Oleh: Dadan Adi Kurniawan

Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret

Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id





Pendahuluan

Setiap orang (mahasiswa) memiliki “garis takdirnya masing-masing”. Tak bisa dipaksakan sama. Ada yang bisa lulus sangat cepat, standar, dan lama. Hal itu disebabkan karena setiap orang memiliki kemampuan dan dinamika yang berbeda-beda serta dihadapkan pada jenis ujian yang berbeda-beda pula. Ada yang prosesnya mulus seperti jalan tol, ada yang biasa (sedang-sedang saja), ada pula yang penuh rintangan. Banyak faktor yang mempengaruhi cepat tidaknya penyelesaian tugas akhir skripsi (S1).

Secara garis besar faktor-faktor tersebut bisa dipetakan ke dalam 2 jenis yakni faktor internal (dari diri mahasiswa sendiri) dan faktor eksternal (luar diri mahasiswa). Faktor internal berkaitan dengan kondisi dan masalah yang datang dari dalam diri mahasiswa sendiri seperti rasa malas, rasa percaya diri, tingkat keberanian, keuletan, kerja keras, jiwa sat-set, orientasi diri, skala prioritas, dan berbagai problematika diri lainnya.

Adapun Faktor eksternal berkaitan dengan sistem pendidikan, kurikulum, kebijakan kampus, dosen pembimbing, perizinan tempat penelitian, pencarian sumber data, dan lainnya. Bahkan kondisi ekonomi keluarga yang membuat mahasiswa terpaksa kuliah sambil bekerja (benar-benar terpaksa, bukan karena dibuat-buat) juga masuk kategori faktor eksternal. Namun demikian, dalam kesempatan ini masalah ekonomi dimasukkan dalam kategori faktor internal karena melekat pada permasalahan yang dialami oleh mahasiswa itu sendiri. Faktor internal dan eksternal ini akhirnya saling mempengaruhi satu sama lain dan menjadi semacam benang kusut yang mempengaruhi performa mahasiswa dalam mengerjakan skripsi. Berikut uraikan ringkas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi lambatnya penyusunan skripsi.


Faktor Internal Mahasiswa

1. Tidak Persiapan Jauh-Jauh Hari

Salah satu faktor yang menyebabkan skripsi tidak bisa selesai tepat waktu disebabkan karena mahasiswa “tidak mempersiapkan jauh-jauh hari” tentang tema/judul yang akan dijadikan skripsi. Banyak sekali mahasiswa mengajukan judul skripsi ketika sudah memasuki semester 7 akhir (bulan desember atau januari). Jika demikian mahasiswa tinggal punya waktu 1 semester (6 bulan) jika ingin lulus tepat waktu (maksimal 4 tahun). Pengerjaan skripsi selama 1 semester (mulai pengajuan judul) tentulah rawan tidak selesai. Jika pun selesai, kemungkinan hanya segelintir orang (itu pun akan dipertanyakan kualitasnya).

Skripsi ideal bisa dicapai jika disusun dalam kurun waktu sekitar 1 tahun (2 semester), semisal dikerjakan di semester 6 dan 7 (supaya lulus 3,5 tahun) atau di semester 7 dan 8 (lulus tepat waktu = 4 tahun). Bahkan supaya lebih longgar (untuk berjaga-jaga akan adanya berbagai kemungkinan) bisa didesain selama 1,5 tahun yakni di semester 6, 7, dan 8 (tetap lulus tepat waktu = 4 tahun). Pada periode transisi semester 6 ke semester 7 dan di semester 7, mahasiswa khususnya di FKIP, dihadapkan pada jadwal yang super padat yakni KKN (45 hari) dan PLP/Magang lapangan di sekolah (3 bulan). Dua kegiatan itu sangat menguras tenaga karena selain harus stay di lapangan, setelah kegiatan selesai, masing-masing mahasiswa diharuskan membuat SPJ dan Laporan kegiatan. Kegiatan PLP baru benar-benar tuntas dibulan November akhir atau awal Desember. Selama menjalani KKN-PLP/Magang, kebanyakan mahasiswa kesulitan jika harus sembari bimbingan skripsi (meskipun tetap ada segelintir mahasiswa yang bisa melakukan itu).

