Oleh: Dadan Adi Kurniawan

Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret

Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id




— “Sejarah merupakan salah satu bidang studi yang sangat penting sebagai nutrisi sekaligus bahan bakar dalam merawat pondasi batiniah kebangsaan” —


Pendahuluan

Entah sudah berapa kali telinga penulis mendengar anggapan dari sebagian orang bahwa katanya “sejarah itu tidak penting, kuliah di jurusan pendidikan sejarah/ilmu sejarah mau jadi apa, lulus dari jurusan sejarah tidak ada uangnya (tidak cukup untuk hidup), kalau cuma mau belajar sejarah mending tidak usah kuliah karena bisa belajar sendiri, sejarah itu membosankan karena isinya cuma ceramah dan hafalan”, dan beberapa konotasi negatif lainnya.

Pernah suatu waktu pasca pengumuman, seorang teman bertanya kepada penulis, “Gimana Dan, ketrima di UNS?” Lalu penulis jawab, “Alhamdulillah, ketrima”. Lalu ia kembali merespon dan bertanya, “Wah selamat ya Dan, jadinya keterima di Pendidikan Matematika?” Memang saat itu pilihan utama penulis adalah jurusan Pendidikan Matematika UNS (meskipun penulis berlatar belakang pendidikan SMK Jurusan Teknik Mesin). Lalu penulis jawab “Tidak, ketrimanya di jurusan Pendidikan Sejarah bro”. Lalu teman saya merespon dengan ekspresi sedikit kaget dan agak menyayangkan, “Owalah Sejarah to, tak kira Matematika”.

Anggapan-anggapan miring tersebut terkadang tidak penulis dengar secara langsung, melainkan penulis peroleh lewat baca berita, sebagian dari kesaksian beberapa teman dan mahasiswa yang juga mengalami kasus serupa. Reaksi-reaksi yang demikian terkadang memang bikin gerah dan panas telinga. Namun perlu ditekankan bahwa anggapan mereka yang demikian tentunya juga berangkat dari banyak fakta di lapangan, meskipun tentu tidak benar sepenuhnya. Tidak ada asap bila tidak ada api. Tidak ada anggapan bila tidak ada kebiasaan. Oleh sebab itu, tidak perlu gampang sakit hati.

Berpijak dari turun-temurunnya stigma negatif tersebut diperlukan perenungan-perenungan panjang, mempertanyakan apakah benar demikian dan mengapa demikian? Perenungan ini penting terutama untuk “kritik ke dalam” dan “kritik ke luar”. Semua dalam bingkai “refleksi bersama”, karena asal-usul penyebabnya juga diproduksi dan direproduksi atas budaya bersama. Sehingga solusinya pun hanya bisa diatasi secara kolektif (meskipun awalnya bisa diinisiasi oleh sekelompok tokoh yang telah memiliki kesadaran tinggi). Meskipun berat, bukan berarti sesuatu yang utopis. Beberapa negara maju telah membuktikan diri mampu membangun sebuah bangsa dan negara yang berkesadaran sejarah. Tentu capaian tersebut butuh usaha dan komitmen bersama yang luar biasa, tidak bergerak sendiri-sendiri.


Apakah Sejarah Memang Tidak Penting dan Tidak Ada Manfaatnya?

Apakah Sejarah itu penting (berguna)? Penting dan tidak penting bersifat “relatif”. Bisa dijawab dalam kacamata “praktis” dan “filosofis“. Dalam kacamata praktis, kemungkinan besar sejarah sangat penting bagi mereka yang bekerja di bidang sejarah dan tidak penting atau kurang penting bagi mereka yang bidang sehari-harinya tidak ada kaitannya dengan sejarah. Kita harus jujur soal itu. Penting bagi seorang guru sejarah karena kalau mapel sejarah dihilangkan ia berpeluang kehilangan pekerjaan sebagai guru. Penting bagi seorang dosen sejarah karena kalau jurusan sejarah dihilangkan ia juga berpeluang kehilangan pekerjaannya sebagai dosen. Penting bagi peneliti sejarah, karena jika sejarah tidak penting lagi maka kemungkinan akan kehilangan proyek-proyek penelitian. Penting bagi penulis dan penerbit buku sejarah, karena jika sejarah tidak penting lagi maka buku-buku sejarah yang ditulis dan diproduksi kemungkinan tidak akan laku. Penting bagi pegawai museum, karena kalau sejarah tidak penting lagi maka museum akan sepi pengunjung dan kemungkinan besar akan tutup.

