Oleh: Dadan Adi Kurniawan
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret
Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id
Pendahuluan
Sebagai pengantar, penulis tegaskan di awal bahwa tulisan ini hanya berisi “kumpulan pertanyaan” (questions), bukan bentangan narasi informatif yang bersifat jawaban. Terdapat sekitar 100 pertanyaan (tidak termasuk cabangnya) dan 57 referensi buku sejarah yang relevan (buku babon dan pelengkap). Tentu selain sumber buku, juga telah banyak hasil-hasil penelitian yang mengkaji sejarah Surakarta (di berbagai aspek atau bidang) dalam bentuk laporan skripsi, tesis, disertasi ataupun artikel jurnal. Sumber-sumber tersebut kini relatif cukup mudah diakses secara online. Namun dalam tulisan ini, penulis hanya melampirkan daftar buku saja yang sekiranya relevan.
Meski hanya berisi kumpulan pertanyaan dan daftar sumber referensi, tetapi penulis berharap semoga langkah kecil ini bisa menjadi semacam signal atau “kisi-kisi” yang bisa menimbulkan curiosity (rasa penasaran). Rasa penasaran umumnya mendorong seseorang melakukan pelacakan jawaban. Dalam kerangka inilah tulisan ini dibuat. Harapannya kita menjadi tergugah untuk sama-sama belajar lebih jauh tentang seluk beluk sejarah kota Surakarta (Solo), sebuah kota kecil di wilayah bagian tengah dari Pulau Jawa. Tergugah untuk menelisik sisi-sisi umum yang sudah banyak dibahas, ataupun menguak sisi-sisi (aspek-aspek) lain yang masih jarang orang pertanyakan.
Mungkin kita sudah sering mendengar, menjumpai atau melewati berbagai tempat menarik di setiap sudut kota Solo, tetapi bisa jadi kita belum mengenal benar bagaimana sejarahnya. Untuk itu, mari kita cermati bersama pertanyaan-pertanyaan historis-reflektif berikut ini. Setelahnya, tugas masing-masing (termasuk penulis) untuk mencari tahu jawabannya. Mampu menyusun daftar pertanyaan dan daftar sumber referensi bukan berarti penulis sudah mengetahui semua jawabannya. Tidak sama sekali. Sejujurnya baru secuil yang penulis ketahui. Untuk itu, mari sama-sama belajar sejarah dan belajar dari sejarah. “Belajar masa lalu, menatap masa depan”. Semoga bermanfaat.
Daftar Pertanyaan Historis-Reflektif tentang Sejarah Surakarta
- Apa bedanya Solo, Sala, Surokarto, dan Surakarta?
- Apakah ada hubungan antara nama Surakarta dan Kartasura? Apa arti dari kedua nama tersebut?
- Penulisan yang benar Kraton, Keraton, atau Karaton?
- Setiap tanggal berapa hari jadi Kota Solo/Surakarta diperingati? Dasarnya apa?
- Setiap tanggal berapa hari jadi Pemerintah Kota Surakarta diperingati? Dasarnya apa?
- Di mana lokasi keberadaan Makam Ki Ageng Sala?
- Di mana kita bisa menemukan pohon Sala?
- Dalam konteks kompleks keraton, manakah yang dinamakan Siti Hinggil Keraton Surakarta?
- Dalam konteks kompleks keraton, manakah yang dinamakan Pagelaran Keraton Surakarta?
- Dalam konteks kompleks keraton, manakah yang dinamakan Kori Kamandungan Keraton Surakarta?
- Dalam konteks kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, manakah yang dinamakan menara Sangga Buwana?
- Apa fungsi alun-alun Keraton (utara dan selatan) di masa kerajaan?
- Mengapa terdapat pohon beringin kembar (berjumlah 2 pohon) di alun-alun Surakarta?
- Mengapa bagian dari bangunan-bangunan Keraton Kasunanan (termasuk Masjid Agung Surakarta) didominasi cat warna biru?
- Mengapa banyak benda pusaka keraton (semisal kerbau, tombak, keris, gamelan) yang diberi nama/gelar Kyai? Apa tujuannya? Mengapa jarang ditemui pusaka-pusaka yang diberi gelar Nyai?
