota Surakarta).
  10. Benteng William I Ambarawa di Kabupaten Semarang (benteng kolonial terbesar di pulau Jawa).
  11. Benteng Van der Wijck di Kabupaten Kebumen (benteng kolonial Belanda yang didirikan abad 19, jaraknya jauh dari Alun-Alun Kebumen).
  12. Benteng Pendem Cilacap di Kabupaten Cilacap (di wilayah pesisir selatan Cilacap, dekat Pantai Penyu dan Pulau Nusa Kambangan).
  13. Benteng Portugis di Kapubaten Jepara (berada di daerah pesisir pantai utara Jepara).

Museum dan Dinas Arsip di Jawa Tengah

  1. Museum Radya Pustaka di Kota Surakarta (museum tertua di Surakarta yang telah ada sejak era kerajaan, berlokasi di pinggir jalan raya yang membelah jantung kota Solo).
  2. Museum Monumen Pers Nasional di Kota Surakarta (memiliki koleksi sumber-sumber koran dan buku, serta ruang proses digitalisasi koran).
  3. Museum Keris Nusantara di Kota Surakarta (menyajikan berbagai jenis kebudayaan tosan aji dari lintas periode kerajaan).
  4. Museum Samanhudi di Kota Surakarta (menyajikan jejak peninggalan dan perjuangan KH Samanhudi, saudagar batik termasyur dari Laweyan).
  5. Lokananta di Kota Surakarta (jejak studio rekaman dan label musik pertama serta tertua di Indonesia, menyimpan ribuan koleksi piringan hitam dan pita kaset dari musisi legendaris).
  6. Rekso Wilopo/Rekso Pustaka Mangkunegaran di Kota Surakarta (memiliki koleksi sumber-sumber arsip, manuskrip, dan buku terutama terkait dunia Jawa dan dunia era Kolonial).
  7. Museum Manusia Purba Sangiran di Kabupaten Sragen/Karanganyar (ada 5 klaster museum yakni Museum Krikilan, Museum Dayu, Museum Ngebung, Museum Bukuran, dan Manyarejo).
  8. Museum Kereta Api Ambarawa di Kabupaten Semarang (museum khusus dunia si ular besi, menyuguhkan berbagai peralatan perkeretaapian era kolonial).
  9. Museum Ronggowarsito di Kota Semarang (memiliki koleksi kebudayaan praaksara, Hindu-Buddha, Islam, dan produk-produk Kebudayaan Jawa terutama wayang).
  10. Museum RA Kartini di Jepara (memiliki koleksi benda-benda berharga peninggalan RA Kartini dan keluarganya).
  11. Museum RA Kartini di Rembang (memiliki koleksi berbagai pustaka, kebaya, perabot, dan foto-foto tentang perjalanan kehidupan RA Kartini dan keluarganya).
  12. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah di Kota Semarang (salah satu pusat koleksi pustaka dan arsip daerah di Jawa Tengah).

Studi Banding ke Kampus [Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah] di Jawa Tengah

  1. Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta = Prodi Pendidikan Sejarah dan Prodi Ilmu Sejarah.
  2. Universitas Diponegoro (UNDIP) di Semarang = Prodi Ilmu Sejarah.
  3. Universitas Negeri Semarang (UNNES) di Semarang = Prodi Pendidikan Sejarah dan Prodi Ilmu Sejarah.
  4. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga = Prodi Pendidikan Sejarah.
  5. Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET) di Sukoharjo = Prodi Pendidikan Sejarah.


3. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Candi-Candi di Yogyakarta

  1. Candi Prambanan di Kabupaten Sleman (candi paling terkenal dan ikonik di wilayah Prambanan raya).
  2. Candi Kalasan di Kabupaten Sleman (berada di sebelah barat tidak jauh dari Candi Prambanan).
  3. Candi Ratu Boko di Kabupaten Sleman (berada di sebelah selatan tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan).
  4. Candi Sambisari di Kabupaten Sleman (jaraknya lumayan jauh dari Candi Prambanan, sekitar 7 km ke arah barat).
  5. Candi Dawangsari di Kabupaten Sleman (jaraknya lumayan jauh dari Candi Prambanan, sekitar 4 km ke arah selatan).
  6. Candi Barong di Kabupaten Sleman (jaraknya lumayan jauh dari Candi Prambanan, sekitar 4 km ke arah selatan, dekat Candi Dawangsari).
  7. Candi Banyunibo di Kabupaten Sleman (jaraknya lumayan jauh dari Candi Prambanan, sekitar 5 km ke arah selatan).
  8. Candi Ijo di Kabupaten Sleman (jaraknya lumayan jauh dari Candi Prambanan, sekitar 8 km ke arah selatan, dekat Tebing Breksi).

