Oleh: Dadan Adi Kurniawan

Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret

Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id



— “Pemikiran mencerminkan seberapa luas dan dalam pandangan seseorang melihat sesuatu, sedangkan Kepribadian mencerminkan seberapa jauh perasaan dan pemikiran mampu tercerna, terendapkan dan terejawantahkan dalam sikap, perilaku, karakter, serta tindakan sehari-hari” —


Pendahuluan

Menelisik akar pemikiran dan kepribadian seseorang sangatlah menarik. “Pemikiran” (thought) mencerminkan seberapa luas dan dalam pandangan seseorang dalam melihat sesuatu. Memperlihatkan seberapa luas wadah dan kekayaan isi [konsepsi dan gagasan] di dalamnya. Adapun “kepribadian” (personality) mencerminkan seberapa jauh perasaan dan pemikiran mampu tercerna, terendapkan dan terejawantahkan dalam sikap, perilaku, karakter, dan tindakan sehari-hari. Menelisik kepribadian berarti menelaah sejauh mana perkawinan antara pemikiran, nilai, dan moralitas pada diri seseorang. Pemikiran lebih berkutat pada dunia ide, gagasan, konsep, dan pandangan yang bersifat abstrak dan imajiner sebagai hasil belajar dan berdialektika seseorang, sedangkan kepribadian cenderung bersifat alam kongkrit (bisa diinderawi) yang termanifestasikan dalam bentuk kebiasaan atau budaya diri sehari-hari yang lebih normatif.

Pemikiran dan kepribadian dari masing-masing orang berbeda-beda. Dari segi kepribadian, ada orang-orang yang bertipikal disiplin, rajin, telaten, tegas, pekerja keras, sabar, jujur, religius, kalem, sopan, santun, lemah lembut, rendah hati, peduli, rapi, dan sejenisnya. Sebaliknya, ada orang-orang berkepribadian mudah marah, galak, kasar, tidak sabaran, mudah mengeluh, pemalas, manja, mencla-mencle, sombong, suka berbohong, tidak disiplin, acuh, dan lain sejenisnya.

Dari segi pemikiran, tipikal orang yang juga berbeda-beda seperti ada yang ke-kiri-kiri-an, ke-kanan-kanan-an, konservatif, moderat, progresif, tradisional, modern, futuristik, konstruktif, destruktif, normal, ekstrem, radikal, fundamentalis, religius, sekuler, individualisme, kolektivisme, optimistis, pesimis, terbuka, tertutup, sempit, luas, dan lain sejenisnya. Dari segi kualitasnya ada pemikiran yang dilabeli jenius, luar biasa, biasa, dan under-medium.

Dalam praktiknya, antara pemikiran dan kepribadian ada yang berjalan selaras, ada yang berjalan kurang selaras, dan ada yang bertolak belakang. Artinya ada sebagian orang yang menunjukkan ketidaksinkronan antara pemikiran (yang digagas, diucapkan atau dituliskan) dan kepribadian (sikap dan perilaku/tindakan). Alam pikir yang abstrak tak selalu berbanding lurus dengan alam praktik. Pemikiran dan kepribadian seseorang juga berubah-ubah (dinamis).

Dalam tulisan ini, kita akan bedah sekilas terkait seperti apa akar terbentuknya pemikiran dan kepribadian seseorang? Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya? Mengapa seiring waktu berjalan, pemikiran dan kepribadian seseorang bisa berubah?


Apa Saja yang Mempengaruhi Terbentuknya Pemikiran dan Kepribadian Seseorang?

Secara sederhana, pemikiran dan kepribadian seseorang dipengaruhi oleh apa saja yang pernah “dilihat” (has been seen), “didengar” (has been heard), “dibaca” (has been read), “dicontoh” (has been imitated), “dialami” (has been experienced), dan “dirasakan” (has been felt). Pemikiran dan kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh faktor agama (religion), keyakinan (belief), latar belakang keluarga (family background), latar belakang pendidikan (education background), sistem nilai (value system), norma (norm) dan budaya (culture).

