Mahasiswa sejarah biasanya dikenal sebagai orang-orang yang akrab dengan arsip, dokumen kolonial, dan debat sengit soal peran Boedi Oetomo. Tapi kisah Dwi Anggoro, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah UNS angkatan 2023, sedikit berbeda. Ia bukan hanya mengulik masa lalu lewat teks, tapi juga menghidupkannya (secara harfiah) lewat boneka. Ya, boneka. Tepatnya, wayang.

Pada tahun 2024, Dwi bersama komunitasnya di Yayasan Sang Pamarta berangkat ke Thailand untuk mengikuti Phetchaburi Harmony Puppet Festival 2024. Festival ini bukan ajang lomba biasa, tapi perayaan lintas budaya yang mengundang seniman boneka dari seluruh dunia untuk berbagi tradisi, teknik, dan cerita rakyat mereka.
Menurut laman UNIMA dan Nation Thailand, festival ini adalah salah satu perhelatan penting bagi dunia pewayangan dan seni boneka global. Di sana, para seniman dari Asia hingga Eropa tampil berdampingan, membawa kisah masing-masing.

Bagi Dwi, tampil di Thailand bukan hanya soal tampil di panggung internasional, tapi juga membuktikan bahwa budaya Indonesia punya daya hidup dan daya tarik universal, di tengah gegap gempita musik, cahaya, dan bahasa yang berbeda-beda. Dwi dan timnya tetap setia dengan roh wayang, medium yang telah menjadi jendela sejarah dan moral bangsa dikawasan Asia sejak berabad-abad silam.

Tak berhenti sampai di situ, pada tahun yang sama Dwi juga berlayar jauh lebih jauh: ke Tunisia, Afrika Utara. Ia tampil di Neapolis International Festival for Kids Theatre 2024, sebuah festival teater anak internasional yang dinaungi oleh ASSITEJ International.
Dalam ajang ini, Dwi dan Yayasan Sang Pamarta membawakan karya bertajuk AnimaWayang”, sebuah inovasi yang memadukan konsep wayang tradisional dengan bentuk hewan. Ceritanya? Tentang Kapal Nabi Nuh, kisah universal tentang penyelamatan beragam Hewan, dan harapan setelah badai.

Prestasi Dwi ini menarik bukan hanya karena skala internasionalnya, tapi juga karena ia datang dari ranah yang sering dianggap “tidak berhubungan langsung” dengan seni pertunjukan: pendidikan sejarah. Namun, kalau dipikir lebih dalam, keduanya sama-sama bicara tentang memori kolektif dan identitas manusia. Sejarah mengajarkan kita tentang apa yang pernah terjadi, sementara seni, utamanya seni tradisional seperti wayang, menghidupkan kembali nilai-nilai itu dalam bentuk yang bisa dinikmati secara visual. Dwi berhasil menjembatani keduanya: mengajarkan sejarah lewat pertunjukan.

Dalam konteks pendidikan sejarah, pengalaman Dwi bisa menjadi inspirasi penting. Ia menunjukkan bahwa sejarah tidak harus selalu diajarkan dengan metode konvensional. Melalui seni dan kolaborasi lintas budaya, sejarah bisa hadir. Bayangkan jika di masa depan, guru-guru sejarah seperti Dwi tidak hanya membawa buku teks ke kelas, tapi juga membawa wayang, boneka, atau bahkan pementasan kecil tentang tokoh dan peristiwa sejarah. Itu bukan cuma pembelajaran, tapi pengalaman yang akan menempel di ingatan siswa jauh lebih lama daripada sekadar hafalan tanggal dan nama.

Prestasi Dwi Anggoro di dua festival internasional (Phetchaburi Harmony Puppet Festival 2024 di Thailand dan Neapolis International Festival Kids Theatre 2024 di Tunisia) bukan hanya kebanggaan pribadi. Ia adalah bukti bahwa mahasiswa sejarah juga bisa menjadi duta budaya, penggerak kreatif, sekaligus penghubung antarbangsa lewat warisan nenek moyangnya.

 

Oleh: Ilham Putra Pratama (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2023)

Komentar