Oleh: Dadan Adi Kurniawan

Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret

Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id

 

 

 

— “Sejarah hal-hal kecil merupakan cerminan realitas kelampauan yang ada di sekitaran kita sehari-hari, realitas manusiawi, realitas dari lintas kalangan, potret landscape kehidupan yang lebih holistik” —

 

Sejarah yang Elitsentris, Politiksentris, dan Perangsentris

Sampai dekade pertama pasca reformasi, banyak tudingan bahwa sejarah dipenuhi dengan narasi-narasi yang menyuguhkan eksistensi kalangan elit semata, hanya menyoroti masalah politik, kerajaan, perang, perang dan perang. Begitulah faktanya. Dalam buku-buku sejarah di sekolah, kisah-kisah sejarah memang didominasi ikhwal politik, pemerintahan, kekuasaan, militer, dan sosok-sosok elite (tokoh-tokoh besar). Sejarah perang ini-perang itu, raja ini-raja itu, kekuasaan ini-kekuasaan itu, kebijakan politik ini-kebijakan politik itu, perjanjian ini-perjanjian itu, organisasi ini-organisasi itu, dan sejenisnya. Tak jauh-jauh seputar itu.

Wajar bila muncul anggapan bahwa sejarah identik dengan perang, politik dan kekuasaan. Alam bawah sadar itu dipengaruhi oleh proporsi konten di buku sejarah yang memang didominasi hal-hal seperti yang dituduhkan. Akibatnya banyak peserta didik yang berkelakar bila sejarah sangat “membosankan” (untuk hal ini selain disebabkan perihal tema dan konten, juga dipengaruhi secara signifikan oleh gaya, media dan metode mengajar pendidik yang belum optimal).

Alhamdulillahnya, belakangan ini (sekitar 10-15 tahun terakhir) secara perlahan sudah mulai ada pembenahan terkait variasi konten sejarah di sekolah (walaupun belum signifikan-signifikan amat). Kritik historiografi akan masalah pelik ini memang sudah lama digelindingkan ke permukaan, tetapi aksi nyata merombak dan menata secara ideal historiografi nasional Indonesia (seperti yang diwacanakan) memang bukanlah urusan gampang. Masing-masing sejarawan pastinya merasa penting atas topik yang digarapnya masing-masing.

Jelas tidak memungkinkan mengakomodir semua ide/gagasan dan hasil tulisan dari seluruh sejarawan. Mau tidak mau, tema-tema yang dimasukkan ke buku pelajaran sekolah harus “diseleksi” sesuai kebutuhan edukasi yang paling mendesak. Itu pun tidak akan memuaskan semua pihak. Selebihnya tulisan sejarah yang beraneka ragam tersebut bisa diakomodir lewat media jurnal, web, koran, media sosial dan buku-buku sejarah populer sebagai “referensi sejarah alternatif” bagi masyarakat luas.

 

Sejarah Kehidupan Sehari-hari sebagai Sejarah Alternatif

Semakin ke sini, arah “historiografi alternatif” semakin banyak dan beraneka macam. Paradigma bahwa sejarah hanya mencatat “peristiwa-peristiwa besar” sudah mulai bergeser dan ditinggalkan. Mulai muncul kesadaran baru bahwa paradigma tersebut bersifat elitis sehingga tidak bisa lagi dipakai sepenuhnya.

Sebaliknya, banyak sejarawan mulai tertarik mengangkat tema “sejarah kehidupan sehari-hari“. Dalam bahasa lainnya disebut “sejarah hal-hal kecil” atau “sejarah hal-hal sederhana” yakni mempertanyakan hal-hal sederhana yang sering kita jumpai sehari-hari dari perspektif historis (kelampauan). Mencari benang merah atau hubungan antara kondisi saat ini dan masa lalu.

Selain menekankan hal-hal kecil sederhana dalam kehidupan sehari-hari, sejarah alternatif ini juga menekankan pentingnya memotret aktivitas masyarakat biasa kebanyakan, kalangan orang-orang desa, kalangan orang-orang kecil kota, kalangan orang-orang yang selama ini kerap tersisihkan dari catatan sejarah. Tujuan mereka mengangkat topik-topik sejarah alternatif ini tidak lain agar sejarah tidak hanya menjadi milik orang besar, menjadi milik para elit, menjadi milik pemenang saja, tidak hanya menyoroti persoalan politik, kekuasaan, pemerintahan, militer, perang, perang dan perang.