Semua faktor saling mempengaruhi dalam “kadar” yang berbeda-beda (karena ada yang kuat, cukup kuat, dan ada yang lemah). Dalam prosesnya mereka saling bertarung, berdialektika, dan kemudian saling menyelaraskan (melakukan penyesuaian). Hasilnya, ada faktor-faktor tertentu yang lebih kuat/dominan yang mengalahkan faktor-faktor lainnya. “Faktor dominan” inilah yang pada akhirnya mempengaruhi jalan utama pemikiran dan kepribadian seseorang dalam periode waktu tertentu. Kenapa periode tertentu? Karena di waktu yang berbeda, terdapat faktor lain yang sedang dalam posisi lebih kuat/dominan (bisa saja karena sering ditonton, sering didengar, sering diikuti, sering dialami, dll) sehingga menyebabkan adanya “pergeseran pemikiran dan kepribadian”.

Sebagai analogi, suatu pohon dalam pertumbuhannya akan dipengaruhi oleh banyak hal seperti jenis bibit pohon yang ditanam, jenis tanah tempat ia tumbuh, jenis air yang diserap, jenis pupuk yang digunakan, pola penyiraman, jangka pemupukan, cara penyiangan, ada tidaknya serangan hama, seberapa besar curah hujan, pengaruh iklim, dan lainnya. Dalam satu pohon, pertumbuhan karakternya bisa dibentuk oleh beragam faktor. Namun dari banyaknya faktor tersebut, terdapat faktor tertentu yang lebih dominan.

Siapa yang paling paham faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran dan kepribadian seseorang? Pastinya masing-masing individu yang bersangkutan. Masing-masinglah yang bisa mengetahui dengan presisi apa yang sebenarnya dipikirkan dalam otak dan apa yang dirasakan dalam lubuk hati terdalam. Adapun orang lain hanya mampu menerka-nerka berdasarkan tanda-tanda dan gejala yang ada. Namun demikian, faktor-faktor umum yang mempengaruhi tetap bisa dipelajari dan dipetakan. Berikut beberapa jenis faktor lingkungan yang bisa mempengaruhi tumbuh-terbentuknya pemikiran dan kepribadian seseorang.

1. Lingkungan Keluarga

Pemikiran dan kepribadian seseorang bisa dipengaruhi oleh kondisi dan budaya keluarga di lingkungan rumah seperti sejauh mana didikan orang tua berjalan, wejangan apa saja yang diberikan (baik yang bersifat anjuran-anjuran maupun larangan-larangan), keteladanan seperti apa yang ditumbuhkan di rumah, cukup tidaknya kasih sayang keluarga, longgar tidaknya aturan yang diterapkan di rumah, longgar tidaknya teguran yang diberikan, keterbukaan pendapat atau gagasan, dan baik tidaknya kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Keluarga yang dihuni oleh karakter-karakter keras akan berpeluang besar membentuk karakter anak yang keras. Keluarga pekerja keras berpeluang besar menurunkan karakter anak yang juga pekerja keras. Keluarga yang serba memanjakan anak berpeluang besar menjadikan anaknya kelak berkepribadian manja dan cengeng. Keluarga yang sejak kecil terlalu membebaskan anaknya dalam segala hal berpeluang besar menjadikan si anak tumbuh menjadi pribadi yang sulit diatur. Keluarga yang sejak kecil tidak mendidik sopan santun dan tutur bahasa berpeluang besar menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi yang urakan, ugal-ugalan, tidak tahu tata krama, dan kurang/tidak memiliki etika.

Semua dalam kerangka “kemungkinan besar” tetapi tidak mutlak. Mengapa tidak mutlak? Karena anak kyai tidak menjamin semuanya berakhlak seperti kyai (memunyai ilmu agama yang luas dan bermoralitas tinggi), anak guru tidak menjamin semuanya berakhlak layaknya guru (yang bisa dijadikan panutan), anak preman tidak menjamin jadi preman karena bisa jadi ketika besar justru menjadi orang besar, santun, baik, dan terhormat.

2. Lingkungan Sekolah/Kuliah

Pemikiran dan kepribadian seseorang bisa dipengaruhi oleh kondisi dan budaya sekolah/kampus seperti keteladanan dari kepala sekolah/rektor/dekan/kaprodi. Juga pengaruh atas ajaran dan keteladanan pendidik (guru, dosen), iklim akademik, dan tidak kalah berpengaruhnya ialah iklim pergaulan dengan teman-teman sebaya (circle pertemanan). Jenjang pendidikan tinggi yang sistemnya jauh lebih fleksibel berpeluang besar menjadikan mahasiswa lebih leluasa mengeksplorasi diri, lebih banyak waktu dan jangkauan wilayah bermainnya, semakin luas dan banyak relasi pertemanannya (dari banyak daerah), dan tentunya semakin besar peluang “terkontaminasi” (entah dalam hal positif atau negatif).

