
Dalam episode baru di semester yang baru ini, mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2021 menghadapi tantangan baru dalam perkuliahan mendatang. Tantangan ini berupa adanya perubahan komposisi mata kuliah yang berbeda dari milik kakak tingkat sebelum-sebelumnya dengan yang sekarang. Mata kuliah-mata kuliah tersebut kebanyakan merupakan mata kuliah gabungan dari mata kuliah lainnya atau mata kuliah baru. Mata kuliah baru ini merupakan mata kuliah perdana yang diajarkan kepada mahasiswa semester 6. Nama mata kuliah tersebut adalah Sejarah Kontroversial. Mata kuliah ini diampu oleh Dadan Adi Kurniawan, S.Pd, M.A dengan bobot 2 sks.
Tentu dengan mendengar kontroversial, maka kita langsung membayangkan bahwa hal tersebut penuh dengan intrik atau polemik. Apalagi yang dibahas adalah sejarah yang memang dikenal banyak sekali hal-hal kontroversial yang ikut menyelimutinya. Sejarah kontroversial sendiri saat ini memang mulai banyak diajarkan di perguruan tinggi pelosok negeri tak terkecuali Universitas Sebelas Maret. Tujuannya bukan untuk mencari narasi sejarah versi apa yang paling benar, namun oleh dosen pengampu mata kuliah ini menekankan pembelajaran sejarah kontroversial sebagai sarana dalam mengkritisi, melihat, serta menelaah narasi sejarah yang berkembang selama ini. Mahasiswa diharapkan tidak menelan mentah-mentah narasi sejarah yang berkembang, namun juga tetap memperhatikan berbagai unsur mengenai narasi sejarah tersebut.
Untuk mendukung itu, Dadan Adi Kurniawan menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan dalam setiap pertemuannya. Mengingat isu kontroversial ini dianggap cukup berat bagi beberapa kalangan mahasiswa, maka diperlukan sebuah metode pembelajaran yang berbeda dari biasanya. Dadan Adi Kurniawan pada awal perkuliahan memberi beberapa kisi-kisi mengenai perkuliahan yang akan mendatang. Selain memberikan RPS, tak ketinggalan juga daftar buku-buku referensi perkuliahan yang mesti dimiliki oleh mahasiswa. Tetapi tak semua buku yang ada di daftar harus dimiliki, cukup 2 saja untuk 16 pertemuan perkuliahan dengan rincian 1 buku untuk 8 pertemuan pertama dan 1 buku untuk 8 pertemuan akhir. Harapannya selain untuk menggenjot geliat membaca mahasiswa, Dadan Adi Kurniawan berpesan jika tak elok mahasiswa sejarah namun tak memiliki buku-buku sejarah. Sehingga dengan memiliki buku sejarah, “mahasiswa dianggap ‘sah’ menjadi mahasiswa sejarah”, begitu ujarnya.

Daftar Buku-Buku Referensi Perkuliahan
Perkuliahan berjalan cukup menyenangkan karena Dadan Adi Kurniawan selaku dosen pengampu mata kuliah menerapkan metode yang seru untuk menyambut perkuliahan. Para mahasiswa diharapkan untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan nanti. Dalam melakukan persiapan, para mahasiswa tidak dibatasi untuk mempelajari materi dari buku-buku referensi saja. Tetapi juga dapat melalui tampilan video dari Youtube, Instagram, maupun Tiktok. Lalu bisa juga membaca materi melalui artikel-artikel baik dari dalam maupun luar negeri untuk memperkaya wawasan dan sudut pandang mengenai suatu peristiwa sejarah. Sehingga ketika dalam kelas nanti mahasiswa tidak hanya membawa tas dan jiwa raga saja, tapi juga bekal pengetahuan dari materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Teman-teman mahasiswa juga terlihat sangat antusias untuk menyiapkan materi perkuliahan dengan belajar sungguh-sungguh. Banyak yang saling bertukar catatan, berkirim materi berupa e-book atau artikel, bahkan belajar bersama baik secara tatap muka maupun via daring.
