Oleh: Alifah Diah Wijaya Putri

Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2022

Email: alifahdwp@student.uns.ac.id




Pendahuluan

Pengenalan Lingkungan Persekolahan atau Asistensi Mengajar adalah pembelajaran di luar kampus sebagai salah satu bentuk implementasi Kampus Merdeka di FKIP UNS. Kegiatan ini dilakukan secara kolaboratif di bawah bimbingan guru dan dosen pembimbing di sekolah formal yang tujuannya adalah meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sesuai kurikulum yang berlaku (UP2KT, 2025). Melalui kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, pembelajaran diarahkan dengan pendekatan Deep Learning yang menekankan tiga pilar: mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning (berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan) (kurikulum.kemendikbud.go.id). Tulisan ini berisi pengelaman penulis saat PLP dengan mengintegrasikan pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran sejarah pada materi “Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia” di kelas X (X E-8, X E-9, X E-10, dan X E-11) SMA Negeri 6 Surakarta Tahun Ajaran 2025/2026.


Integrasi Tiga Pilar Pembelajaran Mendalam dalam Pembelajaran Sejarah

Pada pembelajaran materi Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia, kegiatan awal dirancang untuk membantu peserta didik mengorganisir pengetahuan mereka melalui peta konsep. Peserta didik diberikan stimulus pemahaman mendasar tentang materi serta persiapan untuk memasuki proses pendalaman. Selain itu, pemberian motivasi kepada peserta didik juga dilakukan untuk membantu menumbuhkan kepercayaan diri mereka. Kegiatan ini termasuk upaya mencerminkan pilar pertama, kesadaran peserta didik terkait tujuan pembelajaran dan peran mereka sebagai pembelajar aktif.

Pilar selanjutnya, yaitu pembelajaran bermakna, diwujudkan ketika materi sejarah disajikan secara runtut (kronologis) mulai dari pembentukan alam sesmesta hingga zaman perundagian atau zaman logam, sehingga peserta didik dapat melihat urutan antarperistiwa dan memahami relevansinya dengan kehidupan mereka. Pada materi perkembangan kehidupan manusia dari masa berburu dan mengumpulkan makanan hingga perundagian, serta zaman batu tua hingga zaman logam, peserta didik diajak menelusuri bagaimana kemampuan berpikir manusia berkembang dari penggunaan alat-alat berbatu yang masih kasar menuju teknologi yang lebih halus dan terampil. Pemahaman yang disajikan dengan runtut membantu peserta didik melihat bahwa perubahan budaya dan teknologi sejak masa lalu hingga sekarang merupakan hasil proses adaptasi dan kreativitas manusia yang terus berkembang. Di sisi lain, pembahasan tentang asal-usul nenek moyang dan persebaran migrasi memungkinkan peserta didik menghubungkan materi sejarah dengan identitas mereka sendiri, terutama karena mereka berasal dari latar belakang etnis yang beragam.

Pilar ketiga, pembelajaran yang menggembirakan, diwujudkan melalui suasana dan lingkungan belajar yang positif, menantang, serta mendorong partisipasi aktif peserta didik. Dalam praktiknya, penulis merancang beberapa aktivitas pembelajaran, dianataranya:

1. Permainan pencarian kata

Peserta didik secara individu mencari kata yang disembunyikan di sebuah kotak berisi huruf-huruf yang diacak yang ditampilkan di papan tulis. Peserta didik maju untuk melingkari kata tersebut dan menjelaskan definisinya kepada teman-temannya di depan kelas. Kata yang ditemukan oleh tiap individu harus berbeda dengan individu lain. Aktivitas ini mendorong mereka aktif mengkonstruksi pemahaman dengan kompetitif, bukan sekadar menemukan informasi.


2. Kuis gamifikasi “Lari dari Ruang Kelas” menggunakan platform ZepQuiz

Dalam game yang diatur menggunakan platform web https://quiz.zep.us/id, peserta didik berlarian di lorong kelas untuk menemukan jalan keluar dengan menyelesaikan pertanyaan secara berurutan. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar berbasis digital sekaligus tantangan yang seru bagi peserta didik.


3. Eksplorasi materi di luar kelas melalui barcode

Peserta didik mencari materi yang ditempel di luar kelas, memindai barcode, dan mempelajari materi tersebut untuk dipresentasikan. Keingintahuan mereka meningkat karena suasana belajar berbeda dari biasanya.


4. Kuis model arisan

Soal yang telah disiapkan sebanyak jumlah peserta didik tiap kelas dan dibagikan dengan cara undian kepada tiap individu membuat suasana lebih cair dan membuat peserta didik tetap siaga mengikuti pembelajaran.

5. Menggambar peta dan jalur migrasi dalam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Selain bermakna, memvisualisasikan jalur migrasi dan persebaran ras mengajak peserta didik menerapkan disiplin ilmu lain: geografi dan seni rupa. Aktivitas tersebut merupakan upaya mengatasi kebosanan yang sering muncul dalam pembelajaran sejarah konvensional terutama dalam materi Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia.