Namun secara filosofis, jika ditanya apakah sejarah penting dan memiliki manfaat (kegunaan)? Jawabannya adalah sangat penting dan bermanfaat! Mengapa demikian? Bagaikan kehidupan manusia di dunia, keseimbangan (keselarasan) adalah salah satu hal yang sangat penting. Manusia tidak hanya butuh makan tetapi pastinya juga butuh minum. Kesehatan jasmani (fisik) juga harus diimbangi dengan kesehatan ruhani (batin dan jiwa). Pun dalam bidang-bidang keilmuan. Selain ilmu-ilmu pengetahuan alam, teknik dan hitung, juga diperlukan ilmu-ilmu pengetahuan sosial-kemanusiaan (humaniora). Jika tidak tercipta keseimbangan maka sesuatu yang timpang umumnya berakhir tidak baik (tersendat, tersungkur, rusak, bubar, hancur, bahkan musnah). Dalam kerangka inilah, “sejarah” mengambil peran sebagai penyeimbang di balik layar, penyeimbang “batiniah kebangsaan“.

Sejarah merupakan salah bidang studi yang sangat penting dalam memberikan nutrisi atau bahan bakar bagi keberlangsungan “semangat kebangsaan” (spirit of nationality) dan “penguatan jati diri” (strengthening of identity). Jika semua anak bangsa hanya berlomba-lomba dalam pembangunan fisik negara, pandai berhitung, pandai berdagang, pandai membuat barang produksi yang laris di pasaran, pandai mengolah tambang, pandai mengolah hutan, fasih berbagai berbahasa, dan lancar dalam karir politik, maka sebuah bangsa berada dalam bayang-bayang menuju kehancuran. Layaknya sebuah tubuh, hal-hal yang berbau fisik juga harus diimbangi dengan hal-hal yang bersifat batin (ideologi, nasionalisme, identitas, kedewasaan, saling toleransi, ikatan persaudaraan, perasaan saling memiliki, perasaan saling menjaga dan merawat bersama, dan berbagai ikatan hak-kewajiban lainnya dalam berbangsa dan bernegara). Artinya, selain “pondasi fisik”, juga diperlukan “pondasi batin” dalam berbangsa dan bernegara. Masing-masing pondasi tersebut harus terus diberi nutrisi yang cukup dan dirawat secara baik untuk menjaga keberlangsungan kebangsaan.

Membangun, mengembangkan dan merawat sebuah bangsa-negara (nation-state) pada prinsipnya merupakan buah kerja kolektif dan kolaboratif. Ada bidang-bidang yang cenderung berfokus pada pembangunan fisik negara. Di lain sisi, ada bidang-bidang yang cenderung menjadi pondasi dalam pembangunan non-fisik sebuah negara. Ada yang berperan di depan, ada yang berperan di belakang. Ada yang berperan di permukaan dan ada yang berperan di dasar. Keduanya bersama-sama dan saling bersinergi. Antar segala lapisan kelompok, golongan, lintas ilmu, dan lintas bidang.

Dari mana “nutrisi batin” atau nutrisi pembangunan non-fisik bernegara tersebut diperoleh? Tentu salah satu yang berperan besar adalah “sejarah” (disamping juga ditopang bidang studi-bidang studi sosial-humaniora lainnya). Dari sejarah kita belajar menguatkan jati diri dan semangat kebangsaan yakni siapa sebenarnya kita (bangsa-negara Indonesia), siapa saja komponen pembentuknya, bagaimana masing-masing karakteristiknya, bagaimana perjuangan merdeka di masa lalu, siapa saja yang telah berkorban di masa lalu, bagaimana bentuk-bentuk pengorbanannya di masa lalu, layakkah melalaikan pengorbanan mereka, bagaimana menjaga api semangat perjuangan para pahlawan, bagaimana cara mengisi kemerdekaan yang telah diraih, dan masih banyak lainnya.

