Oleh: Dadan Adi Kurniawan
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret
Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id
— “Menentukan hasil (akan menjadi apa) memang bukan tugas manusia, tetapi berjuang sekuat pikir dan tenaga adalah kewajiban setiap insan yang bernyawa” —
Kenal Prodi
“Tak kenal maka tak sayang”. Begitulah pepatah mengatakan. Jika ingin menyayangi sesuatu [seyogyanya] kenali benar sesuatu tersebut. Jika ingin mantab kuliah maka kenali profil [seluk-beluk] prodi dan universitasnya. Dalam kerangka itulah untuk mendapatkan gambaran sejarah ringkas berdirinya Prodi Pendidikan Sejarah UNS, silahkan baca tulisan ringkas pada portal website prodi berikut ini: [Sejarah Prodi Pendidikan Sejarah UNS]. Di dalamnya terdapat riwayat kapan prodi berdiri, siapa perintisnya, siapa saja yang pernah menjadi ketua prodi, siapa saja dosennya, siapa saja kepala laboratoriumnya, seperti apa profil lulusannya, dan masih banyak hal lainnya. Mengisahkan perjalanan Prodi ketika masih bermukim “di barat” hingga menetap “di timur” seperti sekarang ini.
Prodi merupakan lembaga pendidikan formal pada jenjang pendidikan tinggi yang mempunyai visi, tujuan dan profil lulusan. Profil lulusan merupakan proyeksi masa depan lulusan [ditargetkan menjadi apa]. Prodi Pendidikan Sejarah UNS memiliki 4 profil lulusan di mana proyeksi utamanya ditargetkan menjadi “Pendidik Sejarah” (utamanya menjadi Guru Sejarah SMA/SMK/sederajat). Profil lainnya diproyeksikan menjadi penulis, edukator, dan wirausahawan di bidang pendidikan sejarah dan kesejarahan. Penjelasan lengkap terkait Profil Lulusan Prodi bisa dicek di sini: [Visi dan Tujuan Prodi Pendidikan Sejarah UNS].
Dari visi, tujuan dan profil lulusan itulah kemudian menentukan jalannya penyusunan Kurikulum Prodi, terutama dalam mendesain sejumlah mata kuliah relevan beserta besaran SKS-nya. Secara periodik selalu ada “peninjauan kurikulum” untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman [tuntutan dan kebutuhan di lapangan]. Penasaran mata kuliah apa saja yang ditawarkan Prodi? Teman-teman bisa akses Dokumen Kurikulum Prodi pada laman berikut ini: [Kurikulum Prodi Pendidikan Sejarah UNS].
Seperti apa sih gambaran kuliah di Prodi Pendidikan Sejarah [UNS]? Bagi yang penasaran bagaimana potret pembelajaran kuliah sehari-hari bisa lihat pemberitaan berikut ini: [Potret Pembelajaran]. Berbagai macam metode dan luaran pembelajaran dari berbagai dosen tersaji cukup lengkap. Adapun profil tiap dosen bisa lihat laman berikut ini: [Biodata Dosen Pendidikan Sejarah UNS]. Di situ terpampang nama lengkap, gelar, NIP, kepakaran dan link google scholar yang menampilkan daftar karya tulisan [jurnal dan buku] dari masing-masing dosen. Untuk memahami gelar-gelar dosen, silahkan baca tulisan berikut: [Mengenal Jenis-Jenis Pendidikan Tinggi dan Gelar Akademik Dosen]. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai sejarah dan cara membaca gelar dosen.
Selain menjalankan fungsi pengajaran, Prodi Pendidikan Sejarah UNS memiliki sejumlah program akademis guna menopang visi dan tujuan lembaga. Berbagai program prodi tersebut bisa lihat di sini: [Dokumentasi Kegiatan-Kegiatan Prodi Pendidikan Sejarah UNS] dan di sini: [Instagram Prodi Pendidikan Sejarah UNS]. Isinya berupa pemberitaan kegiatan seminar, kuliah tamu, workshop rekonstruksi kurikulum, penerimaan kunjungan studi, pendampingan penulisan artikel, penelitian, pengabdian, dialog dosen-mahasiswa, tawaran beasiswa, KKL, halal-bihalal, dan lain-lain. Riwayat akreditasi Prodi bisa cek di sini: [Riwayat Akreditasi Perndidikan Sejarah UNS]. Laman ini menyediakan file sertifikat akreditasi yang bisa didownload untuk melamar pekerjaan, melanjutkan studi, atau keperluan lainnya.
Pilihan yang Tidak Salah
Tak perlu risau terkait masa depan kuliah di Prodi/Jurusan Pendidikan Sejarah. Menentukan hasil “akan jadi apa” memang bukan tugas manusia, tetapi berjuang sekuat pikir dan tenaga adalah kewajiban setiap insan yang bernyawa. Kuliah merupakan salah satu bentuk ikhtiar [usaha] dalam rangka meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Meningkatkan kualitas pola pikir, kedalaman kompetensi, kepekaan sosial, dan kesejahteraan ekonomi.
Untuk mendapatkan kemantaban kuliah di Prodi/Jurusan Pendidikan Sejarah, silahkan baca tulisan berikut ini: [Benarkah Kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah itu Tidak Penting/Tidak Berguna?]. Berisi gambaran peluang, tantangan, dan jawaban atas tuduhan klasik dari sebagian masyarakat yang menganggap “katanya kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah tidaklah begitu berguna”. Teman-teman juga saya sarankan membaca tulisan ini: [Manfaat Belajar Sejarah dan belajar dari Sejarah] agar semakin terbangun kesadaran bahwa belajar belajar sejarah memiliki banyak manfaat. Setidaknya terdapat 12 poin manfaat belajar sejarah (learn about history) dan belajar dari sejarah (learn from history).