Sebaliknya mereka berharap agar sejarah juga menjadi milik kalangan bawah, kalangan wong cilik (rakyat kecil). Ada orang besar karena orang kecil. Tanpa “orang kecil” tidak akan ada istilah “orang besar”. Mereka (para sejarawan alternatif) berjuang agar sejarah juga mencatat dan mengabadikan eksistensi kalangan “subaltern” yakni kelompok atau individu yang terpinggirkan, tertindas, atau berada di bawah hierarki kekuasaan dominan. Agar sejarah juga memotret “kekayaan kebudayaan” dari lintas kalangan dan lintas aspek/bidang kehidupan seperti kuliner, teknologi, sistem pengetahuan, arsitektur, hiburan, transportasi, pendidikan, keagamaan, kesenian, sosial, ekonomi, dan lain-lain.

Istilah “hal-hal kecil” ini sebenarnya bisa diperdebatkan. Ia dimaknai hal-hal kecil karena dipertentangan dengan tradisi sebelumnya yang mengangkat peristiwa-peristiwa besar. Tetapi hal-hal kecil ini bisa pula dimaknai menjadi “hal-hal besar”. Mengapa bisa demikian? Karena hal-hal kecil itu bisa jadi sangat berarti (bernilai besar) bagi para pelaku sejarahnya. Mungkin di mata para elit, “hal-hal kecil” ini tidaklah begitu penting dan cenderung diremehkan, tetapi bagi pihak lain (dari kalangan akar rumput atau kalangan bawah), hal-hal kecil itu merupakan “hal-hal besar” yang merepresentasikan pencapaian luar biasa (tidak mudah). Ini masalah perspektif (sudut pandang).

Bagi sejarawan tertentu, menulis sejarah hal-hal kecil tidaklah menarik dan tidaklah begitu penting. Tetapi bagi sejarawan tertentu lainnya, memotret sejarah hal-hal kecil justru merupakan hal yang menarik. Mereka bisa menemukan potret “landscape kehidupan” yang lebih utuh dan bewarna. Tidak hanya meneropong kisah di pusat tetapi juga yang di pinggiran, tidak hanya mengenal nama-nama besar tetapi juga nama-nama di tingkat arus bawah yang turut menopang roda peradaban, tidak hanya bergelut dengan masalah politik dan kekuasaan karena hidup ini terlalu sempit jika hanya melihat persoalan tersebut.

Perhatian besar terhadap “sejarah sehari-hari [hal-hal kecil]” menjadikan sejarah akan semakin diterima masyarakat luas. Hal ini disebabkan karena kisah-kisah yang diangkat merupakan cerminan realitas-realitas yang “merakyat”, realitas yang ada di sekitaran kita sehari-hari, realitas dari banyak kalangan, realitas yang jujur dan manusiawi, realitas yang lebih holistik dan komprehensif. Suburnya sejarah jenis ini akan membuat sejarah terasa lebih dekat, merata, kontekstual dan punya makna bagi peradaban.

 

Beberapa Contoh Sejarah Sehari-hari [Hal-Hal Kecil dan Sederhana]

Dalam tulisan ini, penulis sajikan beberapa contoh sejarah yang memotret hal-hal kecil-sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya bisa menjadi inspirasi dalam mencari judul atau tema penelitian skripsi/tesis. Di jurusan/prodi Pendidikan Sejarah, mengangkat sejarah hal-hal kecil seperti ini memang peluang disetujuinya kecil. Pertama, berkaitan dengan relevansi pembelajaran sejarah di sekolah. Kedua, berkaitan dengan selera dan paradigma dosen. Masih banyak ditemui dosen sejarah/pendidikan sejarah yang kental menggunakan paradigma lama sehingga agak sulit bila diajak menjajaki hal baru yang “belum umum”.

Jika pun tidak disetujui sebagai judul penelitian skripsi, harapannya tulisan ini bisa menginspirasi para pendidik untuk menularkannya di kelas-kelas pembelajaran. Pendidik bisa “menyelipkan” secara proporsional di tengah-tengah materi sejarah nasional wajib yang telah mapan.

Jika pun tetap sulit, mudah-mudahan tulisan ini bisa mengajak masyarakat agar lebih akrab dengan sejarah, memiliki rasa penasaran terhadap “hal-hal kecil sederhana” di sekitarnya, penasaran untuk meneropongnya dari sudut pandang kelampauan (sejarah). Berikut beberapa contoh sejarah hal-hal kecil sederhana sehari-hari yang menarik untuk ditelisik lebih jauh:

1. Kuliner

Apakah Anda termasuk “pecinta kuliner”? Pemburu soto dan mie ayam yang militan? Atau pemburu nasi Padang dan Burjo garis keras? Apakah setiap “penikmat rasa” otomatis menjadi “penikmat cerita“? Cerita sejarah dari semangkok kuliner yang dinikmati tersebut?

