Oleh: Dadan Adi Kurniawan

Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret

Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id

 

 

— “Memuja Sepantasnya, Membenci Secukupnya “–

 

Hati-Hati dalam Generalisasi Peran Tokoh

Hidup berjalan dinamis. Perubahan sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu karena sebab tertentu. Kemarin begitu, sekarang begini, besuk seperti itu. Masa kecil belum tentu sama dengan masa muda. Masa muda belum tentu sama dengan masa dewasa. Masa dewasa belum tentu sama dengan masa senja (tuanya). Begitulah kodrat manusia. Ia bisa berubah-ubah karena faktor internal maupun eksternal, baik pengaruh lingkungan, tingkat kematangan berfikir dan faktor-faktor lainnya.

Soekarno kecil tidaklah sama dengan Soekarno muda. Soekarno muda berbeda dengan Soekarno tua. Ki Hajar Dewantara muda tak sama dengan Ki Hajar Dewantara waktu sepuh. Sunan Kalijaga muda berbeda dengan Sunan Kalijaga ketika sudah dewasa. Untuk itu jika diminta menilai seorang tokoh, tentu harus hati-hati dalam melakukan “generalisasi” (kesimpulan umum) terutama untuk menyimpulkan peranan dan karakteristik tokoh dalam sepanjang hidupnya. Generalisasi ketokohan yang diambil dalam rentang yang amat panjang sangatlah riskan. Berpeluang menenggelamkan adanya perubahan-perubahan karakter di tengah jalan.

Bisa jadi waktu muda brandalan liar dan susah diatur, tetapi di masa tuanya menjadi orang yang jauh lebih bijak. Di masa mudanya bijak dan tidak ambisius, tetapi di masa tuanya berubah menjadi rakus harta dan kekuasaan. Di masa mudanya tegak lurus, di masa paruh bayanya sempat menyimpang, kemudian di masa tuanya kembali tobat.

Ada pula yang dulunya seseorang nasionalis, tetapi kemudian menjadi pemberontak. Dulunya seorang pemberontak (anti pemerintahan), tetapi kemudian menjadi loyalis di kubu pemerintahan. Dulunya aktivis kritis anti kompromi, tetapi setelah memperoleh jabatan berubah menjadi lunak dan mudah diajak negosiasi. Kemarin kawan, sekarang lawan. Itulah manusia. Perangainya bisa berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan keadaan.

Dengan logika seperti ini, kita dilatih berhati-hati dalam “mengeneralisasi” (dalam arti menilai) ketokohan seseorang. Harus jeli melihat fase demi fase dari kehidupan seorang. Penilaian “setia atau loyal” bisa jadi hanya tepat disematkan kepada seorang tokoh di masa mudanya, tetapi tidak dengan masa tuanya. Penilaian “tidak ambisius” mungkin cocok untuk masa mudanya, tetapi tidak dengan masa tuanya ketika seseorang sudah pernah merasakah kursi empuk kekuasaan. Penilaian “nasionalis” bisa jadi hanya cocok saat mudanya, tetapi tidak dengan masa tuanya.

Bisa dilihat dalam sejarah Indonesia tahun 1940-50an, di mana beberapa tokoh Republik yang dulunya dikenal nasionalis kemudian dicap sebagai pengkianat bangsa. Tentu hal ini masih menjadi perdebatan, karena pahlawan vs pecundang, nasionalis vs pemberontak, kiri vs kanan, semuanya kerap bernuansa politis. Label nasionalis, kanan, dan pahlawan kerap ditetapkan sepihak oleh pemerintah atau rezim yang berkuasa. Bagi kelompok atau tokoh yang berseberangan dengan rezim penguasa akan dianggap kiri, pemberontak, dan pengkianat bangsa.

