Views: 78

Views: 78

Oleh: Nasta Mahardi, S.Pd.

Alumni Prodi Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2021

Email: mahardinasta@gmail.com

..

.

.









Identitas Buku

Judul asli: Jogjakarta under Sultan Mangkubumi, 1749-1792: A History of the Division of Java

Penulis: Merle Calvin Ricklefs

Penerjemah: Hartono Hadikusumo & E. Setiyawati Alkhatab

Penerbit: MataBangsa, Yogyakarta (2002)

Jumlah halaman: 721 halaman

ISBN (versi Indonesia): 979-9471-09-5


Pendahuluan

Buku pada mulanya merupakan hasil penelitian Ph.D. dari Ricklefs di Cornell University. Kemudian, penelitian itu dijadikan buku yang diterbitkan pada tahun 1974 dengan judul “Jogjakarta under Sultan Mangkubumi 1749−1792: A History of Division of Java”. Untuk versi bahasa Indonesia, buku ini baru diterbitkan sekitar puluhan tahun kemudian tepatnya pada tahun 2002 dengan judul yang sudah disampaikan di bagian “kepala” tulisan ini.

Terjemahan buku ini digarap oleh Hartono Hadikusumo dan E. Setiyawati Alkhatab. Menurut Ricklefs dalam bagian prakata di bukunya ini, ia menyampaikan rasa bangga atas diterbitkannya buku ini. Ia juga mengucap matur nuwun kepada Revianto Budi Santosa, Ford Foundation, dan Penerbit MataBangsa atas kerja ketiganya dalam proses mewujudkan buku ini.

Buku ini bisa dibilang menjadi penelitian “babat alas” bagi studi sejarah Jawa. Menurut Ricklefs ketika akan memulai penelitiannya, sejarah Jawa agak gelap. Banyak sumber primer dari arsip Belanda atau sumber Jawa seperti manuskrip kurang menarik perhatian sejarawan. Bahkan menurutnya, banyak koleksi-koleksi sumber itu yang tersimpan di beberapa tempat belum terkatalogisasi dengan baik. Maka ketika memulai penelitiannya, Ricklefs juga sembari melakukan katalogisasi bagi sumber-sumber Jawa dan Belanda.

Ketika buku versi terjemahan ini terbit, Ricklefs juga memperbaiki dan memperbaharui beberapa catatan yang ia sesuaikan dengan “produk ilmiah” keluaran terbaru pasca karyanya yang sudah terbit 1974. Sehingga para pembaca juga disuguhi informasi up to date soal sejarah Jawa, khususnya tentang Yogyakarta. Meski demikian, Ricklefs membuat semacam warning jika ia tidak dapat menyesuaikan semua referensi dengan sumber-sumber terbaru.

Buku ini menarik untuk dibaca karena menyajikan pengetahuan dasar tentang berdirinya sebuah kerajaan yang sampai saat ini dikenal dengan nama “Kesultanan Yogyakarta”. Buku ini selain menyajikan informasi itu, juga menjadi semacam biografi untuk pendiri kerajaan itu, yakni Sultan Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I. Lalu, mengapa Ricklefs yang notabene adalah seorang sejarawan jebolan kampus luar negeri dan berasal dari Australia meneliti sejarah Jawa?

Bagi Ricklefs, periode dan sejarah ini penting untuk dikaji. Ricklefs menyajikan sejarah berdirinya keraton baru dan juga masa pemerintahan dari raja pertamanya. Fokus utamanya adalah tentang sejarah Yogyakarta, namun tidak menampikan juga membahas tentang Surakarta (Kasunanan dan Mangkunegaran) meski tidak secara mendetail. Karena menurut Ricklefs, sumber-sumber yang ia gunakan berkelindan dengan informasi tentang “negeri tetangga” Yogyakarta itu.

Ketertarikan Ricklefs terhadap sejarah Jawa bisa jadi terinspirasi dari dua guru pendahulunya yang sudah mengkaji lebih dulu tentang Jawa: H. J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud. Masing-masing dari mereka memiliki karyanya sendiri yang tergolong monumental. Seperti yang khalayak umum ketahui, de Graaf sudah menerbitkan penelitiannya tentang Jawa yang kemudian diterjemahkan dalam “Seri Terjemahan Javanologi” yang terdiri dari lima buku yang runtut: (1) Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati; (2) Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung; (3) Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I; (4) Runtuhnya Istana Mataram; (5) yang terakhir sekaligus merupakan penelitian disertasinya berjudul Terbunuhnya Kapten Tack: Kemelut di Kartasura Abad XVII.

Sementara Pigeaud menulis karya berjudul “Java in the Fourteenth Century” yang terdiri dari empat jilid yang berisi tentang katalog manuskrip Jawa di beberapa tempat, seperti Belanda dan Jakarta. Lalu juga melakukan “perbaikan dan penambahan” kamus Jawa-Belanda yang sudah digarap oleh Gericke & Roorda. Bersama-sama dengan de Graaf, mereka menerbitkan beberapa buku seperti “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit dan Mataram”.