Museum, Monumen, Masjid, Benteng, dan Keraton di Yogyakarta

  1. Keraton Kasultanan di Kota Yogyakarta (lokasinya dekat titik 0 kilometer Jogja dan Benteng Vredeburg).
  2. Puro Paku Alaman di Kota Yogyakarta (lokasinya tidak terlalu jauh dari titik 0 kilometer Jogja/Malioboro).
  3. Museum Benteng Vredeburg di Kota Yogyakarta (berlokasi di dekat titik 0 kilometer, jalan Malioboro, dan dekat bekas Istana Kepresidenan).
  4. Masjid Agung Kasultanan Yogyakarta di Kota Yogyakarta (berlokasi di dekat alun-alun Keraton).
  5. Taman Sari di Kota Yogyakarta (wisata taman istana Kasultanan Yogyakarta).
  6. Kompleks Makam Kotagede di Kota Yogyakarta (makam raja-raja Mataram Islam di wilayah kota dan dekat pusat kerajinan perak).
  7. Kompleks Makam Imogiri di Kabupaten Bantul (makam raja-raja Mataram Islam yang berlokasi di atas bukit Imogiri).
  8. Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 di Kota Yogyakarta (berlokasi di dekat titik 0 kilometer Jogja, berdekatan dengan Benteng Vredeburg dan Keraton).
  9. Monumen Jogja Kembali di Kabupaten Sleman (berlokasi di sebelah utara kota Jogja).
  10. Museum Sonobudoyo di Kota Yogyakarta (salah satu museum kebudayaan tertua di Yogyakarta, dekat titik 0 kilometer, dekat keraton).
  11. Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman di Kota Yogyakarta (bekas kedimanan-rumah dinas Panglima Jenderal Sudirman).
  12. Museum Perjuangan Yogyakarta di Kota Yogyakarta (menyuguhkan koleksi dan narasi seputar perjuangan bangsa mulai sejak era pergerakan nasional hingga kemerdekaan).
  13. Museum Monumen Pangeran Diponegoro di Kota Yogyakarta (bekas kediaman Pangeran Diponegoro dan keluarganya).
  14. Museum Affandi di Kota Yogyakarta (museum seni karya Affandi, berlokasi dekat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
  15. Museum Dewantara Kirti Griya Tamansiswa di Kota Yogyakarta (dulunya merupakan kediaman Ki Hajar Dewantara).
  16. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY di Kabupaten Bantul (salah satu pusat koleksi pustaka dan arsip daerah di wilayah Yogyakarta).

Studi Banding ke Kampus [Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah] di Yogyakarta

  1. Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta = Prodi Ilmu Sejarah.
  2. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Yogyakarta = Prodi Pendidikan Sejarah dan Prodi Ilmu Sejarah.
  3. Universitas Sanata Dharma (USD) di Yogyakarta = Prodi Pendidikan Sejarah dan Prodi Ilmu Sejarah.
  4. Universitas PGRI Yogyakarta di Yogyakarta = Prodi Pendidikan Sejarah.


4. Provinsi Jawa Barat

Museum, Keraton, dan Bangunan Bersejarah di Jawa Barat

  1. Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman di Kota Cirebon (salah satu ikon kota Cirebon).
  2. Makam Sunan Gunung Jati di Kabupaten Cirebon (satu-satunya wali di wilayah Jawa Barat dalam konteks 9 wali terkenal di tanah Jawa, sisanya menyebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur).
  3. Gedung dan Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Kota Bandung (gedung bekas pelaksanaan KAA tahun 1955).
  4. Museum Geologi di Kota Bandung (koleksinya meliputi sejarah bumi, fosil, batuan, mineral, dan artefak).
  5. Museum Gedung Sate di Kota Bandung (icon kota Bandung/Jawa Barat).
  6. Museum Sri Baduga di Kota Bandung (koleksinya berupa kajian geologi, arkeologi, sejarah, dan kebudayaan Sunda).
  7. Museum Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) di Bandung.
  8. Gedung Perundingan Linggarjati di Kuningan.

