Oleh: Anditya Wiganingrum, S.Pd., M.Pd.
Guru Sejarah SMK Negeri 1 Kismantoro, Wonogiri
Alumni Prodi Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2009
Email: anditya9118@gmail.com
Pendahuluan
Pembelajaran sejarah memegang peranan krusial dalam membentuk kesadaran identitas dan wawasan kebangsaan. Namun, pada jenjang pendidikan vokasi di Indonesia, pembelajaran sejarah sering kali dihadapkan pada tantangan signifikan. Kurikulum yang ada saat ini cenderung berfokus pada pendekatan naratif-kronologis yang menuntut hafalan fakta dan tanggal, tanpa memberikan ruang yang memadai bagi peserta didik untuk mengembangkan pemahaman yang kritis dan kontekstual. Akibatnya, sejarah sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang statis, tidak relevan, dan membosankan, yang berujung pada rendahnya minat dan motivasi belajar peserta didik. Sejalan dengan pernyataan Firmansyah (2024, hlm. 7704) yang mengemukakan bahwa pembelajaran sejarah yang konvensional seringkali terasa monoton dan kurang menarik bagi peserta didik, sehingga mereka sulit mengembangkan kemampuan berpikir historis dan memahami makna di balik peristiwa-peristiwa penting.
Dalam konteks globalisasi dan transformasi digital, lanskap informasi telah berubah secara fundamental. Generasi Z yang mendominasi populasi pelajar saat ini adalah digital native yang memiliki preferensi kuat terhadap media visual dan interaktif. Namun, potensi ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam kurikulum sejarah. Kesenjangan antara cara peserta didik berinteraksi dengan informasi di luar kelas dan metode pengajaran di dalam kelas menjadi semakin lebar. Menurut Anis, dkk. (2022, hlm. 35) bahwa Generasi Z yang terbiasa dengan teknologi digital membutuhkan metode pengajaran yang inovatif, salah satunya melalui pendekatan digital history, untuk menjembatani kesenjangan antara cara mereka belajar dan cara kurikulum diajarkan. Jika kondisi ini dibiarkan, kita tidak hanya akan gagal menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah, tetapi juga kehilangan kesempatan emas untuk membekali peserta didik dengan keterampilan esensial abad ke-21, seperti literasi digital, berpikir kritis, dan kreativitas, yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja modern.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, inovasi dalam metode pembelajaran sejarah menjadi suatu keniscayaan. Pembelajaran Digital History menawarkan solusi yang relevan dan transformatif. Pendekatan ini melampaui digitalisasi buku teks semata tetapi juga memberdayakan peserta didik untuk menjadi produsen dan peneliti sejarah aktif. Utami (2020, hlm. 52) menyatakan bahwa pemanfaatan digital history dapat mengubah paradigma pembelajaran sejarah, dari yang semula berpusat pada guru menjadi berpusat pada peserta didik. Ini mendorong peserta didik menjadi peneliti aktif, bukan sekadar penerima informasi. Peserta didik didorong menggunakan perangkat dan platform digital sebagai alat untuk melakukan investigasi, menganalisis sumber primer, dan menyajikan kembali temuan mereka dalam format yang inovatif. Dengan demikian, sejarah tidak lagi menjadi subjek yang pasif, melainkan sebuah proses investigasi yang dinamis dan personal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan pendekatan Digital History di sekolah vokasi melalui serangkaian proyek yang terintegrasi langsung dengan kompetensi kejuruan peserta didik. Proyek-proyek tersebut meliputi kunjungan Virtual Tour Museum, Penelitian Sejarah Lokal yang hasilnya disajikan dalam bentuk infografis atau podcast, serta kompilasi Portofolio Digital yang berfungsi sebagai bukti konkret atas kompetensi yang dimiliki. Nurbani & Permana (2020, hlm. 327) menjelaskan bahwa e-portofolio berfungsi sebagai bukti kompetensi dan keterampilan peserta didik, yang tidak hanya meningkatkan nilai jual mereka di dunia kerja, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir kritis dan literasi digital. Dengan pendekatan ini, pembelajaran sejarah tidak hanya akan meningkatkan pemahaman kognitif peserta didik, tetapi juga menjadi investasi strategis untuk membekali mereka dengan keterampilan literasi digital, berpikir kritis, dan kreativitas yang esensial di pasar kerja modern. Lebih jauh lagi, proyek ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran identitas dan rasa bangga peserta didik terhadap sejarah lokal mereka, memberdayakan mereka untuk menjadi agen perubahan di komunitasnya.