Oleh karenanya menjadi menarik untuk diselidiki mengapa soto, sate kambing, bakmi, bakso, mie ayam dan juga berbagai makanan lainnya bisa dijumpai di banyak tempat (lintas pulau) di Indonesia? Sejak kapan makanan-makanan tersebut bisa berdiaspora ke berbagai wilayah di Indonesia? Aslinya dari mana dan siapa pembawa awalnya? Apakah pada tahun 1960-1970an, soto sudah menyebar di banyak tempat?

Pertanyaan lain, sejak kapan warung nasi Padang, warung Madura dan warung Burjo (bubur kacang ijo) menyebar di banyak tempat di luar Padang, Madura dan Jawa Barat? Apakah persebarannya sudah lama atau baru masif puluhan tahun belakangan ini? Apakah warung makan-warung makan tersebut ada organisasi atau paguyubannya? Seperti apa sistem pengelolaan paguyuban warung tersebut (jika ada)? Pertanyaan seputar kuliner ini juga bisa digunakan untuk menyelidiki semisal sejarah perkembangan toko kelontong Madura, sate Madura, potong rambut Madura, warteg (warung Tegal), bakso Wonogiri, bakso Malang, soto Lamongan, tahu Sumedang, jenang kudus, serabi notosuman Solo, dan lain-lain. Seperti apa cikal bakal pendiriannya dulu? Lalu bagaimana pola penyebaran dan pengorganisasiannya sehingga menyebar cukup pesat ke berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia?

Berbicara terkait penyebaran soto, bakso, bakmi, nasi Padang, burjo, warung Madura, warteg, dan lain-lainnya, berarti juga berbicara soal sejarah persebaran resep makanan. Berbicara tentang resep berarti berbicara tentang sejarah ide dan cipta rasa. Berbicara pula soal diaspora identitas asal-usul suku maupun asal-usul tempat (lokalitas). Jika mau dikuliti lebih lanjut, kuliner ternyata tak melulu soal lidah dan urusan perut, melainkan juga bisa ditengok bagaimana kisah sejarah yang menyelimutinya.

2. Gelas Formal dan Hajatan

Di wilayah Jawa Tengah-an (tepatnya Solo Raya), mungkin bagi sebagian orang sudah banyak yang tahu bahwa berbagai hajatan umumnya menggunakan jenis “gelas yang sama” (warna coklat). Terkesan seperti template. Bagi masyarakat dari luar Jawa Tengah, terkadang keheran-heranan akan fenomena gelas yang cenderung seragam tersebut (mungkin berbeda dengan budaya tempat asalnya).

Dari sini kita bisa mempertanyakan sejak kapan budaya pemakaian gelas coklat mulai banyak digunakan di acara-acara hajatan di wilayah Solo Raya dan sekitarnya? Mengapa memilih menggunakan gelas jenis itu? Siapa yang awalnya menginisiasi? Seperti apa potret sarana-prasarana hajatan zaman dahulu? Bagaimana sejarah perkembangan hajatan di masing-masing kampung?

Sudah menjadi rahasia umum bila sistem penyelenggaraan dan prosesi hajatan di masing-masing tempat berbeda. Ada yang pakai sistem karang taruna, ada yang pakai sistem keluarga, ada yang pakai sistem WO (Wedding Organizer), dan ada yang sistem campuran. Prosesi acara dan media yang digunakannya pun berbeda-beda. Ada yang pakai telor, beras, uang logam, kembang, pisang, dan lain-lain. Sejarah hajatan merupakan salah satu topik menarik yang bisa ditulis sebagai sebuah karya ilmiah.

3. Angkringan (Hik)

Di beberapa tempat seperti Solo, Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Yogyakarta dan sekitarnya, angkringan atau hik bisa dijumpai di banyak tempat di pinggir jalan. Tempat makan ini sekaligus biasa digunakan untuk nongkrong, ngobrol ngalor ngidul dengan teman. Tetapi pernahkah kita bertanya-tanya sejak kapan ada angkringan/hik? Asli dari daerah mana? Apakah pada awalnya angkringan/hik merupakan simbol tempat makan kalangan bawah (rakyat jelata)? Apa benar angkringan/hik merupakan simbol “budaya tandingan” terhadap kalangan elit (orang kaya) yang makannya di tempat-tempat mewah? Bagaimana sejarah perkembangan angkring/hik sehingga eksistensinya cukup menyebar di banyak wilayah? Mengapa di beberapa wilayah lain di Jawa tak ditemui angkringan/hik? Sejarah angkringan/hik ini menarik untuk ditulis. Meskipun sudah ada yang mengkaji, tetapi sejarah angkringan/hik di tempat-tempat tertentu (berbasis lokalitas) masih bisa diteliti.

