Oleh: Dadan Adi Kurniawan
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret
Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id
Pendahuluan
Sejak era Orde Baru sampai dengan tahun 2000an, secara umum, Sekolah Dasar (SD) Negeri masih menjadi sekolah favorit di banyak tempat di Indonesia. Antusiasme orang tua menyekolahkan anaknya ke SD Negeri masih begitu besar. Sampai periode ini, bisa dikatakan SD Negeri masih menjadi “primadona”. SD-SD Negeri jarang kesusahan mendapatkan murid di tahun ajaran baru. Tanpa susah payah promosi, SD-SD Negeri akan terisi penuh dengan sendirinya.
Sayangnya roda hidup terus berputar. Perlahan semuanya mulai berubah. Di periode-periode setelahnya, kejayaan SD Negeri mulai redup. Nestapa mulai menghampiri. SD Negeri mulai sepi peminat dan mulai ditinggalkan. Tidak sedikit SD Negeri akhirnya “kembang kempis” kekurangan murid. Jumlah muridnya kian hari kian berkurang. Bahkan dalam satu SD, jumlah muridnya tinggal beberapa puluh saja. Krisis murid ini mulai menyebar dan menjadi fenomena di banyak tempat. Menjadi hantu bagi pengelola SD-SD Negeri bahkan juga SD-SD swasta kecil.
Sekitar satu dekade belakangan ini, banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta, sekalipun bayarnya lebih mahal dan lokasinya lebih jauh dari rumah. Bahkan saking antrinya, beberapa SD swasta tertentu telah menerapkan “sistem inden” yakni daftar jauh-jauh hari untuk memastikan anaknya mendapat kursi di sekolah. Orang tua terpaksa mendaftarkan anaknya beberapa tahun sebelumnya ketika usia anak baru menginjak beberapa tahun. Ini menunjukkan adanya antusiasme masyarakat berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke SD Swasta atau semacamnya. Gejala ini tak hanya terjadi di kota-kota saja tetapi sudah mulai ditemui di wilayah-wilayah semi-kota bahkan desa-desa. Dampaknya pun akhirnya sangat terasa. Tak sedikit SD Negeri akhirnya terpaksa “gulung tikar” disebabkan karena jumlah minimal siswa tak lagi memenuhi syarat.
Pertanyaannya, mengapa bisa demikian? Mengapa banyak orang tua memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta yang jelas-jelas bayarnya lebih mahal? Mengapa mereka rela menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta yang secara jarak lebih jauh dibandingkan SD Negeri di dekat rumah? Mengapa sebagian orang tua rela mendaftarkan sekolah anaknya dengan sistem “inden” jauh-jauh hari?
Berikut adalah analisis awal didasarkan pada data-data wawancara ringan dengan beberapa orang tua, guru, masyarakat sekitar sekolah, berita, dan juga berdasarkan pengamatan penulis dalam beberapa tahun terakhir. Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi pelecut agar ke depannya bisa dilakukan penelitian-penelitian lanjutan yang jauh lebih mendalam.
Mengapa Banyak yang Beralih ke SD Swasta?
Berikut penulis paparkan faktor-faktor penyebab mengapa dalam satu dekade belakangan ini tidak sedikit orang tua lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di SD swasta (ternama). Pada dasarnya faktor-faktor tersebut terbagi menjadi 2 jenis yakni faktor internal dan faktor eksternal. Tiap keluarga memiki pertimbangan masing-masing. Oleh sebab itu tidak semua faktor yang disajikan di bawah ini berlaku bagi setiap orang (keluarga). Sebagian hanya disebabkan karena beberapa faktor tertentu saja. Perlu ditekankan pula bahwa tulisan ini masih “studi awal” (permukaan) sehingga diperlukan studi lanjutan yang lebih serius dan mendalam supaya mendapatkan data dan fakta yang lebih akurat, valid dan spesifik.
