Oleh: Nasta Mahardi (Alumni Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2021)





Identitas Buku:

Penulis: Sri Margana

Penerbit: Pustaka Pelajar

Tahun terbit: 2004

Jumlah halaman: xii+271

ISBN: 979-3477-82-2



PENDAHULUAN

Buku ini merupakan hasil pekerjaan selingan dari penulis, Sri Margana, yang saat itu sedang melakukan pengumpulan arsip-arsip keraton di Leiden, Belanda. Dalam kata pengantarnya, Sri Margana mengatakan bahwa tujuan awalnya penyusunan ini adalah sebagai suplemen tambahan dalam materi di mata kuliah Historiografi Tradisional di Jurusan Sejarah, Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun tak terasa bahan-bahan yang terkumpul begitu banyak dan cukup untuk dijadikan sebuah buku. Selain itu, penulis yang saat itu sedang menempuh studi Pascasarjana di UGM menjadikan kerangka buku ini sebagai tema penelitian tesisnya.

Buku ini membincangkan tentang kreativitas dan tradisi pemikiran para pujangga keraton Jawa yang melingkup tentang sastra, sejarah, dan masalah sosial-politik yang mereka hadapi. Selain itu, para pujangga Jawa mesti berbenturan dengan dunia akademis kolonial yang sama-sama masuk dan berkembang di Jawa. Benturan ini kemudian mempengaruhi dunia pemikiran intelektual Jawa, meski sifat-sifat “khas” pemikiran pujangga Jawa masih bisa bertahan.

Susunan pembahasan dalam buku ini terdiri dari tujuh bab. Bab pertama adalah pendahuluan yang berisi permasalahan dalam studi sejarah dan sastra Jawa serta perkembangan terkini soal kajian sejarah dan sastra Jawa. Bab kedua adalah seputar sastra babad dan non-babad dalam problematik penulisan sejarah modern. Bab ketiga membahas tentang renaisans dalam konteks sejarah sastra Jawa abad 18 dan 19.

Selanjutnya bab keempat adalah dunia akademis kolonial dan intelektual Jawa abad 18. Bab kelima membahas seputar dunia kapujanggan Surakarta dan tradisi pemikiran intelektual Jawa abad ke 18 dan 19. Bab enam tentang raja-raja patron kesastraan Jawa dan beberapa gejala polarisasi peran dan bab terakhir yakni bab ketujuh berupa epilog.

Dari ketujuh bab di atas, tidak memungkinkan jika ketujuh bab diulas secara bersama-sama. Dalam kacamata pribadi, penulis tertarik untuk mengulas isi dari bab kelima. Mengapa demikian? Pembahasan dalam bab lima adalah seputar tokoh-tokoh pujangga yang masih satu darah dari dinasti Tus Pajang yang kemudian melahirkan pujangga-pujangga pada era Keraton Kartasura dan Kasunanan Surakarta pada abad ke 18 sampai 19 yang meliputi riwayat kehidupan, perjalanan karier, karya-karya, dan beberapa persoalan mengenai kehidupan dan karya dari si pujangga.


PEMBAHASAN

Apa dan siapa itu Pujangga?

Sebelum masuk pada pembahasan inti, penulis menjelaskan secara detail mengenai arti “pujangga” dari berbagai versi. Misalnya menurut Pigeaud, pujangga berasal dari bahasa Kawi “bhujangga”. Lalu C. F. Winter dan Ronggowarsito dalam kamus Kawi-Jawa karangan keduanya mengartikan bujangga sebagai “kawer” yang dalam bahasa Indonesia artinya ular. Maksud “ular” di sini sebetulnya hanyalah analogi atau metaforis dari sifat-sifat yang dimiliki pujangga Jawa abad ke-18 dan 19.

Dalam konteks kapujanggan Jawa, ular dapat mewakili sifat pujangga Jawa yang memiliki pemikiran yang tajam, menguasasi berbagai persoalan, dan apa yang keluar dari mulutnya (ucapan atau perkataan) adalah mandi, benar dan dapat menjadi kenyataan, sama seperti bisa ular. Penjelasan ini juga didukung oleh pendapat dari pakar sejarah Jawa lainnya, C. C. Berg.