Selain faktor di atas, “referensi bacaan” juga memiliki pengaruh terhadap pembentukan pemikiran dan kepribadian peserta didik. Banyak membaca buku sejarah berpeluang menjadi manusia bijak (tidak mengulangi kesalahan masa lalu, menilai sesuatu secara manusiawi/proporsional, dan tidak mudah terprovokasi). Banyak membaca buku-buku beraliran liberal dan radikal (dalam arti negatif) berpeluang besar menjadi pribadi yang memiliki nafsu besar dalam melakukan gerakan radikal. Ini bisa terjadi jika seseorang belum memiliki pondasi yang cukup sehingga acapkali menelan mentah-mentah informasi yang didapatkan. Banyak membaca literasi tentang filsafat berpeluang besar menjadi menusia yang mampu memahami hakikat dan membangun basis argumentasi yang kokoh. Filsafat mengajarkan jati diri dan esensi kehidupan.

Banyak membaca literasi tentang politik akan menjadi manusia yang paham bahwa di dalam politik sejatinya tidak ada kawan dan lawan, yang ada adalah ‘kepentingan’. Kepentingan itu abadi, sedangkan kawan dan lawan itu bisa menyesuaikan. Banyak membaca literasi tentang ilmu pengetahuan dan ilmu agama secara berimbang akan melahirkan pemahaman bahwa keduanya adalah dwitunggal yang tidak bisa dipisahkan. Keimanan yang tidak dibersamai ilmu pengetahuan berpeluang besar melahirkan kekosongan dan fanatisme buta. Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang tidak didampingi keimanan (dan juga adab) berpeluang besar melahirkan kesombongan, kecongkakan, dan kejahatan. Secara umum “referensi bacaan” merupakan salah satu nutrisi penyumbang terbentuknya akar pemikiran dan kepribadian manusia.

Dengan demikian, jenjang kuliah berpeluang besar dalam membentuk “pemikiran kritis” mahasiswa. Kekritisan tersebut merupakan hasil pengendapan dari berbagai ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari para dosen, kakak tingkat, teman sejawat, adik tingkat, rekan organisasi, kompetisi, kegiatan dan berbagai sumber referensi bacaan yang pernah dilahap. Kuliah berpeluang besar menjadi fase “berkembangbiaknya” ide, gagasan, dan perspektif baru. Pergumulan mereka terbuka lebar di tahap ini (meskipun tidak menjamin semuanya, karena sebagian tidak memanfaatkan dengan baik saat kuliah).

3. Lingkungan Masyarakat Sekitar

Pemikiran dan kepribadian seseorang bisa dipengaruhi oleh kondisi dan budaya kolektif lingkungan masyarakat tempat tinggal. Dalam suatu masyarakat terdapat norma-norma dan nilai-nilai, adat dan tradisi, para tokoh lokal yang berpengaruh. Tidak hanya itu, lingkungan pergaulan teman-teman sebaya di masyarakat sekitar juga memiliki peluang besar dalam mempengaruhi pemikiran dan kepribadian seseorang, apalagi jika sering berinteraksi. Biasanya sesama warga kampung kerap ngumpul bersama, nongkrong bersama, dan mengadakan kegiatan bersama. Selain dipengaruhi budaya rumah, orang juga bisa dipengaruhi budaya masyarakat sekitar.

4. Lingkungan Pertemanan di Luar Sekolah dan Luar Masyarakat

Pemikiran dan kepribadian seseorang bisa dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pertemanan di luar sekolah dan di luar lingkungan masyarakat tempat tinggal. Ikatan pertemanan tersebut bisa terajut di sekolah yang kemudian di bawa ke luar sekolah. Bisa juga karena berkenalan di media sosial atau lainnya. Pertemanan tersebut kemudian diwujudkan melalui nongkrong bersama, ngobrol bersama, atau main bersama. Circle pertemanan (teman dekat) sering kali membawa pengaruh besar terhadap perubahan pemikiran dan kepribadian seseorang.