Studi Banding ke Kampus [Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah] di Jawa Barat

  1. Universitas Indonesia (UI) di Depok = Prodi Ilmu Sejarah.
  2. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung = Prodi Pendidikan Sejarah.
  3. Universitas Padjajaran (UNPAD) di Sumedang = Prodi Ilmu Sejarah.
  4. Universitas Galuh (UNIGAL) di Ciamis = Prodi Pendidikan Sejarah.


5. Jakarta

Museum, Perpusnas, dan Dinas Arsip di Jakarta

  1. Museum Nasional (sering disebut Museum Gajah, merupakan museum induk dan terbesar di Indonesia).
  2. Museum dan Monumen Nasional (Monas) (museum terdapat di lantai bawah monumen, pengunjung bisa naik lift untuk menuju puncak Monas).
  3. Museum Sumpah Pemuda (salah satu tempat bersejarah dalam proses pelaksanaan Kongres Pemuda II tahun 1928).
  4. Museum Kebangkitan Nasional (bekas Gedung STOVIA).
  5. Museum dan Gedung Joang ’45 (bekas pusat pendidikan politik era Jepang).
  6. Museum Perumusan Naskah Proklamasi (bekas kediaman Laksama Muda Tadashi Maeda).
  7. Museum Pengkhianatan PKI dan Monumen Pancasila Sakti (terdapat sumur Lubang Buaya tempat para jenazah korban peristiwa 1965 diketemukan).
  8. Museum Sejarah Jakarta dan Wisata Kota Tua Jakarta (dikenal Museum Fatahillah, berlokasi di wilayah pesisir utara Jakarta).
  9. Museum Bahari (dunia rempah, kenelayanan, dan kemaritiman Indonesia).
  10. Museum Satria Mandala (sejarah perjuangan TNI).
  11. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) (pusat arsip vital se-Indonesia mulai era VOC dan periode setelahnya).
  12. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) (koleksi berbagai pustaka, naskah-naskah kuno, dan surat kabar).

Studi Banding ke Kampus [Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah] di Jakarta

  1. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Jakarta = Prodi Pendidikan Sejarah.
  2. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) di Jakarta = Prodi Pendidikan Sejarah.


C. Pertimbangan dalam Memilih Objek-Objek KKL Sejarah

Terdapat setidaknya 3 pertimbangan utama dalam menentukan objek-objek wisata sejarah, antara lain:

  1. Rute Perjalanan = sebisa mungkin dicari objek-objek yang searah atau satu rute perjalanan (tidak mencar atau lompat-lompat wilayah) sehingga bisa meringkas waktu, menghemat tenaga, dan tentunya menekan biaya.
  2. Biaya = memperhitungkan besaran biaya KKL (diusahakan supaya nominalnya tidak terlalu membebani mahasiswa). Semakin jauh dan terlalu banyak objek yang dikunjungi, akan membuat biaya KKL semakin membengkak. Sebisa mungkin agenda KKL sudah diinformasikan ke mahasiswa jauh-jauh hari (semisal 1 tahun sebelum pelaksanaan) sehingga bisa digunakan untuk “persiapan menabung“.
  3. Waktu = memperhitungkan lama waktu (jumlah hari) KKL. Pelaksanaan KKL bisa didesain singkat (1-2 hari), sedang (3-4 hari), atau cukup lama (5 hari atau seminggu). Pemilihan tanggal/hari pelaksanaan KKL juga sebaiknya memperhitungkan beberapa hal seperti jam/hari buka dari objek yang dikunjungi, tidak sedang musim ujian (UTS/UAS), dan tidak berdekatan dengan hari raya besar.


D. Pembentukan Panitia KKL Sejarah

  • Perlu dibentuk Kepanitiaan KKL (terdiri dari mahasiswa) semisal: Ketua KKL, Sekretaris, Bendahara, dan Seksi-Seksi (Humas, P3K, Dokumentasi, Juru Gedor, Perlengkapan, dll).
  • Sebisa mungkin Panitia KKL tidak hanya mewakili geng atau kelompok mahasiswa tertentu”, melainkan bersifat representatif yakni mewakili berbagai kelompok (circle).
  • Panitia KKL harus menekan ego-kepentingan pribadi” dan lebih memikirkan kepentingan bersama. Sebaliknya, mahasiswa non-panitia juga harus percaya pada kinerja Pantia KKL (tidak sedikit-sedikit protes, sedikit-sedikit tidak terima, dan kerap menyalahkan Panitia). Dibutuhkan “kedewasaan” bersama agar KKL berjalan lancar dan optimal.