Hasil Penelitian
Penelitian ini mengimplementasikan proyek pembelajaran “Digital History” yang dirancang sebagai unit pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Proyek ini bertujuan untuk mengintegrasikan mata pelajaran sejarah dengan kompetensi kejuruan peserta didik di SMK Negeri 1 Kismantoro, Kabupaten Wonogiri. Guru sejarah berperan sebagai fasilitator, sementara peserta didik bekerja dalam kelompok, mengaplikasikan keterampilan mereka untuk menggali dan menyajikan kembali sejarah lokal. Berikut adalah gambaran proyek pembelajaran “Digital History” yang dilaksanakan.
1. Proyek Virtual Tour Museum (Jurusan TJKT)
Peserta didik Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) diarahkan untuk menganalisis tur virtual Kawasan Gunung Sewu, Museum Kars Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Wonogiri. Kegiatan utama proyek ini mencakup eksplorasi virtual tour untuk mengidentifikasi fitur interaktif dan informasi penting, diikuti dengan analisis teknologi di baliknya. Peserta didik mempelajari cara kerja fitur seperti hotspot dan narasi audio, serta mengidentifikasi potensi pengembangannya. Hasil akhir proyek ini adalah sebuah laporan atau presentasi digital yang berisi analisis teknis dan rekomendasi untuk perbaikan virtual tour tersebut.
2. Proyek Penelitian Sejarah Lokal (Jurusan TPFL & TO)
Peserta didik dari jurusan ini didorong untuk menjadi sejarawan mikro dengan fokus pada sejarah yang relevan dengan kompetensi kejuruan mereka di lingkup Kabupaten Wonogiri.
a. Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam (TPFL)
Peserta didik meneliti sejarah kerajinan atau teknologi berbahan logam di Wonogiri, seperti alat-alat pertanian tradisional atau senjata kuno. Produk akhirnya berupa portofolio digital yang mendokumentasikan riset peserta didik dan miniatur artefak sejarah yang dibuat menggunakan keterampilan pengelasan.
b. Teknik Otomotif (TO)
Peserta didik meneliti sejarah perkembangan transportasi dan otomotif di Wonogiri, seperti masuknya kendaraan bermotor pertama kali. Hasilnya adalah serangkaian podcast sejarah untuk melatih keterampilan bercerita digital dan infografis interaktif yang menampilkan garis waktu perkembangan transportasi.
3. Portofolio Digital
Sebagai komponen wajib, setiap kelompok mengkompilasi semua hasil karya (penelitian, produk digital, catatan riset, dll.) ke dalam sebuah portofolio digital. Portofolio ini berfungsi sebagai bukti konkret dari proses belajar dan keterampilan yang dikuasai, serta menjadi alat personal branding saat memasuki dunia kerja atau melanjutkan studi.
Berdasarkan pelaksanaan proyek tersebut, analisis data kualitatif menemukan beberapa tema utama yang menggambarkan efektivitas dan tantangan dalam implementasi pembelajaran Digital History.
1. Peningkatan Minat dan Motivasi Belajar yang Signifikan
Hasil wawancara menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam persepsi peserta didik terhadap mata pelajaran sejarah. Sebelum proyek, sejarah sering dianggap sebagai subjek yang membosankan dan berorientasi hafalan. Namun, metode Digital History mengubah pandangan tersebut. Mayoritas peserta didik melaporkan bahwa proyek ini membuat sejarah terasa lebih interaktif, hidup, dan relevan dengan kehidupan mereka.
Salah satu peserta didik mengungkapkan bahwa “Sejarah tidak lagi hanya tentang menghafal nama dan tanggal di buku, tapi membuat sesuatu yang nyata. Kami merasa seperti detektif yang mencari tahu cerita di balik benda-benda lama.” Observasi di kelas juga mendukung temuan ini, dengan peserta didik menunjukkan tingkat keterlibatan yang jauh lebih tinggi dalam diskusi dan pengerjaan tugas kelompok.