- Dalam konteks kompleks Puro, manakah yang dinamakan Pamedan Mangkunegaran?
- Dalam konteks kompleks Puro, manakah yang dinamakan Prangwedanan Mangkunegaran?
- Dalam konteks segi keberadaan atau pembangunan pertama kali, lebih duluan mana antara Keraton Kasunanan dan Puro Mangkunegaran?
- Dari segi keberadaan atau pembangunan pertama kali, lebih duluan mana antara Keraton Kasunanan dan Benteng Vastenburg?
- Apakah ada perbedaan antara Sunan dan Susuhunan?
- Raja Keraton Surakarta menggunakan gelar Hamengku Buwono atau Paku Buwono?
- Siapakah raja dari Keraton Kasunanan yang dikenal sebagai raja terbesar (banyak membangun)?
- Siapakah raja/adipati dari Puro Mangkunegaran yang terkenal sebagai “raja gula” (karena perkembangan Pabrik Gula saat itu berkembang pesat)?
- Siapakah Raden Mas Said sehingga namanya diabadikan sebagai nama salah satu universitas di Surakarta? Mengapa ia dijuluki Pangeran Samber Nyawa?
- Pabrik Gula Colomadu dan Pabrik Gula Tasikmadu dulunya dikelola Kasunanan atau Mangkunegaran?
- Masjid manakah yang usianya paling tua di kota Surakarta?
- Lebih tua manakah antara Masjid Laweyan dan Masjid Agung Surakarta?
- Lebih tua manakah antara Masjid Agung Surakarta dan Masjid Al Wustho Mangkunegaran?
- Gereja Kristen manakah yang usianya paling tua di kota Surakarta?
- Gereja Katolik manakah yang usianya paling tua di kota Surakarta?
- Klenteng manakah yang usianya paling tua di kota Surakarta?
- Apa itu Loji Gandrung dan Loji Wetan? Apa persamaan keduanya?
- Pada masa periode kolonial, di manakah lokasi kantor residen Belanda di Surakarta? Masih adakah sekarang?
- Jika diminta menyebutkan satu atau dua pondok, pondok pesantren tertua apakah yang pernah ada di Surakarta? Apakah sampai sekarang masih eksis?
- Mengapa setiap acara haul di kota Surakarta, yang selalu ramai adalah Masjid Riyadh? Mengapa bukan Masjid Assagaf, Masjid Ar-Raudhah, Masjid Agung Surakarta, atau Masjid Al Wutho?
- Trio langgar legendaris (tua) apa saja yang terdapat di Kampung Kauman Surakarta?
- Sebelum berganti nama menjadi Slamet Riyadi, apa nama jalan utama yang membelah jantung kota Surakarta tersebut?
- Kini bernama jalan apakah jalan utama (jalan raya besar) yang dulu dilewati rombongan untuk boyong kedaton (pindah istana) dari Keraton Kartasura ke Keraton Surakarta?
- Ada berapakah jumlah stasiun kereta api di Surakarta? Mana yang paling tua (mulai dibangun pertama kali)?
- Sebelum dibangun Stasiun Solo Balapan, dulunya tempat tersebut digunakan untuk apa?
- Lebih tua manakah antara usia Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari?
- Benarkah di Surakarta terdapat 2 tugu lilin? Jika memang benar, mengapa yang terkenal hanya 1 tugu lilin?
- Apa saja nama-nama hotel terkenal di Surakarta pada era kolonial Belanda? Kini menjadi apa?
- Jika diminta menyebutkan setidaknya 15 saja nama-nama museum di Kota Surakarta, kira-kira museum mana saja?
- Museum manakah yang paling tua di Surakarta?
- Jika diminta menyebutkan setidaknya 20 pasar tradisional di Kota Surakarta, kira-kira pasar tradisional mana saja?
- Siapakah nama arsitek pembangunan Pasar Gede di Surakarta?
- Di manakah lokasi Pasar Pon di Surakarta? Masih adakah pasar tersebut?
- Di Surakarta, terdapat sebuah pasar bernama Pasar Triwindu. Mengapa diberi nama Pasar Triwindu?