E. Pemilihan Biro Perjalanan KKL

Tahap selanjutnya yaitu mencari, menyeleksi, dan memilih Biro Perjalanan untuk memfasilitasi pelaksanaan KKL. Masing-masing lembaga (Prodi) memiliki kebijakan berbeda dalam menentukan Biro Perjalanan KKL. Ada yang diurus dan diputuskan oleh pihak Prodi (mahasiswa tinggal ngikut). Ada pula yang diserahkan kepada pihak Mahasiswa (Prodi hanya ikut campur dan mengatur aspek-aspek tertentu saja). Berikut adalah strategi pemilihan Biro Perjalanan KKL dalam konteks diserahkan ke pihak Mahasiswa.

Pemilihan Biro bisa dilakukan dengan 2 cara:

  1. Mengundang beberapa Biro Perjalanan (semisal 3-5 biro) untuk melakukan presentasi secara bergantian (tidak dibarengkan dalam satu ruangan). Setelah presentasi selesai, penetapan biro bisa dilakukan berdasarkan musyawarah atau voting.
  2. Bisa pula langsung menetapkan satu Biro Perjalalan tertentu berdasarkan rekam jejak dan rekomendasi kuat dari beberapa pihak yang telah merasakan benar kualitas pelayanannya (semisal rekomendasi dari kakak-kakak tingkat, dosen, prodi, atau lainnya).

Beberapa hal yang mesti ditanyakan, dibahas, dan disepakati bersama antara Mahasiswa dan Pihak Biro:

  1. Nama-nama objek yang fix akan dikunjungi.
  2. Biaya tiket masuk tiap objek yang dikunjungi (perlu diperjelas apa saja yang ditanggung Biro, apa saja yang harus bayar sendiri).
  3. Siapa yang menembusi perihal persuratan pada objek-objek tertentu yang membutuhkan perizinan kunjungan (apakah menjadi tanggung jawab Biro, Mahasiswa, atau Prodi).
  4. Konsumsi setiap harinya (berapa kali nasi box, berapa kali makan di rumah makan, dan jenis-jenis makanan apa saja yang disajikan).
  5. Apakah ada pelayanan khusus dari pihak Biro terhadap mahasiswa yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu.
  6. Hotel tempat menginap (jenis hotel bintang berapa, tiap kamar berapa orang, fasilitas kamar, lokasi hotel, dll).
  7. Jenis dan jumlah armada bus yang akan dipakai (nama bus, tahun produksi, dan ukuran bus). Jika nantinya sudah ada Biro yang terpilih, sebaiknya ada panitia yang melakukan survei terkait kondisi bus yang akan dipakai (terkadang antara foto yang disuguhkan berbeda dengan kenyataan aslinya).
  8. Fasilitas bus (jumlah kursi, apakah dilengkapi TV, apakah bisa untuk karaoke, apakah dilengkapi dispenser, selimut, tempat charge HP, dan tempat sampah).
  9. Urutan jalur-rute yang dilalui, apakah akan dilewatkan jalan tol atau tidak, apakah pos-pos tempat makan searah rute perjalanan atau tidak.
  10. Apakah Biro menyiapkan obat-obatan (P3K), apakah Biro membutuhkan data terkait beberapa jenis penyakit Mahasiswa yang kemungkinan rawan kambuh selama KKL.
  11. Jika sampai ada yang sakit serius (terpaksa masuk rumah sakit), apakah pihak Biro turut bertanggung jawab mengurusi dan membiayai (sampai batas tertentu).
  12. Apakah Biro bertanggung jawab menyiapkan alat-alat KKL seperti MMT, vendel, megaphone (toa), dll.
  13. Apakah ada bonus lain yang diberikan pihak Biro (semisal kaos seragam, souvenir, dll).
  14. Jika ada objek yang gagal dikunjungi dan hal ini disebabkan karena kesalahan pihak Biro, apakah mahasiswa mendapatkan ganti rugi. Jika iya, wujudnya apa (apakah kembalian uang, ditukar objek lain yang sejenis, atau dalam bentuk lain).
  15. Kesepakatan nominal besaran biaya KKL serta format pembayaran KKL (apakah bisa bertahap atau harus langsung lunas).
  16. Surat perjanjian tertulis bermaterai (rangkap 2) yang isinya mengikat berbagai hal yang disepakati tersebut.