Sejarah juga mengajarkan kita untuk menyadari berbagai kesalahan di masa lalu agar tidak terulang di masa kini dan masa depan. Di sisi lain, sejarah juga mengajarkan kita belajar mencari formula kecemerlangan di masa lalu supaya bisa diulang di masa kini dan masa depan. Puncaknya, sejarah mengajarkan kita belajar menjadi bijak (dewasa). Bijak dalam menyikapi berbagai problematika bangsa-negara yang sangat kompleks. Kedewasaan ini bisa ditunjukkan dengan beberapa ciri seperti tidak mudah diadu domba, tidak mudah terprovokasi, tidak mudah menghakimi, proporsional dalam menilai, kritis ke luar dan ke dalam, serta memiki jiwa peduli terhadap masalah kebangsaan (bisa di tingkat lokal, regional, nasional, internasional maupun global).

Dalam falsafah Jawa yang dicetuskan Mangkunegara I (Raden Mas Said), dikenal adanya ungkapan bijak, rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki), wajib melu hangrungkebi (wajib ikut menjaga/membela/bertanggung jawab), dan mulat sarira angrasa wani (intropeksi diri, merasa berani). Bayangkan saja jika seandainya semua orang Indonesia sudah tidak ada yang peduli terhadap nasib kebangsaan (bersama), semua orang Indonesia sudah ahistory terdadap bangsanya, semua mengejar kepentingan pribadi dan kelompok masing-masing, akan jadi apakah Indonesia?

Sebagai contoh yang lebih riil misalnya: andaikan semua orang Indonesia berlomba-lomba mengeruk tambang untuk keuntungan kapital perusahaannya masing-masing, setiap pemimpin hanya memikirkan kelompoknya masing-masing, setiap dokter yang dipikirkan hanya mencari balik modal dan untung sebanyak-banyaknya, setiap lembaga pajak yang dipikirkan hanya menaikkan pajak supaya bisa dikorupsi, setiap pendidik yang dikejar hanya uang-uang dan uang, setiap polisi yang dikejar hanya kepentingan kelompoknya, setiap petani yang dipikirkan hanya kelompoknya saja, dan masih banyak lainnya. Dengan berbagai contoh pengandaian tersebut maka apa yang akan terjadi? Rusaklah suatu bangsa tersebut! Jika bangsa tersebut masih ada (meski dalam ‘penyakitan’), tandanya masih banyak orang baik yang terus berjuang mengisi dan merawat “pondasi batin” bangsa tersebut!


Apakah karena Sejarah Memang Menjenuhkan?

Jawabannya relatif. Faktor penyebab menjenuhkan itu beraneka macam. Bisa karena faktor internal dan eksternal. Dari segi internal, bisa dipengaruhi pengalaman, pengetahuan, paradigma, minat, motivasi, tujuan, atau lainnya. Dari segi eksternal, bisa dipengarugi faktor pendidik, kebijakan, teman, budaya, atau lainnya. Lalu apakah sejarah memang menjenuhkan? Fakta di lapangan menunjukkan suatu yang tidak tunggal. “Sebagian orang merasakan kenikmatan, sebagian biasa saja, dan sebagiannya merasa sejarah memang menjenuhkan“.

Mungkin yang dimaksud menjenuhkan di sini bukan terletak pada “sejarah” itu sendiri sebagai obyek, melainkan bagaimana sejarah itu dibungkus, disajikan, disampaikan, dikenalkan, dan diinternalisasikan kepada peserta didik (dan juga masyarakat luas). Sebagai sebuah bidang kajian, mungkin sejarah dan mata pelajaran apapun tidak bisa diadili menjenuhkan atau tidak. Alasannya karena jenuh tidaknya, tidak melekat pada bidang (obyek) melainkan melekat pada “pola pikir” dan “perasaan” dalam mamandang/menilai bidang tersebut. Pola pikir dan perasaan inilah yang dipengaruhi/dibentuk oleh faktor internal dan eksternal sehingga mempengaruhi penilaian.

Ini sama halnya jika ditanya, apa hukumnya kitab suci Al-Quran? Maka kitab suci Al-Quran tidak ada hukumnya, karena hukum melekat pada “aktivitas manusia”. Jika Al-Quran itu untuk dibaca dan diteladani, maka hukumnya halal dan berpahala. Tetapi jika kitab suci tersebut digunakan untuk memukul kepala seseorang hingga berdarah tanpa diketahui apa penyebabnya, maka hukumnya menjadi haram dan berdosa. Hukum haram di sini bukan merujuk ke kitab suci Al-Quran sebagai sebuah benda, melainkan pada aktivitas pemukulan seseorang yang menyalahi aturan (masuk kategori kriminalitas).