1. Jumlah Sekolah
Tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah sekolah swasta kian hari kian membludak, lebih-lebih kota atau di wilayah setengah kota. Membludaknya jumlah sekolah (terutama swasta) merupakan salah satu “faktor signifikan” penyebab mengapa sekolah negeri mulai ditinggalkan. Persaingan menjadi lebih ketat disebabkan karena banyak pilihan sekolah yang tersedia. Jumlah SD swasta terutama jenis-jenis “sekolah terpadu” atau semacamnya seperti SDIT dan lain-lain kini tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Jika dulu jumlah sekolah masih cukup terbatas, kini masyarakat disuguhi banyak pilihan sekolah. Dalam satu wilayah saja bisa tersedia beberapa SD, baik negeri maupun swasta. Tinggal ingin pilih yang dekat, agak dekat atau justru yang jauh. Mau pilih yang gratis, bayar murah, atau bayar mahal.
2. Kurikulum Sekolah
Tidak semua SD swasta bagus. Itulah sebabnya sebagian SD swasta juga ada yang gulung tikar. Rata-rata SD swasta yang laris adalah SD swasta ternama yang memiliki kualitas dan reputasi bagus. Karena reputasinya bagus, biasanya (umumnya) juga berbayar lebih mahal dibanding SD-SD swasta biasa apalagi SD negeri yang kini digratiskan.
Sebagian keluarga nyatanya tidak begitu mempermasalahkan soal biaya pendidikan. Yang utama bagi mereka ialah masa depan anak. Dengan pemikiran seperti itu, kualitas sekolahlah yang menjadi pertimbangan utama. Kualitas sekolah berkaitan dengan manajemen dan kurikulum pendidikan. Kurikulum SD swasta ternama umumnya memiliki kurikulum lebih “komprehensif” dibanding SD-SD negeri pada umumnya (dalam konteks ini tidak dibandingkan dengan SD-SD negeri tertentu yang juga memiliki kualitas bagus). SD-SD swasta ternama (yang laris) biasanya memiliki “kurikulum unggulan” dan berdaya saing nasional bahkan internasional. Kurikulum modern dan berstandar nasional-internasional inilah yang berimplikasi pada kualitas-kualitas turunannya (mulai dari jenis mata pelajaran, ektrakurikuler, sarana dan prasarana, SDM pengajar, model dan metode belajar, konseling, tambahan les, serta berbagai pelayanan unggulan lainnya).
Dengan basis kurikulum terpadu yang lebih komprehensif, murid-murid tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan umum standar. SD-SD swasta ternama juga membekali ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu yang menjadi ciri organisasi/lembaga/yayasan. Ilmu agama atau ilmu-ilmu lain yang di SD negeri statusnya hanya “selingan” (sedikit), di SD-SD swasta ternama ilmu itu “sangat diutamakan” (porsinya besar). Sebagai misal tuntutan hafalan Al Quran, berkomunikasi dengan Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, dan lain-lain. SD-SD swasta juga memberikan pelayanan-pelayanan lain yang jarang ada di SD negeri, semisal outbond, liburan, kunjungan studi yang lebih intens, dan ekstrakurikuler yang lebih beraneka macam. Tuntutan perhatian guru dan wali kelas terhadap setiap anak didik juga lebih besar. Itulah mengapa SD-SD swasta ternama berbayar lebih mahal. Standar tuntutan pelayanannya serba lebih tinggi.
3. Kompetensi Guru dan Ketersediaan Sarana-Prasarana
Dalam konteks SD-SD swasta ternama, perekrutan guru sangat diperhatikan. Mereka menerima guru-guru SD yang memiliki “kapasitas di atas rata-rata”. Di sekolah-sekolah swasta ternama, para guru dituntut dengan “standar yang tinggi”. Mereka tidak bisa mengajar seenaknya dengan cara-cara konvensional melainkan harus mendasarkan pengajaran kreatif, inovatif, melek teknologi, melek sumber-media belajar dan menguasai bahasa-bahasa tertentu yang menjadi standar tiap guru di masing-masing lembaga.