F. Rapat Koordinasi Persiapan KKL

Rapat koordinasi KKL sebaiknya diselenggarakan “agak jauh-jauh hari” (semisal 2-3 minggu sebelum pelaksanaan KKL). Rapat ini sebaiknya diikuti Panitia KKL, para/perwakilan pihak dosen pendamping, dan juga perwakilan dari pihak Biro. Rapat bertujuan untuk mengkoordinasikan berbagai hal seperti:

  1. Finalisasi Rundown Kunjungan.
  2. Titik kumpul dan jam berkumpul.
  3. Jam berangkat hari pertama.
  4. Tembusan surat izin kunjungan.
  5. Vendel/Kenang-Kenangan yang akan diberikan di beberapa objek.
  6. Obat-obatan (P3K).
  7. Tim Juru Gedor (Pengoprak-Oprak/Mengingatkan/Membangunkan/Mengabsen).
  8. Presensi (manual/online).
  9. Tata tertib (kewajiban dan larangan) selama KKL.
  10. Jumlah dan nama-nama dosen pendamping.
  11. Surat Tugas dosen pendamping KKL.
  12. Wujud/jenis penugasan di lapangan.
  13. Membuat WAG untuk koordinasi.
  14. dan lain-lain (dll).


G. Kedisiplinan Bersama

  1. Disiplin Keberangkatan = seluruh dosen pendamping, mahasiswa, dan juga pihak biro idealnya harus datang lebih awal dari jam keberangkatan (semisal 30 menit sebelumnya, lebih-lebih untuk armada bus dan panitia).
  2. Displin di Tiap Objek = setiap peserta KKL harus disiplin waktu di masing-masing objek. Harus sadar diri untuk segera bergegas ketika sudah waktunya kembali ke bus guna melanjutkan perjalanan selanjutnya.
  3. Disiplin Bangun Pagi (di Tiap Penginapan) = Ketika di hotel, setiap peserta KKL harus disiplin bangun pagi dan persiapan MCK. Jangan sampai bangun kesiangan yang akhirnya menghambat keberangkatan. Kesalahan segelintir orang bisa berdampak ke semuanya.


H. Koordinasi sebagai Kunci

Salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang kelancaran KKL ialah adanya koordinasi antara dosen pendamping, mahasiswa panitia, mahasiswa non-panitia, dan biro. Oleh sebab itu diperlukan adanya WAG (WhatsAp Group) untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut. Berbagai hal penting perlu dikoordinasikan seperti:

  1. Cek pagi apakah sudah bangun semua atau masih ada yang tertidur.
  2. Cek kesiapan sarapan pagi, apakah sudah siap atau belum, jam berapa, dan di lantai berapa.
  3. Cek batas waktu semua peserta KKL sudah harus masuk di bus.
  4. Mengingatkan sisa waktu kunjungan di setiap objek (semisal kurang 15 menit lagi).
  5. Koordinasi bila ada hal-hal yang tak terduga terjadi.


I. Tidak Berangkat Kosongan

Para Dosen Pendamping

  • Pembagian Tugas: Idealnya, setiap dosen pendamping KKL tidak berangkat dalam posisi kosongan (tidak menyiapkan materi/tidak menguasai materi). Alangkah baiknya jika ada pembagian tugas” dalam menerangkan atau menjelaskan materi di tiap objek yang dikunjungi sesuai spesialisasi keilmuannya masing-masing.
  • Siap Membackup Tour Guide: Terkadang ada objek-objek KKL yang tidak ada tour guide-nya sehingga mau tidak mau dosen harus tanggap dengan kondisi tersebut. Meskipun sudah ada tour guide, terkadang masih perlu tambahan materi dari pihak dosen pendamping untuk memperkaya informasi. Tak hanya itu, meskipun sudah ada tour guide, karena kondisi yang kurang memungkinkan, terkadang tetap ada sebagian mahasiswa bertanya kepada dosen pendamping. Oleh karena itu, dosen pendamping harus mempersiapkan penguasaan materi meski tidak semua pertanyaan harus bisa dijawab.
  • Pendampingan untuk Semua: Selama proses kegiatan KKL, setiap dosen pendamping idealnya tidak hanya memberikan pendampingan dan pelayanan eksklusif terhadap segelintir mahasiswa atau “satu kelompok tertentu”, melainkan memberikan pelayanan maksimal, adil, dan merata kepada seluruh mahasiswa KKL. Sifat KKL ialah pembimbingan bersama dan untuk semua, BUKAN pilih-pilih.
  • Fokus Membersamai: Jika tidak ada kendala atau keperluan mendesak lain, seluruh dosen pendamping sebisa mungkin selalu fokus dan sigap mengikuti jalannya KKL dari objek satu ke objek lainnya, dari ruangan satu ke ruangan lainnya. Dosen pendamping secara bersama-sama ikut mengontrol, menegur, mengarahkan, dan mengingatkan supaya KKL berjalan efektif dan maksimal.
  • Tidak Asik Sendiri: Tidak etis bila dosen pendamping malah mencar entah kemana, jalan sendiri-sendiri, membentuk kelompok sendiri, atau keasikan foto-foto sendiri di kala proses studi/penjelasan materi masih berlangsung. Ada waktunya untuk foto-foto dan ada waktunya fokus mendampingi. Ketika memutuskan bersedia ikut KKL, dosen pendamping harus sadar bahwa ia memiliki tanggung jawab moral dan akademis. Statusnya ialah “dosen pendamping KKL”, bukan “dosen yang numpang piknik KKL“.