Semoga teman-teman yang akan atau sedang kuliah di Prodi Pendidikan Sejarah/Ilmu Sejarah semakin yakin bahwa pilihannya “tidak keliru”. Sadar bahwa sejarah punya tempat tersendiri dalam menjaga api kebangsaan. Kontribusinya tak bisa diremehkan. Para lulusan Pendidikan Sejarah [terutama yang menjadi guru/dosen, atau profesi lain yang masih berkecimpung di dunia pendidikan dan kesejarahan] merupakan “penyambung lidah” api spirit kebangsaan. Mereka adalah pilar-pilar “pondasi batiniah” kebangsaan Indonesia. Memangnya seperti apa sih potret lulusan Prodi Pendidikan Sejarah UNS? Silahkan cek Profil Alumni di sini: [Alumni Inspiratif]. Terpampang profil dan testimoni dari para alumni Pendidikan Sejarah UNS lintas angkatan.
Memetakan Jalan Kuliah [Mengalir Terarah]
Setelah urusan memilih jurusan/prodi kelar, saatnya memikirkan hal lain. Apa itu? “Memetakan jalan kuliah” supaya mendapatkan pengalaman maksimal ke depannya. Artinya ada sebuah perencanaan [planning] untuk menggodok dan memaksimalkan diri selama kuliah, sekalipun dalam perjalanannya nanti ada yang tidak berjalan semestinya. Itu tidak masalah. Karena punya target, maka upaya-upaya yang harus dilakukan “lebih jelas dan terarah”. Tidak hanyut mengalir entah ke mana, melainkan “mengalir terarah secara terencana” [sekalipun sebagiannya mleset].
Dalam hemat penulis, saat kuliah di Prodi Pendidikan Sejarah, teman-teman bisa memetakan jalannya kuliah menjadi 8 poin sebagai berikut [bisa dimodifikasi sesuai minat dan orientasi masing-masing]:
1. Pendalaman Konten Sejarah
Selama kuliah, perlu ditargetkan mendalami setidaknya 5 jenis bidang sejarah berikut ini:
- Sejarah Nasional Indonesia [Sejarah Wajib, mulai dari periode Praaksara, Hindu-Buddha, Islam, Kolonial, Pergerakan Nasional, Pendudukan Jepang, sekitar Proklamasi Kemerdekaan dan Revolusi Fisik, Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi].
- Sejarah Lokal [sejarah kota/kabupaten yang diminati seperti sejarah lokal Surakarta, sejarah lokal Yogyakarta, sejarah lokal Semarang, sejarah lokal Jakarta, sejarah lokal Madiun, sejarah lokal Blora, sejarah lokal Bandung, dll].
- Sejarah Dunia dan Kawasan [bisa memilih beberapa sejarah dunia yang dianggap penting/disukai seperti sejarah peradaban Yunani, sejarah peradaban Romawi, sejarah India Kuno, sejarah Mesir Kuno, sejarah Asia Timur, sejarah Eropa, sejarah Afrika, sejarah Asia Tenggara, sejarah Perang Dunia, sejarah Revolusi Industri, dll].
- Sejarah Tematis/Pilihan [tema-tema khusus seperti sejarah pendidikan, sejarah pers, sejarah agraria, sejarah maritim, sejarah pemikiran, sejarah kota, sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah perempuan, sejarah politik, sejarah militer, sejarah kebudayaan, sejarah kesehatan, sejarah peradaban Islam, dll].
- Kritik Historiografi [bukanlah bagian dari jenis bidang sejarah seperti poin 1-4, melainkan lebih ke wawasan persoalan historiografis. Wawasan tentang cara mengkritisi tulisan sejarah dan cara menyajikan tulisan sejarah. Bagian ini merupakan salah satu kompetensi vital karena mempengaruhi daya kritis saat membaca tulisan sejarah. Mempengaruhi cara kerja seorang pembaca apakah bakal menelan mentah-mentah informasi yang didapatnya atau melewati penelaahan kritis].
2. Pendalaman Ilmu Pedagogik (Kependidikan dan Pengajaran)
- Menyusun perencanaan pembelajaran
- Mengevaluasi pembelajaran
- Penguasaan model, metode, media, dan sumber belajar
- Pemanfaatan teknologi pembelajaran
- Memahami karakter peserta didik
- Profesi Kependidikan
- Pendidikan Inklusi
- Penguasaan kelas
- Dan lain-lain [masih banyak aspek penting dari ruang lingkup pedagogik]
3. Menguasai Metodologi Penelitian
- Penelitian Kualitatif
- Penelitian Historis
- Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
- Penelitian Kuantitatif
4. Mengikuti Organisasi
Tidak perlu mengikuti banyak organisasi kampus. Bisa mengikuti satu atau beberapa organisasi yang sekiranya bisa membantu mengotimalkan bakat dan minat. Jangan sampai organisasi mengalahkan kuliah. Dulu niat dan izinnya pasti ingin kuliah, bukan untuk berorganisasi. Organisasi bagus tetapi posisinya sebagai penyokong [pelengkap]. Berikut beberapa jenis organisasi yang bisa diikuti:
- Organisasi Mahasiswa Tingkat Prodi
- Organisasi Mahasiswa Tingkat Fakultas
- Organisasi Mahasiswa Tingkat Universitas
- Organisasi atau Praktik/Program Magang di Luar Kampus
5. Pengalaman Kerja
Jika ingin kuliah sambil kerja sebaiknya dipetakan untuk jangka pendek saja supaya tidak mengganggu jalannya kuliah (kecuali benar-benar mendesak dan terpaksa harus sambil bekerja demi membiayai kuliah dan hidup sehari-hari). Pengalaman kuliah sambil bekerja diniatkan untuk menambah pengalaman, bukan untuk “orentasi pemasukan”. Semisal bisa kerja part time ngelesi privat, menjadi tutor bimbel, sambil jualan, wirausaha mandiri, atau lainnya.
6. Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris
Meskipun bukan prodi/jurusan Bahasa Inggris, tetapi meningkatkan skill bahasa Inggris sangat penting. Selain bermanfaat untuk membaca sumber-sumber belajar berbahasa Inggris, juga penting untuk mencari beasiswa, persiapan lanjut S2, mengikuti seminar [terutama bertaraf internasional], menulis jurnal berbahasa Inggris, dan tuntutan pekerjaan di lapangan. Memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik [cukup/layak] akan menambah rasa percaya diri, baik untuk keperluan komunikasi sosial, menjalani kuliah, mengikuti organisasi, atau pun ketika nanti bekerja.
7. Bermain untuk Menjaga Kewarasan
Untuk mengimbangi kewarasan, mahasiswa juga perlu main, piknik, jalan-jalan, dan wisata secara berkala. Waktunya nongkrong ya nongkrong [asal yang baik-baik]. Waktunya main futsal ya ikut futsal bersama teman-teman lain. Waktunya touring ya pergi touring bareng-bareng, yang penting izin keluarga. Waktunya nge-mall ya pergi nge-mall, ngadem, belanja seperlunya. Waktunya ndaki gunung ya ndaki gunung. Waktunya mantai ya mantai. Waktunya pengajian ya budal pengajian. Kuliah juga perlu diimbangi dolan [main], nongkrong [ngobrol santai], dan ngaji [menuntut ilmu agama] supaya jiwa-raga tetap normal [waras].
8. Membagi Kebersamaan dengan Keluarga
Di tengah padatnya jadwal kuliah, organisasi dan berbagai aktivitas di luar rumah, jangan lupa kebersamaan dengan “orang rumah” juga harus dijaga. Kebersamaan keluarga harus difikirkan. Pekerjaan rumah terkadang juga menantikan uluran tenaga anaknya [bagi yang tiap hari pulang]. Jadi mahasiswa tidak boleh egois [mementingkan diri sendiri, teman, pacar dan orang lain].
Kita lahir dari rahim keluarga, bukan dari kampus. Dari keluarga akan kembali ke keluarga. Berikan waktu proporsional [secukupnya dan semampunya] untuk keluarga. Jangan sampai muncul stigma dan ucapan negatif “sejak kuliah kok malah tidak dewasa jalan pikirannya, mblayang terus, susah diatur, nglawan orang tua”.
Catatan:
- Untuk membaca buku-buku sejarah, buku-buku pedagogik, dan buku-buku metodologi penelitian, teman-teman bisa berkunjung ke Laboratorium dan Ruang Baca Prodi Pendidikan Sejarah UNS [Laboratorium Pembelajaran Sosial dan Humaniora]. Di sini juga tersedia berbagai jenis skripsi hasil tugas akhir kakak tingkat. Profil Laboratorium dan Ruang Baca bisa dicek di sini: [Laboratorium Pembelajaran Sosial dan Humaniora] dan [Instagram Laboratorium Pembelajaran Sosial dan Humaniora]. Berbagai kegiatan rutin tahunan Lab Prodi seperti diskusi akademik, pelatihan, bedah film, bedah buku, kunjungan studi, perbaikan sampul, dan rapat terdokumentasikan rapi pada dua laman tersebut.
- Gambaran berbagai kegiatan organisasi mahasiswa tingkat prodi di Prodi Pendidikan Sejarah UNS bisa dicek di sini: [HMP Ganesha] dan [Instagram HMP Ganesha]. Kedua laman tersebut berisi laporan berbagai program kegiatan HMP Ganesha, himpunan mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah UNS. Ikut organisasi “dengan tepat” dan “dengan baik” bisa membantu mengembangkan bakat dan minat, meningkatkan skill, membangun komunikasi dan leadership, menambah ilmu dan berbagai pengalaman lainnya. Berbagai prestasi mahasiswa Pendidikan Sejarah UNS bisa dilihat di sini: [Prestasi Mahasiswa].
Cara Meningkatkan Wawasan/Pengetahuan Sejarah
Meskipun kuliah di Prodi Pendidikan Sejarah, bukan berarti yang dipentingkan hanya urusan “pedagogik saja” [ilmu cara menyampaikan, cara mengajarkan, cara mentransmisikan ilmu dan pengalaman]. Hal-hal pedagogis bagi seorang pendidik memang mutlak dikuasai, tetapi pendidik [guru/dosen] juga perlu menguasai “konten/materi sejarah” secara layak syukur-syukur “mumpuni”. Bagaimana caranya? Berikut penjelasan selengkapnya:
1. Memahami Penjelasan Dosen Saat Kuliah Kesejarahan
Pastinya jalur pertama yang banyak dilakukan oleh mahasiswa pada umumnya ialah melalui kuliah bersama dosen mata kuliah. Mahasiswa bisa bertanya, diskusi, melihat PPT dosen, mendapatkan jurnal-jurnal atau buku relevan yang dianjurkan dosen.
2. Mengikuti Kuliah Umum, Seminar, Bedah Buku, Bedah Film, Lomba, dan Diskusi Santai
Selain lewat perkuliahan reguler sehari-hari [dari dosen internal], peningkatan wawasan sejarah juga bisa diperoleh melalui kuliah umum, kuliah tamu, seminar [nasional/internasional], bedah buku sejarah, bedah film sejarah, FGD [Forum Group Discussion], lomba/kompetisi, atau diskusi santai nonformal. Ada banyak forum-forum formal maupun noformal yang bisa diikuti di luar kelas reguler. Tujuannya untuk menimba banyak pengalaman dan saling mengisi dari “segala arah” sehingga tercipta pemahaman yang lebih multiperspektif.
3. Banyak Membaca Buku-Buku Sejarah secara Mandiri (tidak perlu nunggu disuruh dosen)
Sejarah Nasional Indonesia
Supaya siap menjadi guru sejarah SMA, maka seorang calon guru harus menguasai materi sejarah SMA kelas 10 sampai kelas 12 [mencakup Masa Praaksara hingga Reformasi]. Materi tersebut bisa dibilang “materi standar” yang berisi Sejarah Nasional Indonesia. Karena merupakan materi standar, maka seorang Guru Sejarah SMA “wajib” menguasai Sejarah Nasional Indonesia. Akan dipertanyakan jika tidak menguasainya.