Sejak bulan Juli (akhir semester 6) sampai bulan Desember (mendekati akhir semester 7), bisa dikatakan bukan waktu efektif untuk bimbingan skripsi. Oleh karena itu, pengajuan judul/tema skripsi idealnya dilakukan sejak semester 5 akhir atau selambat-lambatnya di pertengahan semester 6. Sebelum terjun KKN dan PLP, mahasiswa sudah ACC judul dan bisa nyicil mengerjakan skripsi. Setidaknya sudah selesai menyusun Proposal Penelitian (Bab 1-3), syukur-syukur sudah Seminar Proposal (sudah mendapatkan masukan dari para penguji). Dengan demikian, selama KKN dan PLP, mahasiswa bisa sedikit-sedikit menyicil skripsinya. Atau jika benar-benar kesulitan, setidaknya setelah KKN-PLP selesai, bisa langsung “gasss” penelitian lapangan guna menulis Bab 4 (Isi dan Pembahasan). Dengan demikian, pada awal atau pertengahan semester 8, skripsi sudah selesai.

Dibolehkannya mengajukan judul skripsi dan pembagian pembimbing pada semester 5 atau 6 berkaitan dengan Kebijakan Prodi. Maka bersyukurlah bila di suatu kampus telah menerapkan kebijakan strategis di mana pada semester 5 atau 6, sudah diminta Seminar Proposal. Artinya mahasiswa sudah diajak jauh-jauh hari untuk mempersiapkan judul dan lekas menyusun proposal dengan tujuan utama “supaya skripsi selesai tepat waktu”. Dari sini bisa dilihat bahwa “unsur eksternal” (kurikulum atau kebijakan kampus) juga berperan penting dalam mempengaruhi cepat tidaknya penyelesaian skripsi.

2. Sibuk Main dan Nongkrong

Ada sebagian mahasiswa yang “sejak awal sudah malas-malasan menyentuh skripsi”. Sebagian lebih memilih sibuk dolan, nongkrong sana sini, sibuk main, sibuk pacaran, atau sebagian hanya nganggur (lontang-lantung) di kos saja. Ada yang setiap hari pamitnya ke kampus tetapi nyatanya hanya mampir ke kos teman atau justru kluyuran entah ke mana. Sebagian mahasiswa memilih “menghilang” sangat lama dan hanya sesekali ke kampus, itu pun tidak menemui dosen, melainkan hanya berseliweran di shelter atau lobi kampus untuk sekedar bertemu teman. Tanpa disadari, proses itu berjalan lama dan tiba-tiba sudah “semester sepuh”.

Mestinya “apa pun yang terjadi”, mahasiswa tetap menghadap dan konsul kepada dosen pembimbingnya, menyampaikan berbagai masalah dan kendala yang sedang dihadapi segaligus meminta arahan harus seperti apa. Perkara disemprot (dimarahi) ya didengar dan diterima saja sebagai sebuah konsekuensi. Tetapi keberanian seperti itu tidak semua orang punya.

3. Mentalitas Diri

Sebagian mahasiswa belum selesai dengan dirinya sendiri. Ada masalah serius terkait mental, pikiran, ego, keinginan, dan sejenisnya. Sebagian mahasiswa memiliki kecemasan berlebih akan masa depannya. Ada mahasiswa tipe super perfeksionis yang selalu merasa kurang terhadap hasil pekerjaannya. Ada mahasiswa dengan jiwa fight yang lembek di mana baru mendapatkan ujian yang ringan saja sudah ngeluh dan menyerah. Masalah lainnya yakni kurangnya keberanian dan rasa percaya diri, bahkan sekedar untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya.