- Di manakah lokasi bioskop-bioskop terkenal di Surakarta sejak era kolonial? Masih adakah bioskop tersebut?
- Jika diminta menyebutkan setidaknya 15 saja nama-nama rumah sakit di kota Surakarta, kira-kira rumah sakit (RS) mana saja? Mana saja RS yang cikal bakalnya sudah ada sejak masa kolonial?
- Sebelum beralih nama menjadi RS Dr Oen Kandang Sapi Solo, apa nama rumah sakit tersebut? Cikal bakalnya berlokasi di mana?
- Sebelum beralih nama menjadi RSJD dr. Arif Zainuddin, apa nama rumah sakit tersebut? Sebelumnya berlokasi di mana?
- Ada berapa Societeit di Surakarta pada era kolonial? Di mana saja lokasi-lokasi gedungnya?
- Dalam sejarahnya, Gedung Juang 45 Surakarta pernah difungsikan sebagai apa saja?
- Siapa yang menginstruksikan pendirikan THR Sriwedari? Dulu difungsikan untuk apa? Kini nasibnya bagaimana?
- Apa itu Partinituin? Di manakah lokasinya? Bagaimana sejarahnya?
- Apa itu Partinahbosch? Di manakah lokasinya? Bagaimana sejarahnya?
- Apa itu Villapark? Di manakah lokasinya? Bagaimana sejarahnya?
- Apa itu Kusumawardaniplien? Di manakah lokasinya?
- Ada berapa “Kampung Kauman” di Surakarta? Di wilayah kecamatan mana saja?
- Ada berapa kampung yang dijuluki sentra “kampung batik” di Surakarta?
- Ada sekitar berapa jumlah ndalem pangeran di kota Surakarta? Mana saja?
- Di mana lokasi pemakaman raja-raja dan pangeran Kasunanan disemayamkan?
- Di mana saja lokasi pemakaman raja-raja dan pangeran Mangkunegaran disemayamkan?
- Di manakah lokasi Sungai/Kali Bathangan di Surakarta yang legendaris itu? Masih adakah sekarang?
- Total ada berapa gapura keraton baik yang berada di tengah kota maupun di wilayah batas-batas kota?
- Ada berapa patok penanda batas antara wilayah Kasunanan dan Mangkunegaran yang terdapat di kota Surakarta?
- Secara topinimi, nama Jebres yang melekat pada Kecamatan Jebres, itu dulunya merupakan nama apa?
- Di Surakarta terdapat Kelurahan Jagalan. Secara historis, mengapa kelurahan tersebut dinamakan Jagalan?
- Kampung/kelurahan apakah di Surakarta yang terkenal sebagai sentra produksi blangkon? Di manakah lokasinya?
- Kampung/kelurahan apakah di Surakarta yang terkenal sebagai sentra produksi permata/intan/mutiara? Di manakah lokasinya?
- Kampung/kelurahan apakah di Surakarta yang terkenal sebagai tempat tinggal para seniman keraton (seni tradisi)? Di manakah lokasinya?
- Di manakah lokasi Kampung Pecinan Surakarta? Dikenal sebagai tempat tinggalnya siapa?
- Di manakah lokasi pusat tempat tinggal orang-orang keturunan Arab di Surakarta?
- Di manakah bekas lokasi tempat tinggal orang-orang Eropa/Kulit Putih di Surakarta?
- Mengapa sama-sama bekas kerajaan, tetapi di Surakarta terjadi gerakan anti swapraja sedangkan di Yogyakarta tidak? Apa yang membedakan Surakarta dan Yogyakarta saat itu?
- Apakah benar zaman dahulu Keraton Kasunanan Surakarta dan saudagar-saudagar Laweyan memiliki riwayat yang kurang baik (berselisih/berkonflik)? Jika benar, apa penyebabnya?
- Bernarkah mentalitas orang-orang Keraton Kasunanan dulunya anti terhadap profesi wirausaha? Sebaliknya orang-orang Mangkunegaran dikenal sebagai priyayi Jawa yang justru menggelorakan jiwa wirausahawan?
- Kapan Kasunanan dan Mangkunegaran resmi bergabung ke pangkuan NKRI?