Tuntutan standar yang tinggi tersebut diimbangi dengan kelengkapan sarana dan prasarana sekolah yang jauh lebih mumpuni dibanding SD Negeri pada umumnya. Ruang kelas dibuat lebih nyaman, meja kursi juga lebih bagus, tersedia papan tulis, layar digital, speaker, dan berbagai kelengkapan pembelajaran lainnya. Hal ini berkebalikan dengan sarana prasarana di SD-SD negeri yang umumnya serba terbatas dan cenderung ala kadarnya. Pada intinya, sarana prasanara sekolah di SD-SD swasta ternama (yang laris) umumnya lebih “representatif” untuk menunjang pembelajaran yang lebih optimal. Meskipun guru adalah aktor utama arsitek pembelajaran yang tak tergantikan, tetapi keberadaan sarana dan prasarana yang memadahi juga sangat penting sebagai sebuah kesatuan paket proses pembelajaran.
4. Pengetahuan dan Kesadaran Orang Tua
Kesadaran orang tua merupakan salah satu aspek penting karena merekalah yang sejatinya “memutuskan” si anak akan disekolahkan di mana. Berbeda dengan anak SMP, SMA atau kuliah (mulai memiliki kesadaran untuk memilih sendiri), anak-anak usia masuk SD masihlah belia. Urusan memilih sekolah masih menjadi ruang dominan orang tua atau keluarga. Keputusan memilih sekolah dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan kesadaran orang tua. Pengetahuan dan kesadaran itu bisa dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pengalaman menyekolahkan anak sebelumnya, pengamatan pribadi secara langsung, berita di media sosial, informasi dari selebaran, informasi dari tetangga yang lebih dulu menyekolahkan anaknya, pengaruh dari kajian-kajian keagamaan, pengaruh dari kajian-kajian pendidikan (semisal di youtube), dan lain sebagainya.
Di era modern sekarang ini, orang tua dengan mudah bisa mencari informasi terkait sejauh mana kualitas sekolah-sekolah yang akan dituju. Informasi itu kemudian diselaraskan dengan tingkat kesadaran tentang pentingnya “pendidikan agama” (bekal akhirat), peluang mampu berkompetisi masuk SMP yang diinginkan, jangkauan jarak dari rumah ke sekolah, dan tentunya diselaraskan dengan kemampuan finansial keluarga.
Salah satu alasan yang banyak penulis temukan di lapangan yaitu orang tua menginginkan agar anaknya belajar di sekolah yang tidak hanya mengutamakan ilmu pengetahuan umum saja (Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, dan lain-lain) tetapi juga mengutamakan pendidikan agama. Mereka berharap mampu memberikan bekal pendidikan ruhani (agama) dan umum secara seimbang (Paket Lengkap). Hal ini tidak lain karena jenjang sekolah dasar merupakan salah satu fase penting pembentukan “pondasi anak”. Di fase inilah sebagian orang tua ingin agar pondasi anaknya terbentuk dengan mantab dan seimbang.
5. Manajemen dan Promosi Lebih Gencar
Promosi sekolah juga turut mempengaruhi mengapa SD-SD swasta ternama lebih dilirik. Sekolah-sekolah swasta ternama umumnya melakukan promosi secara lebih gencar dibandingkan sekolah-sekolah negeri. Promosi tidak hanya dilakukan secara langsung tetapi juga lewat selebaran, website, dan media sosial secara teratur. Lewat promosi tersebut, pihak lembaga dan pengelola sekolah menampilkan potret pembelajaran sehari-hari yang menarik dan menyenangkan, sarana-prasarana yang dimiliki, sumber daya manusia yang dipunyai, berbagai perlombaan kejuaraan yang pernah diikuti, dan berbagai prestasi yang pernah diraih. Dampaknya, banyak orang tua (berfikir modern) lebih tertarik menyekolahkan anak-anaknya ke SD swasta ternama.
