Views: 21
Views: 21


Salah satu peluang yang dimanfaatkan oleh penulis sebagai lulusan Pendidikan Sejarah adalah melanjutkan studi S2 di luar negeri. Selain untuk menambah wawasan keilmuan mengenai sejarah, penulis juga ingin membangun relasi dan mengembangkan diri melalui berbagai event yang diselenggarakan secara internasional. The 7th ICYF Young Volunteers Camp 2025 di Antalya, Turkiye menjadi salah satu program yang berhasil diikuti oleh penulis. Program tersebut diselenggarakan oleh ICYF yang berada di bawah OIC (Organisation of Islamic Cooperation/OKI) bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Turki.

Keterlibatan penulis dalam kegiatan ICYF sebagai delegasi Indonesia, membuktikan bahwasannya lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS telah mampu bersaing di kancah internasional. Kompetensi, wawasan dan pengalaman yang penulis dapatkan selama menjadi mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah ditunjukkan dalam kegiatan ini. Tidak sekedar mengenalkan kekayaan alam dan budaya, di hadapan para pemuda dari 32 negara di dunia, Penulis juga memperkenalkan sejarah perjuangan kemerdekaan, simbol toleransi Bhineka Tunggal Ika, hingga Ideologi Pancasila yang dimiliki Indonesia.
Dalam kesempatan yang baik tersebut, Penulis juga bercerita bahwa Indonesia lahir dari negara yang sempat terjajah, melalui perjuangan para pahlawannya akhirnya Indonesia mampu memproklamasikan kemerdekaannya. Demi mewujudkan negara yang merdeka, perlu usaha keras yang panjang. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan beragam perbedaan bahasa, budaya, suku, dan agama mengantarkan Indonesia menjadi negara dengan toleransi yang tinggi melalui Bhineka Tunggal Ika yang disimbolkan pada burung Garuda. Penulis juga memperkenalkan Ideologi Pancasila, sebuah ideologi nasionalisme istimewa yang hanya dirumuskan, dimiliki dan diterapkan oleh Indonesia.

Seperti yang kita ketahui bahwa sejarah bukan hanya sekedar masa lalu, tapi juga sebagai identitas nasional yang membentuk kita hingga saat ini. Rasa cinta tanah air harus terus tumbuh di hati seluruh warga Indonesia dan hal tersebut sangat dirasakan oleh penulis sebagai diaspora yang saat ini tinggal di luar negeri. Cinta terhadap Indonesia sudah seharusnya bukan hanya sekedar alam dan budayanya, namun juga mencintai sejarah panjang bangsanya. Melalui berbagai materi sejarah yang penulis pelajari di Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, membuat penulis sadar bahwa sejarah dapat menjadi “alarm pengingat” pada nasionalisme Pancasila saat jauh dari pangkuan Ibu Pertiwi.
Oleh: Aulia Fatimatuz Zahra, S.Pd. (Mahasiswa S2 Jurusan Sejarah Suleyman Demiral University Turki/ Alumni Prodi Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2019)