- Kapan gerakan anti swapraja melanda Surakarta? Apa yang terjadi di Surakarta ketika terjadi gerakan anti swapraja?
- Benarkah Surakarta dulu bernah berstatus Daerah Istimewa? Kapan?
- Benarkah Universitas Gadjah Mada (UGM) dulunya pernah/sempat berpeluang berdiri di Surakarta? Misal iya, mengapa tidak jadi?
- Sebelum berganti nama menjadi Universitas Sebelas Maret, apa nama asli/awalnya?
- Di manakah lokasi SD Muhammdiyah paling tua di Surakarta?
- Sebelum berkantor pusat di gedung baru wilayah depan Puro Mangkunegaran, di daerah manakah kantor pusat dan aktivitas rutinan MTA (Majelis Tafsir Alquran) Surakarta?
- Sekolah apa di Surakarta yang cikal bakal pendiriannya sudah sejak era kolonial dan didirikan oleh kalangan alawiyin atau sayyid? Masih eksiskah sekolah tersebut?
- Sekolah apa di Surakarta yang cikal bakal pendiriannya sudah ada sejak era kolonial dan tidak bisa dilepaskan dari organisasi Persatuan Islam (Persis)? Masih eksiskah sekolah tersebut?
- Apa hubungan antara Monumen Pers dan Mangkunegaran?
- Apa itu Lokananta? Di mana lokasinya? Bagaimana sejarahnya?
- Pernahkah Keraton Surakarta mengalami kebakaran? Kapan? Apa penyebabnya?
- Pernahkan Kota Surakarta terjadi banjir besar? Kapan?
- Kapan Terminal Tirtonadi didirikan dan mulai beroperasi? Sebelum digantikan oleh Terminal Tirtonadi, terminal apakah yang beroperasi di Surakarta? Di manakah lokasinya?
- Di manakah lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dari aktivitas masyarakat kota Surakarta? Sejak kapan didirikan?
- Daerah pertokoan/pabrik mana saja di Surakarta yang dulu kena aksi bakar saat krisis 1998?
- Ada berapa universitas di luar wilayah administrasi Kota Surakarta, tetapi tetap menggunakan nama Surakarta di belakangnya?
- Kota Surakarta saat ini terdiri dari berapa kecamatan? Kecamatan mana yang wilayahnya paling luas? Kecamatan mana yang wilayahnya paling kecil?
- Kecamatan mana di Surakarta yang jumlah kelurahannya paling banyak? Kecamatan mana di Surakarta yang jumlah kelurahannya paling sedikit?
- Kecamatan mana di Surakarta yang jumlah sekolahnya (SMP/sederajat dan SMA/sederajat) paling sedikit? Kecamatan mana di Surakarta yang jumlah perguruan tinggi (kampusnya) paling sedikit?
- Kecamatan mana di Surakarta yang jumlah sekolahnya (SMP/sederajat dan SMA/sederajat) paling banyak? Kecamatan mana di Surakarta yang jumlah perguruan tinggi (kampusnya) paling banyak?
Referensi Buku-Buku Seputar “Sejarah Lokal Surakarta”:
- Darsiti Soeratman. (2000). Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.
- Vincent J.H. Houben. (2002). Keraton dan Kompeni: Surakarta danYogyakarta, 1830-1870. Yogyakarta: Bentang Budaya.
- M.C. Ricklefs. (2021). Samber Nyawa: Kisah Perjuangan Seorang Pahlawan Nasional Indonesia Pangeran Mangkunagara I (1726-1795). Jakarta: Kompas.
- Sri Margana. (2004). Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
-
Sri Margana. (2004). Kraton Surakarta dan Yogyakarta 1769-1874. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- Anton Satyo Hendriatmo. (2006). Giyanti 1755: Perang Perebutan Mahkota III dan Terpecahnya Kerajaan Mataram Menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Tangerang: CS Book.
- Sri Wintala Achmad. (2025). Perang Suksesi Jawa 1680-1812: Melacak Konflik dan Intrik para Pangeran Darah Biru dalam Pergeseran Kekuasaan di Keraton Jawa. Yogyakarta: Araska.