4. Pasar Tradisional

Masing-masing daerah umumnya memiliki pasar tradisional sebagai tempat bertransaksi jual-beli. Namun pernahkah kita mempertanyakan sejak kapan pasar-pasar tradisional tersebut didirikan? Apakah telah ada sejak kita belum lahir? Bagaimana cikal-bakalnya? Mengapa pasar tersebut diberi nama demikian? Apakah pasar yang kita lihat sekarang masihlah bangunan asli atau sudah hasil renovasi? Dulu sebelum ada pasar tersebut, masyarakat sekitar belanja kebutuhan rumah di mana? Dulu sebelum ada pasar tersebut, masyarakat menjual hasil buminya ke mana? Dulu sebelum ada pasar tersebut, masyarakat menjual hasil kerajinannya ke mana? Dagangan apa saja yang diperjualbelikan pada zaman dahulu (katakanlah tahun 1970-1990an)? Jaringan sosial ekonomi seperti apa yang terbentuk di pasar tersebut?

5. Permainan Tradisional

Di era gempuran handphone (HP), permainan tradisional sudah mulai mengalami kepunahan. Anak-anak kecil tak nampak akrab dengan berbagai macam permainan tradisional. Mungkin masih ada di beberapa tempat tertentu. Namun banyak yang tak mengenali lagi berbagai permainan tradisional. Dari sini kita bisa mempertanyakan, permainan tradisonal apa saja yang pernah eksis pada zamannya? Seperti apa permainannya? Bagaimana potret anak-anak zaman dulu asik bermain permainan tradisional? Nilai-nilai positif (edukatif) apa saja yang terkandung di dalam permainan-permainan tradisional? Kapan permainan tradisonal mulai ditinggalkan? Mengapa ia tak lagi digandrungi anak-anak? Sejarah permainan tradisional termasuk kajian yang menarik dan bisa ditulis sebagai karya akademis.

6. Sarung, Kopiah, dan Baju Koko

Dari mana sebenarnya budaya pemakaian sarung, kopiah/peci dan baju koko (baju muslim)? Apakah benar ketiganya merupakan budaya asli Indonesia? Atau justru adopsi dari luar?

7. Jilbab/Kerudung Besar

Dalam arsip-arsip era pra-kemerdekaan sangat sulit dijumpai potret foto perempuan berjilbab besar dan rapat. Lalu sejak kapan budaya pemakaian jilbab/kerudung ukuran besar dan rapat mulai menyebar di Indonesia? Mendapat pengaruh dari mana? Siapa agen-agen yang awalnya mempopulerkan budaya jilbab besar dan rapat tersebut? Seperti apa model jilbab/kerudung yang berkembang sebelumnya?

8. Masjid, Langgar, dan Gereja

Di Indonesia, kita banyak menemui berbagai tempat ibadah terutama masjid, mushola (langgar) dan gereja. Namun pernahkah kita mempertanyakan kapan tempat-tempat ibadah tersebut dibangun? Siapa yang menginisiasi ide pembangunan? Dari mana dana pembangunannya? Apakah hasil gotong royong atau sokongan segelintir pihak (orang kaya/intelektual)? Apakah pendirinya warga lokal atau warga pendatang yang reformis? Apakah dahulu pernah ada gerakan/kebijakan pembangunan tempat ibadah secara serentak?

Mengapa masjid-masjid dan langgar di Jawa banyak memiliki kemiripan arsitektur (bentuk) antara satu dan lainnya? Apakah ada “masjid khusus” yang dijadikan kiblat (patokan) untuk ditiru? Apa bedanya arsitektur masjid-masjid tua di Indonesia dengan masjid-masjid di tanah Arab (Mekah dan Madinah)?

Jika kita menjumpai sebuah gereja di suatu tempat, pernahkah kita mempertanyakan siapa yang dulu mendirikan? Kapan didirikan? Berasal dari mana kelompok yang mendirikan? Berkaitan dengan organisasi gereja apa? Mengapa ada Gereja Kristen Jawa (GKJ)? Apa yang membedakan GKJ dan gereja-gereja lain yang tanpa embel-embel “Kristen Jawa” di belakangnya? Kalau orang umum (awam) mendengar kata “gereja”, biasanya langsung tertuju pada sebuah bangunan tempat ibadah umat Kristen/Katolik. Tetapi apakah kata “gereja” hanya dimaknai sesederhana itu (sebagai sebuah bangunan)?