Jika ingin menguasai benar, perlu banyak buku sejarah yang harus dilahap. Berikut daftar buku Sejarah Nasional Indonesia [standar] yang sudah saya kategorisasikan sesuai periode masing-masing: [Daftar Buku Referensi Sejarah Indonesia dari Masa Praaksara hingga Reformasi (Untuk Dosen, Guru, Mahasiswa, Siswa dan Umum)]. Di dalamnya terdapat rincian buku sejarah untuk mendalami masa Praakasara Indonesia. Kemudian di bawahnya terdapat rincian buku untuk mendalami sejarah masa Hindu-Buddha Indonesia. Hingga rincian buku untuk mendalami sejarah Indonesia setelah merdeka (hingga periode Reformasi). Bagian paling bawah terdapat rincian daftar buku guna mendalami sejarah kekirian dan berbagai sejarah kontroversial di Indonesia.
Dari banyaknya buku yang dicantumkan, terdapat satu buku referensi yang praktis untuk mempelajari sejarah Indonesia yakni buku kamus berjudul Kamus Sejarah Indonesia: Dari Masa Prakasara Hingga Reformasi (2024). Buku kamus ini berisi kumpulan istilah, nama, tempat, dan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia beserta masing-masing penjelasannya. Disajikan berdasarkan “periode sejarah” [Praaksara, Hindu-Buddha, Islam, Kolonial, Pergerakan Nasional, Pendudukan Jepang, Sekitar Peristiwa Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi] sehingga mudah dicari dan dipelajari.
Buku-buku sejarah yang sebanyak itu tidak harus dibeli semuanya. Bisa nyicil memiliki beberapa. Sebagiannya bisa pinjam perpustakaan atau teman. Membaca tidak berarti harus membeli/memiliki. Cara bacanya pun bertahap [asal konsisten]. Nyemplung di jurusan berbau sejarah mau tidak mau harus banyak baca. Budaya baca berada pada urutan nomor satu.
Untuk mempermudah menambah wawasan sejarah nasional, berikut daftar 350 pertanyaan seputar Sejarah Indonesia [dari Masa Praaksara hingga Era Reformasi]. Bisa lihat di sini: [Mempertanyakan Ulang Topik-Topik Kontroversial dan Menggelitik: Studi Kasus Sejarah Indonesia]. Dengan rincian pertanyaan sebanyak ini, diharapkan muncul rasa penasaran dan ada upaya mencari tahu jawabannya. Jika mampu mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan tersebut, rasa percaya diri menjadi guru/dosen akan semakin meningkat.
Sejarah Dunia
Bagi yang tertarik dengan kajian Sejarah Dunia Mutakhir, tidak ada salahnya baca buku berjudul Sejarah Dunia Mutakhir Dari Perang Dingin Hingga Perang Rusia-Ukraina (2023). Di dalamnya berisi kumpulan peristiwa penting di beberapa belahan dunia seperti Perang Dingin, Perang AS-Irak, Arab Spring, perseteruan Korea Utara dan Korea Selatan, nasib suku Rohingya Myanmar, perang dagang AS-Cina, Konflik suku-ras-agama di Asia Selatan, serta perang Rusia-Ukraina. Untuk yang tertarik dengan sejarah Australia bisa membaca tulisan berjudul Kondisi Australia Prakolonial (Sebelum Kedatangan Bangsa Inggris) (2020). Adapun yang tertarik belajar tentang pengaruh Peristiwa 1453 terhadap gerak penjelajahan bangsa-bangsa Eropa ke dunia timur [termasuk Nusantara], bisa membaca artikel berikut: Dari Muslim Barat Ke Muslim Timur: Tragedi 1453 Sebagai Sebab Awal Aktivitas Maritim Eropa Ke Nusantara (2024).
Sejarah Lokal
Bagi yang tertarik mendalami “Sejarah Lokal Surakarta”, berikut daftar 100 pertanyaan yang bisa digunakan untuk menyelami seluk-beluk sejarah Surakarta: [Mempertanyakan Ulang Seberapa Jauh Kita Memahami Seluk-Beluk Sejarah Lokal Surakarta]. Pada bagian belakang tulisan terdapat daftar rincian 50 buku babon (induk) dan buku pelengkap seputar sejarah Surakarta.
Referensi lain tentang sejarah lokal Surakarta khususnya yang membahas tentang sejarah Laweyan Surakarta (dari periode kuno hingga periode terkini) adalah buku berjudul Laweyan Dulu dan Kini: Jejak Kampung Batik Terkemuka Di Surakarta (2024). Di dalamnya membahas tentang Laweyan dalam cakupan sejarah munculnya kampung batik, pola pemukiman masyarakat, transformasi sentra batik, strategi adaptasi masyarakat kampung batik, dan transformasi sosial generasi muda di kampung batik Laweyan Surakarta. Buku ini merupakan karya baru yang memotret Laweyan sampai periode mutakhir [kekinian].
Rerefensi selanjutnya bertopik sejarah perkotaan yang memotret sejarah perkembangan fasilitas kota di Surakarta. Tulisan tersebut berjudul Perkembangan Fasilitas Kota sebagai Potret Modernitas Masyarakat Surakarta pada Paruh Pertama Abad Ke-20 (2025). Di dalamnya membahas tentang sejarah fasilitas kota seperti sekolah, radio, surat kabar, kantor pos, stasiun, kereta api, listrik, rumah sakit, gedung pertemuan, bioskop, tempat hiburan, hotel, pasar, bank, dan koperasi yang berkembang di Surakarta pada akhir abad 19/awal 1900an hingga pertengahan abad 20. Dari hasil kajian tersebut disimpulkan bahwa Surakarta merupakan salah satu kota kecil di Jawa yang telah mengalami modernisasi kota lebih awal, padahal lokasinya bukan di pesisiran.