- Daradjadi. (2013). Geger Pacinan 1740-1743: Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC. Jakarta: Kompas.
- Soemarsaid Moertono. (1985). Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau: Studi Tentang Masa Mataram II, Abad XVI Sampai XIX. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
- Sunar Tri Suyanto. (1985). Sejarah berdirinya Kerajaan Surakarta Hadiningrat. Surakarta: Tiga Serangkai.
- Soekirman, dkk. (2013). Provinsi Daerah Istimewa Surakarta: Tinjauan Historis, Filosofis, Sosiologis & Yuridis. Surabaya: Henk Publica.
- Nancy K. Florida. (2012). Javanese Literature in Surakarta Manuscripts Volume 3: Manuscripts of The Radya Pustaka Museum and The Hardjonagaran Library. Ithaca: Southeast Asia Program Cornell University.
- Kuntowijoyo. (2004). Raja, Priyayi, dan Kawula: Surakarta 1900-1915. Yogyakarta: Ombak.
- Savitri Prastiti Scherer. (1985). Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX. Jakarta: Sinar Harapan.
- Hermanu Joebagio. (2017). Islam dan Kebangsaan Di Keraton Surakarta: Dari Paku Buwana IV Hingga Paku Buwana X. Sukoharjo: Dio Media.
- Neni Suhaeni. (2008). Pakubuwono VI Pendukung Gigih Diponegoro. Bandung: Jembar.
- KRT Kastoyo Ramelan. (2004). Sinuhun Paku Buwono X: Pejuang Dari Surakarta Hadiningrat. Bandung: Jeihan Institute.
- Purwadi, dkk. (2009), Sri Susuhunan Paku Buwana X: Perjuangan, Jasa & Pengabdiannya untuk Nusa Bangsa. Jakarta: Bangun Bangsa.
- H.M. Nasruddin Anshoriy & H. Jeihan Sukmantoro. (2014). Paku Buwono X: Penjaga Tradisi dan Pelopor Modernitas Budaya Jawa. Yogyakarta: Ilmu Giri dan Jeihan Institute.
- W.E. Soetomo Siswokartono. (2006). Sri Mangkunegoro IV Sebagai Penguasa dan Pujangga (1953-1881). Semarang: Aneka Ilmu
- Fachmi Ardhi, dkk. (2021). Mangkunegoro VI Sang Reformis. Jakarta: Kompas.
- Hari Wiryawan. (2011). Mangkunegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia. Surakarta: LPPS.
- Soedarmono, dkk. (2011). Tata Pemerintahan Mangkunegaran Seri I. Jakarta: Balai Pustaka.
- Himawan Prasetyo. (2024). Kauman di Surakarta 1910-1930. Yogyakarta: Pustaka Kita.
- Miftahuddin. (2023). Modernisasi Kota Surakarta Awal Abad XX. Pemalang: Dramaturgi & Temanggung: Kendi.
- Waskito Widi Wardojo. (2013). Spoor Masa Kolonial: Dinamika Sosial Ekonomi Masyarakat Vorstenlanden 1864-1930. Surakarta: bukutujju.
- I Made Ratih Rosanawati. (2022). Perubahan Gaya Hidup Priyayi di Surakarta: Studi Sejarah di Pura Mangkunegaran Tahun 1853-1945. Klaten: Lakeisha.
- Mohamad Ali. (2023). Merawat Intelektualisme Muhammadiyah: Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan. Sukoharjo: Muhammadiyah University Press.
- Wasino. (2014). Modernisasi di Jantung Budaya Jawa Mangkunegaran 1896-1944. Jakarta: PT Gramedia, 2014.
- Wasino. (2008). Kapitalisme Bumi Putera: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran. Yogyakarta: LKiS.
- Iwan Santosa, (2011). Legiun Mangkunegaran (1808-1942): Tentara Jawa Perancis Warisan Napoleon Bonaparte. Jakarta: Kompas.
- Daryono. (2007). Etos Dagang Orang Jawa: Pengalaman Raja Mangkunegara IV. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- Soedarmono. (2006). Mbok Mase: Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20. Jakarta: Yayasan Warna Warni Indonesia.