9. Tulisan Arab di Masjid

Bagi orang muslim pastinya sering melihat kaligrafi atau tulisan arab “Allah SWT” dan “Muhammad SAW” yang terpasang di bagian dalam dinding suatu masjid. Pernahkah kita mempertanyakan mengapa tulisan “Allah SWT” dipasang di sebelah kanan dan tulisan “Muhammad SAW” dipasang di sebelah kiri? Mengapa dipasang sejajar? Bukankah satunya dzat dan satunya makhluk (tidak sebanding)? Sejak kapan mulai ada tradisi pemasangan tulisan arab (“Allah SWT” dan “Muhammad SAW”) pada dinding masjid seperti itu? Sistem adopsi dari mana? Apakah masjid-masjid di Makkah dan Madinah juga melestarikan budaya yang sama?

Di sisi yang lain, apakah budaya pemasangan tulisan Arab di masjid tersebut telah menginisiasi munculnya budaya pemasangan foto presiden dan wakil presiden di ruang-ruang kelas atau ruang kantor? Mengapa konsepnya sedikit berbeda? Jika di masjid, kaligrafi/tulisan Allah SWT (sebagai simbol yang lebih tinggi) dipasang di sebelah kanan, tetapi mengapa di ruang-ruang kelas sekolah/lembaga, foto presiden justru dipasang di sebelah kiri? Apakah suatu unsur kesengajaan untuk membedakaan simbol penguasa duniawi dan penguasa alam semesta (alam kesejatian)? Atau hanya suatu kebetulan? Bagaimana sejarahnya?

10. Organisasi Sosial Keagamaan

Indonesia termasuk salah satu negara dengan organisasi sosial keagamaan yang beragam. Di berbagai sudut daerah muncul plank-plank identitas organisasi keagamaan. Pertanyaannya, mengapa di Indonesia bisa berdiri Muhammadiyah, NU, LDII, MTA, dan lain-lain? Sejak kapan organisasi-organisasi keagamaan tersebut mulai menyebar masif di berbagai wilayah Indonesia? Siapa yang pertama kali membawanya? Mengapa pondok-pondok pesantren NU hampir merata mapan dan dominan di wilayah Jawa Timur serta sepanjang pantai utara Jawa Tengah? Mengapa organisasi sosial keagamaan di wilayah Jawa Tengah bagian tengah (Solo Raya dan sekitarnya) dan wilayah kota Yogyakarta lebih beragam (heterogen)?

Kita bisa berasumsi bahwa berdirinya organisasi sosial keagamaan biasanya bermula dari “ketidakpuasan” seseorang atau sekelompok orang atas suatu keadaan di masyarakat (tafsir kitab, praktik ibadah, tradisi, mentalitas masyarakat, dll). Jika memakai asumsi ini maka kita bisa mempertanyakan ketidakpuasan seperti apa yang membuat masing-masing kelompok mendirikan organisasi keagamaan saat itu? Lalu “kebaruan” seperti apa yang ditawarkan dan menjadi ciri dari masing-masing organisasi keagamaan tersebut? Atribut-atribut apa saja yang coba digunakan dan disebarkan sebagai identitas dari masing-masing organisasi keagamaan? Harapannya gambaran seperti ini bisa menggugah kita untuk menyelidiki sejarah organisasi keagamaan di tempat tinggalnya masing-masing.

11. Sekolah Islam Terpadu

Belakangan muncul banyak sekolah “Islam Terpadu” seperti TKIT, SDIT, SMPIT, dan SMAIT. Pertanyaannya, kapan mulai muncul fenomena sekolah-sekolah model “terpadu” seperti itu? Siapa pelopornya? Dari kalangan/organisasi/partai apa? Sekolah IT apa yang pertama kali didirikan di Indonesia? Di mana? Apa yang melatarbelakangi pendirian sekolah tersebut? Ketidakpuasan seperti apa yang mereka rasakan sehingga perlu mendidirikan model baru? Kebaruan apa yang ditawarkan? Keunggulan apa yang dimiliki? Adakah dampak nagatif dari munculnya IT-IT tersebut bagi kebangsaan Indonesia? Apakah keberadaan sekolah-sekolah swasta di Indonesia merupakan “cerminan” dari basis aliran/ideologi para kelompok pendirinya?