Masalah yang paling umum menjangkiti mahasiswa ialah terjebak pada “rasa malas yang luas biasa”. Awalnya masih sedikit ogah-ogahan, lama kelamaan kebablasan. Skripsi tidak pernah disentuh lagi. Karena kurangnya strategi manajemen diri, “rasa malas” akhirnya menguasai diri. “Rasa malas” benar-benar menjadi hantu dan momok yang menyeramkan bagi mahasiswa tingkat akhir.

Masalah lainnya yakni terjebak pada rendahnya motivasi diri yang berujung pada “rasa frustasi dan putus asa”. Penyebabnya beraneka macam, ada yang disebabkan karena masalah asmara, konflik/kondusivitas keluarga di rumah, konflik pertemanan, jerat pinjol, sulitnya perizinan penelitian, sulitnya mencari sumber data, bahkan disebabkan karena komunikasi yang kurang baik dengan dosen pembimbing. Ada pula disebabkan “rasa kesepian” karena tak lagi memiliki teman yang bisa diajak sharing dan mengerjakan bareng (teman-temannya sudah pada lulus atau sibuk sendiri-sendiri).

4. Manajemen Diri

Selain yang sudah disebutkan di atas, sebagian mahasiswa bermasalah pada manajemen diri dalam arti kurangnya pengelolaan perencanaan, eksekusi di lapangan, dan evaluasi diri. Sebagian mahasiswa tidak mampu “menjadwal diri” secara disiplin, membuat timeline pekerjaan yang teratur. Kapan waktunya harus segera ke lapangan, kapan waktunya melahap sejumlah skripsi, kapan waktunya berburu buku, kapan waktunya membaca buku dan jurnal, kapan waktunya sharing, kapan waktunya menulis, dan seterusnya.

Memang sebagian mahasiswa sering ke kampus tetapi “tidak produktif”. Sebagian juga terlihat “kurang sat-set” (kurang cekatan). Ketika selesai mengerjakan satu pekerjaan tetapi tidak lekas sat-set mengerjakan target berikutnya. Ketika ada masukan bagus tidak bergegas ditindaklanjuti. Sering kali mahasiswa suka menunda-nunda pekerjaan. Sebagian lebih banyak bicara tetapi tidak kunjung bekerja. Sebagian lainnya hanya diam dan bablas diam, tidak lekas dikerjakan.

Skripsi membutuhkan keuletan dan konsistensi. Sekali lagi, skripsi benar-benar membutuhkan keuletan dan konsistensi. Salah perbaiki, masih salah perbaiki lagi, salah lagi perbaiki lagi. Bingung-tanya, bingung lagi tanya lagi, bingung lagi tanya lagi. Jika buntu harus segera keluar rumah/ruangan, cari orang untuk bertanya atau yang bisa diajak sharing. Pikiran buntu tidak boleh dipendam sendiri. Kurangi mengeluh, kurangi mengeluh, dan kurangi mengeluh. Diri yang terlalu sering mengeluh akan membuat pikiran dan perasaan menjadi sumpek dan kurang bisa berfikir jernih. Mengeluh bukan sebuah solusi. Sekali lagi mengeluh bukan sebuah solusi. Lebih baik segera berangkat ke kampus, pergi ke perpustakaan, membaca skripsi-skripsi kakak tingkat, membaca buku-buku relevan. Setelah itu menghidupkan laptop dan pelan-pelan lekas menulis. Sehari dapat 1 paragraf lebih baik daripada sebatas ngeluh, ngeluh dan ngeluh, sehingga tak dapat secuil pekerjaan apapun.