Karena penilaian terhadap sejarah berkaitan dengan “pola pikir” dan “perasaan”, maka jenuh tidaknya bersifat subjektif atau selerais. Bagi pecinta sejarah, belajar dan bercandu dengan sejarah adalah kenikmatan tersendiri. Bagi yang tidak suka sejarah, besar kemungkinan mereka kurang bisa menikmati proses belajar sejarah, sulit menangkap esensi pentingnya belajar sejarah. Minat dan selera ini tidak bisa dipaksakan. Setiap orang diberikan anegrah kesukaan masing-masing. Kedua, jenuh tidaknya juga bisa dipengaruhi oleh faktor pendidik/pengajar. Bisa jadi cara mengajar pendidik sangat menjenuhkan dan bikin ngantuk sehingga sulit nyantol. Masuk kosong, keluar kosong. Bisa jadi si pendidik kurang ada kebaruan dan penyesuaian, monoton, ceramah satu arah, isinya hafalan, sumber belajarnya konvensional, medianya itu-itu saja, sering kosong, pilih kasih, dan lain sebagainya.

Bisa jadi pembelajaran sejarah lebih dipenuhi nafsu “kejar target” ketimbang “kejar paham”. Jangan-jangan pembelajaran memang benar masih dominan hafalan alias hanya dituntut “kejar hafal” ketimbang pembelajaran kontekstual dan meaningfull. Jangan-jangan belajar sejarah masih terjebak untuk masa lalu itu sendiri, bukan mengaitkannya dengan masa kini dan masa depan. Di lapangan, masih banyak dijumpai kasus demikian. Belajar sejarah yang hanya menekankan pada hafalan angka tahun, nama tokoh, tempat peristiwa, dan faktor-faktor penyebab serta mendudukkannya sebagai peristiwa kelampauan semata tanpa mengaitkan dengan konteks kekinian dan masa depan, jelas menjadikan sejarah nampak tak lagi relevan dan tak ada gunanya. Sulit menimbulkan kesan mendalam jika sejarah tak dihadirkan dalam kehidupan kita sehari-hari saat ini dan yang akan datang. PR terbesarnya “kontekstualisasi“. Butuh “sejarah yang kontekstual” supaya sejarah itu terasa dekat dan hadir dalam kehidupan sehari-hari masa kini. Sejarah bukan untuk masa lalu itu sendiri!

Ketiga, jenuh tidaknya terhadap sejarah juga bisa dipengaruhi oleh “budaya kolektif”. Budaya bersama dalam konteks ini adalah stigma atau anggapan umum negatif tentang sejarah, seperti bidang yang kurang penting, tidak diujiankan, kurang berdampak dalam kehidupan, peluang kerjanya sulit, tidak bisa kaya, dan lain-lain. Alhasil, di lingkungan tersebut orang-orang tidak pernah membahas masalah sejarah. Di sisi lain, sebagian orang kebetulan hidup di lingkungan yang memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya sejarah, sehingga sadar atau tidak, orang di sekitarnya juga turut terbangun kesadaran sejarahnya.


Apakah Patokannya karena Sejarah Bisa Dipelajari Sendiri?

Apakah benar Sejarah itu bisa dipelajari sendiri secara mandiri? Bukannya hanya menghafal nama-nama orang dan angka tahun saja? Dalam tataran tertentu, bisa. Seseorang bisa belajar sejarah (sebagai sebuah kisah) secara mandiri dengan cara menonton video di youtube, membaca buku atau jurnal, blusukan ke situs-situs sejarah, mengunjungi museum, blusukan ke perpustakaan, ngobrol dengan para pelaku sejarah, atau ngobrol dengan para pendidik sejarah secara informal di tempat-tempat nongkrong. Artinya, dalam tataran tertentu, belajar sejarah bisa ditempuh tanpa melalui jalur kuliah formal. Mereka bisa “kuliah mandiri” di rumah, mengupayakan apa yang bisa dilakukan secara sendiri.

Namun dalam tataran yang lain, belajar sejarah secara mandiri (otodidak) juga memiliki kelemahan. Lagi pula sejarah yang ideal tidak sebatas hafalan seperti yang banyak dituduhkan selama ini (meskipun nyatanya memang masih banyak yang dimikian). Lewat bangku kuliah kita diajarkan sikap kritis dalam membaca narasi-narasi sejarah. Dalam belajar hal-hal yang bersifat metodologis, belajar secara mandiri dan lewat bangku kuliah tentulah berbeda. Hal-hal metodologis seperti cara mencari sumber, mengkritisi sumber, membandingkan sumber, menginterpretasi data, membandingkan data, menulis sejarah, pemilihan pendekatan dalam menulis sejarah, dan cara menyajikan tulisan, adalah hal-hal penting dalam belajar sejarah secara kritis.