5. Lingkungan Komunitas/Organisasi

Pemikiran dan kepribadian seseorang bisa dipengaruhi oleh kondisi dan budaya di lingkungan komunitas/organisasi. Contoh-contoh komunitas seperti komunitas keagamaan (kelompok belajar agama/pengajian), komunitas pecinta sejarah, komunitas baca, komunitas pecinta sepeda ontel, komunitas olahragawan, komunitas pelaku bisnis, dan berbagai komunitas lainnya. Contoh organisasi misalnya organisasi sosial masyarakat (ormas) dan organisasi/partai politik (orpol/parpol). Setiap organisasi atau partai memiliki visi, misi dan tujuan. Ketiganya mencerminkan garis pemikiran dari organisasi/partai tersebut. Pemikiran dan kepribadian seseorang juga bisa terpengaruh oleh garis visi misi dan tujuan komunitas/organisasi.

6. Lingkungan Kerja

Pemikiran dan kepribadian seseorang juga bisa dipengaruhi atmosfer budaya di lingkungan tempat bekerja seperti budaya kedisiplinan, tanggung jawab, kecakapan, keterbukaan, kejujuran, kepedulian, sistem hukuman, dan lainnya. Tempat kerja yang menuntut pegawainya masuk pagi berpeluang besar membuat seseorang memiliki kebiasaan bangun pagi (meskipun bangun pagi bisa dipengaruhi banyak faktor lainnya). Tempat kerja yang masuknya cenderung bebas berpeluang besar melahirkan kepribadian yang kurang disiplin bagi pegawainya. Lingkungan kerja yang toxic berpeluang besar meracuni kepribadian pegawai di sekitarnya. Budaya kerja yang dipenuhi praktik korupsi berpeluang besar menjangkiti anggota pegawai lainnya.

7. Lingkungan Maya

Selain enam lingkungan nyata di atas, pemikiran dan kepribadian seseorang juga bisa dipengaruhi seberapa jauh bercengkrama dengan sosial media [instagram, facebook, twitter/X, whatsapp, dll] dan media informasi online lainnya (berita web, koran online, youtube, dll). Dunia maya sejatinya juga bagian dari lingkungan tempat tinggal, tempat di mana manusia beraktivitas sehari-hari dan mengabiskan waktu berjam-jam. Lingkungan maya turut mempengaruhi pemikiran dan kepribadian seseorang. Ini berkaitan erat dengan apa saja yang sering dibaca, ditonton, didengar dan dirasakan dari dunia maya tersebut.

Dewasa ini setiap orang bisa menonton dan mendengarkan apa saja dari HP atau laptop masing-masing, semisal tentang ceramah tokoh agama, ceramah dosen, ceramah guru, berita lokal, berita nasional, berita internasional, berita politikus, podcast artis, dunia musik, dunia film, acara tukang masak, berita olahraga, dunia industri, dunia pendidikan, dunia kebudayaan, dan seambreg hal yang bisa ditonton secara leluasa, bahkan sambil rebahan sekalipun. Sosial media dan media online lainnya telah menawarkan segudang informasi setiap detik, setiap waktu. Dari sinilah tidak sedikit orang akhirnya kecanduan berat bahkan mengalami gangguan psikis. Ia tidak mampu memanajemen diri dalam menyeimbangkan aktivitas di dunia nyata dan aktivitas di dunia maya.

Benarkah Pendidik Bertanggung Jawab Penuh Terhadap Keberhasilan [Kepribadian dan Prestasi] Peserta Didik?

Dalam konteks kasus pendidikan, ada sesuatu yang agak menggelitik. Pendidik (guru dan dosen) sering kali dipersalahkan karena dianggap gagal dalam mendidik peserta didik (siswa maupun mahasiswa). Tidak sedikit orang tua menyalahkan pendidik karena anaknya nakal dan tidak beprestasi di sekolah. Pertanyaannya, apakah pendidik merupakan “penanggung jawab tunggal” atas terbentuknya kepribadian dan tercapainya prestasi peserta didik?