5. Sibuk Berorganisasi

Sebagian mahasiswa justru terjebak pada “padatnya jadwal berorganisasi” di kampus atau luar kampus. Padahal mahasiswa semester akhir mestinya sudah mulai melepaskan intensitas keorganisasiannya. Ikut organisasi mestinya dioptimalkan di beberapa semester awal sejak masuk kuliah. Di semester-semester akhir, ada tanggung jawab lain yang mesti diprioritaskan (skripsi). Berorganisasi itu bagus dan penting, tetapi bukan berarti melupakan tanggung jawab utamanya. Apakah dulu niat dan tujuan utama daftar kuliah untuk ikut berorganisasi? Jika terpaksanya ingin semuanya tetap jalan, maka tanggung jawab pada keduanya. Jangan korbankan skripsi. Menukar sesuatu sesuatu yang sifatnya “wajib” dengan “sunnah” itu merupakan tindakan yang keliru. Tempatkan tugas-tugas wajib (utama) di atas kepentingan tugas-tugas yang sifatnya tidak wajib.

6. Sibuk Bekerja

Sibuk bekerja terbagi ke dalam 2 jenis. Pertama, ada mahasiswa yang pengerjaan skripsinya terkendala karena faktor “keadaan ekonomi” (terpaksa sambil bekerja demi bisa bayar UKT dan menghidupi keluarga). Ada yang disebabkan karena orang tuanya sakit, usaha orang tuanya bangkrut, usaha orang tuanya tak selaris sebelumnya, atau dikarenakan orang tuanya meninggal sehingga menjadi tulang punggung keluarga. Kedua, ada mahasiswa yang pengerjaan skripsinya terkendala karena memilih sambil bekerja (bukan suatu keterpaksaan). Tujuannya ada yang sekedar iseng-iseng, ingin menambah uang jajan, untuk memenuhi gaya hidup, atau kebutuhan sekunder lainnya yang sebenarnya semua itu tidak begitu mendesak. Meskipun sudah diingatkan beberapa kali, sebagian tetap ngeyel. Mahasiswa banyak yang “ngilang” berbulan-bulan. Giliran sudah mendekati batas bayar UKT (bulan Januari atau Juli), baru pada nongol mohon-mohon minta di-ACC agar bisa ikut ujian.

7. Hantaman Masalah Keluarga

Tidak sedikit mahasiswa yang skripsinya terhenti gara-gara diterpa badai masalah internal keluarga seperti perekonomian keluarga yang sedang memburuk (morat-marit), kondisi orang tua yang sedang sakit parah, ditinggal salah satu anggota keluarga yang dikasihi, dan hubungan orang tua yang sedang tidak harmonis. Masing-masing penjelasannya sebagai berikut. Kondisi ekonomi keluarga yang sedang “jatuh” menyebabkan sang anak sering kali harus ikut bekerja menopang kebutuhan keluarga sehari-hari dan juga untuk membayar UKT. Karena sehari-hari harus bekerja dan ketika pulang sore/malam sudah capek, akhirnya skripsi tidak tersentuh. Kondisi orang tua yang sakit-sakitan seringkali mengharuskan anak ikut wira-wiri ke sana ke mari untuk mengurus berobat. Tidak hanya itu, si anak juga terpaksa mengurusi pekerjaan rumah dan tanggungan-tanggungan lainnya. Ditinggal salah satu anggota keluarga yang dikasihi seringkali membuat anak menjadi drop dan tidak ada semangat untuk beraktivitas, termasuk salah satunya tidak ada semangat mengerjakan skripsi. Butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bangkit dari keterpurukan ini. Kondisi rumah yang disharmonis/sering cekcok (entah antara sesama orang tua, atau antara orang tua dan anak) sering kali juga menyebabkan anak tidak bisa fokus mengerjakan skripsi.

8. Menghilang Selama Bimbingan dan Pasca Ujian Skripsi

Banyak sekali mahasiswa yang selama proses bimbingan maupun setelah ujian skripsi justru “menghilang”, tak diketahui di mana rimbanya. Mahasiswa yang menghilang biasanya gara-gara tersandung salah satu atau beberapa poin masalah yang sudah dijelaskan di atas. Dalam konteks proses bimbingan, biasanya mahasiswa (khususnya FKIP) banyak yang menghilang setelah selesai menjalani PLP (dulu disebut PPL) di semester 7. Ada yang baru nongol di penghujung semester 8. Ada pula yang baru nongol di semester 9, semester 10 atau setelahnya.