Tidak heran apabila ada beberapa tokoh yang mana di era rezim sebelumnya ia merupakan pahlawan, tetapi di era rezim berikutnya ia dianggap sebagai pencundang (pengkianat). Mengapa bisa demikian? Karena tokoh-tokoh penguasa pada rezim setelahnya biasanya adalah tokoh-tokoh yang berseberangan pada masa rezim sebelumnya. Sedangkan tokoh-tokoh yang awalnya dianggap nasionalis kemudian dicap sebagai golongan kiri, tidak nasional alias pemberontak. Mereka dianggap memiliki ideologi yang berseberangan dengan ideologi yang sedang dianut pemerintah (rezim penguasa).

Apapun itu, penulis hendak menyampaikan bahwa banyak tokoh sejarah yang sepanjang hidupnya mengalami beberapa perubahan terkait karakter, sikap, tujuan dan orientasi hidup. Terlepas perubahan tersebut merupakan stempel/cap dari luar atau memang perubahan atas kehendak/keputusan pribadi. Penilaian terhadap ketokohan seseorang tidak bisa sembarangan digebyah uyah (dipukul rata). Sebisa mungkin dinilai secara proporsional sesuai konteks apanya dulu dan untuk periode kapan.

Bisa jadi seseorang merupakan pribadi yang pemberani untuk konteks perang, tetapi di sisi lain seorang penakut untuk urusan asmara. Bisa jadi seseorang bersifat sabar dan dermawan di depan publik, tetapi sebenarnya tokoh tersebut bersifat tidak sabaran dan pelit jika sedang sendirian atau di ruang privat. Bisa jadi sebelum Indonesia merdeka seseorang berjiwa demokratis, tetapi setelah Indonesia merdeka ia bersifat otokratis dan diktator. Bisa jadi seorang tokoh sejarah memiliki sifat dan karakter yang sama (konsisten) hingga akhir hayatnya. Namun besar kemungkinan ada fase-fase tertentu seorang tokoh pernah berubah sikap di tengah jalan. Inilah yang harus kita nilai secara proporsional sesuai konteks dan waktu-waktunya. Tidak mudah menyimpulkan sesuatu secara “general”. Sejarah menjauhi generalisasi, sebaliknya menonjolkan “keunikan” (kekhasan).

 

Narasi yang Berlebihan

Pernahkah kita membaca tulisan sejarah yang menyuguhkan narasi kurang lebih sebagai berikut:

Si A merupakan tokoh nasional yang memiliki jasa besar. Ia telah berjuang habis-habisan demi bangsa dan negara Indonesia. Ia berjuang dengan gagah berani, tanpa pamrih, tidak mengenal lelah dan tidak pernah putus asa. Siang dan malam, seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengabdikan diri pada Indonesia”.

Sekilas nampak heroik dan patriotik, nampak seperti bukan manusia biasa. Tetapi apakah iya sebagai manusia biasa si A benar-benar tidak pernah mengeluh sedikitpun sepanjang hidupnya? Apakah iya sepanjang hidupnya ia tidak pernah merasa lelah atau capek sekalipun? Benarkah sepanjang siang dan malam selama bertahun-tahun hidupnya hanya digunakan untuk berjuang demi negara saja? Tidakkah ia juga butuh istirahat, butuh tidur, butuh waktu bersama keluarga dan teman-temannya, butuh waktu untuk dirinya sendiri?

Kiranya ini yang perlu kita cermati dan pahami bersama bahwa sebagai manusia biasa seyogyanya kisah sejarah disajikan secara manusiawi”. Memang sangat baik menampilkan sisi kelebihan suatu tokoh untuk membangkitkan rasa patriotisme dan nasionalisme, tetapi bukan berarti menghilangkan sisi manusiawinya”.

 

Memuja Sepantasnya Membenci Secukupnya

Benarkah Soekarno-Hatta merupakan dua tokoh “dwi tunggal” yang selalu solid dan tak terpisahkan sampai akhir hayat? Benarkah Soeharto merupakan presiden Indonesia paling kejam dan tidak memiliki celah kebaikan/kelebihan (kontribusi positif) sedikit pun bagi rakyatnya? Benarkah Soekarno merupakan presiden Indonesia paling sempurna dan tidak memiliki celah kekurangan sedikit pun? Bagaimana dengan tokoh-tokoh sejarah lainnya? Mari belajar sejarah secara manusiawi”.