Sebagai orang awam yang belajar sejarah secara otodidak (mandiri) dan belajar langsung dari para ahlinya, kemungkinan besar hasilnya tidak sama. Mereka yang kuliah bisa berdiskusi langsung secara mendalam dan mendapatkan pendampingan/bimbingan dari para pakar. Sedangkan para pembelajar otodidak terkadang harus menerka-nerka hal-hal yang sekiranya dibingungkan. Peluang keblasuk lebih tinggi (bukan berarti yang kuliah formal tidak bisa keblasuk sama sekali). Penulis tidak menyatakan bahwa semua pembelajar sejarah yang otodidak pasti lebih jelek dibanding mereka yang kuliah, tetapi ini bicara soal keumuman (pada umumnya). Pastinya tetap ada orang-orang tertentu (segelintir) yang meskipun tidak kuliah secara formal di jurusan Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah, tetapi kompetensinya juga sangat baik, bahkan lebih baik dari mereka yang kuliah formal.

Di sisi lain, kuliah tidak hanya bertujuan untuk memperdalam kompetensi bidang keahlian, melainkan juga untuk meluaskan wawasan, memperkaya pengalaman, memperbanyak teman dan jaringan/relasi, membentuk karakter, membangun leadership, melatih komunikasi, meningkatkan kepercayaan diri, dan masih banyak lainnya. Lingkungan kampus berpeluang memberikan pengalaman yang “berbeda” yang mungkin sulit didapatkan di luar.


Apakah Patokannya karena Peluang Dapat Kerjanya Sulit?

Sebenarnya kalau mau jujur, sulitnya mencari pekerjaan juga banyak dialami jurusan-jurusan lainnya, tidak hanya Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah. Jumlah lulusan yang tidak sebanding dengan jumlah lowongan pekerjaan relevan yang tersedia menjadi masalah besar bersama di berbagai jurusan dan perguruan tinggi. Masalah klasik ini bahkan juga banyak dialami oleh mereka para lulusan dari jurusan-jurusan atau perguruan tinggi yang katanya besar dan terkenal (prestisius). Dari sini bisa ditegaskan bahwa fenomena sulitnya mencari kerja setelah lulus, tidak bisa dilekatkan hanya pada lulusan prodi/jurusan Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah saja. Prodi/jurusan lainnya (entah jurusan yang berbau ilmu sosial, ilmu alam, ilmu hitung, teknik, seni, atau lainnya) pun juga merasakan hal yang sama. Menyudut-negatifkan hanya jurusan Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah tentulah tidak benar dan berlebihan.

Dalam konteks “prodi/jurusan pendidikan”, sebagian para lulusan memang masih dipusingkan dengan adanya tuntutan PPG (Pendidikan Profesi Guru) selama satu tahun jika ingin menjadi “guru profesional” di mata pemerintah (Kementerian Pendidikan). Masalah semakin berlanjut ketika setelah lulus, para lulusan tidak bisa langsung mendaftar PPG karena harus menunggu gelombang pendaftaran dibuka. Belum lagi masalah lain di mana tidak semua jurusan/bidang studi selalu dibuka dalam setiap gelombangnya (dengan alasan proporsionalisasi kebutuhan di lapangan yakni masih menumpuknya lulusan PPG sebelumnya). Akibatnya, para lulusan banyak yang frustasi, bingung dan mau tidak mau harus sabar menunggu gelombang berikutnya. Sebagian memutuskan mencari pekerjaan yang available. Namun perlu ditekankan bahwa kondisi seperti ini tidak hanya dialami para lulusan Prodi Pendidikan Sejarah, tetapi juga banyak prodi pendidikan lainnya. Sebagai informasi pembanding, lulusan PPG Sejarah yang akhirnya mendapatkan pekerjaan yang diinginkan juga banyak. Kadang-kadang narasi negatif telah menenggelamkan fakta positif, sehingga yang terjadi bukanlah menggugah optimisme melainkan pesimisme.