Adapun dalam konteks setelah ujian skripsi, ada yang berbulan-bulan baru muncul, ada yang setengah tahun kemudian baru nongol, ada yang setahun kemudian baru menghadap, bahkan ada pula yang 2-3 tahun kemudian baru melanjutkan revisian. Idealnya, 1-2 minggu setelah ujian (setelah fase merenung dan menginventarisasi seluruh masukan penguji) lekas kembali ke kampus untuk menghadap pembimbing guna mengkonsultasikan revisiannya, termasuk menanyakan hal-hal yang mungkin masih bingung. Jika ada revisi yang bingung pasca ujian segera tanyakan, bukan sekedar dirasani dalam hati. Sat-set berangkat ke kampus dan lekas ditanyakan. Dengan kerja sat-set, revisi pasca ujian bisa cepat selesai dan lekas mengurus tahap selanjutnya (pendaftaran wisuda).

9. Kurangnya Literasi (Khususnya Baca)

Tidak bisa dipungkiri bila era media sosial dan HP smart nyatanya sangat signifikan mempengaruhi daya baca seseorang. Di samping memiliki dampak positif, “dunia itu” benar-benar membaca candu negatif yang telah mengalihkan banyak hal-hal produktif lainnya. Banyak orang lebih asik menghabiskan waktunya berjam-jam sekedar untuk bercumbu dengan HP, melihat berita-berita dan status terbaru. Celakanya, “dunia itu” telah meracuni banyak mahasiswa akhir yang sedang menyusun skripsi. Tidak sedikit mahasiswa lebih asik menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan usaha penyelesaian skripsi.

Untuk menyusun skripsi yang baik diperlukan banyak membaca buku, jurnal, artikel, koran, skripsi/tesis, melakukan wawancara, observasi, telaah dokumen/arsip, dan lain-lain. Semester akhir harus punya “prioritas menabung” untuk membeli atau memfotocopy lebih banyak buku yang relevan untuk kepentingan skripsi. Melengkapi buku-buku metodologi maupun buku-buku yang relevan dengan topik penelitian. Ini sangat penting mengingat sering dijumpai mahasiswa yang banyak tidak tahu jika ditanya tentang buku-buku metodologi penelitian. Jika ditanya ada berapa skripsi yang sudah dibaca, jawabnya 2-3 skripsi. Jika ditanya ada berapa jurnal yang sudah dibaca, jawabnya 4-5 jurnal. Mau sampai di mana jika menyusun sebuah skripsi (era saat ini), seseorang hanya melahap 2-3 skripsi dan 4-5 jurnal? Jelas sangat kurang! Bukankah skripsi-skripsi dan berbagai jurnal bisa dengan cukup mudah diakses secara online (digital)?

Tidak hanya itu, tidak sedikit mahasiswa akhir yang kurang cermat membaca “buku pedoman penulisan skripsi” sehingga banyak hal-hal teknis penulisan yang salah. Sebagai contoh misalnya terkait kemenjorokan alenia, pengaturan spasi, sistem penomoran, penulisan kutipan langsung, penulisan sitasi, penyusunan tabel, penulisan sumber gambar, penulisan daftar pustaka, dan lain-lain. Banyak hal yang mestinya bisa diminimalisir supaya tidak membuang-buang banyak waktu bimbingan hanya untuk hal-hal teknis sehingga bisa lebih fokus ke perbaikan masalah kualitas isi atau substansi.

Selain hal-hal di atas, juga ditemukan fakta lain yang menunjukkan bahwa ketimbang nongkrong di perpustakaan, sebagian mahasiswa akhir lebih suka nongrong tidak jelas di luaran sana. Penulis hendak menekankan bahwa nongkrong, main, dan lain-lain sah-sah saja asal diimbangi dengan melaksanakan kewajiban utama (tetap produktif menyusun skripsi). Alangkah bagusnya jika mahasiswa rajin ke perpustakaan untuk mengakses segala literasi yang relevan. Keberadaan perpustakaan bukan hanya untuk dianggurkan tetapi untuk “dikonsumsi” seoptimal mungkin.