Jika Soekarno-Hatta merupakan dua tokoh yang tak terpisahkan, lalu mengapa belakangan Moh. Hatta justru memilih meninggalkan Soekarno, bahkan mengkritik Soekarno? Jika Soekarno adalah presiden paling sempurna dan tanpa celah kekurangan, lalu kenapa pada tahun 1960an, ia banyak dikritik publik dan banyak ditinggalkan para pengikutnya (para Marhaen/Sukarnois)?

Jika Soeharto adalah presiden Indonesia paling kejam, lalu kenapa di era Reformasi ini sebagian pihak malah merindukan sosok kepemimpinan Soeharto? Kerinduan ini bisa dilihat dari tulisan-tulisan di bak truk yang berbunyi “Pye le, penak jamanku to?”. Juga kerinduan sebagian masyarakat golongan tua yang mengaku atau menyatakan “jaman pak Harto cari kerjaan mudah, tidak seperti sekarang“. Juga adanya kerinduan sebagian kalangan masyarakat yang menginginkan diaktifkannya kembali “Petrus” (Penembakan Misterius) ala Orde Baru. Sebagian masyarakat merasa perlu adanya “Petrus” karena sudah resah terhadap berbagai aksi premanisme, pembegalan, perampokan dan aksi tawuran yang semakin meraja lela.

Dua contoh (Soekarno dan Soeharto) di atas kiranya cukup untuk menegaskan itulah “manusia”. Semuanya memiliki “sisi manusiawi”. Dalam konteks tertentu dan waktu tertentu Soekarno memang tokoh yang berjasa besar bagi Indonesia. Peran kebangsaannya luar biasa. Itu fakta keras yang sulit dibantah. Tetapi di sisi lain dan di waktu yang lain, ia juga memiliki celah kekurangan. Begitu pun Soeharto, seorang pemimpin yang punya kontribusi besar utamanya dalam kontribusi pembangunan. Namun demikian, Soeharto juga memiliki sisi lain (rekam jejak) yang sebaliknya.

Fakta-fakta yang demikian (memiliki sisi hitam putih) sebenarnya bisa kita lacak pada rekam jejak para pemimpin tersohor lainnya, katakanlah seperti Sultan Agung, Panembahan Senopati, Sultan Hasanuddin, Tuanku Imam Bonjol, Gadjah Mada, dan masih banyak lainnya. Di balik rekam jejak mereka yang masyur dan gemilang selama ini, sebenarnya masing-masing dari mereka juga diselimuti sisi-sisi lain yang sebaliknya. Hanya saja rekam jejak tersebut belum banyak diketahui atau tidak populer di masyarakat.

Yang perlu digarisbawahi bahwa setiap manusia biasa (bukan nabi, bukan Tuhan) memiliki hitam dan putih dalam satu diri sekaligus. Setiap diri yang putih pasti memiliki sisi yang hitam. Sebaliknya, setiap diri yang hitam pasti memiliki sisi yang putih. Hanya “kadarnya” saja yang membedakan. Ada yang jejak putihnya lebih menonjol, ada yang jejak hitamnya lebih dominan.

Jika mau jujur, semakin kita belajar sejarah secara objektif, semakin banyak kita temukan sesuatu yang tidak sejalan dengan nafsu kita. Yang awalnya dibuat terkagum-kagum karena banyaknya kelebihan yang kita temukan, ketika semakin didalami, pada akhirnya kita juga akan menemukan banyak celah kekurangan. Begitu pula sebaliknya, yang awalnya kita dibuat benci karena berbagai jejak kejahatan dan keburukan dari sesuatu, pada akhirnya secara perlahan kita juga akan diperlihatkan sisi-sisi lain berupa kelebihan atau kebaikan dari sesuatu tersebut.

Begitulah suratan takdir sejarah. Pada akhirnya dari sejarah kita belajar memuja sepantasnya, membenci secukupnya. Fanatik boleh tetapi harus rasional dan obyektif. Belajar sejarah adalah “seni mengambil hikmah”. Diambil yang baik-baik, dibuang yang buruk-buruk.

Komentar