12. Seragam Sekolah

Kita bisa mempertanyakan sejak kapan ada peraturan sekolah harus memakai “seragam” (baju, celana, sepatu, topi)? Ditetapkan oleh masing-masing sekolah atau kebijakan pusat (Kementerian Pendidikan)? Apa tujuan diberlakukannya memakai seragam? Sekedar supaya terlihat rapi, identitas, atau ada maksud lain yang lebih ideologis? Bagaimana model pakaian sekolah sebelum ada peraturan berseragam? Apakah zaman dulu orang sekolah pada memakai baju dan celananya bebas? Boleh memakai sandal? Boleh cekeran (tidak beralas kaki)? Seperti apa potret pendidikan zaman dulu? Sepulang ke rumah, kita bisa mulai menanyakan hal ini ke orang tua kita atau para sesepuh kampung kita.

13. Kitab Suci Terjemahan

Saat ini sudah banyak kita temui kitab suci terjemahan bahasa Indonesia, bahkan terjemahannya per kata. Pertanyaannya, sejak kapan di Indonesia mulai ada kitab suci terjemahan? Siapa pelopor yang menginisiasi penerjemahan kitab suci? Apa yang melatarbelakangi adanya penerjemahan tersebut? Apakah saat itu mulai muncul banyak kritik?

Bagaimana orang-orang zaman dahulu (ketika belum ada terjemahan) belajar memahami isi kitab suci? Asumsinya dulu tempat-tempat ibadah (yang menyediakan kitab suci) belum sebanyak sekarang ini. Toko penjual kitab suci pun masih sangat-sangat langka. Kitab suci yang ada masihlah menggunakan bahasa asli (sebagai contoh Al Quran masih full berbahasa Arab, belum ada terjemahaannya). Iqro’ (jilid 1-6) juga belum disusun. Bagaimana sistem belajar anak-anak saat itu?

Dari sini kita bisa meneliti sejarah tentang perkembangan kitab suci dari masa ke masa. Juga bisa mengkaji bagaimana strategi suatu umat agama belajar memahami kitab sucinya, yang tentunya mengalami perubahan (semakin mudah) seiring adanya terobosan-terobosan di tengah jalan.

14. Becak, Ojek, Taksi, dan Bus antarkota-antarprovinsi

Saat ini kita dihadapkan pada banyak pilihan jasa transportasi umum yang bisa dimanfaatkan mulai dari becak, ojek, taksi, angkutan, bus antarkota hingga bus antarprovinsi. Sistem terbaru menawarkan pelayanan transportasi yang lebih canggih seperti kemunculan gojek, gocar, grab, grabcar, maxim, dan lain-lain. Namun pernahkah kita terbayang mempertanyakan sejarahnya? Sejak kapan mulai ada becak di Indonesia? Apakah telah ada sejak masa pra-kemerdekaan (kolonial)?

Dari sini kita bisa mempertanyakan seperti apa perkembangan transportasi umum di suatu kota dari masa ke masa? Transportasi apa saja yang ada di suatu kota dalam kurun waktu tertentu (misalnya periode 1970-1980an)? PO-PO bus apa saja yang pernah berjaya di zamannya? Transportasi kota tersebut terkoneksi ke wilayah mana saja? Siapa rata-rata penumpangnya saat itu? Di mana titik-titik terminalnya? Apakah terminal yang ada masih sama dengan terminal yang dipakai sekarang? Apakah terminal yang sekarang adalah terminal baru? Mengapa banyak angkutan dalam kota yang belakangan ini semakin sepi penumpang bahkan sebagian sudah gulung tikar? Apakah ada kaitannya dengan semakin banyaknya kendaraan pribadi? Sejarah transportasi menjadi salah satu bidang kajian menarik yang bisa ditulis.

15. Bensin Eceran

Jika tertarik, bensin eceran pun sejarahnya bisa ditulis. Kita mulai dengan pertanyaan sejak kapan mulai ada penjual bensin eceran di pinggir-pinggir jalan? Mengapa ada penjual bensin eceran? Lebih duluan mana antara penjual bensin eceran dan keberadaan pom bensin (SPBU)? Tahun berapa SPBU pertama kali mulai ada di suatu kota? Mana SPBU tertua di suatu kota? Apakah saat itu yang bisa jual bensin eceran hanya orang-orang yang terkoneksi dengan pegawai di SPBU?

Kita bisa berasumsi bahwa adanya penjual bensin eceran menunjukkan bahwa kendaraan-kendaaran berbahan bakar bensin sudah banyak dijual di Indonesia. Tidak mungkin ada penjual bensin kalau belum ada kendaraan yang beredar. Pertanyaan lanjutannya ialah siapa rata-rata pemilik kendaraan saat itu? Apakah golongan tertentu yang terbatas? Siapa golongan tertentu yang terbatas tersebut?