4. Banyak Membaca Tulisan Metodologi Sejarah dan Kritik Historiografi
Perlu banyak modal (wawasan, paradigma, dan perspektif) dalam membaca maupun menulis sejarah. Tujuannya supaya kita tidak mudah memakan “mentah-mentah” tulisan sejarah. Tidak pula awur-awuran dan menuruti “hawa nafsu” dalam menulis sejarah. Perlu alam pikir kritis [obyektifitas berbasis kesadaran] dalam menekuni dua hal tersebut.
Untuk keperluan itu, saya membuat tulisan ringkas tentang apa itu interpretasi dan historiografi. Teman-teman bisa baca selengkapnya di sini: [Interpretasi dan Historiografi].
Memahami perbedaan tentang “sejarah sebagai kisah” versus “sejarah sebagai sebuah peristiwa” juga tidak kalah penting. Juga soal “fakta keras” versus “fakta lunak” supaya muncul kesadaran bahwa kebenaran narasi sejarah bukanlah suatu yang abadi. Terkait hal ini silahkan baca: [Peristiwa Sejarah, Fakta Keras, dan Sejarah Kontroversial].
Pendidik sejarah juga perlu memahami bahayanya “anakronisme historis” yang kerap menyelip rapi dalam narasi-narasi sejarah Indonesia sehingga menimbulkan mitos-mitos sejarah. Juga perlu memahami “sejarah mentalitas” yang kerap menyusup dalam alur sejarah kebudayaan Jawa. Bahwa ada sesuatu yang tidak ada tetapi diyakini ada. Keyakinan itu ada dan menjadi mentalitas masyarakat. Untuk urusan ini, silahkan baca artikel berikut: [Anakronisme dan Sejarah Mentalitas].
Hal bahaya lain yang kerap muncul di buku-buku sejarah populer dan mudah diterima ialah soal “narasi sejarah yang tidak manusiawi” (narasi yang berlebihan). Akibatnya lahir “penilaian hitam-putih” (budaya pemujaan dan pembencian yang berlebihan). Terkait ini, silahkan baca tulisan berikut: [Menghindari Generalisasi Peran Tokoh, Narasi yang Berlebihan, dan Sejarah yang Tidak Manusiawi].
Perkara lain yang juga cukup miris ialah kisah tentang kerajaan-kerajaan yang katanya bercorak relijius tetapi dipenuhi dengan prahara dan konflik keluarga. Menandakan praktik tak sepenuhnya berjalan sesuai ajaran luhur. Menandakan corak relijius sebuah kerajaan hanyalah label semu [dalam aspek tertentu]. Keprihatinan masalah ini bisa baca tulisan berikut: [Perbedaan antara Sejarah Agama vs Sejarah Praktik Beragama].
Telah mapan selama puluhan tahun suatu pandangan bahwa sejarah hanya mencatat peristiwa-peristiwa besar dan penting, mencatat para pemenang, mencatat tokoh-tokoh besar [kalangan elit], hanya menyoroti persoalan politik dan perang. Namun dewasa ini, pandangan yang demikian dinilai problematik dan mulai ditinggalkan. Mengapa demikian? Tulisan ini coba menjawab pernyataan tersebut: [Sejarah Kehidupan Sehari-hari [Hal-Hal Kecil] Sebagai Historiografi Alternatif dan Cara Pandang Baru].
Perkara lain yang layak mendapat perhatian ialah soal historiografi kepahlawanan tokoh. Sering kali penetapan pahlawan di Indonesia menuai pro-kontra. Seorang pahlawan diakui oleh rezim sebelumnya tetapi digugat oleh rezim setelahnya. Atau fenomena munculnya kelompok-kelompok yang memprotes keras rencana penetapan tokoh-tokoh yang dianggap kontroversial. Mengapa bisa demikian? Artikel berikut berusaha memotret riwayat jenis-jenis pahlawan dan dinamika penetapannya. Artikel tersebut berjudul Jenis-Jenis Gelar Pahlawan Nasional Beserta Dinamika Penetapannya.
5. Baca Jurnal dan Artikel Sejarah
Ada banyak jurnal nasional bertema sejarah dan jurnal pendidikan sejarah yang bisa diakses secara online. Sebagai contoh misalnya jurnal: Paramita, Patanjala, Citra Lekha, Patrawidya, Historia, Lembaran Sejarah, Agastya, Analisis Sejarah, Handep, Fajar Historia, Mukadimah, Journal of Indonesian History, Mozaik, Crikseta, Istoria, Sejarah dan Budaya, JPSI (Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia), JPS (Jurnal Pendidikan Sejarah), Kaganga, Madania, Candrasengkala, Candi, dan masih banyak lainnya. Saya kira tiap dosen merekomendasikan artikel jurnal untuk masing-masing perkuliahannya.
Teman-teman juga bisa mengunjungi konten sejarah milik Historia [https://www.historia.id/] dan Tirto [https://tirto.id/]. Atau membaca berbagai artikel karya mahasiswa pada laman berikut ini: [Kumpulan Artikel Mahasiswa]. Juga bisa membaca tulisan dari para alumni pada laman berikut ini: [Kumpulan Artikel Umum/Alumni].
Sejarah Pendidikan
Khusus untuk topik “Sejarah Pendidikan di Indonesia”, teman-teman bisa membaca beberapa tulisan berikut ini. Tulisan pertama berjudul The Portrait of Traditional Islamic Education System in Indonesia (2019) yang membahas tentang sistem pendidikan Islam bercorak tradisional (gaya lama/klasik). Sebagai kelanjutannya, artikel kedua berjudul Modernisasi Sistem Pendidikan Islam di Indonesia: Dari Awal Abad ke-20 hingga Periode Kontemporer (2023) membahas tentang sistem pendidikan Islam bercorak modern (adanya perombakan sistem pendidikan gaya baru). Perombakan dilakukan dalam hal kurikulum mata pelajaran, seragam sekolah, sistem pengelolaan, sarana prasarana yang dipakai, sistem pembiayaan, orientasi lulusan, dan lain-lain.