- George Donald Larson. (1990). Masa Menjelang Revolusi: Kraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912 –1942. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
- Takashi Shiraishi. (1997). Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
- Syamsul Bakri. (2015). Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942. Yogyakarta: LKiS.
- Suhartono W. Pranoto. (1991). Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta, 1830-1920. Yogyakarta: Tiara Wacana.
- Julianto Ibrahim. (2004). Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa revolusi di Surakarta. Wonogiri: Bina Citra Pustaka.
- Julianto Ibrahim. (2013). Opium dan Revolusi: Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- Kenji Tsyuchiya. (2023). Javanologi di Zaman Ranggawarsita: Pengantar Kebudayaan Jawa Abad 19. Yogyakarta: Buku Langgar.
- Kharis Matul Muarifah. Pendidikan Dalang Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka) 1923-1940. Surabaya: Pustaka Indis.
- Djoko Soekiman. (2011). Kebudayaan Indis; dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi. Depok: Komunitas Bambu.
- Susanto. (2023). Kanonisasi Budaya: Masyarakat Indis Surakarta di Tengah Arus Pergolakan Budaya. Surakarta: Selaklali.
- Heri Priyatmoko. (2022). Satu Kampung Tiga Maestro: Biografi Sardono W Kusuma, Mlayawidada dan S Ngaliman. Jakarta: BRIN.
- Heri Priyatmoko. (2017). Keplek Ilat: Sejarah Wisata Kuliner Solo. Jakarta: Direktorat Sejarah.
- Waridi. (2008). Gagasan dan Kekaryaan Tiga Empu Karawitan: Pilar Kehidupan Karawitan Jawa Gaya Surakarta 1950-1970-an (Ki Martapengrawit, Ki Tjakrawarsita, Ki Nartasabda). Bandung: Etnoteater Publisher bekerja sama dengan BAAC Kota Bandung dan Pascasarjana ISI Surakarta.
- Waridi. (2006). Karawitan Jawa Masa Pemerintahan PB X: Perspektif Historis dan Teoritis (Surakarta: ISI Press Solo.
- Darsono. (2002). Cokrodihardjo dan Sunarto Cipto Suwarno: Pangrawit Unggulan Luar Tembok Keraton. Surakarta: Citra Etnika Surakarta.
- Rustopo. (2001). Gendhon Humardani Sang Gladiator: Arsitek Kehidupan Seni Tradisi Modern. Surakarta: Yayasan Mahavhira.
- Rustopo. (2007). Menjadi Jawa: Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Ombak.
- Rustopo. (2008). Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro. Yogyakarta: Ombak bekerja sama dengan Yayasan Nabil Jakarta.
- J.D. Wolterbeek. (1995). Babad Zending di Pulau Jawa. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen.
- S.H. Soekotjo. (2009). Sejarah Gereja-Gereja Kristen Jawa Jilid 1: Di Bwah Bayang-Bayang Zending 1858-1948. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen dan Salatiga: Lembaga Studi dan Pengembangan GKJ.
- S.H. Soekotjo. (2010). Sejarah Gereja-Gereja Kristen Jawa Jilid 2: Merajud Usaha Kemandirian 1950-1985. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen dan Salatiga: Lembaga Studi dan Pengembangan GKJ.
- Kuntowijoyo. (1990). Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa di Masa Orde Baru. Yogyakarta: Pusat Antar Universitas Studi Sosial Universitas Gadjah Mada.
- M. Hari Mulyadi, dkk. (1999). Runtuhnya Kekuasaan “Kraton Alit” (Studi Radikalisasi Sosial “Wong Sala” dan Kerusuhan Mei 1998 di Surakarta). Surakarta: LPTP.
- Tim. (1993). Pertempuran Empat Hari di Solo dan Sekitarnya. Jakarta: Kerukunan Anggota Datasemen II BE 17


[…] daftar 100 pertanyaan untuk menyelami seluk-beluk sejarah Surakarta. Silahkan lihat di sini: [Mempertanyakan Ulang Seberapa Jauh Kita Memahami Seluk-Beluk Sejarah Surakarta]. Pada bagian belakang tulisan saya sertakan daftar 50 buku babon (induk) dan buku pelengkap […]