Tidak hanya itu, alangkah baiknya jika mahasiswa semester akhir membentuk kelompok-kelompok diskusi/sharing rutin tentang skripsi. Forum ini akan sangat penting dalam mengakomodasi berbagai kegalauan, kebimbangan, kebingungan yang dialami mahasiswa. Masing-masing bisa bertukar pendapat untuk mencari solusi bersama. Sesekali dosen dihadirkan apabila memungkinkan untuk memberikan pencerahan. Shelter-shelter kampus digunakan bukan untuk sekedar ngumpul ngrumpi dan youtuban semata, tetapi dihidupkan sebagai tempat yang produktif, inspiratif, dan solutif.


Faktor Dosen Pembimbing

1. Sibuk dan Sulit Ditemui

Nyatanya memang ada dosen yang sibuk sekali sehingga “sulit ditemui mahasiswa”. Dihubungi sulit, pesan kadang tidak dibalas, kalau pun dibalas entah berapa jam/hari kemudian, kalau diWA beberapa kali jatuhnya malah marah-marah, padahal mahasiswa hanya sekedar menanyakan. Ditunggu seharian tidak ketemu, besuknya ditunggu juga tidak ketemu, besuknya lagi juga tidak kunjung ketemu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa faktor ini nyatanya berdampak pada menurunnya semangat mahasiswa. Api semangat yang awalnya membara perlahan mulai menurun dan akhirnya berujung “malas”, tidak ada gairah mengerjakan skripsi. Skripsi pun mandeg dan terbengkalai.

2. Proses Koreksi Lama

Waktu tunggu koreksi bab demi bab tiap dosen berbeda-beda. Ada yang yang kurang dari seminggu. Ada yang seminggu, seminggu lebih, 2 minggu, 3 minggu, 1 bulan, bahkan ada yang 1 bulan lebih. Ideal waktu tunggu koreksi adalah 1-2 minggu. Namun di tengah padatnya kegiatan lainnya, ada sebagian dosen yang kurang mampu memanajemen waktunya dengan baik. Implikasinya mahasiswa harus menunggu koreksi 3 minggu hingga 1 bulan lebih tiap kali bimbingan. Saking lamanya waktu tunggu koreksi, terkadang ada mahasiswa yang selama 1 semester hanya progres 1 bab saja. Belum lagi bila sudah menunggu lama ternyata yang direvisi sangat sedikit dan hanya hal-hal sepele. Belum lagi jika revisinya berubah-ubah (tidak konsisten). Kemarin minta begini, berikutnya minta diubah begitu, besuknya lagi minta diubah lagi. Kondisi-kondisi yang demikian nyatanya sering berdampak pada menurunnya semangat mahasiswa di tengah jalan. Sebagian mahasiswa yang awalnya sangat semangat, tetapi dengan ritme bimbingan yang sangat lama dari sang dosen, akhirnya pupus semangat. Akhirnya menjadi “malas-malasan”.

3. Tidak Mau Diajak Diskusi [Sharing Langsung]

Ada sebagian dosen dengan karakter tidak mau diajak ketemu tatap muka langsung untuk sharing atau diskusi masalah skripsi. Sebagian dosen memilih bimbingan via email atau WA. Ada pula yang lebih memilih berkas ditaruh dan diambil tanpa pernah diskusi langsung. Padahal terkadang mahasiswa sedang menemui “kebuntuan”. Mahasiswa menginginkan perlunya sesekali bimbingan langsung (tatap muka) supaya bisa menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi secara lebih jelas dan gamblang. Terkadang ada coretan-coretan dosen pembimbing yang sulit dimengerti maksudnya sehingga mahasiswa kesulitan merevisinya. Ditemui fakta di lapangan bahwa beberapa kali bimbingan (yang menghabiskan waktu berbulan-bulan) ternyata berkutat pada hal-hal sederhana. Masalah kecil itu begitu lama terselesaikan hanya gara-gara faktor komunikasi bimbingan yang kurang tepat.