Mencari kerja sesuai bidang jurusan memang tidak gampang dan itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Namun itu tidak hanya terjadi bagi lulusan Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah. Lulusan dokter tidak semuanya jadi dokter. Lulusan Hukum tidak semuanya kerja di bidang hukum. Lulusan Teknik tidak semuanya kerja di bidang teknik. Lulusan Ekonomi tidak semuanya kerja jadi ekonom. Lulusan Matematika tidak semuanya kerja jadi matematikawan. Hal demikian juga berlaku untuk semua jurusan lainnya, termasuk pendidikan, bahwa tidak semua lulusan pendidikan calon guru akhirnya menjadi guru. Bahkan sebagian orang memilih tidak meneruskan cita-cita menjadi guru karena di tengah perjalanan kuliah menyadari bahwa passion-nya tidak di pendidikan.

Di sisi lain, fakta di lapangan memberikan hikmah agar banyak pihak harus lebih berbenah, termasuk dalam urusan memikirkan solusi terkait ketersediaan lapangan kerja yang relevan. Implikasi dari sulitnya mencari pekerjaan yang relevan ialah tidak sedikit lulusan “terpaksa” mencari pekerjaan lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan background jurusan yang diambil (entah untuk sementara waktu ataupun untuk seterusnya). Tidak sedikit lulusan “terpaksa” melamar pekerjaan di bidang-bidang yang persyaratannya bersifat umum, tidak mengharuskan lulusan bidang tertentu, bahkan tidak harus lulusan S1. Fenomena ini merupakan fenomena nasional yang tidak hanya terjadi saat ini saja tetapi telah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.

Fenomena sulitnya cari kerja merupakan PR berat negeri ini. Diperlukan koordinasi dan sinergi dari banyak pihak seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola pendidikan, para pakar pendidikan, pakar tenaga kerja, dan para pelaku usaha di lapangan. Sangat berat bila masing-masing berjalan sendirian. Perguruan tinggi hendaknya juga tidak hanya fokus memperbesar “kuota jalur mandiri” guna meraih pendanaan segar yang melimpah setiap tahunnya. Komunikasi antar stake holders (para pemangku kepentingan) adalah kunci dalam mencarikan solusi supaya tercipta lapangan pekerjaan yang lebih memadahi guna menyerap para lulusan yang membludak setiap tahunnya.

Perlu diakui bahwa masih terjadi perdebatan terkait apakah lulusan S1 itu sebenarnya dicetak untuk “siap kerja“. Secara konseptual, kuliah S1 memang tidak bertujuan untuk siap kerja (menjadi pekerja) karena proyeksi itu diperuntukkan bagi lulusan D1-D4 (pendidikan vokasi). Kuliah S1 secara konseptual lebih dititikberatkan pada kompetensi teoritis seperti untuk menempa pendewasaan pola pikir, memperluas wawasan, memperkaya pengalaman, meningkatkan daya kritis, mencetuskan ide/gagasan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menjawab perkembangan zaman. Menurut beberapa pakar pendidikan, lulusan S1 secara teoritis diproyeksikan menjadi agen-agen yang mampu “menciptakan lapangan pekerjaan”, bukan “melamar pekerjaan”.

Jika demikian idealnya, jelas menjadi masalah besar bagi Indonesia saat ini, apapun jurusannya. Idealitas tersebut masih berat (bukan berarti tidak bisa) untuk diimplementasikan di Indonesia saat ini. Sistem, budaya, iklim, mentalitas, paradigma, dan pemikiran masyarakat Indonesia (secara umum) belum sepenuhnya terpancang ke arah sana. Perguruan Tinggi saat ini cenderung seperti “pabrik” yang lebih asik dan fokus mencetak lulusan sebanyak-banyaknya, tetapi terlihat kurang memperhatikan kelanjutan nasib dari para lulusan yang telah dicetaknya tersebut.


Apakah Patokannya karena Peluang Gajinya Kecil?

Jika berbicara soal “gaji” (dalam konteks ini gaji besar atau fantastis yang berjumlah puluhan juta, ratusan juta, bahkan milyaran), maka sejarah sebagai suatu bidang atau jurusan/prodi, memang tidak memposisikan dan menjanjikan itu. Ada bidang-bidang lain yang lebih menjanjikan jika memang berorientasi kuat pada sisi materialisme (keuntungan ekonomi). Ini sebuah pilihan. Namun demikian, banyak para pendidik sejarah baik di kelas maupun di instansi tertentu (guru, dosen, tour guide, edukator, dll), para peneliti lepas, para penulis buku sejarah, para wirausahawan sejarah, atau lainnya, nyatanya juga cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Banyak juga lulusan Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah yang sukses dan menjadi tokoh inspiratif. Cukup dan tidak cukup terkadang bersifat relatif, tergantung bagaimana kita mensyukuri dan menyikapinya (walaupun prinsip ini terkadang juga berat karena faktanya memang benar-benar tidak cukup).