Pujangga dalam bahasa Inggris dapat diartikan sebagai court poet atau sastrawan istana. Maka tidak mengherankan jika pujangga Jawa memiliki tanggung jawab besar bagi sebuah kerajaan Jawa. Oleh karenanya, tanggung jawab dari apa yang diperbuat oleh pujangga berada langsung di bawah raja itu sendiri.

Pujangga Jawa juga harus memiliki sifat-sifat yang cenderung menonjol dari masyarakat umum. Biasanya sifat ini meliputi kelebihan atau kemampuan dalam hal spiritual dan intelektual. Penulis di sini mengutip karya Ronggowarsito yang berjudul Serat Wirid Hidayat Jati, yang memuat beberapa unsur yang harus dipenuhi sebagai seorang pujangga. Beberapa syarat itu adalah:

  1. Paramasastra, dapat membaca dan menulis;
  2. Paramakawi, memahami bahasa Kawi;
  3. Mardibasa, pandai mengolah kata;
  4. Mardiwalagu, menguasai irama/lagu;
  5. Hawicarita, pandai olah tutur atau bercerita;
  6. Mandraguna, berwawasan luas dan kaya pengetahuan;
  7. Nawungkrida, memiliki kepekaan batin;
  8. Sambegana, memiliki ingatan yang kuat.

Dalam sumber yang sama, dikatakan bahwa semua orang dapat menjadi pujangga. Terdapat delapan kelompok yang dapat menduduki posisi sebagai pujangga. Kedelapan kelompok itu antara lain: orang luhur dan memiliki derasa; ulama yang ahli kitab agama; petapa atau pendeta ahli rilayat; orang yang memiliki kelebihan; orang pandai atau berilmu; orang kaya harta; dan petani yang rajin.

Pembagian kelompok ini menunjukkan bahwa menjadi pujangga tidak dibatasi oleh kasta sosial. Bahkan dari orang kaya sampai petani pun mereka dapat berkesempatan menjadi pujangga. Namun sebelum itu, mereka mesti melewati dan memenuhi delapan syarat yang sudah disebutkan sebelumnya.

Dari delapan syarat yang dijabarkan di atas, menurut penulis ada dua syarat terakhir yang paling sukar dipenuhi oleh calon pujangga karena keduanya hanya diperoleh melalui olah batin. Umumnya para pujangga besar Jawa akan melakukan olah batin untuk memperoleh apa yang disebut wahyu kapujanggan. Hal ini penting karena lewat wahyu itu, karya-karya yang kelak dihasilkan dapat memuat unsur ramalan di dalamnya.

Sementara enam syarat lainnya yang harus dipenuhi oleh calon pujangga dapat diperoleh melalui jalur pendidikan. Institusi pendidikan yang digunakan adalah pendidikan keluarga dan pesantren. Para pujangga mesti memahami baca-tulis dan sejarah sastra Jawa. Mereka dituntut untuk mengerti dan paham terhadap bahasa dan tulisan Jawa-Kawi, Arab, dan Jawa modern. Biasanya untuk mendapat bekal ini, mereka memperolehnya lewat pendidikan keluarga dan istana. Bahkan dalam suatu kasus, hanya trah kapujanggan yang mempelajari dan mengajarkan bahasa Kawi.

Terkhusus untuk bahasa dan tulisan Arab, mereka mesti menempuh pendidikan pesantren untuk menguasainya. Untuk para pujangga Surakarta, pesantren yang digunakan untuk nyantrik adalah Pesantren Tegalsari di Ponorogo dan pesantren lain yang terdapat di Kedu.

Tus Pajang: Dinasti Pujangga Jawa

Tus Pajang atau keturunan Pajang merupakan satu dinasti pujangga Jawa untuk Kartasura maupun Surakarta. Tus Pajang juga dapat disebut sebagai keluarga Yasadipura. Nama-nama besar pujangga Jawa yang lahir di dinasti ini antara lain Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ronggowarsito. Berikut pemaparan tentang ketiga tokoh yang disebut sebelumnya.