Pertanyaan ini terbilang konyol (meski tetap ada sisi baiknya – dibahas di belakang). Konyolnya di mana? Sangat mudah dijawab. Bukankah peserta didik tidak 24 jam di sekolah/kampus bersama guru/dosen? Berapa jam rata-rata peserta didik berada di sekolah/kampus per minggunya? Dari jumlah itu, berapa jam rata-rata peserta didik benar-benar bersama guru atau dosen di dalam kelas/di sekolah/di kampus? Berapa jam rata-rata peserta didik menghabiskan waktu di luar kelas (tidak bersama guru/dosen)? Berinteraksi, bergaul dan bergumul dengan siapa saja mereka selama di luar kelas/di luar sekolah? Bukankah mereja juga banyak menghabiskan waktu bersama teman sekolahnya, teman nongkrongnya, teman kampungnya, teman komunitasnya, teman organisasinya, bersama keluarganya, buku-buku bacaannya, dan tentunya banyak menghabiskan waktu bersama handphone-nya? Apakah semua yang di luar pendidik (guru/dosen) tersebut dianggap benda mati yang tak memiliki pengaruh? Justru di luar kelas itulah mereka banyak dihantam pengaruh eksternal (di luar kapasitas dan kontrol pendidik).

Ketika di sekolah/dikampus, pendidik dengan susah payah mendidik mereka, tetapi ketika pulang ke rumah, tidak sedikit dari peserta didik yang justru dihantam oleh “budaya keluarga” yang sifatnya merusak. Keluarga bersikap masa bodoh, tidak pernah menegur anaknya yang klayapan ke mana-mana, orang tua sering cekcok, ayah dan ibu saling menyalahkan, orang tua sibuk dengan gawainya masing-masing, orang tua masa bodoh anaknya belajar atau tidak, dan tidak sedikit orang tua yang hanya mampu menuntut tanpa mampu menciptakan suasana keluarga yang kondusif untuk belajar si anak. Ketika di sekolah/kampus, susah payah diajarkan kemandirian, ternyata di rumah sangat dimanja orang tuanya, apapun yang diminta langsung dibelikan. Fakta seperti ini menunjukkan ketidaksinkronan antara spirit pendidikan di sekolah dan di keluarga. Padahal “Tri Pusat Pendidikan” itu meliputi Pendidikan Sekolah, Pendidikan Keluarga, dan Pendidikan Masyarakat. Ketiganya mesti berjalan selaras dan seirama, bukan saling bertabrakan. Jika saling bertabrakan, maka yang dominan akan melumpuhkan yang non-dominan.

Ketika di sekolah/kampus, pendidik dengan susah payah mendidik, ternyata ketika di luar, mereka (peserta didik) dihantam oleh pergaulan bebas. Anak-anak SD, SMP, SMA/SMK, dan Kuliah sering nongkrong larut malam, menjadi ahlul hisab (mahir merokok), pakar misuh (berkata kotor), minta sepeda motor ini itu, minta dibelikan handphone mahal, berbohong demi bisa membeli makeup (berdandan), berbohong demi beli pulsa untuk sosmed-an, dan berbagai permintaan tak pantas lainnya, padahal semuanya masih minta duit orang tua. Gara-gara salah pergaulan, tidak sedikit anak mulai berani membentak-bentak orang tuanya dan ngeyel jika dinasehati. Salah pergaulan kerapkali membutakan pikir dan rasa. Nasehat baik sering mental tak berguna. Faktanya, lingkungan pergaulan telah banyak “merongrong pondasi” yang coba dibangun di lingkungan sekolah/kampus.

Dalam konteks yang lain, peserta didik yang susah payah dididik di sekolah/kampus juga kadang dirusak oleh pihak-pihak yang kurang mampu memberikan keteladanan di masyarakat. Sebagai contoh misalnya adanya majelis yang kurang edukatif. Pengisi kajian dengan santai rokok’an klepas-klepus di depan padahal ditonton oleh ribuan jamaah yang hadir dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak sekolah (di bawah umur). Bukankan mereka (katanya) panutan? Mengapa tidak ditahan dulu selama kajian berlangsung?