Bagaimana dengan Lulusan Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah yang Saat ini Belum Berhasil Menggapai Impiannya?

Para lulusan tidak perlu risau berlebihan dan berkepanjangan. Tantangan itu harus dihadapi. Lulusan Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah tidak boleh berkecil hati (minder). Kuliah itu diniatkan “mulia” yakni untuk menggembleng kualitas diri supaya mampu mengangkat harkat, derajat dan kesejahteraan diri, keluarga serta masyarakat. Setiap yang baik insyaAllah disiapkan “rejekinya”, entah dalam bentuk dan cara apapun. Setiap orang ada “rejekinya masing-masing”. Rejeki (pekerjaan) itu harus dijemput dan diusahakan sekuat mungkin, apapun hasilnya. Manusia bisa berencana dan mengusahakan tetapi Sang Maha Kuasalah yang menentukan.

Setelah semua diusahakan dengan sungguh-sungguh (dibarengi doa), seyogyanya setiap jiwa harus berdamai dengan garisnya masing-masing saat ini. Kita tidak tahu seperti apa ke depannya, karena masa depan merupakan rahasia kehidupan”. Hanya Sang Pemilik Kehidupan yang mengetahui rahasia tersebut. Bisa jadi hal-hal positif tak terduga menanti kita di depan sana. Bisa jadi kesibukan/pekerjaan saat ini adalah “batu loncatan sementara” yang mesti dilalui. Bisa jadi setelah ini akan ada kejutan yang menggembirakan.

Bisa jadi kondisi saat ini adalah fase menguji mental dan memperkuat keyakinan. Bisa jadi setelah lulus adalah fase “penyadaran diri” bahwa dunia nyata sesungguhnya telah datang (ia tak seindah masa-masa sekolah/kuliah). Menyadarkan bahwa segala pencapaian sebaiknya dirayakan sakmadyane wae (sepantasnya saja), tidak perlu berlebihan. Para lulusan harus menjadi manusia tangguh yang siap dengan kondisi itu. Tak perlu berkecil hati. Kuatkan asa menyongsong cita. Itu tidak sendirian. Ribuan bahkan jutaan orang di luaran sana juga sedang sama-sama berjuang.

Di lain sisi, para lulusan juga mesti percaya bahwa setiap orang itu sudah ada jatahnya masing-masing. Jatah tersebut adalah garis terbaik dari-Nya. Memang seakan ada orang-orang yang dijatah “beruntung” dan sebagiannya lagi dijatah “kurang beruntung”. Beruntung dan kurang beruntung di sini bukan dalam artian perbedaan kesejahteraan ekonomi, melainkan ada lulusan yang bisa bekerja sesuai jurusan, ada yang agak berkaitan, dan ada yang sama sekali tidak berberkaitan, bahkan sebagian masih berjuang memperoleh pekerjaan. Semua baik, semua mulia, semua sama-sama berjuang. “Jatah terbaik” itu bisa jadi temporer, artinya jatah terbaik seseorang saat ini bisa jadi berbeda dengan jatah terbaiknya di kemudian hari. Dengan usaha yang luar biasa dan optimisme, “jatah terbaik” seseorang bisa berubah atas kehendak-Nya. Apapun itu, semuanya sama-sama “jatah terbaik“. Terbaik untuk saat ini, kemudian hari, dan kemudian waktu.


Pentingnya Refleksi Bersama

Adanya pertanyaan “apakah benar kuliah di jurusan Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah itu tidak penting (tidak berguna)?” mestinya tidak perlu membuat kita sakit hati. Justru harusnya kita berterima kasih. Pertanyaan tersebut penting sebagai bahan renungan bagi para pemimpin, para pengambil kebijakan pendidikan, para pendidik sejarah, atau siapapun agar terpelecut untuk mematahkan anggapan negatif tersebut. Anggapan atau tudingan akan menjadi elegan ketika dijawab dengan bukti capaian. Bukti capaian itulah yang kelak akan membungkam dan menghilangkan secara perlahan stigma-stigma negatif terhadap sejarah.

