Oleh: Yuandhi Yuan Pratama (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2022)
TUJUAN PEMBELAJARAN SEJARAH
Tujuan pembelajaran sejarah yang diambil guna dicapai adalah tujuan pembelajaran yang bersifat normatif. Terdapat beberapa tujuan pembelajaran sejarah yang akan dicapai secara efisien dan efektif, antara lain: (1) Pemahaman tentang diri sendiri, (2) rasa bangga terhadap kegemilangan masa lalu, (3) menimbulkan rasa nasionalisme dan patriotisme, (4) menumbuhkan nilai-nilai moral, kemanusian dan lingkungan hidup, (5) menumbuhkan nilai kebhinekaan dan gotong royong. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut diperlukan konsep pembelajaran sejarah yang sesuai.
Konsep pembelajaran sejarah yang digunakan adalah Historical Empathy. Menurut Endacott & Brooks (2013), pengertian Empati sejarah adalah proses keterlibatan kognitif dan afektif siswa dengan tokoh sejarah untuk lebih memahami dan mengontektualisasikan pengalaman hidup, keputusan, dan tindakan mereka. Empati sejarah melibatkan pemahaman bagaimana orang-orang di masa lalu berpikir, merasakan, mengambil keputusan, bertindak, dan menghadapi konsekuensi dalam konteks sejarah dan sosial tertentu. Sifat Empati berkaitan erat dengan sikap peduli. Hal ini dibuktikan dalam pentingnya aspek sikap dengan adanya Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 yang berisi tentang aspek sikap religius dan sikap sosial. Menurut Sujana (2019: 30), Dalam Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bertujuan meningkatkan ketrampilan serta membangun karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam tujuan pendidikan nasional tersebut adalah bersifat normatif yang dapat diwujudkan dengan penggunaan konsep pembelajaran sejarah yaitu Empati Sejarah. Meningkatkan sikap kepedulian atau sosial dan pemahaman tentang diri sendiri, Barton dan Levstik mengemukakan terdapat empat jenis kepedulian dalam sejarah, antara lain: (1) kepedulian terhadap orang dan peristiwa di masa lalu; (2) peduli terhadap terjadinya peristiwa tertentu; (3) merawat orang di masa lalu; dan (4) kepedulian untuk mengubah keyakinan dan perilaku kita berdasarkan apa yang dipelajari. Secara sederhana, Barton dan Levstik menyatakan bahwa kepedulian merupakan alat untuk menjadikan sejarah bermakna.
Menurut Endacott & Brooks (2013), Empati historis memiliki tujuan terdekat yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran di kelas dan tujuan akhir yaitu tujuan yang berhubungan dengan pemahaman, ketrampilan dan disposisi. Sehingga seseorang memperoleh manfaatnya seumur hidup. Penggunaan empati sejarah di kelas dapat diwujudkan dalam proses belajar siswa, yaitu dalam fokus pembelajaran sejarah. Siswa harus diajarkan dan merubah kebiasaan dalam mempelajari sejarah yang awalnya hanya berfokus pada keputusan-keputusan yang diambil oleh tokoh sejarah terkemuka menjadi mempelajari pengalaman hidup berbagai tokoh. Dalam hal pemahaman, Endacott (2010) menyatakan bahwa sumber-sumber primer seperti jurnal, surat dan pidato tokoh sejarah menjadi sumber paling efektif untuk memberikan siswa pemahaman tentang bagaimana tokoh sejarah berfikir dan merasakan. Dalam hal ini siswa dapat turut merasakan bagaimana situasi dan kondisi pada waktu tersebut, bagaimana para tokoh sejarah yang memiliki rasa sepenanggungan berkumpul dan membentuk perkumpulan mulai dari yang bersifat kedaerahan hingga dengan cara yang modern berupa organisasi-organisasi pergerakan nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Mengacu pada tujuan akhir historical empathy, siswa memahami kompleksitas pembentukan ide, berani mengambil keputusan dan memiliki etika-moral yang baik. Selain itu, melatih ketrampilan siswa dalam meningkatkan kesadaran sejarah yang menghubungkan peristiwa masa lalu dengan masa sekarang, hubungan sebab-akibat. Lalu, historical empathy mengarah pada rasa kebanggaan siswa terhadap pencapaian dan keberanian tokoh-tokoh sejarah di masa lalu untuk kebutuhan bertindak demi kebaikan orang lain dan negara.