Namun demikian, pertanyaan yang terbilang konyol di atas tetap ada sisi baiknya utamanya bagi para pendidik dan pihak pengelola lembaga pendidikan. Apa sisi baiknya? Sebagai alarm atau pengingat agar pendidik dan lembaga selalu berusaha memberikan kualitas pelayanan terbaik bagi peserta didik, sekalipun di sisi yang lain sistem itu juga dihantam oleh lingkungan-lingkungan yang merusak. Memangnya ada pendidik yang tidak baik? Tentu ada. Dalam momen-momen tertentu dijumpai sebagian pendidik memberikan contoh kurang baik bahkan tidak baik. Sebagai contoh misalanya joget-joget tidak jelas di media sosial padahal masih memakai seragam lembaga, sering menggunakan kata-kata gaul (padahal sebenarnya kata-kata kotor/tidak edukatif), mengenakan pakaian kurang sopan (tidak sesuai aturan yang telah ditetapkan), mengajak siswa rokok’an di kantin, mudah tersinggung dan ngambekan, sering marah-marah tidak jelas, korupsi waktu mengajar, pilih kasih, dan lainnya.


Apakah Setiap Orang Sadar Akan Asal-Usul Pemikiran dan Kepribadiannya?

Pengaruh dari berbagai lingkungan tersebut bisa dirasakan secara sadar maupun tidak sadar. Yang tahu benar terpengaruh/terinspirasi oleh apa, siapa, kapan, di mana, dan dalam momentum apa, pastinya masing-masing yang bersangkutan. Dikatakan terpengaruh secara sadar jika seseorang dengan akalnya mengetahui, merasakan, dan meniatkan diri untuk menyerap atau mereaksi berbagai hal yang diterimanya. Terpengaruh tanpa sadar jika seseorang tanpa niat disengaja tetapi terjadi adanya adopsi/reaksi terhadap berbagai hal yang diterimanya.

Jika ditanya, mungkin sebagian orang mampu menjelaskan sanad (jalur asal-usul) atas pemikiran dan kepriadiannya. Namun ada pula sebagian orang yang mungkin kesulitan mengidentifikasi diri, dari mana saja pengaruh yang membentuk pemikiran dan kepribadiannya. Terdapat pemikiran dan kepribadian yang sifatnya “terinspirasi” sehingga berkeinginan untuk mengadopsi, meniru atau memodifikasi. Namun ada pula sebaliknya yakni pemikiran dan kepribadian yang dihasilkan sebagai respon “penolakan atau ketidaksetujuan” terhadap sesuatu. Selain dua hal di atas (yang sifatnya bisa memilih), pemikiran dan kepribadian seseorang juga bisa dipengaruhi oleh faktor “keterpaksaan” atas suatu keadaan. Dengan kata lain menyerah karena tidak ada pilihan.


Apakah Pemikiran dan Kepribadian Seseorang Itu Bersifat Statis?

Tidak! Justru bersifat “dinamis” (bisa berubah dari waktu ke waktu). Manusia ditakdirkan memiliki fase-fase dalam hidupnya. Dalam dunia tak heran jika pendidikan dibagi ke dalam beberapa jenjang. Jenjang ini secara tidak langsung menunjukkan adanya fase. Ada PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Setiap jenjang memiliki tuntutan yang berbeda (dari ringan ke berat). Untuk itulah tercipta pula taksonomi bloom.

Pemikiran dan kepribadian seseorang antara saat SD dan SMP kemungkinan besar tidak sama. Saat menjadi anak SMA kemungkinan ada perubahan. Ketika telah kuliah juga kemungkinan ada perubahan lagi. Saat kuliah pun antara semester awal, tengah, dan akhir juga mengalami perubahan. Ada potensi ketika awal masih kalem, masih mudah diatur, kemudian mulai vokal, mulai sulit diatur, mulai keluar jiwa memberontak/bebasnya, mulai terbentuk cara berargumentasi secara rapi, mulai dewasa, mulai mapan psikologisnya, kemudian mulai kalem kembali, dan seterusnya. Ketika sudah lulus kuliah dan dihadapkan pada dunia nyata sesungguhnya, juga berpeluang terjadi perubahan pemikiran dan kepribadian. Perubahan masih bisa terjadi antara sebelum bekerja dan ketika sudah mendapatkan pekerjaan.