Pertanyaan menggelitik terkait penting tidaknya kuliah di Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah sangat baik bagi yang berkecimpung di bidang sejarah (entah di sekolah, di kampus, di perpustakaan, penerbit buku, di museum, atau dinas-dinas lain yang berkaitan). Sangat baik dalam arti untuk muhasabah (instropeksi diri) apakah tuduhan-tuduhan di luar benar adanya. Pertanyaan itu mestinya membawa seseorang/kelompok/lembaga untuk intropeksi diri, bagian-bagian mana saja yang perlu dibenahi, apakah kurikulumnya yang sudah tidak relevan, apakah sejarah di perguruan tinggi cenderung hanya mengulang sejarah SMA, apakah metode mengajar pendidik banyak yang tidak tepat, apakah sumber belajar yang dipakai sudah pada ketinggalan, apakah cara komunikasi para pendidik buruk, apakah wawasan sejarah pendidik kurang, apakah lulusan sulit mencari pekerjaan, apakah lulusan kurang kompeten di mata para pengguna, atau lainnya.

Anggapan bahwa belajar sejarah tidak perlu kuliah justru seharusnya menjadikan pengelola dan para dosen semakin terpacu untuk membuktikan bahwa kampus mampu memberikan “perbedaan”. Membuat para dosen semakin terdorong untuk memberikan pelayanan yang berkualitas, totalitas dalam menularkan ilmu dan pengalaman yang mungkin sulit diperoleh di luar kampus. Kalau ternyata orang-orang awam bisa belajar sejarah di rumah dan hasilnya sama baiknya dengan mereka yang belajar secara formal di kampus, itu pertanda bahwa perguruan tinggi (para pemimpin beserta dosen-dosennya) telah mengalami ketertinggalan. Perguruan tinggi gagal dalam membaca perkembangan zaman, sehingga disalip oleh konten-konten kreator lepas yang mungkin karyanya dianggap lebih menarik bagi generasi muda yang ingin belajar sejarah.

Bagaimana membangun bangsa dan negara yang menghargai sejarah? Dalam konsep kepemimpinan, perjuangan para “pendidik sejarah” di tingkat bawah (baik di sekolah, di perguruan tinggi, di museum, dan lain-lain) sebenarnya perlu sokongan kuat dari para pimpinan di tingkat pusat (nasional) melalui keteladan pemikiran, sikap, dan kebijakan. Dinanti sosok pemimpin (dan segenap barisan sub-pemimpin di belakangnya) yang begitu mencintai dan memiliki perhatian besar pada sejarah. Kecintaannya tersebut sebisa mungkin nyata dirasakan dalam banyak gebrakan kebijakan strategis nasional yang bernafaskan nilai-nilai sejarah. Pendek kata, sejarah mestinya dijadikan perspektif, filosofi, dan basis nilai dalam setiap mengambil kebijakan. Sayangnya belum terlihat sosok yang didambakan tersebut. Dirindukan sosok pemimpin sebagai nahkoda kapal di negeri ini yang mampu mengobarkan keteladanan dalam menghargai sejarah.

Pepatah arif mengatakan bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah”. Dengan cara apa? Dengan cara “belajar sejarah” (learn about history) dan “belajar dari sejarah” (learn from history) supaya bisa “mencipta sejarah” (learn for history). Jangan sampai ada upaya pengesampingan sejarah kembali seperti sebelum-sebelumnya. Jangan sampai jatah jam pelajaran sejarah yang telah beberapa kali mau “dihilangkan” (lebih tepatnya ‘dikurangi’) terjadi kembali. Sejarah mestinya dijadikan “kompas” untuk Indonesia melangkah. Kalau sejarah belum mendapat prioritas, bagaimana negeri ini mau menjadi bangsa yang besar? Bukankah untuk berlari ke depan, kita perlu “spion besar” (untuk melihat dengan jelas kondisi samping kanan, kiri dan utamanya belakang) agar kita sampai tujuan? Belajar Masa Lalu adalah Seni Menatap Masa Depan!

Komentar

  1. […] kemantaban kuliah di Prodi/Jurusan Pendidikan Sejarah, silahkan baca tulisan berikut ini: [Benarkah Kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah itu Tidak Penting/Tidak Berguna?]. Berisi gambaran peluang, tantangan, dan jawaban atas tuduhan klasik dari sebagian masyarakat yang […]