1. Yasadipura I

Tidak ada sumber pasti yang dapat menjelaskan riwayat kehidupan dari Yasadipura I. Sumber yang dapat dipercaya seperti karya miliknya semuanya menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Surakarta belum mampu mengupas identitas si penulisnya. Sumber yang membahas tentang biografi Yasadipura I baru muncul setelah bertahun-tahun pasca kematian pujangga itu. Sumber itu berjudul “Tus Pajang” yang ditulis oleh keturunan Yasadipura I.

Buku Tus Pajang menceritakan genealogi dari Yasadipura I yang tersambung dengan Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir dari Kesultanan Pajang. Secara singkat, Yasadipura I dilahirkan di Desa Pengging sekitar 1729 Masehi. Diceritakan saat masih dalam kandungan, terjadi hal aneh yang menjadi penanda bahwa si bayi merah ini kelak akan menjadi sosok yang linuwih dan terkenal.

Memiliki nama kecil Jaka Subuh karena lahir pada waktu Subuh dan Bagus Banjar, nama pemberian ayahnya. Sejak kecil, ia sudah dibekali ilmu membaca dan menulis huruf Jawa. Yasadipura I kecil juga memiliki ketertarikan dan kemampuan dalam mempelajari agama serta sastra.

Namun menurut analisis penulis, buku itu tidak mencantumkan sumber-sumber tertulis. Buku itu justru ditulis menggunakan sumber tradisi lisan yang diturunkan dari keluarga mereka. Meski tidak berlandaskan kepada sumber-sumber tertulis, hal ini seperti umum dilakukan ketika menulis biografi seorang tokoh besar. Terlebih yang ditulis adalah sosok yang dituakan, dihormati, atau dekat dengan penulisnya.

Seperti pujangga pada umumnya, Yasadipura I menelurkan beberapa karya sastra Jawa. Setidaknya dalam beberapa sumber, terdapat 17 naskah karya Yasadipura I. Namun menurut penulis dalam buku ini, karya-karya Yasadipura I dikategorikan sebagai ‘karya kontroversial.’ Kritik itu disampaikan oleh M. C. Ricklefs dengan detail dalam artikelnya berjudul Yasadipura Problem.

Inti kritik dari Ricklefs adalah mempertanyakan dan meragukan lima naskah karya Yasadipura I (Menak, Iskandar, Sewaka, Arjunawiwaha Jarwa, dan Cabolek). Ricklefs menyampaikan analisis melalui temuannya yang membantah jika ada beberapa naskah yang bukan ditulis oleh Yasadipura I. Ricklefs membandingkannya dengan temuan naskah dari naskah yang ditulis Yasadipura I. Kritik Ricklefs juga didukung oleh ahli lainnya seperti Poerbatjaraka.

Di sini, penulis buku memiliki tanggapan terhadap kritik yang dilontarkan Ricklefs. Inti tanggapannya adalah bahwa kritik Ricklefs sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Misalnya di sini dicontohkan pada kasus Serat Menak yang penerjemahannya dilakukan oleh Kyai Sutrapana. Hal ini tidak disampaikan Ricklefs dalam analisisnya.

Terlepas dari karya-karya Yasadipura I yang kontroversial, patut diakui jika Yasadipura I adalah pujangga yang mahir dalam bahasa Kawi. Kenyataan ini dapat dilihat dari karyanya yang berjudul Serat Rama dan Serat Baratayuda. Namun kembali lagi, di sini disuguhkan perdebatan antara para ahli terkait karya Yasadipura I itu apakah betul ia yang menerjemahkan atau bukan. Hal ini kerap menjadi persoalan karena masih ada kekeliruan apakah karya yang dimaksud merupakan karya Yasadipura I atau Yasadipura II.

Selain itu, Yasadipura I juga memiliki karya-karya yang cukup terkenal seperti Babad Giyanti, Babad Prayut, dan Babad Pakepung, dan. Dua nama babad pertama merupakan karya yang cukup familier di telinga masyarakat. Babad Giyanti yang ditulis oleh Yasadipura I pada masa Pakubuwono II. Menceritakan tentang Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang menjadi cikal bakal terbelahnya kekuasaan Mataram Islam menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta.

