Oktavian Mahardi menjadi salah satu yang menonjol. Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah UNS angkatan 2021 ini bukan hanya dikenal karena ketekunannya dalam meneliti dan menulis, tetapi juga karena keaktifannya dalam menghidupkan sejarah di berbagai ruang (baik ruang akademik, ruang publik, maupun ruang digital). Di tangan Nasta, sejarah seolah menjadi bagian dari hidupnya: dinamis, dekat, dan menginspirasi.

Pada tahun 2025, Nasta mencatatkan salah satu pencapaian penting dalam kiprahnya sebagai pegiat sejarah. Ia tampil dalam Seminar Nasional “Jejak Lampau di Era Society 5.0: Merawat Ingatan dengan Kreativitas dan Inovasi” yang diselenggarakan oleh HMPS SPI UIN Salatiga. Di forum berskala nasional itu, ia mempresentasikan gagasan tentang bagaimana sejarah dapat dirawat dan dihidupkan kembali di tengah arus modernisasi dan teknologi yang serba cepat. Melalui sudut pandangnya, sejarah tidak hanya dipelajari sebagai masa lampau, tetapi juga dimaknai sebagai ruang refleksi yang menuntun masyarakat untuk memahami akar identitas dan jati dirinya di era digital.

Namun, kiprah Nasta tidak berhenti di seminar semata. Dalam perjalanan akademiknya, ia dikenal sebagai mahasiswa yang produktif menulis. Sejumlah karyanya terbit di berbagai jurnal ilmiah, mencerminkan keluasan minat dan ketajaman analisisnya terhadap berbagai tema sejarah, salah satunya ia menulis tentang prajurit estri Mangkunegaran dalam artikel “Perempuan dalam Arus Sejarah: Studi Tentang Peran Prajurit Estri Pada Masa Mangkunegara I”, menghadirkan kembali peran perempuan dalam arena militer Jawa yang kerap terpinggirkan dari narasi sejarah arus utama.

Karya lainnya seperti “R.T. Sumodiningrat: Biografi dan Perannya dalam Mempertahankan Yogyakarta dari Kolonialisme Inggris (1811−1812)” dan “Dari Ningrat sampai Medan Laga: Riwayat R.T. Sumodiningrat Dari Yogyakarta (1760–1812)” memperlihatkan keberaniannya menggali figur-figur lokal yang memiliki kontribusi besar terhadap sejarah perlawanan kolonial. Di sisi lain, artikelnya “Sultan Hamengkubawana II and The Dutch in The Political Vortex of the Kasultanan Yogyakarta (1808–1811)” menegaskan minatnya terhadap dinamika politik kesultanan islam eks Mataram dan kolonialisme. Sementara itu, tulisan-tulisannya seperti “Potrait of Education Aspects in Indonesia During the Japanese Occupation (1942–1945)” dan “Jejak Gelar Doctor Honoris Causa Soekarno dan Pembelajaran Sejarah” menunjukkan kepeduliannya terhadap sejarah pendidikan nasional dan relevansinya dalam pembelajaran sejarah masa kini.

Dalam bidang inovasi pembelajaran, Nasta turut berkontribusi dalam sebuah jurnal Prosiding berjudul “Pembelajaran Sejarah Lokal di SMA dengan Media Virtual Tour Berbasis Team-Based Project”. Karya tersebut memperlihatkan gagasannya untuk memadukan teknologi digital dengan pedagogi sejarah, sebuah pendekatan yang kontekstual dengan era Society 5.0, di mana teknologi bukan lagi lawan, tetapi mitra dalam pembelajaran sejarah.

Selain aktif di dunia akademik, Nasta juga telah menulis sebuah buku yang terbit pada awal tahun 2024 berjudul Kamus Sejarah Indonesia: Dari Masa Praaksara Hingga Reformasi, diterbitkan oleh Penerbit Selaklali. Buku ini disusun dengan ringan sehingga mudah dicerna, dan menjadikannya jembatan bagi masyarakat umum untuk memahami istilah dan peristiwa sejarah Indonesia tanpa harus tersesat dalam terminologi yang rumit.

Di luar ruang kuliah, Nasta juga aktif di beberapa komunitas, salah satunya komunitas Solo Societeit sejak tahun 2023. Di komunitas ini, ia berperan sebagai peneliti sejarah sekaligus pemandu tur dalam kegiatan historical walking tour di Surakarta. Melalui kegiatan ini, ia membawa masyarakat menelusuri kembali ingatan kolektif kota Surakarta, dari bangunan kolonial, kompleks Mangkunegaran, hingga sudut-sudut lain kota yang sarat kisah tersebut. pada kesempatan lain, ia juga pernah menjadi narasumber dalam program sejarah di MTA TV bertajuk “Adeging Pura Mangkunegaran ke-267”, membicarakan perjalanan panjang istana Mangkunegaran dan perannya dalam sejarah kebudayaan Jawa.

Peran Nasta sebagai intelektual muda tidak berhenti pada riset dan tur sejarah saja, Sejak 2024, ia juga aktif di komunitas Temu Sejarah, sebuah wadah diskusi daring yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan penulis sejarah. Di sana, Kerap kali berperan sebagai moderator dan penyelenggara diskusi buku, menghadirkan sejumlah tokoh terkemuka seperti Buchory Masrury, Iqbal Rizaldin, Hendi Jo, serta dua sejarawan internasional terkemuka, Prof. Dr. Peter Brian Ramsey Carey, MBE dan Prof. Dr. Henk Schulte Nordholt. Melalui forum tersebut, ia tidak hanya menjadi fasilitator dalam diaolog Menara gading intelektual, tetapi juga menjadi penghubung antargenerasi yang membawa sejarah ke tengah masyarakat secara lebih terbuka dan inklusif.

Kiprahnya juga meluas ke dunia kompetisi dan penelitian. Pada tahun 2024, Nasta dipercaya menjadi juri Kompetisi Esai dan Videografi Sejarah HMP Ganesha, serta asisten penelitian untuk proyek “Pengembangan Model Pembelajaran Sejarah Berbasis Problem Based Learning Berbantuan Media YouTube”.

Melihat sederet kiprahnya, Nasta Ayundra Oktavian Mahardi dapat menjadi contoh nyata bahwa mahasiswa sejarah bukan hanya pembaca sejarah, melainkan juga pencipta sejarah. Ia membuktikan bahwa di tengah derasnya arus teknologi dan distraksi modernitas, masih ada anak muda yang memilih untuk berjalan perlahan di lorong sepi, menulis sejarah, dan bekerja demi pelestariannya.

 

Oleh: Ilham Putra Pratama (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2023)

Komentar