Artikel selanjutnya berjudul Portrait of Education Aspects in Indonesia During the Japanese Occupation (1942-1945) (2024) membahas tentang sistem pendidikan di Indonesia pada masa pendudukan Jepang yang cukup singkat, tetapi sebagian warisannya masih abadi sampai sekarang. Untuk mengetahui potret pendidikan pada era setelah kemerdekaan (sistem pendidikan tinggi era Orde Baru), teman-teman bisa membaca tulisan berikut ini: Kebijakan Kontroversial Pemerintah Orde Baru di Ranah Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Perspektif Historis (2025). Isinya menyoroti beberapa kebijakan yang menuai kontroversi seperti pelarangan jilbab di sekolah, larangan rambut gondrong, normalisasi kampus, dan pemilihan pemimpin kampus yang sentralistis.
Selain sisi-sisi yang menuai kontroversi, Pemerintah Orde Baru juga mengeluarkan kebijakan pendidikan yang diterima banyak pihak. Pemerintah Orde Baru mendirikan ribuan SD Inpres, Sekolah Pamong, dan menerapkan gerakan Wajib Belajar. Terkait hal ini lihat tulisan berikut ini: Menelisik Beberapa Kebijakan Pendidikan Orde Baru (SD Inpres, Sekolah Pamong, dan Wajib Belajar). Adapun tulisan terkait kebijakan Pemerintah Orde Baru – Pemerintah Awal Reformasi dalam menata sekolah dan merubah nama-nama nomenklatur sekolah bisa baca artikel berikut ini: Dari SMA ke SMU, dari STM ke SMK: Lika-Liku Perubahan Nomenklatur Sekolah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah di Indonesia. Gambaran bagaimana sebagian kampus turut “bermain” dan “berpolitik” lewat jalur pemberian gelar “honoris causa” kepada tokoh nasional berpengaruh bisa baca artikel berikut ini: Jejak Gelar Doctor Honoris Causa Soekarno dan Pembelajaran Sejarah (2024).
6. Banyak Menonton Video Konten Sejarah
Dewasa ini, kita dengan mudah bisa menonton dan mendengarkan berbagai obrolan berbobot tentang sejarah di internet (youtube). Berbagai hasil seminar, webinar, kuliah umum, kuliah tamu, podcast, dan video pembelajaran sejarah begitu melimpah di youtube. Kita tinggal pilih yang sekiranya disukai. Minggu ini target 1 video tentang obrolan sejarah A. Minggu berikutnya target 1 video tentang obrolan sejarah B, minggu berikutnya 1 video tentang obrolan sejarah C, dan seterusnya. Nonton video yang berisi kajian sejarah tersebut bisa dilakukan sambil rebahan santai, kapanpun, dan di manapun.
Perlu pula mengikuti beberapa media sosial yang menyuguhkan konten-konten sejarah seperti Facebook dan Instagram. Ada cukup banyak “konten-konten sejarah” yang menyuguhkan berbagai arsip foto lawas beserta penjelasan-penjelasan yang “berdaging”.
Bagi yang tertarik dengan “Sejarah Lokal Surakarta” bisa mengikuti: (a) Instagram Turutan.id., (b) Facebook Solo Tempo Doeloe, (c) Facebook Pemerhati Karaton Mataram Surakarta Hadiningrat, (d) Facebook Jejak Sejarah Mataram, (e) Facebook Kraton Kasunanan Surakarta , dan (f) Facebook Warga Pura Mangkunegaran Surakarta. Di media sosial [terutama Facebook], juga banyak didapati toko-toko buku sejarah online yang menjual buku-buku sejarah lawas dan langka.
7. Terjun ke Lapangan [Jalan-Jalan Studi]
Sebagai mahasiswa, perlu ada waktu-waktu khusus untuk “main sekaligus studi ilmiah” [menggali informasi] tipis-tipis ke tempat-tempat bernilai sejarah seperti museum, situs [tempat], dan bangunan bersejarah. Bisa dilakukan sendiri atau bersama-sama. Berikut beberapa contoh tempat yang bisa dikunjungi dalam konteks Sejarah Lokal Surakarta:
- Di Surakarta dan sekitarnya, ada banyak sekali situs dan bangunan bersejarah yang bisa dikunjungi seperti Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, Benteng Vastenburg, Kampung Baluwarti, Kampung Batik Laweyan, Kampung Permata Jayengan, Kampung Arab Pasar Kliwon, Kampung Pecinan, Ndalem-Ndalem Pangeran (jumlahnya puluhan), Masjid Agung Surakarta, Masjid Sememen Kauman, Langgar Trayeman Kauman, Langgar Winongan Kauman, Masjid Riyadh, Masjid Al Wustho Mangkunegaran, Masjid Al Fatih Kepatihan, Masjid Laweyan, Langgar Merdeka Laweyan, Masjid Tegalsari, Masjid Jamsaren, Makam Ki Ageng Henis, Makam Ki Ageng Sala, Astana Mangadeg, Astana Girilayu, Astana Giribangun, Astana Oetara [Nayu], Pasar Gede, Gedung Djoeang 45, Loji Wetan, Loji Gandrung, Bunker Balaikota Surakarta, Gereja St. Antonius Purbayan, Bruderan Purbayan, Gereja Katolik St. Petrus Purwosari, Gereja Pantekosta, GPIB Penabur, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan, Klenteng Tien Kok Sie, Wisma Batari, Taman Sriwedari, Gardu Listrik Ngarsopuro, bekas RS Kadipolo, bekas RSJ Mangunjayan, Taman Balekambang, Monumen Banjarsari, Tugu Lilin [Tugu Kebangkitan Nasional], Situs Perjanjian Giyanti, Pesanggrahan Langenharjo, Pesanggrahan Pracimoharjo, Pesanggrahan Tegalgondo, Petilasan Keraton Pajang, bekas Keraton Kartasura, Makam Sunan Bayat (Ki Ageng Pandanaran), Makam Ronggowarsito, Makam Yasadipuro, Makam Ki Ageng Pengging, Makam Ki Padmosusastro, dan masih banyak lainnya.