Usut punya usut metode ini ternyata menjadi bagian skenario Dadan Adi Kurniawan dalam mempersiapkan perkuliahan. Jadi di saat waktu perkuliahan, Dadan Adi Kurniawan akan menunjuk satu atau beberapa mahasiswa untuk maju ke depan kelas untuk ditanyai seputar materi perkuliahan hari itu. Kita ambil contoh pada pertemuan pertama, membahas mengenai mitos 350 tahun di jajah. Mahasiswa kemudian ditanyai oleh Dadan Adi Kurniawan perihal pendapat atau fakta apa yang sudah ditemukan mahasiswa dari materi-materi yang dipelajari sebelumnya. Mahasiswa yang sudah menyiapkan dengan baik maka tak kesusahan untuk menjawab pertanyaan dari sang dosen. Ada kalanya juga beberapa mahasiswa kelimpungan untuk menjawab pertanyaan. Alasannya bermacam-macam seperti materi yang dibaca ternyata tidak sesuai atau kurang valid, bahkan tidak mempersiapkan sama sekali. Tentu saja ini menjadi tamparan keras bagi mahasiswa yang tidak mempersiapkan perkuliahan dengan baik.
Kelas perkuliahan memang di desain seperti ini. Selain dari dosen pengampu yang memberikan pertanyaan, mahasiswa lain juga turut diberi kesempatan untuk memberikan pertanyaan kepada mahasiswa yang mendapat giliran ditanyai di depan kelas. Disinilah letak keseruannya karena materi sejarah kontroversial memang berdiri bukan karena narasi tunggal saja. Sehingga dapat menimbulkan multi perspektif ketika memaknai sebuah peristiwa sejarah yang berbau kontroversial. Contohnya saat materi mengenai G 30S, mahasiswa banyak sekali memberikan pertanyaan mengenai siapa dalang utama, bagaimana keterlibatan PKI, apakah PKI aktor utama dari peristiwa tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tadi tentunya memerlukan penjelasan yang kongkrit, apalagi jika ada pro dan kontra dalam setiap narasi sejarah yang digaungkan. Sehingga kondisi kelas akan memanas karena ada “perang suara” untuk menguatkan pendapat mengenai peristiwa G 30S tersebut.

Model Pembelajaran dengan Metode Diskusi dan Tanya Jawab
Dadan Adi Kurniawan selain menjadi dosen pengampu dalam perkuliahan ini juga merangkap sebagai wasit dalam “perang suara” di kelas. Ketika perdebatan semakin tinggi tensinya, dosen pengampu bertugas untuk kembali mendinginkan suasana sehingga kondisi kelas kembali mandali (aman dan terkendali). Dadan Adi Kurniawan menggunakan metode ice breaking untuk mendinginkan suasana. Selain itu, ice breaking juga bertujuan untuk mencairkan suasana terutama ketika para mahasiswa merasa boring atau tidak fokus lagi dalam menangkap materi perkuliahan. Ice breaking yang dilakukan juga bermacam-macam seperti tepuk-tepuk, berlatih kefokusan dengan berhitung, atau sekedar sambung kata. Tentu saja ini menjadi recharge energi dan mood bagi mahasiswa agar kembali siap dalam menerima materi perkuliahan.
Selain metode yang sudah dijelaskan tadi, mahasiswa juga diberi penugasan yakni tugas secara kelompok. Tugasnya adalah membuat artikel tentang materi perkuliahan yang terdiri dari 8 materi. 1 materi dikerjakan oleh 1 kelompok dengan anggota kelompok terdiri dari 3-4 kelompok.Artikel tadi dikerjakan secara kolektif dan gotong royong. Untuk kelompok 1-4, mereka bertugas merampungkan artikel sebelum UTS dimulai. Sedangkan sisanya masih dikerjakan setelah UTS atau sebelum UAS. Tentu saja pembagian ini disesuaikan karena mahasiswa harus mengikuti perkuliahan terlebih dahulu baru dapat membuat artikelnya. Artikel-artikel tadi juga direview bersama-sama untuk “diujikan” kecocokan isinya dengan materi perkuliahan yang sudah disampaikan. Mahasiswa juga dapat mengkritisi artikel milik kelompok lain. Tujuannya untuk mendapatkan artikel yang berbobot dan memiliki mutu, bukan artikel ecek-ecek belaka. Apalagi materinya berupa sejarah kontroversial, sehingga perlu memuat banyak sumber untuk menuliskan di dalam artikel.