6. Kesibukan Kerja Orang Tua
Sebagian orang (tidak semua) memiliki “alasan praktis” mengapa mereka menyekolah anaknya di SD swasta. Alasan praktis seperti apa? Yakni faktor kesibukan kerja orang tua. Banyak SD swasta yang mempelopori sekolah full day (murid di sekolah sampai sore). Bagi masyarakat urban terutama bagi orang tua yang kebetulan sama-sama bekerja, menyekolahkan anak di sekolah jenis ini adalah bagian dari solusi. Dengan “menitipkan” anaknya di sekolah sampai sore, orang tua bisa bekerja dengan tenang tanpa kepikiran harus izin dan wira-wiri pulang dulu untuk menjemput anak, atau kepikiran karena terpaksa merepoti anggota keluarga lainnya untuk antar jemput anaknya. Orang tua juga tidak perlu susah payah mencari pembantu untuk mengurusi masalah antar jemput anaknya. Bagi sebagian orang tua yang sama-sama berkarir, keberadaan sekolah swasta full day merupakan sebuah solusi.
7. Angka Kelahiran
Entah seberapa besar pengaruhnya, faktor menurunnya angka kelahiran sedikit banyak juga turut mempengaruhi. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan data yang lebih spesifik tentang hal ini. Zaman dahulu (sebelum dikenal dan ditekankan program Keluarga Berencana/KB = 2 anak cukup), tiap keluarga rata-rata memiliki banyak anak (bisa berjumlah 3-10 anak bahkan lebih). Orang-orang zaman dahulu memiliki keyakinan bahwa “banyak anak banyak rezeki”. Selain itu, zaman dahulu juga belum begitu getol adanya sosialisasi tentang penggunaan alat kontrasepsi.
Kini kesadaran itu telah banyak bergeser. Bagi sebagian kalangan, pandangan itu telah berubah menjadi “banyak anak banyak tanggungan” yang berarti beban tanggung jawabnya semakin besar karena harus menyekolahkan semua anak-anaknya sampai tuntas (perguruan tinggi). Dengan jumlah rata-rata anak tiap keluarga yang tidak sebanyak dulu, tetapi di satu sisi jumlah sekolah justru begitu meningkat, ini jelas menimbulkan kepincangan. Mengapa? Karena jumlah wadahnya semakin banyak tetapi jumlah pengisinya justru semakin sedikit. Dampaknya tiap sekolah harus “berebut murid”. Pada akhirnya ada sekolah-sekolah dengan jumlah murid berlebih, ada yang pas-pasan, dan tidak sedikit yang kekurangan murid. Sekolah-sekolah dengan kemampuan adaptasi yang baik-lah yang akhirnya banyak dipilih dan tetap eksis, bahkan semakin eksis. Kemampuan adaptasi yang bagaimana? Sekolah-sekolah dengan segala terobosan sesuai dengan tuntutan zaman yang kian maju dan modern.
8. Prestise
Faktor ini terbilang tidak umum dan hanya berlaku bagi kalangan-kalangan tertentu saja. Nyatanya, ada segelintir orang tua menyekolahkan anak-anaknya ke SD swasta ternama dipengaruhi oleh “prestise” yakni menjaga wibawa dan reputasi di hadapan para teman-teman sepergaulannya atau di hadapan para tetangga-tetangganya yang rata-rata juga menyekolahkan anak-anaknya di SD swasta ternama. Karena lingkungan pertemanannya rata-rata menyekolahkan anaknya ke SD-SD swasta ternama, sebagian orang juga tidak mau kalah. Keputusan ini juga dipengaruhi agar ia tidak malu/sungkan di hadapan teman-temannya dan supaya dianggap telah memiliki kesadaran yang sama.

