Views: 305
Views: 305
Oleh: Bintang Putra Rachmad, S.Pd
Guru Sejarah SMK Muhammadiyah 1 Surakarta
Alumni Prodi Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2020
Email: abinnot26x@gmail.com

Identitas Buku
Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Penerbit: GPU
Tahun Terbit: 2025 (Cetak ulang hardcover)
Jumlah Halaman: 520
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Bab: 3 Bab
Penulis: Ahmad Tohari
Tanggal Lahir Penulis: 13 Juni 1948
Riwayat Pendidikan: Pernah menempuh perkuliahan di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1974-1975), Fakultas Ekonomi UNSOED (1974-1975), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNSOED (1975-1976)
Resensi Buku
Ronggeh Dukuh Paruk, terinspirasi dari pengalaman kehidupan penulis di desanya ketika kemelut peristiwa September 1965. Tulisan Ahmad Tohari berhasil membawa kegetiran dan simpati: ternyata gejolak politik dapat sangat mempengaruhi orang-orang kecil yang bahkan tidak melek politik.
Membaca Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (AT) mengingatkan saya bagaimana perjalanan manusia di Indonesia yang harus selalu kuat melewati tantangan zaman. Gejolak politik, tatanan sosial budaya yang mengekang perempuan, dan keterbelakangan pendidikan. Arus zaman mungkin saja menguatkan tetapi, dapat pula merusak manusia yang tidak dapat melewatinya.
Tatanan sosial budaya pedesaan direpresentasikan melalui latar tempat desa bernama Dukuh Paruk. Masyarakatnya tidak mengenal pendidikan, mereka melewati kehidupan bersandarkan nilai-nilai budaya lokal yang lahir dari kisah “pembabat” desa bernama Ki Secamenggala, seorang mantan preman yang telah bertobat di penghujung usia. Masyarakat Dukuh Paruk selalu menjadikan Ki Secamanggala sebagai kiblat batin dan pikiran kolektif masyarakat Dukuh Paruk, walaupun harus hidup sederhana, melarat, dan menjadi petani pas-pasan.
Produk dari kebudayaan Dukuh Paruk adalah seni pertunjukan ronggeng. Seorang ronggeng dipuja-puja sebagai sosok istimewa, dituliskan apabila seorang istri akan bangga apabila suaminya dapat menghilangkan keperawanan seorang ronggeng. Kehidupan ronggeng di dukuh paruk bagaikan primadona di kalangan rakyat pedesaan, ia akan mendapatkan kekayaan dan popularitas. Kekayaan dan populatiras yang didapatkan oleh seorang ronggeng memang perlu melewati pengorbanan, ronggeng tidak hanya bertugas sebagai penampil hiburan, tetapi juga dapat disewa untuk menghibur lelaki di ranjang.
Takdir menjadi seorang ronggeng jatuh kepada tokoh bernama Srintil, seorang yatim piatu yang hidup di Dukuh Paruk, dan melalui novel ini kita akan diajak AT untuk mengikuti kehidupan Srintil sebagai ronggeng yang melewati dinamika kehidupan, gejolak batin, dan perubahan zaman.
Novel Ronggeh Dukuh Paruk merupakan sebuah trilogi karya AT. Secara kronologis diawali Catatan Buat Emak, yang menceritakan lahirnya seorang ronggeng di sosok Srintil dan kisah jatuh cinta teman Srintil bernama Rasus. Rasus harus melewan kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya harus “menjadi milik umum”. Selanjutnya Lintang Kemukus Dini Hari, menceritakan kesuksesan Srintil sebagai ronggeng, pilihan hidup Rasus menjadi tentara, dan puncaknya bagaimana gejolak politik 65 menghantam Dukuh Paruk yang tanpa sadar dicap komunis, setelah sering ditanggap dalam acara partai PKI. Terakhir Jantera Bianglala menceritakan pergolakan Srintil setelah keluar dari penjara yang ingin menjadi perempuan seutuhnya setelah meninggalkan statusnya sebagai ronggeng.
Ronggeh Dukuh Paruk secara umum merupakan sebuah perjalanan kehidupan Srintil. Perempuan jelita yang ditempa oleh adat, kehidupan, dan percintaan. Penerimaan takdirnya menjadi seorang ronggeng yang tenar membuat Srintil mengalami puncak ketenaran dalam hidupnya. Roda Kehidupan tidak selalu di atas, akibat seringnya Srintil dan kelompoknya tampil di acara partai Komunis masyarakat Dukuh Paruk yang tidak tahu menahu tentang politik merasakan luka dan akibatnya. Pasca peristiwa 65 kelompok Ronggeng Dukuh Paruk ditangkap dan ditahan akibat sering tampil di acara PKI. Termasuk Srintil.
Melalui penahanan Srintil AT menyampaikan simpatinya kepada manusia yang sesama orang Indonesia, dan tidak tahu menahu tentang politik harus menanggung dosanya. Srintil dicap sebagai antek PKI, melihat kehidupan di dalam penjara yang penuh penyiksaan dan kekerasan yang jelas mempengaruhi bagaimana seorang Srintil perempuan jelita yang sebelumnya merasakan ketenaran. Setelah keluar dari penjara ketakutan Srintil akan cap antek PKI tidak dapat mudah dilepaskan, dan gejolak batinnya berhasil disampaikan oleh AT dengan jelas dan tragis. Di sisi lain penuh harap akan keinginan baru Srintil menjadi seorang ibu seperti orang-orang normal kebanyakan.