Babad Prayut merupakan kelanjutan dari Babad Giyanti. Naskah ini menceritakan tentang kejadian-kejadian pasca Perjanjian Giyanti seperti pemberontakan-pemberontakan dan perang-perang yang terjadi di perbatasan antar wilayah Surakarta dan Yogyakarta.

Sementara Babad Pakepung ditulis pada masa Pakubuwono IV yang menceritakan tentang kisah pengepungan keraton Kasunanan Surakarta oleh bala tentara dari Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan pasukan Kompeni. Sebab pengepungan ini adalah Pakubuwono IV yang memiliki tiga tokoh yang berusaha menyakinkan raja guna melawan Belanda agar menjadi wilayah yang merdeka.

Gambar 1. Makam Yasadipura I di Pengging, Boyolali, Jawa Tengah.

Sumber: artikula.id

2. Yasadipura II

Memiliki nama dan gelar lengkap, Raden Ngabehi Yasadipura II, adalah putra dari Yasadipura I. Ia memiliki beberapa nama seperti Raden Panjangwasita, Raden Ngabehi Ronggowarsito I, dan Tumenggung Sastranegara. Sebelum menjadi pujangga, Yasadipura II menempuh pendidikan di Pesantren Tegalsari. Baru setelah merampungkan pendidikannya, ia kembali ke Surakarta.

Saat itu, ia bersama ayahnya menulis babad dan menerjemahkan sejumlah karya sastra Jawa kuno. Namun posisinya belum resmi menjadi pujangga, barulah ketika ayahnya wafat ia diangkat menjadi pujangga resmi.

Sebagai pujangga, ia mengabdi dengan tiga raja yakni Pakubuwono III, Pakubuwono IV, dan Pakubuwono V. Ia menelurkan beberapa karya seperti Serat Arjunasasra atau Serat Lokapala, Serat Darmasunya, Serat Panitisastra, Serat Kawidasanama, Serat Anbiya, Serat Musa, Serat Sasana Sunu, Babad Pakepung, Serat Wicara Keras, dan Serat Centhini. Bersama dengan Carl Federick (C. F.) Winter, keduanya merampungkan naskah Baratayuda dan Ramayana.

Menurut penulis buku, karya-karya Yasadipura II tidak terlalu istimewa selain dari segi bahasa. Hal ini karena karya-karya Yasadipura II banyak yang berupa terjemahan karya klasik dan hanya empat karya asli yang ia garap. Dua karyanya, Babad Pakepung dan Serat Centhini ditulis bersama penulis lainnya. Babad Pakepung ditulis bersama ayahnya dan Serat Centhini dengan Kyai Ngabehi Ranggasutrasna, Kyai Ngabehi Sastradipura, dan Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara III (Pakubuwono V). Praktis hanya Serat Sasana Sunu dan Serat Wicara Keras yang dianggap karyanya secara pribadi.

Serat Sasana Sunu adalah karya sastra semacam puisi yang ditulis dalam tembang macapat. Karya sastra ini menjadi piwulang bagi Yasadipura II sebagai ayah kepada anak-anaknya untuk mengarungi perubahan zaman. Dunia yang penuh dengan situasi fana; penuh godaan terhadap harta, jabatan, dan martabat yang mengorbankan agama dan budaya Jawa. Melalui ini, Yasadipura II berharap anak-anaknya tidak tersesat.

Serat Wicara Keras dapat diartikan sebagai ‘bicara apa adanya’. Di sini, Yasadipura II menggambarkan sekaligus mengkritik apa yang terjadi di Surakarta. Yasadipura II di sini melihat realitas politik yang terjadi dan menuangkan keresahannya melalui karya sastra. Yasadipura II juga melontarkan kritik untuk para pejabat dan bangsawan yang dianggap ‘sakit’ dan menceritakan juga tokoh-tokoh baik.