4. Standar yang Terlalu Tinggi

Tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang ada dosen dengan standar terlalu tinggi tanpa melihat dan mempertimbangkan batas kemampuan mahasiswa yang dibimbingnya. Kemampuan mahasiswa tidaklah sama antarsatu dan lainnya. Tidak bisa semua disamaratakan. Ketika semua disamaratakan, maka mahasiswa dengan kemampuan dibawah standar (maksudnya dibawah menurut standar tinggi si dosen) akan kelimpungan, oleng, dan putus asa di tengah jalan karena tidak mampu memenuhi ekspektasi tinggi dari dosen pembimbing. Kadang dosen pembimbing kurang sadar bahwa mahasiswa yang dibimbingnya adalah mahasiswa S-1, tetapi standar yang dimintanya setara tesis (S-2). Tidak sedikit mahasiswa masih “dipersulit” saat revisi pasca ujian, sehingga menghabiskan waktu berbulan-bulan. Sebagian dosen penguji (non pembimbing) terlihat begitu “memaksakan” agar revisi disesuaikan sepenuhnya sesuai keinginannya.


Faktor Kebijakan Prodi

Terkadang ada Prodi yang “kurang ketat” dan “kurang tegas” dalam mengadakan monitoring mahasiswa semester akhir. Idealnya setiap semester diadakan monitoring rutin (berkala) untuk memantau progres mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Mendata ada berapa jumlah mahasiswa yang progresnya cepat, progresnya standar, progresnya lambat, dan yang menghilang. Setelah itu bisa dilakukan pemanggilan tegas kepada para mahasiswa yang bersangkutan. Selain itu juga perlu pemberitahuan kepada orang tua agar keluarga juga ikut mengawasi, mendampingi, dan memberikan semangat. Juga bisa dilakukan dengan cara dikumpulkan (lintas angkatan) kemudian diadakan “klinik skripsi” dan “sharing bersama” untuk mencari solusi efektif. Prodi perlu hadir secara aktif, sinergis dan kolaboratif bersama dosen pembimbing skripsi, dosen Pembimbing Akademik (PA/Wali), dan juga orang tua mahasiswa.


Penyusunan Skripsi dengan “Satu Pembimbing”

Kelebihan

  1. Secara teoritis, sistem ini bisa memperingkas waktu bimbingan secara signifikan. Normalnya 2 menjadi 1, berarti bisa memangkas setengahnya. Mahasiswa tak perlu bersusah payah konsultasi secara bergantian ke 2 orang pembimbing.
  2. Meminimalisir terjadinya benturan pemikiran/pendapat antarpembimbing selama proses penyusunan. Tak bisa dipungkiri bila perbedaan pendapat, pola pikir dan cara pandang (perspektif) antarpembimbing kadang terjadi. Jika mendapatkan 2 pembimbing yang kebetulan sama-sama berego tinggi (tidak ada yang mau mengalah), mahasiswa sering kali menjadi “korban”. Mahasiswa bingung mau ikut arahan yang mana. Ikut pembimbing satu akan kena semprot pembimbing satunya, pun sebaliknya. Dampaknya, sebagian mahasiswa berujung stress dan berhenti mengerjakan.
  3. Meningkatnya peluang prosentase jumlah mahasiswa lulus tepat waktu (4 tahun) bahkan yang lulus 3,5 tahun. Dengan lulus tepat waktu, mahasiswa (lebih tepatnya orang tua) tidak perlu bayar UKT lagi di semester-semester berikutnya.
  4. Jumlah lulusan tepat waktu juga turut mempengaruhi hasil akreditasi, karena saat akreditasi terdapat perhitungan AEE (Angka Efisiensi Edukasi). Jika lulusan tepat waktu tinggi, maka juga akan menguntungkan prodi. Akreditasi yang baik juga akan menguntungkan mahasiswa dan para lulusan (yang membutuhkan sertifikat akreditasi untuk melamar pekerjaan, melanjutkan studi, atau mendaftarkan beasiswa). Supaya aman, mahasiswa yang lulus tepat waktu minimal 30% setiap angkatan, syukur-syukur di atasnya. Jika satu angkatan jumlahnya semisal 80 mahasiswa, maka idealnya yang harus lulus tepat waktu 4 tahun minimal sebanyak 24-25 orang, syukur-syukur di atas 30 orang.
  5. Menghindarkan dari stigma negatif sebagai prodi yang “lulusnya sulit”.