Perubahan pemikiran dan kepribadian juga sering terjadi disebabkan karena adanya “peristiwa tertentu” yang memberi kesan mendalam (entah kesan baik, kesan bahagia, kesan sedih, atau kesan buruk). Peristiwa tersebutlah yang kemudian menjadi “titik balik” untuk bangkit, atau sebaliknya, menjadi “titik mundur” dari diri seseorang. Sebagai contoh misalnya, Si A berubah drastis sejak ibunya meninggal. Ia menjadi pribadi yang lebih relijius. Contoh berikutnya, sejak keluar dari penjara, Si B berubah menjadi manusia yang lebih hati-hati dalam bermasyarakat. Si C menjadi penyendiri sejak putus cinta dengan pacarnya. Si D menjadi pribadi yang rajin menulis sejak tulisannya dimuat di jurnal bereputasi. Sejak memiliki banyak teman baru dari lintas agama, Si E menjadi manusia yang lebih pluralis (toleran). Sejak mengidolakan Lionel Messi, si F selalu meniru segala teknik sepak bola yang pernah digunakan Messi di lapangan. Semenjak gabung circle baru, si G jadi sering berdandan. Ia tidak mau ketinggalan tampil keren dan stylish dibanding teman-temannya. Contoh terakhir misalnya, semenjak pertengkaran di kampus minggu lalu, si H lebih berhati-hati dalam setiap bertutur kata dan membuat status di sosial media. Ia lebih memilih menjaga jarak agar tidak terjadi lagi pertengkaran jilid II.

Dapat disimpulkan bahwa pemikiran dan kepribadian seseorang bisa berubah-ubah tergantung usia, pendidikan, pemahaman, pengalaman, dan keadaan. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu bersifat drastis (180 derajat). Terkadang hanya mengalami sedikit perubahan dalam cara pandang melihat suatu hal tertentu. Tidak semua pemikiran dan kepribadian gampang berubah secara total. Terkadang ada pemikiran-pemikiran dan kepribadian yang terus dipertahankan karena hal yang “prinsipil” (mendasar).


Terbentuknya Berbagai Irisan Pemikiran dan Kepribadian

Alam pikir dan alam kepribadian manusia terdiri dari banyak irisan (lini/aspek/bidang). Ibarat dibedah, isi kepala manusia terdiri dari banyak teropong. Teropong 1 untuk memandang persoalan politik. Teropong 2 untuk memandang persoalan agama. Teropong 3 untuk memandang persoalan ekonomi. Teropong 4 untuk memandang persoalan kebudayaan. Teropong 5 untuk memandang dunia percintaan. Dan puluhan teropong lainnya untuk melihat masing-masing irisan lini kehidupan.

Masing-masing irisan atau lini bidang kehidupan seseorang kemungkinan besar mendapat pengaruh dari faktor keadaan, pengalaman dan tokoh yang berbeda. Dalam bidang politik misalnya, pemikiran seseorang bisa saja dipengaruhi oleh beberapa pandangan politikus tertentu. Dalam bidang agama, pemikiran dan kepribadian seseorang bisa saja dipengaruhi beberapa tokoh seperti ustad, kyai, syeikh, pendeta, biksu, biarawan, ataupun tokoh-tokoh agamis masa lampu yang inspiratif. Bisa pula dipengaruhi oleh komunitas atau kelompok kajian yang diikutinya. Ada yang selektif (pandai memilah mana yang cocok, mana yang kurang cocok, dan mana yang sangat tidak cocok), ada yang asal contoh (semua masuk), ada yang gampang alergi (sulit menemukan kecocokan). Pun dalam konteks hobi (kesukaan), seseorang juga bisa dipengaruhi oleh tokoh-tokoh inspiratif di bidangnya yang sering ditonton dan diikuti, seperti hobi di bidang kesenian, olahraga, otomotif, kesehatan, masak, pertanian, dan lain-lain.

Mudah tidaknya menerima cara pandang baru di masing-masing bidang tergantung intensitas, interest, kecocokan akal dan perasaan dari masing-masing individu terhadap segala hal yang ditonton, didengar, dibaca, dialami, dan dirasakan. Terkadang akal logika digunakan. Terkadang akal logika terkubur (tidak berfungsi dengan baik). Sifatnya perubahannya sangat temporer (bisa berubah-ubah, berlaku untuk kurun waktu tertentu saja). Tahun ini sering menonton kajian si A maka kemungkinan besar akan menjadi “A-sentris”. Tahun berikutnya sering nonton kajiannya si B maka kemungkinan besar akan menjadi “B-sentris”, dan seterusnya. Seseorang yang hanya mengikuti kajian atau tokoh dalam lingkungan yang terbatas [eksklusif], punya peluang berfikiran sempit dan fanatik. Tidak mampu memahami pandangan dan betapa beragamnya dunia luar yang amat luas ini.