Dari penelitian itulah yang membawa Ricklefs untuk mengangkat topik sejarah Yogyakarta dan Sultan Mangkubumi sebagai topik disertasinya. Penelitian ini juga bisa dibilang sebagai “karya lanjutan” yang mengisi slot kosong yang masih ditinggalkan baik oleh de Graaf maupun Pigeaud. Maka tak mengherankan kehadiran penelitian dalam bentuk buku terjemahan bahasa Indonesia ini disambut meriah oleh pecinta dan peneliti sejarah, khususnya sejarah Jawa.

H. J. de Graaf
Sumber: Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I

Th. G. Th. Pigeaud
Sumber: Wikimedia


Pembahasan

Buku ini disusun dalam beberapa bagian yang menurut saya dibagi menjadi empat babak: (1) latar belakang kesejarahan dan kemunculan Sultan Mangkubumi; (2) perang, pemberontakan, konflik, dan penyelesaian; (3) masa damai, menyusun pemerintahan baru, dan regenerasi. Total halaman dari babak awal sampai akhir berjumlah 636 halaman, yang juga dihitung dari setiap catatan kaki di akhir masing-masing bab. Maka dari itu, pembahasan isi buku ini tidak akan diulas secara menyeluruh tetapi akan difokuskan terhadap bagian-bagian yang lebih menarik seperti yang akan diulas di bawah ini.

Pertama, yang menarik dari buku ini adalah penggunaan sumber primer. Sebelum memulai bagian inti buku, Ricklefs memberi satu bagian menarik tentang sumber-sumber yang ia gunakan dalam bagian “Pendahuluan”. Ricklefs sendiri menggunakan dua sumber primer pokok sebagai basis penelitiannya, yakni sumber-sumber VOC dan Jawa.

Sumber VOC yang digunakan berupa arsip dari berbagai jenis seperti laporan dan catatan pejabat VOC yang tersimpan di Arsip Nasional Belanda, Den Haag dan Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Selain dokumen asli, Ricklefs juga menggunakan sumber primer berupa arsip yang sudah diterbitkan yang disusun oleh de Jonge dan van Deventer berjudul “De Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-Indie: Verzameling van onuitgegeven Stukken uit het Oud-koloniaal Archief” yang berjumlah 16 jilid.

Menurut Ricklefs, sumber kolonial memang sangat berharga bagi sejarawan meski tidak selalu dapat diandalkan. Hal ini dikarenakan dalam laporan atau catatan orang-orang Kompeni (sebutan untuk pejabat Belanda pada masa VOC), banyak informasi yang kurang dan tidak tepat atau bahkan dilebih-lebihkan. Meski memiliki kekurangan, sumber ini tetap memiliki kharismanya tersendiri. Misalnya, dalam beberapa dokumen dapat ditemukan kepastian tentang tanggal atau waktu terjadinya suatu peristiwa dengan akurat.

Sementara sumber-sumber Jawa yang digunakan berupa babad, sengkala, undang-undang & perjanjian, dan serat. Sumber babad yang digunakan antara lain Babad Giyanti, Babad Mangkubumi, Babad Poensen, Babad Pakepung. Sumber sengkala yang digunakan seperti Babad Sengkalaning Momana. Sumber undang-undang dan perjanjian diperoleh dari “Sebuah catatan harian oleh alm. Sultan Jawa”. Dan sumber serat yang digunakan antara lain Serat Surya Raja. Selain itu, terdapat sumber-sumber Jawa lainnya seperti macam-macam jenis Babad Tanah Jawi yang disebut dalam buku ini secara angin lalu.

Ricklefs mengungkap beberapa masalah dalam sumber-sumber Jawa yang kerap menjadi masalah bagi peneliti lain. Masalah itu seperti kecenderungan dalam memberi gambaran baik untuk “orang-orang besar” seperti raja atau tokoh utamanya. Lalu juga ada beberapa naskah yang ditulis dengan bahasa yang hiperbola. Terkadang, sumber Jawa juga ditulis dalam bentuk macapat.

Namun menurut Ricklefs, sumber-sumber ini memiliki keuntungan jauh lebih banyak daripada kekurangannya itu sendiri. Dari sumber ini, kita dapat melihat pandangan lebih jelas terkait apa yang terjadi di internal kerajaan atau tentang masalah-masalah Jawa yang cenderung bias. Sumber-sumber Jawa ini berbentuk naratif dan non-naratif. Sumber Jawa naratif dapat dipisahkan lagi menjadi dua, mistis dan historis. Sementara sumber Jawa non-naratif berupa surat korespondensi atau daftar tanah.