- Museum di Surakarta dan sekitarnya juga cukup banyak seperti Museum Keris Nusantara, Museum Radya Pustaka, Museum Monumen Pers Nasional, Museum Keraton Surakarta, Museum Samanhudi, Museum Batik Danar Hadi, Museum Tumurun, Museum Lokananta, Museum Bank Indonesia, Galeri Rumah Budaya Kratonan, dan Museum Manusia Purba Sangiran.
- Wawasan sejarah juga bisa diperoleh melalui kegiatan Magang dan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) di/ke tempat-tempat bersejarah. Magang dan KKL lebih bersifat formal. Magang bisa dilakukan di dinas arsip, museum, atau dinas pariwisata. Adapun KKL dilakukan beramai-ramai bersama dosen dan pendampingan tour guide.
- Cara lain meningkatkan wawasan sejarah ialah ikut blusukan bersama “Komunitas Sejarah”. Di Surakarta terdapat beberapa komunitas sejarah yang aktif blusukan setiap pekan atau beberapa pekan sekali, sebagai contoh Solo Societeit dan Soerakarta Walking Tour.
Cara Meningkatkan Wawasan Pedagogik [dalam Pembelajaran Sejarah]
Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, pengajar dan pendidik (guru/dosen) harus memahami benar “ilmu pedagogik” [ilmu yang memberi bekal tentang cara mengajar dan mendidik secara holistik dan komprehensif]. Pemahaman pedagogik tersebut bisa didapatkan melalui membaca dan mendengar. Adapun kemahiran praktik pedagogik akan matang dengan sendirinya seiring “jam terbang” [dipraktikkan langsung di lapangan].
Hal pertama yang sangat penting diperhatikan bagi seorang pendidik atau calon pendidik ialah memahami hakikat guru dan murid. Diperlukan adanya kesadaran diri terkait hakikat guru, serta seperti apa posisi, tugas, dan fungsinya dalam membangun peradaban. Sebagai sebuah perenungan tentang arti guru dan murid, silahkan baca tulisan ringkas berikut ini: [Dari Pergeseran Makna hingga Penyederhanaan Ruang Lingkup: Merenungkan Kembali Hakikat Guru dan Murid]. Menjadi pendidik juga tidak boleh membiasakan budaya telatan, moloran, nesuan, dan mutungan. Watak, sifat, dan karakter-karakter tersebut mesti dihindari. Mengapa? Dapatkan jawabannya di sini: [Dari Telatan, Moloran, Nesuan hingga Mutungan]. Salah satu buku khusus yang fokus membekali pendidik atau calon pendidik (entah guru/dosen) mematangkan kemampuan seni mendidik dan mengajarnya berjudul Seni Mengajar dan Mendidik: Landasan Teoritis, Filosofis, dan Contoh Aplikatif (2025). Buku ini berisi aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan dalam mengajar dan mendidik, nilai filosofis apa saja yang mendasarinya, serta seperti apa contoh-contoh riil dalam praktik pembelajaran sejarah di SMA dan Perguruan Tinggi.
Perencanaan seorang pendidik dalam menentukan metode, sumber belajar dan luaran pembelajaran sangat penting diperhatikan. Ada kalanya peserta didik diajak/diminta keluar kelas mengeksplorasi sumber belajar di luar seperti situs sejarah, museum, dan lembaga kearsipan. Ada begitu banyak museum dan lembaga kearsipan yang bisa diakses online. Berbagai jenis museum dan nama-nama museum di Indonesia serta lembaga arsip di Indonesia dan beberapa di Luar Negeri, terdokumentasikan secara rapi dalam buku berjudul Museologi dan Kearsipan (2024). Selain melakukan lansung, pendidik sejarah juga harus lincah dalam mengajak peserta didiknya mengeksplorasi sumber-sumber sejarah digital. Terdapat beberapa laman online yang menyediakan arsip digital gratis. Kecakapan mengakses sumber-sumber sejarah digital merupakan salah satu bentuk kecakapan Literasi Digital abad 21 yang penting dikuasi seorang pendidik dan peserta didik. Contoh konkrit pemanfaatan Literasi Digital dalam pembelajaran Sejarah bisa dilihat dalam kajian yang berjudul Peningkatan Literasi Digital dalam Pembelajaran Sejarah untuk Guru SMA di Kabupaten Sragen (2024).
Dalam konteks tugas kunjungan ke museum atau tempat-tempat bersejarah, harus didesain sedemikian rupa supaya tujuan pembelajaran bisa tercapai maksimal. Gambaran terkait “desain kunjungan studi” ke museum bisa dilihat dalam tulisan ringkas berikut ini: Assignment Design Based on Study Visits to Museums in History Learning (2023). Di sisi lain, seorang pendidik juga bisa mendesain luaran pembelajaran sejarah kreatif dan bermanfaat ke depannya. Salah satunya proyek pembuatan “buku saku sejarah” yang dibahas dalam tulisan berikut: Skills in Compiling Pocket Books Based on Case Methods and Team Based Projects for History Education Students (2023).
Di era modern dewasa ini, pembelajaran sejarah berbasis teknologi tak kalah penting. Pendidik secara kreatif bisa memanfaatkan berbagai perkembangan teknologi termutakhir guna memaksimalkan proses pembelajaran sejarah sehari-hari. Namun pemanfaatannya tetap harus memperhatikan “rambu-rambu” agar tidak sekedar mengejar ramai semata, tetapi kualitas substansi tetap tercapai. Berbagai jenis teknologi dan hal-hal yang mesti dipertimbangkan tersebut bisa dibaca dalam tulisan berikut: Training of Utilization Technology in History Learning Based Merdeka Curriculum for High School History Teachers in the Klaten Regency (2023).