STRATEGI PENCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN SEJARAH
Kata strategi berasal dari bahasa Latin yaitu strategia, yang berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Menurut Frelberg dan Driscoll (1992) strategi pembelajaran dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi belajar pada berbagai tingkatan. Menurut Gerlach dan Ely (1980) strategi pembelajaran merupakan cara-cara untuk menyampaikan materi belajar dalam lingkungan pembelajaran tertentu, meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Gerlach dan Ely (1980) juga menyampaikan lagi bahwa perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Definisi pembelajaran dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara guru dengan peserta didik serta bahan ajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut Amri dan Ahmadi (2010) dalam pembelajaran, guru harus memahami materi pelajaran yang akan diajarkan dan memahami berbagai macam model pembelajaran yang mampu merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pembelajaran yang matang. Made Wena (2014) menjelaskan bahwa penggunaan strategi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan karena mempermudah proses kegiatan belajar mengajar sehingga mencapai hasil yang optimal. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran sulit tercapai dengan optimal, atau berlangsung tidak secara efektif dan efisien.
Menurut Krznaric (2014), Empati bagian sikap sosial yang dikembangkan dalam kurikulum di suatu sekolah menengah di Indonesia. Pada paragraf sebelumnya, sudah dijelaskan untuk mencapai tujuan pembelajaran Sejarah yaitu tujuan yang bersifat normatif secara efisien dan efektif selaras dengan konsep Empati Sejarah. Empati sejarah berkaitan dengan bagaimana siswa menggunakan kemampuan kognitif dan afektifnya untuk tidak hanya mengetahui akhir atau hasil suatu peristiwa terjadi, namun bagaimana proses, kondisi lingkungan, keadaan individu maupun kelompok yang dapat dirasakan dan memunculkan sikap peduli siswa. Dalam tahapan rancangan strategi selanjutnya diperlukan pendekatan yang selaras dengan konsep Empati Sejarah. Contextual Teaching and Learning merupakan pendekatan yang dipakai. CTL menurut Wina Sanjaya (2005: 109) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan proses keterlibatan siswa secara penuh guna menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan serta menerapkan dalam situasi kehidupan nyata. Menurut Rusman, (2014: 187) menyimpulkan bahwa pembelajaran Contextual Teaching and Learning adalah keterkaitan antara materi pelajaran dengan pengalaman dan lingkungan peserta didik, sehingga peserta didik berperan aktif mengolah kemampuan yang didapat dari materi pelajaran lalu dikaitkan dengan lingkungan sekitarnya dan menerapkannya. Pendekatan ini selaras dengan konsep Empati Sejarah, dimana peserta didik dapat mengontekstualisasikan pembelajaran Sejarah yang dipelajari dengan penuh makna dan menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan nyata. Salah satu contohnya adalah semangat peserta didik dalam berorganisasi, menyuarakan pendapat dengan optimis yang diperoleh dari semangat pahlawan-pahlawan kemerdekaan Indonesia. Menurut Sutardi (2007), dengan CTL diharapkan memberikan nuansa baru yang menarik pada proses pembelajaran.
Setelah menentukan suatu pendekatan yaitu Contextual Teaching and Learning, langkah selanjutnya dalam merancang strategi dan inovasi guna mencapai tujuan normatif adalah menentukan metode dan model yang efektif dan efisien dengan konsep dan pendekatan yang sudah ada. Menurut Abuddin Nata (2014: 377) Metode Ceramah adalah penyampaian materi yang dilakukan guru dengan penjelasan lisan secara langsung di depan peserta didik. Ceramah dimulai dengan menjelaskan garis besar materi yang akan dibicarakan, serta menghubungkan antara materi yang akan disajikan dengan bahan yang telah diperoleh. Menurut Roestiyah N.K (2001) metode ceramah adalah suatu cara mengajar guna menyampaikan informasi atau uraian suatu permasalahan secara lisan. Dengan metode ceramah guru dapat menjelaskan materi pembelajaran sejarah dengan mendorong siswa untuk memiliki pemahaman bermakna dari suatu peristiwa sejarah yang dapat dikontekstualisasikan di kehidupan nyata. Selain metode ceramah, terdapat metode diskusi untuk menunjang keefektifan strategi dan inovasi pembelajaran ini. Menurut Gulo (2002) metode diskusi adalah metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kualitas interaksi siswa. Tujuannya adalah memperoleh pengertian dan pemahaman bersama yang lebih jelas disamping untuk mendapatkan keputusan bersama. Menurut Soetomo (1993: 153) metode diskusi adalah suatu metode pengajaran dimana guru memberikan permasalahan yang harus dipecahkan secara bersama-sama dengan teman-temannya. Metode diskusi ini akan membantu keefektifan dan efisiensi strategi pembelajaran ini karena pada strategi dan inovasi pembelajaran ini akan menggunakan diskusi sebagai jalan pemecahan masalah dan menyimpulkan hasil akhir dengan tujuan memperoleh nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengamatan serta dalam memainkan peran pada model pembelajaran Role Playing.