2. Pengembangan Keterampilan Literasi Digital dan Berpikir Kritis
Analisis terhadap produk-produk digital peserta didik, seperti portofolio digital, infografis, dan podcast, menunjukkan peningkatan nyata dalam kemampuan mereka. Peserta didik tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga berpikir kritis dalam memilih dan menyajikan informasi. Mereka mampu menyusun narasi sejarah yang kompleks ke dalam format visual yang menarik dan mudah dipahami. Contohnya, infografis tentang sejarah lokal tidak hanya menampilkan fakta, tetapi juga alur waktu yang visual, foto-foto arsip, dan tautan ke sumber-sumber digital. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah beralih dari sekadar konsumen informasi menjadi produsen konten yang efektif.
3. Integrasi Kompetensi Kejuruan dengan Pembelajaran Sejarah
Salah satu temuan paling penting adalah berhasilnya integrasi antara pembelajaran sejarah dan kompetensi kejuruan. Peserta didik Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam (TPFL) menggunakan keterampilan mereka untuk membuat model miniatur artefak bersejarah dari logam. Peserta didik Teknik Otomotif (TO) meneliti dan mempresentasikan sejarah perkembangan mesin otomotif. Sementara itu, peserta didik TJKT memanfaatkan keahlian mereka dalam menganalisis virtual tour museum, mengidentifikasi fitur teknisnya, dan merekomendasikan pengembangannya di masa depan. Kolaborasi lintas jurusan ini memperkuat pemahaman bahwa sejarah dapat diterapkan secara praktis di berbagai bidang keahlian.
4. Tantangan Implementasi yang Perlu Diatasi
Meskipun berhasil, implementasi ini tidak lepas dari tantangan. Sebagian besar peserta didik dan guru menghadapi kendala teknis, terutama terkait keterbatasan perangkat dan koneksi internet yang tidak stabil di lingkungan sekolah pedesaan. Beberapa guru juga mengungkapkan kesulitan awal dalam menyesuaikan metode pengajaran dari yang konvensional ke digital, yang memerlukan pelatihan dan adaptasi lebih lanjut.
Pembahasan
Temuan-temuan yang disajikan dalam hasil penelitian ini secara kuat mendukung argumen yang diajukan di bagian pendahuluan, yaitu bahwa pembelajaran Digital History merupakan solusi efektif dan relevan untuk mengatasi tantangan dalam pendidikan sejarah di sekolah vokasi. Pembahasan ini akan mengaitkan temuan empiris dengan kerangka teoretis dan penelitian terdahulu, serta menguraikan implikasi praktisnya.
1. Relevansi dengan Teori dan Penelitian Terdahulu
Peningkatan minat dan motivasi belajar yang ditemukan secara konsisten mendukung argumen Firmansyah (2024, hlm. 7708), yang menggarisbawahi peran penting teknologi dalam menciptakan pembelajaran yang menarik. Metode konvensional yang berfokus pada hafalan terbukti tidak efektif bagi Generasi Z. Proyek yang memanfaatkan media visual dan interaktif mampu mengubah persepsi mereka terhadap sejarah dari yang statis menjadi dinamis.
Perubahan paradigma ini juga sejalan dengan pandangan Utami (2020, hlm. 52), yang menjelaskan bahwa pemanfaatan digital history dapat mengubah peran peserta didik dari penerima pasif menjadi peneliti dan produsen pengetahuan aktif. Keterlibatan langsung peserta didik dalam menganalisis virtual tour atau meneliti sejarah lokal membuat mereka merasa memiliki kontrol dan relevansi atas materi yang dipelajari. Temuan ini lebih lanjut mengonfirmasi bahwa pendekatan digital efektif menjembatani kesenjangan antara kurikulum yang ada dan preferensi belajar Generasi Z, seperti yang ditekankan oleh Anis, dkk. (2022, hlm. 35). Dengan mengadopsi pendekatan ini, sekolah dapat membuat sejarah terasa relevan, bahkan untuk peserta didik yang fokus pada kejuruan teknis.
2. Kontribusi terhadap Keterampilan Abad ke-21
Lebih dari sekadar meningkatkan pemahaman sejarah, proyek ini secara empiris menunjukkan bahwa mata pelajaran sejarah dapat menjadi wahana efektif untuk membekali peserta didik dengan keterampilan esensial di pasar kerja modern. Trilling & Fadel (2009, hlm. 57) menegaskan bahwa pendidikan di abad ke-21 harus bergeser dari fokus pada pengetahuan substansial menuju pengembangan keterampilan yang relevan untuk menghadapi tantangan global.