Dalam proses pembuatan soal atau pertanyaan-pertanyaan sejarah pun hendaknya juga diperhatikan variasi dan kualitasnya. Tidak dominan hafalan, melainkan mengarah pada soal-soal level HOTS (Higher Order Thinking Skills) untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi. Gambaran soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) Sejarah bisa dilihat dalam artikel jurnal berikut ini: Pelatihan Pembuatan Soal Berbasis HOTS Bagi Guru Mata Pelajaran Sejarah SMA di Kabupaten Karanganyar (2023).
Dalam urusan tertentu, pendidik juga perlu berlatih melacak asal-usul pemikiran dan kepribadian seseorang. Kemampuan ini penting mana kala menghadapi karakter rekan pendidik, peserta didik, atau suatu tokoh. Perihal bagaimana cara melacak asal-usul pemikiran dan kepribadian seseorang, bisa baca artikel berikut: [Melacak Akar Terbentuknya Pemikiran dan Kepribadian Seseorang].
Sejarah merupakan salah satu bidang studi yang strategis dalam menanamkan kesadaran multikulturalisme (kesadaran memahami, menerima, dan saling menghargai adanya banyak perbedaan). Sejarah menjadi salah satu bidang studi yang sangat penting dalam merawat dan merajut keIndonesiaan yang plural/heterogen. Mengapa bisa demikian? Bagaimana contoh-contoh implementasinya dalam pembelajaran sejarah? Bisa dilihat dalam tulisan berikut ini: Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Sejarah: Kajian Teoritis, Filosofis, dan Strategi Aplikatif (2025).
Secara umum, selain lewat kuliah di kelas [ilmu dari dosen atau rekan sejawat], cara meningkatkan wawasan pedagogik bisa dilakukan secara mandiri lewat membaca buku atau baca jurnal. Buku-buku seputar ilmu pedagokik sangat melimpah. Ada banyak di perpustakaan atau toko buku. Bahkan sebagian bisa diperoleh secara online. Berikut daftar buku tentang Ilmu Pedagogik: [Daftar Buku Referensi tentang Ilmu Pedagogik dan Metodologi Penelitian (Historis, Kualitatif, PTK)].
Selain membaca buku dan jurnal, peningkatan wawasan pedagogik juga bisa dilakukan dengan cara banyak menonton dan mendengarkan video edukasi di youtube. Ada puluhan video tentang pengalaman tokoh-tokoh inspiratif dalam bidang pendidikan [mengajar dan mendidik], baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bisa dijadwalkan belajar secara teratur lewat jalur ini [nonton video youtube].
Memahami Metodologi Penelitian (Metopen)
Menjelang semester 4, 5 atau 6, biasanya mahasiswa diminta menyusun Proposal Penelitian. Untuk bisa menyusun proposal yang baik, maka harus menguasai “ilmunya” [metodologinya]. Untuk mendapatkan pemahaman metodologi penelitian [ilmu memahami metode penelitian dan cara kerjanya], teman-teman perlu melakukan 3 hal yaitu:
- Memperhatikan dan memahami penjelasan dosen saat kuliah metodologi penelitian.
- Membaca jurnal dan buku-buku metodologi penelitian (Historis, Kualitatif, Kuantitatif, PTK, bahkan RnD). Di toko buku-toko buku [termasuk toko buku online] ada banyak yang jual. Di perpustakaan juga tersedia. Daftar judul buku-buku metodologi penelitian tersaji cukup lengkap di sini: [Daftar Buku Referensi tentang Ilmu Pedagogik dan Metodologi Penelitian (Historis, Kualitatif, PTK)].
- Membaca dan mencermati contoh skripsi-skripsi dari kakak tingkat yang ada di perpustakaan. Cermati Bab 1-3 [Pendahuluan, Landasan Teori, Metode Penelitian].
Strategi Menyusun SKRIPSI
Selain lewat konsultasi dengan dosen pembimbing, cara manjur dalam menyusun skripsi bisa dilakukan dengan 5 cara lainnya, yaitu:
- Membaca dan mencermati Buku Pedoman Penulisan Skripsi yang disusun fakultas. Cermati benar! Jangan ngaku sudah baca tetapi tidak paham aturan-aturan teknis penulisan. Kesalahan teknis banyak dilakukan gara-gara tidak mencermati buku pedoman penulisan skripsi.
- Membaca dan mencermati skripsi-skripsi kakak tingkat untuk melihat langsung contoh jadi yang sudah ada. Lihat bagian-bagiannya, lihat polanya, lihat alurnya, lihat gaya penulisannya, lihat hal-hal teknisnya.
- Membaca dan memahami kembali jenis penelitian diambil dan metode penelitian yang dipakai.
- Sharing dengan teman sejawat/kakak tingkat.
- Sharing dengan dosen lain (non-pembimbing) yang sekiranya bisa memberikan pencerahan.
Untuk poin nomor 3, teman-teman bisa membaca tulisan saya tentang “strategi menentukan judul dan menyusun skripsi” yang penulis sesuaikan dengan tradisi di Prodi Pendidikan Sejarah UNS. Ada strategi menyusun Skripsi Kualitatif, Historis, dan PTK. Berikut rinciannya:
- Bagi yang sedang menyusun Skripsi HISTORIS, silahkan baca artikel berikut ini: [Strategi Menentukan Judul dan Menyusun Skripsi HISTORIS].
- Bagi yang sedang menyusun Skripsi KUALITATIF, silahkan baca artikel berikut ini: [Strategi Menentukan Judul dan Menyusun Skripsi KUALITATIF].
- Bagi yang sedang menyusun Skripsi PTK, silahkan baca artikel berikut ini: [Cara Kerja Penelitian Tindakan Kelas (PTK)].

