Views: 35
Views: 35
Gambar 1. Foto bersama Mahasiswa MBKM Pendidikan Sejarah UNS 2025 bersama Pepeserta Walking Tour. (Dokumentasi Tim MBKM)
Sepuluh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam program Hibah Pembelajaran Merdeka atau MBKM, bekerja sama dengan pengurus Kampung Wisata Kemlayan, menyelenggarakan kegiatan Walking Tour sebagai bagian dari upaya pelestarian dan promosi budaya lokal. Kesepuluh mahasiswa MBKM antara lain Abdurrahman Setiaji, Anisa Eka Putri Devita Maharani, Avelya Maharani Purnama, Haikal Dzaki, Kefas Cahya Wiratama, Nadia Fajrin Maulina, Nuraniki Afif Utami, Raihan Satria Ardy Mudzakir, Rio Muhammad Al Fateh Putra Ardiantari, Yudha Anggoro Pramono Putro. Kegiatan ini dilaksanakan di Kampung Kemlayan, sebuah kawasan yang berada di Kecamatan Serengan, Kota Surakarta yang dikenal sebagai kampung seniman karena menjadi tempat tinggal para maestro tari, gamelan dan seni tradisi Jawa. Tidak sedikit seniman ternama nasional berasal atau pernah berkarya di wilayah ini. Itulah sebabnya Kemlayan sering dijuluki sebagai “Kampung Maestro”.
Kemlayan bukan sekadar kawasan permukiman, tetapi merupakan ruang budaya yang hidup di mana jejak sejarah menyatu dengan aktivitas harian warganya. Di antara gang-gang sempit, terdapat rumah-rumah lawas peninggalan era kolonial, mural-mural budaya yang menggambarkan nilai-nilai Jawa, serta sumur-sumur tua yang menyimpan kisah spiritual. Suasana yang khas dan makna menjadikan Kemlayan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif berbasis sejarah dan budaya.

Gambar 2. Penjelasan tampat bersejarah oleh ketua Pengelola Kampung Wisata Kemlayan. (Dokumentasi Tim MBKM)
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 31 Mei 2025, ini diikuti oleh sekitar 20 peserta dari berbagai latar belakang. Walking tour ini bukan hanya sekadar kegiatan edukatif biasa, melainkan menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, budaya dan masyarakat. Para peserta diajak menjelajahi sudut-sudut bersejarah Kampung Kemlayan, mengenal rumah-rumah maestro seni, mural-mural budaya, serta mendengarkan narasi sejarah yang disampaikan langsung oleh pengurus kampung wisata Kemlayan.
Kegiatan ini dimulai dari Ndalem Projolukitan, sebuah bangunan tua yang dulu berfungsi sebagai kediaman keluarga bangsawan. Lokasi ini menyimpan nuansa aristokrat Jawa dan membuka tour dengan suasana yang menyenangkan. Perjalanan berlanjut ke bekas hotel dua lantai, sebuah bangunan misterius yang di dalamnya terdapat tanda penolak bala peninggalan spiritual masyarakat Jawa yang mempercayai kekuatan simbol-simbol sebagai pelindung dari marabahaya. Dari tempat ini, peserta dibawa ke Makam Mbah Berak, sosok tokoh lokal yang dikenal sebagai penjaga spiritual kampung, sekaligus menjadi penanda bahwa Kemlayan bukan hanya kampung seniman, tetapi juga tempat bertumbuhnya nilai-nilai kebijaksanaan lokal.
Selanjutnya, peserta mengunjungi rumah Pak Abdul Fattah, seorang saudagar batik ternama dari Kemlayan. Rumah ini menjadi saksi kejayaan industri batik di masa lalu, serta menunjukkan bahwa seni dan ekonomi pernah berpadu kuat di kampung ini. Tak jauh dari situ, peserta berhenti sejenak di Sumur Kamulyan, sumur tua yang dianggap keramat dan diyakini memiliki nilai sejarah sejak zaman Mangkunegaran. Sumur ini masih aktif digunakan dan menjadi bagian dari identitas spiritual warga Kemlayan. Rute selanjutnya membawa peserta ke pinggir jalan, tepatnya di lokasi Patung Sugriwa–Subali. Patung ini berdiri sebagai pengingat kisah Ramayana dan bagaimana narasi-narasi epik itu turut menjadi inspirasi dalam seni pertunjukan wayang dan tari Jawa.
Tak lengkap jika tidak membahas seni tari di Kemlayan. Setelah mengunjungi MasDon Art Center, peserta Walking Tour diajak menari bersama. Tarian khas Kemlayan menjadi pilihan yang tepat dengan tujuan mengenalkan tarian Kemlayan kepada peserta Walking Tour. Di titik ini, peserta mendapat kesempatan untuk menari bersama, sebuah bentuk interaksi yang menjembatani antara warisan budaya dan generasi muda. Setelah menari bersama, peserta Walking Tour diberikan kesempatan untuk merasakan makanan khas Kemlayan yaitu Jadah Gedang. Sebuah makanan tradisional yang memiliki nilai sejarah tinggi. Konon, pada masa lalu, Jadah Gedang hanya boleh dikonsumsi oleh kalangan keluarga Keraton, menjadikannya tidak hanya lezat tetapi juga sarat makna budaya. Kegiatan tidak berhenti di situ. Tepat di seberang lokasi, peserta menapakkan kaki di rumah alm. Gesang, maestro legendaris pencipta lagu “Bengawan Solo”. Rumah ini menjadi simbol bahwa Kemlayan tidak hanya melahirkan seniman lokal, tetapi juga figur besar dalam musik Indonesia. Sebagai penutup, rute diarahkan ke rumah peninggalan salah satu keturunan Singosari, sebuah situs unik yang menghubungkan sejarah lokal Kemlayan dengan jejak kerajaan besar Nusantara di masa lampau. Rumah ini menyimpan koleksi dan cerita keluarga yang erat kaitannya dengan keturunan kerajaan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa belajar sejarah tidak harus di dalam kelas. Dengan menyentuh langsung ruang budaya seperti Kemlayan, peserta bisa merasakan atmosfer sejarah secara nyata dan membangun rasa cinta terhadap warisan leluhur,” ujar salah satu mahasiswa yang menjadi peserta.
Walking tour ini merupakan bagian dari rangkaian program Hibah Pembelajaran Merdeka atau MBKM dengan judul “Penguatan Kampung Seni Kemlayan Menjadi Destinasi Wisata Kreatif” yang bertujuan untuk mengembangkan potensi wisata berbasis sejarah dan budaya. Kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi antara mahasiswa, masyarakat dan pemerintah lokal dalam menghidupkan kembali ruang-ruang tradisi di tengah dinamika modernitas.