AT berhasil menyampaikan isi cerita yang mengalir dan enak untuk dibaca. AT menjelaskan setting latar, waktu, dan suasana dengan pas dan tidak terlalu panjang. Dengan gaya yang indah dan menarik diikuti tentang kehidupan Srintil di lingkungan desa yang sederhana, kental akan budaya mistis, dan alam pedesaan AT mampu menyihir pembacanya untuk masuk di dunia Dukuh Paruk. Penggambaran setting cerita yang hebat itu membuat saya dapat membayangkan secara jelas bagaimana masyarakat Dukuh Paruk menjalani kehidupannya.
Penggambaran konflik antara tokoh dengan batinnya diceritakan dengan detail oleh AT. Pada bagian pertama buku, AT mampu menggambarkan bagaimana kehidupan Ronggeng secara eksplisit, bagaimana Srintil menerima dirinya menjadi Ronggeng, dan bagaimana perasaan orang-orang disekitarnya ketika Srintil telah resmi menjadi Ronggeng
Pada bagian kedua buku, kita seakan dapat merasakan bagaimana getirnya perasaan Srintil sebagai tahanan, bagaimana Srintil harus menahan dirinya setelah takut dicap sebagai PKI, Srintil di buku merasa sebagai manusia yang perlu memperbaiki diri setelah dicap melakukan kesalahan yang memalukan, kegetiran ini juga dirasakan oleh tokoh-tokoh dari Dukuh Paruk selain Srintil. Contohnya adalah orang-orang terdekat Srintil, baik keluarga, pengiring musik, dan tetangga Srintil yang merasakan rasa malu setelah desanya tidak dapat dipisahkan dari tuduhan orang komunis.
Pada bagian ketiga buku, Srintil dan Dukuh Paruk seakan memiliki harapan baru. AT mampu menceritakan bagaimana kisah Srintil berusaha untuk memperbaiki kehidupan, mengimpikan harapan sebagai ibu rumah tangga, dan perlawanan batin yang berharap dapat disembuhkan oleh seseorang atau waktu itu sendiri. Akhir dari novel ini sebenarnya dapat saya prediksi akan menjadi kisah kelam, tetapi saya tidak menyangka cara AT mengeksekusi ending cerita Ronggeh Dukuh Paruk yang langsung membuat saya merasakan perasaan berkecamuk. Dalam segi cerita dan penulisan, tidak kaget apabila Ronggeh Dukuh Paruk memang menjadi salah satu sastra Indonesia terbaik dan wajib untuk dibaca.
Pada konteks makna saya rasa AT berhasil membuat sebuah cerita yang sangat manusiawi melalui kehidupan Srintil, Rasus, dan masyarakat Dukuh Paruk yang “saklek”. Novel ini menceritakan sebuah kisah, ia tidak mengkritik suatu ideologi atau mengkritik sebuah kebijakan. Ia menunjukan bagaimana kemanusian dapat goyah hanya dengan perbedaan pemikiran, meskipun sama-sama sebangsa dan negara. Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan kisah manusiawi seorang manusia dengan segala keterbatasannya akan pengaruh peristiwa yang lebih besar.
Ronggeh Dukuh Paruk merupakan novel yang berani di masanya karena membawa tema peristiwa G03S/PKI. Peristiwa ini menjadi peristiwa penting yang mengubah dinamika kehidupan tokoh di Rongggeng Dukuh Paruk. AT berhasil menuliskan penggambaran peristiwa 65 yang “apa adanya”, ketidak-tahuan orang Dukuh Paruk dengan segala kecuekan politik, dan bagaimana masyarakat seperti itu dimanfaatkan untuk menjadi tunggangan politik oleh tokoh PKI bernama Bakar.
Dukuh Paruk dan Srintil menjadi suatu lambang bagaimana akibat peristiwa 65 beberapa manusia yang tidak bisa membaca zaman dapat menjadi korban. Dituduh sebagai antek PKI terasa menakutkan pasca peristiwa 65, mungkin saja di pelosok-pelosok daerah Indonesia terdapat tokoh Srintil yang tidak tahu menahu tentang paham Komunisme tetapi ikut terseret dalam gelombang peristiwa 65 yang kelam itu. Gejolak politik yang menyeret Dukuh Paruk membawa pesan di masa sekarang bahwa penting kita sebagai manusia memiliki literasi politik di negara tempat kita tinggal. Jangan sampai menjadi seperti Dukuh Paruk yang ditunggangi tanpa tahu apa-apa hingga berakhir merugikan.
Di bulan September ini, tepat 60 tahun telah berlalu sejak peristiwa 65. Buku ini penting untuk dibaca oleh berbagai kalangan yang ingin mengenang peristiwa kelam di sejarah Indonesia. Buku ini sanggup menjadikan refleksi bagaimana manusia harus melihat aspek-aspek kehidupan yang sedang berlangsung. Kenangan peristiwa 65 masih membekas di benak beberapa masyarakarat Indonesia. Melalui buku ini, setidaknya dapat mejadi penyejuk bahwa korban peristiwa 65 tidak sendirian, mereka mananggung trauma kolektif yang perlu diperjuangkan untuk dapat merasa “legowo” setelah 60 tahun menjerit dalam ketakutan. Untuk generasi muda, novel ini dapat menjadi pembelajaran tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan dan menyadari bahwa sejarah di Indonesia tidak dapat dilihat sebatas hitam dan putih, ia lebih luas, dalam, dan kompleks.