Model Role Playing merupakan salah satu pengajaran berdasarkan pengalaman. Menurut Ismawati, Sujana dan Ali (2016: 613) Model Role playing merupakan suatu model pembelajaran yang mengajak siswa untuk terlibat langsung, penguasaan bahan pelajaran berdasarkan pada kreatifitas serta emosi siswa dalam menggambarkan imajinasinya terkait bahan pelajaran yang dikuasai tanpa terbatas kata dan gerak. Menurut Wahab (2000: 112) model pembelajaran role playing ini dirancang untuk membantu siswa mempelajari nilai-nilai sosial yang tercermin dalam dirinya, menumbuhkan rasa empati, dan mengembangkan ketrampilan sosial. Maka dengan model pembelajaran ini, siswa dapat menghayati setiap peran yang dimainkan dan mampu menempatkan diri dalam situasi orang lain.
Dalam implementasi rancangan strategi pembelajaran ini harus ditunjang dan diperlengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung. Menurut Gerlach & Ely (1980: 224) media pembelajaran secara umum meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Pada rancangan strategi pembelajaran ini memerlukan media pembelajaran yang berupa orang (peserta didik); peralatan yaitu papan tulis, spidol, buku; bahan yakni alat properti untuk menunjang implementasi model pembelajaran role playing; serta kegiatan bermain peran melalui model pembelajaran role playing.
Jadi, untuk mencapai tujuan normatif pembelajaran sejarah diperlukan strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif dan efisien. Rancangan strategi pembelajaran diatas merupakan inovasi strategi hasil pemikiran penulis yang baru tertuang dalam tulisan ilmiah ini. Setelah melalui penelitian yang dilakukan yaitu dengan studi pustaka menggunakan beberapa artikel ilmiah, jurnal dan e-book, strategi pembelajaran ini dinilai efektif dan efisien untuk melaksanakan pembelajaran sejarah di sebuah instansi pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Barton, K. C., & Levstik, L. S. (2004). Teaching history for the common good. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum.
Endacott, J. L. (2010). Reconsidering affective engagement in historical empathy. Theory & Research in Social Education, 38(1), 6–49. doi:10.1080/00933104.2010. 10473415
Endacott, J. L., & Brooks, S. B. (2013). An updated theoretical and practical model for promoting historical empathy. Social Studies Research and Practice, 8(1), 41–58. Retrieved from http://www.socstrpr.org/wp‐content/uploads/2013/04/ MS_06482_no3.pdf
Frelberg, H.J. dan Driscoll, A. (1992). Universal Teaching Strategies. Boston: Allyn & Bacon.
Gerlach, V.S & Ely, D.P. (1980). Teaching and Media a Systematic Approach. New Jersey: Prentice Hall.
Gulo, W. (2002). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Ismawati, A. N., Atep, S, dan Ali, S. (2016). Penerapan Metode Role Playing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Hubungan Makhluk Hidup Dengan Lingkungannya, Vol. 1, No. 1, p. 613.
Krznaric, R. (2014). Empathy: A Handbook for Revolution. Random House.
Made Wena. (2014). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer suaru Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.
Rusman. (2014). Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Press.
Roestiyah, N.K. (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutardi, D. Dan Sudirjo, E. (2007). Pembaharuan dalam PBM di SD. Bandung: UPI PRESS.
Soetomo. (1993). Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Wahab, A. (1998). Metodologi Pengajaran IPS. Jakarta: Karunia.
Wina Sanjaya. (2005). Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.


MANTAPPPP