Aktivitas kompetitif ringan, seperti pencarian kata, permainan digital, dan kuis arisan memunculkan keterlibatan lebih tinggi, peserta didik juga menunjukkan semangat untuk menyelesaikan tantangan secara cepat dan tepat. Pembelajaran di luar kelas melalui kegiatan eksplorasi barcode dan penggambaran peta beserta jalur migrasinya juga menghadirkan suasana baru yang meningkatkan motivasi belajar karena peserta didik merasa terlibat langsung dalam proses penemuan informasi.


Tantangan yang Dihadapi

Integrasi pendekatan yang dapat dikatakan baru (secara istilah), tak luput dari berbagai tantangan. Salah satunya adalah keragaman atau perbedaan gaya belajar peserta didik. Memahami kondisi dan karakteristik peserta didik di setiap kelas melalui observasi dan konsultasi dengan guru pamong serta dosen pembimbing menjadi hal yang esensial bagi penulis sebelum merencanakan pembelajaran.

Kejenuhan biasanya muncul akibat padatnya jam belajar harian yang berakibat naik turunnya fokus siswa. Peserta didik yang hanya diberikan materi dengan metode cermah non-stop juga cenderung cepat bosan dan mengantuk. Hal ini diatasi dengan pengembangan pengalaman belajar yang kreatif dan inovatif seperti pemanfaatan teknologi digital (kuis gamifikasi), menerapkan disiplin ilmu lain (biologi, geografi, seni budaya, antropologi, dll.), serta menerapkan kerangka pembelajaran yang positif, menantang, dan menyenangkan tetapi tetap fokus pada tujuan pembelajaran. Keterlibatan peserta didik tampak meningkat ketika pembelajaran dirancang kompetitif, interaktif, dan dikaitkan dengan identitas serta kehidupan nyata mereka.

Komplesitas materi Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia membutuhkan waktu lebih untuk pemahaman mendalam. Keterbatasan waktu di dalam kelas memerlukan pengaturan ritme penjelasan namun tetap menggugah kemampuan berpikir kritis peserta didik agar pemahaman peserta didik tidak dangkal: cenderung menghafal tanggal dan nama peristiwa tanpa memahami konteks serta signifikansi peristiwa sejarah.


Refleksi

Pengalaman mengajar selama PLP di di empat kelas (X E-8, X E-9, X E-10, dan X E-11) SMA Negeri 6 Surakarta dengan materi Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Deep Learning dapat dilakukan secara kreatif meskipun mahasiswa belum memiliki pengalaman mengajar yang panjang. Kondisi peserta didik umumnya baik sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar tanpa hambatan yang berarti. Beberapa tantangan seperti heterogenitas gaya belajar, fokus siswa, serta keterbatasan jam pelajaran di kelas memberikan pengalaman langsung kepada penulis tentang realitas tugas dan tanggung jawab seorang pendidik untuk fokus pada tujuan pembalajaran selagi mengintegrasikan pendekatan Deep Learning. Selama PLP, penulis juga belajar bahwa menciptakan suasana kelas yang aktif tidak hanya bergantung pada materi dan metode, tetapi juga pada motivasi yang diberikan kepada peserta didik. Dorongan dan apresiasi sederhana dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka dan menjadikan proses belajar lebih hidup.

Dengan dukungan guru pamong dan dosen pembimbing, penulis memahami peran guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Penulis sadar bahwa proses pembelajaran yang efektif perlu persiapan yang matang (mulai dari persiapan perangkat pembelajaran hingga menyusun Rencana Pembelajaran Mendalam) agar peserta didik merasa tertarik dan terlibat sejak awal pembelajaran. Pelaksanaan pengalaman belajar di kelas perlu inovasi agar pembelajaran relevan dan menyenangkan (tanpa mengurangi kedalaman materi). Pengalaman di kelas memperlihatkan bahwa peserta didik lebih mudah memahami materi ketika diberikan contoh-contoh konkret yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Evaluasi pembelajaran juga menjadi bagian penting dalam proses mengajar, karena dengan adanya evaluasi tersebut penulis dapat mengukur tingkat pemahaman peserta didik dan melihat bagian mana dari materi yang perlu diperkuat kembali


Kesimpulan

PLP/Asistensi Mengajar merupakan salah satu program FKIP UNS untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa sebagai calon pendidik. Pendekatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning merupakan kebijakan Mendikdasmen, Abdul Mut’i yang menekankan tiga pilar: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Penulis berkesempatan melaksanakan kegiatan PLP di SMA Negeri 6 Surakarta dengan mengintegrasikan pendekatan Deep Learning pada materi Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia di kelas X. Pengalaman penulis menunjukkan bahwa keterlibatan peserta didik meningkat ketika pembelajaran dirancang secara kreatif dan mengaitkannya pada kehidupan nyata mereka (kontekstual). Meskipun penulis belum memiliki pengalaman mengajar yang panjang, beberapa tantangan dapat dihadapi dengan bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing lapangan.



Referensi:

UP2KT UNS. (2025). Revisi Panduan PLP/Asistensi Mengajar 2025. Universitas Sebelas Maret Surakarta

TPPM. Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Diakses pada 22 November 2025 dari https://kurikulum.kemdikbud.go.id/file/1742214136_manage_file.pdf

Komentar

  1. Yuan 1 Februari 2026 at 16:54 - Reply

    kerennnn