Para Mahasiswa

  • Tidak Berangkat Kosongan: Idealnya, seluruh mahasiswa yang berangkat KKL Sejarah tidak dalam kondisi kosongan(hanya modal sehat dan berangkat begitu saja tanpa persiapan belajar sebelumnya). Setiap mahasiswa seharusnya sudah belajar mandiri, mencari tahu tentang sejarah atau hal-hal penting dari setiap objek yang akan dikunjungi. Mengapa hal ini penting? Karena menjelaskan kepada mahasiswa yang benar-benar masih “kosong” dan mahasiswa yang “sudah isi” (meskipun masih sedikit) tentu menimbulkan kesan yang berbeda. KKL yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa aktif dan partisipatif akan lebih menyenangkan.
  • Penugasan Sistematis: Sebaiknya telah ada “penugasan sistematis” sebelum berangkat KKL guna memastikan mahasiswa sudah nyicil belajar mandiri terkait objek-objek sejarah yang akan dikunjungi. Progres pengerjaan tugas tersebut perlu dikontrol sebelum keberangkatan KKL. Dengan desain yang demikian, besar kemungkinan proses KKL akan lebih hidup, aktif, dan bewarna karena muncul feedback atau pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa. Besar kemungkinan KKL tidak hanya berjalan “satu arah” (mahasiswa hanya pasif mendengar), melainkan berjalan “dua arah” (saling bertanya dan menjelaskan).
  • Kesadaran Ngumpul dan Memperhatikan: Jika mahasiswa berangkat KKL dalam kondisi “kosongan” (tanpa belajar sama sekali), kemungkinan besar proses KKL akan berjalan pasif. Saat diterangkan pun mahasiswa akan cenderung hanya mendengarkan sepintas lalu dan tidak ada yang bertanya. Bahkan sebagian mahasiswa ada yang mencar, berteduh, bergerombol, atau asik foto-foto sendiri ketika sesi studi/penjelasan dosen atau tour guide belum selesai. Padahal sesi foto bersama maupun sesi untuk foto-foto sendiri sudah ada waktunya (pasca selesai diterangkan). Dari sinilah mahasiswa hendaknya memiliki kesadaran akan kebutuhan ilmu dan informasi sehingga waktunya berkumpul ya berkumpul, waktunya mendengarkan ya mendengarkan, waktunya bertanya ya dioptimalkan bertanya, BUKAN malah mencar sendiri-sendiri entah ke mana. KKL Sejarah membutuhkan “kesadaran bersama“.


J. Ucapan Terima Kasih

Biasanya pihak Biro akan menyampaikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf atas berbagai kekurangan (jika ada) selama pelaksanaan KKL. Sebaliknya, perwakilan dosen pendamping di tiap bus juga mestinya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh Panitia KKL, Para Mahasiswa, dan juga Pihak Biro yang telah berjuang semaksimal mungkin. Pihak dosen juga menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan dan kekilafan (jika ada) selama proses pendampingan KKL. Setelah KKL selesai, pihak dosen melakukan “evaluasi internal” di Prodi sebagai catatan untuk mengoptimalkan pelaksanaan KKL Sejarah di tahun berikutnya.

Komentar