Di kampung-kampung atau di desa-desa, yang awal-awal mampu membeli sepeda motor dan mobil sangatlah terbatas. Biasanya hanya segelintir orang. Asumsinya pasti bukan sembarang orang. Hanya orang-orang kaya yang berkecukupan secara ekonomi yang sanggup membeli kendaraan saat itu. Baru semakin ke sini hampir setiap keluarga memiliki kendaraan, bahkan lebih dari satu unit. Asumsi ini bisa kita pakai untuk menelusuri sejarah pemilik kendaraan pertama di kampung kita masing-masing.

16. Televisi dan Sepeda Motor

Kita bisa mulai dengan pertanyaan sejak kapan televisi dan sepeda motor mulai menyebar luas di masyarakat desa? Siapakah periode-periode awal yang sanggup membeli TV dan sepeda motor? Sampai dengan tahun 1980an-1990an, di desa-desa (terutama yang agak pelosok), belum banyak yang memiliki televisi (TV) dan sepeda motor. Yang mampu beli palingan hanya segelintir orang. Mereka biasanya orang terpandang di kampungnya saat itu, yang sawahnya luas, yang pekerjaannya mapan. Para tetangga lain biasanya ngumpul nunut nonton di tetangga yang sudah punya TV. Kerangka asumsi ini bisa digunakan untuk menyelidiki sejarah pemilik TV dan sepeda motor pertama di kampung kita masing-masing.

17. Kos-Kosan

Bisa dimulai dengan pertanyaan sejak kapan mulai berdiri kos-kosan? Sebelum banyak berdiri kos-kosan, wilayah tersebut difungsikan untuk apa? Mengapa banyak muncul kos-kosan? Siapa pendirinya? Apakah warlok (warga lokal) atau warga pendatang? Asumsinya pendirian kos-kosan erat kaitannya dengan perkembangan kota seperti berdirinya kampus, sekolah, rumah sakit, pabrik, atau lainnya. Bisa dilacak dari siapa yang ngekos/ngontrak, apakah para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, perawat, buruh kerja pabrik, pegawai kantoran, atau lainnya. Bisa dilacak pula asal-usul para penyewa kos/kontrakan tersebut. Dari sejarah kos-kosan bisa terlacak pula perkembangan kota seperti kapan mulai berdiri kampus, kapan berdiri pabrik, kapan berdiri rumah sakit, dan lain-lain. Semua atribut kota tersebut memiliki jalinan historis yang saling berhubungan.

18. Nama Jalan, Monumen, Tugu, dan Patung

Jika kita melewati suatu wilayah kota, biasanya jalan-jalan di kota memiliki nama masing-masing. Kebanyakan menggunakan nama orang/tokoh (entah pahlawan nasional atau bukan, entah tokoh lokal, nasional, ataupun internasional). Namun pernahkah kita bertanya-tanya sejak kapan ada tradisi penamaan jalan? Mengapa suatu jalan diberi nama tokoh tertentu? Siapa tokoh tertentu tersebut sehingga namanya diabadikan menjadi nama jalan? Seperti apa kontribusinya di masa lalu? Mengapa dipilih nama tersebut? Kesadaran ini akan mengantarkan kita pada kebiasaan mempertanyakan sejarah nama-nama jalan yang ada di sekitar tempat tinggal kita atau yang sehari-hari kita lewati.

Selain jalan, di kota-kota sering kita jumpai monumen, tugu dan patung. Benda-benda tersebut memang benda mati, tetapi memiliki cerita yang tetap hidup. Dari sinilah patut kita pertanyakan bagaimana sejarahnya. Nilai sejarah seperti apa yang terkadung di dalamnya. Monumen, tugu, dan patung dibangun bukan tanpa maksud. Selalu ada tujuan dan pesan yang ingin disampaikan oleh pihak pembuatnya. Perlu dilacak “memori kolektif” seperti apa yang coba dirawat dan diabadikan lewat simbol-simbol tersebut. Untuk itu, mulai sekarang mari kita biasakan penasaran dan mencari tahu seperti apa sejarah dari nama jalan, monumen, tugu, dan patung yang kita jumpai sehari-hari. Kita mulai dari yang ada di sekitar kita saja.

19. Campursari, Tayub, dan Orgen Tunggal

Pernahkah kita mendatangi atau mungkin ikut menikmati hiburan campursari, tayub, orgen tunggal atau sejenisnya? Gayeng tidak? Hiburan-hiburan tersebut sudah sangat populer di masyarakat kita. Tiap acara nikahan, tujuh belasan, ulang tahun daerah, atau hajat lainnya kerap nanggap (menyewa/menyelenggarakan) hiburan. Beda tempat hanya beda istilah.