Suasana dalam Pembelajaran Sejarah Kontroversial
Artikel-artikel yang sudah melalui proses review dan plagiasi tadi akan disatukan menjadi sebuah buku saku. Buku saku inilah yang menjadi modal para mahasiswa untuk menempuh UAS sebagai final dari destinasi perkuliahan ini. Sedikit cerita, bahwa UAS kali ini menggunakan metode semi-lisan. Metode ini mengharuskan mahasiswa untuk siap ketika mengerjakan soal karena soal akan dibacakan sebanyak dua kali dan mahasiswa diharuskan menjawab dalam waktu yang sudah ditentukan. Sehingga perlu kejelian dalam menjawab serta time management karena waktu tak bisa kembali dan soal tak dapat dibacakan ulang. Buku saku ini memiliki peranan sakti, maka tak heran juga disebut buku sakti. Alasannya karena buku ini juga berisi kumpulan materi-materi perkuliahan dari pertemuan pertama sampai menjelas UAS, sehingga mahasiswa dapat membaca buku ini sebagai modal untuk menghadapi UAS.
Proses pembelajaran dengan metode yang variatif seperti ini tentu membuat gairah belajar mahasiswa semakin naik. Mahasiswa juga dengan kerelaan hati dapat memacu diri mereka untuk menguasai materi perkuliahan dengan belajar, tidak hanya membebankan dari materi yang diberikan saat kuliah saja. Sehingga proses inilah yang sebenarnya diharapkan dengan mahasiswa, pembelajaran dengan metode unik. Terkadang banyak penelitian-penelitian yang mencari solusi bagaimana pembelajaran sejarah dapat mengasyikkan bagi peserta didik di kalangan usia sekolah. Tapi masih sedikit yang mencoba mengkaji bagaimana cara memecah kebosanan dalam perkuliahan sejarah di tingkat perguruan tinggi.
Materi sejarah kontroversial memang baru diajarkan di prodi Pendidikan Sejarah. Pembelajaran yang dikemas secara ciamik oleh Dadan Adi Kurniawan ini akhirnya memberikan kesan yang berharga bagi para mahasiswanya. Dari testimoni mahasiswa, banyak yang curhat jika perkuliahan beliau begitu mendebarkan karena mereka tidak dapat membayangkan akan dicecar pertanyaan-pertanyaan di kelas. Tentu saja ini menjadi sebuah ironi jika perasaan ini tidak diimbangi dengan belajar yang sungguh-sungguh. Jadi perkuliahan sejarah kontroversial selain menggunakan metode yang apik juga meninggalkan bekas dalam benak mahasiswa. Mereka juga belajar untuk berargumen yang baik dan benar dengan bermodalkan materi yang sudah mereka pelajari. Sehingga tidak akan ada yang namanya masuk kelas dengan modal kosongan atau hampa.

Luaran Mata Kuliah Sejarah Kontroversial Berupa Buku Saku atau Buku Sakti
Perkuliahan ini juga meninggalkan bekas bagi mahasiswanya berupa buku saku atau buku sakti. Buku ini walau tidak tebal namun dapat menjadi pegangan atau setidaknya menjadi kenang-kenangan bagi mahasiswa disaat mereka sudah tidak menempuh mata kuliah Sejarah Kontroversial lagi. Buku ini juga dapat digunakan ketika para mahasiswa lulus dan menjadi tenaga pengajar di berbagai tingkatan satuan pendidikan. Materi yang ada di dalam buku juga sudah pas jika kelak akan diajarkan kepada peserta didik. Pembelajaran sejarah kontroversial memang sudah perlu diajarkan karena sekarang kita tidak bisa lagi menggantungkan sejarah kepada narasi yang sudah mapan saja. Ditambah adanya kekuatan media sosial dan internet yang luar biasa. Dua kekuatan tadi seolah menggiring banyak informasi yang mungkin saja tidak terfilter dengan baik sehingga menyebabkan banyak kekeliruan, terutama dalam hal ini tentang sejarah.
Penulis: Nasta Ayundra Oktavian Mahardi (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2021)