Kedua karya sastra ini pada initnya dianggap sebagai cerminan sikap politik dari Yasadipura II. Memang tidak ada dokumen pasti yang dapat menggambarkan sikap politiknya. Melalui karyanya inilah kita dapat mengetahui bagaimana posisi si pujangga di dalam intrik politik istana dan kejadian di sekitarnya.

Gambar 2. Salah satu bait dari Serat Wicara Keras

Sumber: sastra.org

3. Ronggowarsito

Nama pujangga satu ini bisa jadi merupakan yang terkenal dari para pendahulunya. Memiliki nama dan gelar lengkap “Raden Ngabehi Ronggowarstio”. Dibanding para pendahulunya, riwayat kehidupan Ronggowarsito lebih lengkap. Hal ini tercantum dalam Babad Carios Lelampahanipun Suwargi Raden Ngabehi Ronggowarsita yang terdiri dari tiga jilid. Sumber yang digunakan adalah sumber tertulis dan lisan, namun sumber lisan yang lebih menonjol penggunaannya.

Diceritakan dalam sumber itu jika Ronggowarsito memiliki nama kecil Bagus Burham. Ayahnya adalah Ronggowarsito II, putra dari Yasadipura II. Latar belakang keluarga Ronggowarsito cukup penting. Dari pihak ayah, ia mewarisi tradisi Islam yang kuat. Sementara dari pihak ibu, ia mewarisi tradisi pujangga di Kerajaan Pajang. Pada intinya, sejarah keluarga Ronggowarsito terhubung dengan orang-orang suci dan pusat penyebaran Islam.

Seperti layaknya calon pujangga lainnya, pada usia belia ia sudah dikirim oleh kakeknya, Yasadipura II, untuk nyantrik ke Pesantren Tegalsari. Di sana ia masih menunjukkan kenakalannya. Bahkan gurunya, Kyai Imam Besari, sampai putus asa menghadapinya sehingga ia dikembalikan ke Surakarta. Namun Ronggowarsito tidak kembali ke Surakarta, justru ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren lain di Jawa Timur. Pada akhirnya, ia kembali lagi ke Tegalsari.

Pada periode kedua pendidikannya di Tegalsari, Ronggowarsito menunjukkan peningkatan. Ia terlihat lancar menulis Jawa, membaca Al-Qur’an, dan mudah menyerap berbagai ilmu yang diajarkan. Ketika dirasa sudah cukup bekal pendidikannya, Ronggowarsito kembali ke Surakarta.

Di Surakarta, ia diasuh oleh seorang adik dari Pakubuwono IV, Pangeran Buminata. Berkat kepandaian yang dimiliki Ronggowarsito, Pangeran Buminata mengusulkan ke Pakubuwono IV agar dapat bekerja di istana. Singkat cerita, Ronggowarsito diterima sebagai juru tulis di Kadipaten Anom.

Perjalanan karier Ronggowarsito tidak semulus para pendahulunya. Ia kerap dicap dapat bekerja di istana karena adanya orang dalam, yakni Pangeran Buminata. Pada masa Pakubuwono V, ia kembali diusulkan oleh wali asuhnya itu untuk menjabat di istana namun ditolak karena masih ada pewaris dari pendahulunya yang menjabat di posisi Jaksa Panewu.

Ronggowarsito yang beberapa kali ditolak untuk bekerja di istana akhirnya kembali mengembara untuk mencari bekal ilmu. Ia memperdalam ilmunya di perguruan Islam dan Hindu di Jawa Timur sampai Bali. Ketika dirasa cukup bekal, Ronggowarsito kembali di Surakarta. Sejak itu, kariernya meningkat pesat terutama pada masa Pakubuwono VII. Pada tahun 1845, ia diangkat sebagai Patih di Kadipaten Anom dan resmi menjadi pujangga istana dengan gelar Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Sebagai pujangga, Ronggowarsito tentu memiliki karya. Namun tidak jelas berapa karya yang ia buat. Ada yang mengatakan 53 karya, ada yang menyebut 56, bahkan 59 karya. Karya-karya Ronggowarsito terdiri dari berbagai topik seperti karangan aslinya sendiri, terjemahan, atau gubahan baru dari karya klasik. Dalam buku ini, karya-karya yang dibahas adalah karya yang memiliki relevansi dengan konteks sosial-politik pada masa Ronggowarsito seperti Serat Paramayogya, Serat Putaka Raja, Serat Kalatidha , Serat Cemporet, Serat Jaka Lodang, Serat Sabdatama, Serat Sabdojati, dan Serat Jayengbaya.