Analisis terhadap portofolio digital peserta didik menjadi bukti konkret, sebagaimana dikemukakan oleh Nurbani & Permana (2020, hlm. 327), bahwa artefak digital ini tidak hanya menunjukkan kompetensi sejarah, tetapi juga keterampilan literasi digital, berpikir kritis, dan kreativitas yang sangat dibutuhkan. Peserta didik tidak hanya mencari informasi, tetapi juga mengevaluasinya,menginterpretasikannya, dan menyajikannya kembali dalam format inovatif (podcast, infografis, virtual tour). Ini adalah investasi strategis yang mempersiapkan peserta didik tidak hanya untuk asessmen, tetapi juga untuk karier masa depan mereka. Integrasi lintas jurusan (TPFL, TO, dan TJKT) membuktikan bahwa sejarah dapat menjadi fondasi interdisipliner yang memperkaya kompetensi kejuruan mereka.
3. Implikasi dan Rekomendasi
Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan kurikulum dan kebijakan pendidikan, khususnya di jenjang vokasi. Permana (2018, hlm. 129) menyoroti perlunya pendidikan vokasi untuk beradaptasi dengan tuntutan industri 4.0, di mana lulusan diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga keterampilan non-teknis seperti literasi digital. Untuk mengoptimalkan potensi Digital History, diperlukan dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk ketersediaan perangkat dan koneksi internet yang stabil di sekolah-sekolah pedesaan. Selain itu, pelatihan guru yang berkelanjutan sangat krusial agar mereka dapat menguasai metode pengajaran digital dan memfasilitasi proyek-proyek inovatif dengan efektif. Tanpa dukungan ini, upaya inovasi akan terhambat oleh kendala teknis dan ketidakmampuan guru dalam beradaptasi. Dengan adanya dukungan ini, pembelajaran Digital History tidak hanya akan menjadi proyek percontohan, tetapi juga dapat diterapkan secara lebih luas di seluruh sekolah vokasi di Indonesia untuk menciptakan lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran historis dan literasi digital yang kuat.
Kesimpulan
Berdasarkan temuan dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa implementasi pembelajaran Digital History di SMK Negeri 1 Kismantoro terbukti efektif dalam mengatasi tantangan pendidikan sejarah yang konvensional. Pendekatan ini berhasil mengubah persepsi peserta didik terhadap sejarah, dari mata pelajaran yang statis dan membosankan menjadi subjek yang hidup dan relevan. Melalui proyek-proyek yang terintegrasi langsung dengan kompetensi kejuruan, peserta didik tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif mereka, tetapi juga mengembangkan keterampilan literasi digital, berpikir kritis, dan kreativitas yang esensial di pasar kerja modern. Proyek-proyek seperti analisis virtual tour dan pembuatan podcast sejarah telah memberdayakan peserta didik untuk menjadi peneliti dan produsen pengetahuan aktif. Pada akhirnya, pembelajaran ini menjadi investasi strategis yang mempersiapkan peserta didik tidak hanya untuk ujian, tetapi juga untuk karier masa depan mereka, sekaligus menumbuhkan kesadaran dan rasa bangga terhadap identitas dan sejarah lokal mereka.
Daftar Pustaka
Anis, M. Z. A., Mardiani, F., & Fathurrahman, F. (2022). Digital History dan Kesiapan Belajar Sejarah di Era Revolusi 4.0. Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, 6(1), 29–42. doi: 10.37058/fajarhistoria.v6i1.5976
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. doi:10.1191/1478088706qp063oa
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Firmansyah, H. (2024). Pengaruh Penggunaan Teknologi Digital dalam Pembelajaran Sejarah terhadap Berpikir Sejarah Peserta didik. Innovative: Journal Of Social Science Research, 4(3), 7704–7714. doi: 10.31004/innovative.v4i3.10976
Nurbani, A., & Permana, M. (2020). Elektronik Portofolio Dalam Membentuk Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), 8(3), 327-336. doi: 10.26740/jpap.v8n3.p327-336
Patton, M. Q. (2015). Qualitative research & evaluation methods (4th ed.). SAGE Publications.
Permana, M. (2018). Kesiapan Perguruan Tinggi Vokasi dalam Menghadapi Industri 4.0. Jurnal Vokasi Indonesia, 6(1), 129–137.
Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st century skills: Learning for life in our times. Jossey-Bass.
Utami, I. W. P. (2020). Pemanfaatan Digital History Untuk Pembelajaran Sejarah Lokal. Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia, 3(1), 52–62. doi: 10.17977/um041v3i1p52-62