Naskah historis yang dimaksud adalah naskah yang dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa secara aktual. Namun biasanya naskah itu tidak dilengkapi dengan tanggalan, sehingga menyulitkan para peneliti untuk mengetahui kapan terjadinya peristiwa itu. Sehingga dengan mengolahnya menggunakan gabungan sumber-sumber kolonial, maka kekurangan dari sumber Jawa ini dapat teratasi.

Dapat dikatakan juga penggunaan kedua sumber pokok ini saling melengkapi satu dengan lainnya. Karena banyak arsip VOC yang terasa “kering” karena berupa penjelasan datar saja. Maka untuk menghidupkannya, dapat menggunakan sumber Jawa yang dapat digunakan sebagai tambahan gambaran terhadap suatu peristiwa meski keduanya “diproduksi” dengan cara yang berbeda. Sumber Jawa biasanya digubah oleh pujangga kerajaan, sementara sumber kolonial oleh pejabat-pejabat VOC.

Kedua, dalam penulisannya Ricklefs memakai gaya “deskriptif-naratif”. Penjelasan yang ditawarkan, meski ini buku terjemahan, sangat memuaskan dan mudah dipahami. Sehingga pembaca tidak kesulitan untuk mengerti alur pikir dan maksud dari Ricklefs sebagai penulis. Misalnya dalam bagian “Peralihan Menuju Pemisahan Wilayah secara Damai…” khususnya sewaktu menjelaskan peristiwa Perjanjian Giyanti, Ricklefs menjabarkan cerita sebelum, saat, dan sesudah perjanjian pembagian kerajaan di Jawa itu terjadi dengan sangat detail, cekatan, dan cemerlang.

Ricklefs seolah menyeret pembacanya untuk dibawa ke dalam peristiwa itu. Kita disuguhkan pemandangan dari sudut pandang Nicolaas Hartingh, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa saat itu. Kita juga diperlihatkan kondisi menegangkan yang terjadi antara para pangeran Jawa yang mengalami “pengalaman yang sulit dan emosional”. Hal ini terjadi selain karena penggunaan sumber-sumber di atas, juga dari gaya penulisan Ricklefs yang begitu terperinci.

Salah satu bagian yang menarik perhatian saya pribadi adalah ketika Sultan Mangkubumi bertemu Pakubuwono III bertemu dalam pertemuan di Jatisari. Pertemuan itu digambarkan oleh Hartingh sebagai pertemuan yang “asing” antara dua orang raja. Ia mengatakan bahwa setelah keduanya meminum segelas air (bir), kemudian:

Menepukkan tangan mereka dan menyatakan perpisahan dengan berkali-kali saling berpelukan seraya meletakkan kepala di bahu yang satu dengan yang lain, seolah tengah memberikan kecupan persatuan dan cinta persaudaraan […]

Dari kutipan singkat itu saja, kita seolah dibawa kembali pada peristiwa ketika dua raja Jawa ini bertemu. Pertemuan dengan “tata laku model asing” ini sebelumnya tak pernah dilakukan, sehingga membuat gempar orang-orang yang melihatnya. Kita bisa membayangkan bagaimana dua orang raja Jawa bertemu dari penggambaran yang dilakukan oleh Ricklefs.


Penutup

Buku ini sangat direkomendasikan bagi teman-teman yang ingin memulai belajar sejarah Jawa, terkhusus sejarah Yogyakarta. Ricklefs dengan kekuatannya dalam mengumpulkan sumber dan menuliskannya dalam bait-bait sempurna seperti tembang macapat berhasil memuaskan hati pembacanya. Selain itu, karyanya ini juga menginspirasi banyak pihak untuk meniru apa yang ia lakukan. Salah satunya adalah Peter Carey yang menggunakan penelitian Ricklefs sebagai “pedoman” untuk penelitian disertasinya tentang Pangeran Diponegoro.

Kita mesti bersyukur dan patut berterima kasih atas usaha getol yang dilakukan Ricklefs dalam melakukan riset terhadap sejarah Jawa. Selain melakukan penelitian dan menerbitkannya menjadi buku, Ricklefs juga melakukan katalogisasi sumber-sumber yang ada di beberapa tempat penyimpanan arsip. Harapannya agar mereka yang ingin meneliti sejarah Jawa tidak akan kesulitan lagi untuk mencari sumber-sumber yang dibutuhkan yang sebelumnya tampak berserakan.

Buku ini sekali lagi saya rekomendasikan untuk dibaca karena dapat dikategorikan sebagai buku babon. Meski tebal, teman-teman tidak akan mudah dibuat bosan karena pembawaan Ricklefs dalam buku itu mendorong kita untuk tidak puas membaca satu atau dua halaman saja. Buku ini, sampai saat ini, masih mudah ditemukan di berbagai gerai-gerai buku dengan harga yang lumayan terjangkau.

M.C. Ricklefs (Sumber: YouTube “Launching Buku Soul Catcher (Mangkunegara I)”)

Komentar