Ada yang menarik pada karya Ronggowarsito bahwa ia tidak menulis babad. Padahal jika melihat masa kehidupannya, terdapat berbagai peristiwa politik yang menarik dan pasti ia saksikan sendiri. Ia juga mengabdi kepada enam raja Surakarta, namun tidak satu tulisan yang ia buat untuk membahas suksesi. Nampaknya, Ronggowarsito menulis atas keinginannya sendiri dibanding keinginan sang raja (patronnya). Hanya satu naskah yang ditulis atas permintaan Pakubuwono IX, yakni Serat Cemporet.

Selain berhubungan dengan keluarga istana Surakarta, ia juga menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh besar di luar keraton seperti Mangkunegara IV dan C. F. Winter. Dengan Mangkunegara IV, ia diminta membuat Serat Aji Pamasa dan Serat Aji Wulung atas keinginan C. F. Winter. Dengan keduanyan, Ronggowarsito justru lebih dekat dan akrab dibanding dengan raja-raja Surakarta.

Jika membahas karya Ronggowarsito yang disebut di atas, maka tidak cukup dalam satu resensi buku ini. Maka penulis resensi akan mengambil satu contoh naskah untuk dijadikan resensi yakni Serat Kalatidha .

Naskah ini bisa dibilang karya otentik dari seorang Ronggowarsito. Serat Kalatidha merupakan salah satu karya sastra Jawa yang sangat masyhur, digubah oleh pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawarsita, pada sekitar dekade 1860-an. Karya ini disusun dalam bentuk tembang macapat berjenis Sinom dan hanya terdiri atas 12 bait. Walaupun jumlah baitnya sedikit, isi Serat Kalatidha sarat dengan makna mendalam. Karya ini kerap dijuluki sebagai “serat zaman edan” karena pada bait ketujuhnya terdapat gambaran yang kuat tentang sikap manusia dalam menghadapi situasi zaman yang kacau dan penuh kepalsuan.

Judul “Kalatida” tersusun dari kata “kala” yang berarti waktu atau zaman dan “tidha” yang bermakna keragu-raguan, sehingga dapat diartikan sebagai masa yang diliputi kebimbangan. Melalui serat ini, Ranggawarsita menuturkan gambaran tentang keadaan zaman yang carut-marut, ketika nilai-nilai luhur mulai ditinggalkan, masyarakat mudah terperdaya oleh rayuan dan janji manis, serta kebenaran semakin sulit dibedakan dari kepalsuan. Karya ini sekaligus merefleksikan kekecewaan pribadi sang pujangga, yang sempat menaruh harapan untuk memperoleh kenaikan pangkat namun berujung pada kekecewaan, sehingga Serat Kalatidha ditulis sebagai sarana perenungan dan pelampiasan batin.

Serat Kalatidha tidak semata-mata berisi keluh kesah, melainkan juga memuat tuntunan hidup yang sarat dengan makna filosofis sekaligus aplikatif. Ranggawarsita mengingatkan agar manusia senantiasa “eling lan waspada”, yakni selalu ingat dan berhati-hati di tengah situasi zaman yang dipenuhi tipu daya. Ia menasihati agar seseorang tidak ikut larut dalam ke-“edan”-an hanya karena takut tersisih, melainkan tetap berpegang teguh pada kebenaran dan nilai-nilai moral. Selain itu, serat ini juga mengajarkan keikhlasan dalam menerima kehendak Tuhan serta tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada kedudukan atau pengakuan duniawi, sebab semua itu bersifat sementara dan dapat hilang sewaktu-waktu.

Gambar 3. Bait pertama dari Serat Kalatidha

Sumber: Sastra.org

Komentar