Kelemahan

  1. Jika mendapatkan dosen pembimbing yang tidak cermat atau kurang detail, berpotensi melahirkan skripsi dengan kualitas substasi dan teknis yang kurang optimal. Jangan heran jika ditemukan beberapa skripsi yang dibuat agak “asal-asalan” (kurang layak). Isinya minimalis, minim data, minim pembahasan, minim sumber, dan teknis penulisannya acak-acakan (tidak sesuai buku pedoman penulisan skripsi yang telah ditetapkan).
  2. Akan mengkhawatirkan jika mendapatkan pembimbing yang kurang cermat dan detail. Terkadang ada pembimbing yang jarang membaca substansi skripsi. Paling-paling merevisi soal penulisan teknis skripsi, itu pun hanya di bagian-bagian tertentu saja. Mungkin sebagian pernah mendapati dosen pembimbing yang menyuruh mahasiswanya “lanjut, lanjut, lanjut dan tiba-tiba ACC ujian”. Entah mahasiswanya benar-benar mumpuni atau karena kesibukan sang dosen sehingga tak sempat membaca skripsi mahasiswa. Bagi sebagian mahasiswa, mendapatkan dosen yang jenis demikian (lanjut-lanjut-lanjut) mungkin sangat bahagia karena inilah yang mereka harapkan. Tetapi bagi mahasiswa kritis yang haus akan arahan dan masukan, mendapatkan dosen jenis seperti ini justru membuat hati dag-dig-dug (was-was), takut “dibantai” saat ujian dan kemudian revisi total.


Jalan Tengah

Jika mendapati dosen pembimbing yang mumpuni, kritis, cermat, dan detail, syukurlah. Hal ini tidak perlu dibahas. Tetapi jika mendapati dosen yang sebaliknya maka seyogyanya mengambil “jalan tengah” dengan cara:

  1. Diskusi dengan “dosen lain” yang sekiranya mau diajak sharing. Sama sekali bukan untuk menjatuhkan nama baik pembimbing tetapi sekedar meminta pandangan, pendapat, syukur-syukur arahan yang konstruktif. Tak bisa disangkal, terkadang pencerahan itu datangnya justru bukan dari dosen pembimbing melainkan dari dosen lain. Itu hal wajar. Di banyak tempat memang demikian.
  2. Diskusi dengan “rekan sejawat lain” yang sedang sama-sama mengerjakan skripsi. Bisa juga diskusi dengan “kakak tingkat” yang sudah berpengalaman mengerjakan skripsi. Bisa sharing terkait konten skripsi, referensi yang sedang dicari, jumlah narasumber yang ideal, kendala-kendala yang dialami, idealitas/kelayakan skripsi, atau tentang karakteristik/tipikal dosen pembimbing maupun karakteristik dosen-dosen lain yang nantinya berpotensi menjadi penguji saat ujian skripsi.
  3. Belajar mandiri dengan cara banyak membaca skripsi sebelumnya. Katakanlah membaca setidaknya 5-10 skripsi sejenis. Seminggu ditarget selalu rutin ke perpustakaan untuk membaca 2 skripsi. Maka dalam waktu 1 bulan bisa membaca 8 skripsi. Dengan membaca banyak skripsi sejenis, maka mahasiswa bisa mengetahui sejauh mana “tingkat kelayakan skripsinya”.

Komentar