Namun pernahkah kita penasaran akan sejarahnya? Kita bisa mulai dengan pertanyaan sejak kapan budaya hiburan seperti campursari, tayub, dan orgen tunggal mulai eksis di masyarakat? Telah ada sejak era kolonial atau setelah kemerdekaan? Bermula dari tradisi di lingkungan kerajaan/istana atau asli dari daerah pinggiran (pedesaan)? Biasanya ditanggap dalam rangka acara apa? Apakah sebatas dalam rangka hajatan nikahan saja atau juga dalam rangka acara-acara lainnya? Siapa pihak-pihak yang zaman dulu mampu nanggap hiburan tersebut? Apakah hiburan-hiburan jenis ini bisa disandingkan dengan jenis hiburan wayang? Atau sebatas hiburan sepenuhnya? Secara historis, wayang merupakan hiburan rakyat yang di dalamnya memuat pesan-pesan edukasi.

Keberadaan berbagai jenis hiburan rakyat bisa ditelusur sejarahnya. Bisa ditelisik ke belakang apakah munculnya suatu hiburan berkaitan erat dengan status sosial (menonjolkan kemampuan ekonomi dan jabatan)? Apakah berkaitan dengan psikologis (mengobati rasa susah) penanggap dan masyarakat sekitarnya? Apakah berkaitan dengan ungkapan rasa syukur si penanggap sehingga meniatkan diri menghibur masyarakat sekitarnya? Meneliti dunia hiburan berarti juga menelisik sejarah perkembangan kesenian, jenis-jenis kesenian yang ada, dan seperti apa jaringan seniman yang terbentuk.

20. Rokok

Rokok (roken) merupakan salah satu produk budaya yang telah menyebar luas lintas negara. Di Indonesia, hampir di semua tempat dengan mudah kita jumpai orang merokok. Di kota, di desa, di mana-mana ada orang merokok. Konglomerat, orang kaya, orang setengah kaya, kalangan bawah, banyak yang merokok.

Namun pernahkah kita mempertanyakan sejak kapan ada budaya merokok? Apakah baru ada setelah kemerdekaan atau telah ada jauh sebelumnya? Rokok-rokok seperti apa yang awalnya muncul? Siapa yang awal-awal menjadi konsumen (pemakai rokok)? Apakah hanya kalangan atas saja? Mengapa mereka merokok? Apakah isi dan bungkus rokok kala itu sama seperti isi dan bungkus rokok yang beredar belakangan ini? Di manakah pabrik-pabrik rokok legendaris yang pernah berdiri? Bagaimana sistem pendistribusian rokok zaman dulu? Apakah dijual bebas di toko-toko kelontong? Atau harus beli langsung ke pabriknya? Merk-merk rokok apa saja yang terkenal zaman dulu? Apakah benar rokok mampu menyatukan dan merekatkan pertemanan sosial? Apakah benar berbicara rokok tidak selalu soal kesehatan, melainkan juga perihal kenikmatan, gaya hidup, obat pening (pemecah kebuntuan berfikir), obat rileks, dan lainnya?

21. Bahasa Jawa

Sebagai orang Jawa, penulis dan juga para pembaca yang juga orang Jawa, tentunya sering menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Ada yang masih njawani, ada pula yang sudah mulai kehilangan Jawanya. Bahasa Jawa menjadi salah satu bahasa populer yang dikenal masyarakat luas di Indonesia (selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional). Hal ini tidak lain disebabkan karena jumlah orang Jawa yang bisa bercakap menggunakan bahasa Jawa masih sangat besar.

Namun pernahkah terfikir mengapa bahasa Jawa justru tidak terpilih sebagai “bahasa nasional” di Indonesia? Bukankan saat kongres pemuda puluhan tahun yang lalu, jumlah peserta orang Jawa cukup besar? Namun mengapa “kalah” dalam pemilihan/penetapan bahasa nasional? Apakah benar bahasa Jawa itu bersifat “feodal”? Benarkah bahasa Jawa mengandung strata, hierarki sosial, dan unsur pengotakaan/jarak antar individu atau golongan? Mengandung unsur senioritas-junioritas, atasan-bawahan, ningrat-jelata, tua-muda, dan sejenisnya?

Apakah feodalisme bahasa ini menjadi pertimbangan utama ditolaknya bahasa Jawa saat kongres pemuda dulu? Dari sini kita bisa menyelidiki lebih lanjut sejarah perkembangan bahasa Jawa sebagai salah satu produk kebudayaan. Menarik meneliti bahasa Jawa dengan berbagai macam variannya seperti krama inggil, krama alus, krama lugu, ngoko, ngoko kasar, dan lain-lain.

Komentar