Terkadang pemikiran cepat berubah (goyah), tetapi terkadang pula suatu pemikiran bisa bertahan lama bahkan tidak pernah berubah. Pemikiran akan suatu hal yang kemudian begitu “mapan” (sulit tergoyahkan) disebabkan karena suatu keyakinan yang mendalam sehingga melahirkan prinsip yang amat kuat pada diri seseorang. Sekalipun ia sering berinteraksi, bergaul, nongkrong dengan teman-temannya, tetapi ia tetap menjaga keyakinan dan prinsip tersebut. Pertemanannya semata-mata hanya untuk saling menghargai dan menyambung tali persaudaraan.


Terdapat Faktor-Faktor Dominan

Terbentuknya pemikiran dan kepribadian seseorang (biasanya dalam kurun waktu tertentu) dipengaruhi oleh faktor dominan dan faktor non-dominan. Faktor dominan adalah faktor yang paling menentukan, sedangkan faktor non-dominan adalah faktor pelengkap yang turut mendorong, tetapi bukan yang menentukan.

Sebagai contoh misalnya, si A yang sedang kuliah semester 5 belakangan ini sering nongkrong dengan beberapa rekan baru yang notabene memiliki pemikiran liar dan radikal. Belakangan ini, si A lebih sering menghabiskan diskusi dengan teman-teman barunya tersebut dibanding teman-teman lamanya. Dampaknya, si A yang sebelumnya dikenal pendiam dan kalem akhirnya menjadi pribadi yang liar serta radikal. Si A menjadi pribadi yang lebih mudah memberontak dan sulit diatur. Dari sini bisa dilihat bahwa meskipun dalam kesehariannya ia juga berinteraksi dengan keluarga, tetangga, dosen, dan teman-teman kuliah lainnya, tetapi pemikiran dan kepribadian si A lebih dominan dipengaruhi oleh beberapa rekan barunya tersebut (sekalipun rekan barunya tersebut bisa jadi tidak ada maksud untuk mempengaruhinya). Dalam konteks ini, lingkungan pertemanan (teman baru) merupakan faktor dominan atas terbentuknya pemikiran dan kepribadian si A. Faktor non-dominannya adalah kurangnya pengawasan dari orang tua, teman, dan dosen.

Sebagai contoh lainnya misalnya, semenjak kuliah si B mulai rajin mengunjungi perpustakaan. Ia mulai banyak membaca buku-buku sejarah dan filsafat. Hampir setiap minggu ia melahap 3-4 buku baru di dua bidang tersebut. Semenjak itulah si B yang sebelumnya berfikiran sempit dan suka menghakimi pendapat orang lain akhirnya mulai berubah menjadi lebih dewasa (bijak), mulai berfikir luas, dan tidak mudah menyalahkan pendapat orang lain. Ia yang awalnya selalu merasa paling benar, secara perlahan mulai menjadi pribadi yang rendah hati. Bacaan yang luas tentang sejarah dan filsafat telah memberikan efek dominan terhadap perubahan cara pandang si B dalam menilai sesuatu.

Contoh berikutnya misalnya, si C terkenal sebagai anak yang disiplin, rajin, dan pintar. Ia langganan ranking 3 besar sejak SD sampai SMA. Ketika kuliah, kepribadiannya menjadi sebaliknya (tidak tertata). Selain karena belakangan keluarganya kurang harmonis, ia juga terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang salah. Sejak kuliah, si C menjadi pribadi yang keras kepala, susah diatur, sering bolos, dan sering pulang malam dengan berbagai alasan. Prestasi akademiknya pun turun drastis. Orang tua tidak menggubris kondisi itu. Dalam konteks ini terdapat 2 faktor dominan. Pertama, kondisi keluarga yang sedang memburuk menjadikan orang tua jarang mengawasi dan menegur pergaulan anak. Kedua, lingkungan pertemanan yang tidak tepat berdampak pada terbawanya si C ke dalam arus negatif. Dari sinilah diketahui bahwa faktor lingkungan (keluarga dan pertemanan) berpengaruh signifikan terhadap perubahan pemikiran dan kepribadian si C (entah dirinya sendiri telah menyadarinya atau tidak).

Komentar