Views: 66
Views: 66
Oleh: Nasta Mahardi
(Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2021)
Pendahuluan
Belajar sejarah mestinya bukan perkara menghafal tanggal lahir tokoh atau sekadar mengingat kronologi suatu peristiwa saja, melainkan sebuah upaya untuk memahami perjalanan panjang manusia dalam membangun komunitas masyarakat, negara, dan kebudayaan. Sejarah hadir sebagai “cermin” yang menjadi penuntun bagi manusia menafsirkan masa kini dan mengantisipasi arah masa depan, belajar masa lalu untuk menatap masa depan.
Namun pada kenyataannya, sejarah kerap dipandang remeh sebagai pelajaran yang kaku, penuh hafalan, dan asing dari kenyataan di kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak orang, terkhusus generasi muda, menganggap sejarah sebagai “beban akademis”, bukan sebagai ruang pengetahuan yang hidup.
Problem utamanya terletak pada cara sejarah “didistribusikan”. Di ruang-ruang kelas, sejarah kerap direduksi hanya sebagai daftar peristiwa besar dengan narasi tunggal yang menekankan peran negara. Sementara kisah wong cilik atau sisi lain dari peristiwa sejarah kurang mendapat porsinya. Selain itu, minat masyarakat terhadap sejarah juga terkendala oleh keterbatasan akses terhadap sumber. Buku-buku yang tersedia kerap memunculkan narasi tunggal, sementara akses kepada arsip, dokumen primer, atau referensi lainnya terbatas pada kalangan tertentu.
Sekalinya ditemukan referensi yang sesuai; tidak bernarasi tunggal, dan netral justru sering menyulitkan karena biasanya (meski tidak semua) buku-buku sejarah terkenal dengan ketebalannya. Belum lagi cara penulisannya yang terlalu ilmiah dan kaku, membuat mereka yang membaca cepat merasa bosan dan jenuh. Sementara perkembangan teknologi kian masif, kondisi ini kemudian memunculkan jurang menganga terhadap pentingnya sejarah dan rendah-sulitnya antusias masyarakat dalam mempelajari sejarah.
Dengan demikian, mesti dicari solusi bagaimana cara belajar sejarah yang “hemat”. Hemat dalam artian tetap mengedepankan kaidah-kaidah ilmiah namun dikemas secara kekinian. Karena yang perlu diperhatikan, saat ini sejarah tidak hanya soal romansa masa lalu semata. Namun juga bagaimana sejarah tetap relevan dan berguna bagi kehidupan masa sekarang dan masa depan.
Oleh karena itu, penulis dalam tulisan ini mencoba memberi cara alternatif dalam belajar sejarah. Cara ini penulis dapatkan dari pengalaman pribadi dengan mempertimbangkan waktu, ketepatan, kredibilitas, dan pengemasan yang menarik. Poin-poin yang disebut tadi penting karena tak bisa dipungkiri, banyak orang-orang saat ini (terutama generasi muda) menginginkan hal-hal praktis namun langsung terasa dampaknya dalam banyak hal, termasuk belajar. Meski cara ini tidak secara instan memberikan dampak, namun patut untuk dicoba sebagai jalan pintas untuk belajar sejarah.
1. Seri Buku Tempo
Tempo seperti yang kita tahu adalah salah satu media massa beken di Indonesia yang dikenal karena laporan jurnalistiknya yang mendalam, investigatif, dan kritis terhadap berbagai isu. Produk luarannya biasanya berupa majalah, namun saat ini mereka juga memiliki berbagai acara semacam podcast yang bahasannya seputar isi laporan dalam majalah yang terbit pada waktu itu. Salah satu acara milik Tempo yang terkenal adalah “Bocor Alus Politik”.

Dari sekian banyak laporan yang dikeluarkan oleh majalah Tempo, ada salah satu produk mereka yang cocok dibaca bagi teman-teman yang sedang belajar sejarah. Produk itu bernama “Buku Seri Tempo”. Buku ini dimunculkan melalui materi reportase majalah mingguan Tempo. Jadi dapat disebut juga bahwa buku ini adalah bagian dari seri reportase Tempo.
Buku ini umumnya mengangkat kiprah tokoh-tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Format penerbitan buku ini dikemas cukup apik. Buku tentang tokoh diterbitkan sesuai kategori yang sudah ditentukan. Misalnya dalam seri tema “Bapak Bangsa” dapat ditemukan buku tentang tokoh Sukarno, Moh. Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Selain seri itu, terdapat seri-seri tema lainnya seperti “Tokoh Militer”, “Tokoh Islam, “Prahara Orde Baru”, dan tema-tema lainnya.
“Pengkategorisasian” seri tema yang dilakukan oleh Tempo memudahkan untuk dikenali bagi pembaca dan penggemar sejarah. Penerbitan buku-buku ini umumnya dilakukan oleh Tempo (Tim Buku Tempo atau Redaksi Tempo) dengan bekerja sama dengan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Lalu mengapa buku ini direkomendasikan untuk dibaca?
Selain kategori dan seri yang melimpah, secara penulisan buku ini sangat nyaman untuk dibaca. Ketika membaca buku ini, kita dibawa larut dalam laporan reportase yang khas ala Tempo; renyah dan menggigit dalam setiap bait kalimat. Dalam konteks sejarah, meski Tempo bukan lembaga penelitian sejarah, mereka tetap melakukan teknik jurnalisme dan menggabungkannya dengan metde penelitian sejarah.
Misal dalam seri buku tokoh Tan Malaka, tim redaksi Tempo bekerja sama dengan Harry A. Poeze, sejarawan dari Belanda yang dikenal karena penelitiannya yang absolut terhadap Tan Malaka. Maksud menggunakan metode campuran seperti ini agar narasi yang dimunculkan tetap sesuai dalam konteks sejarahnya agar terhindar dari “penyesatan”.
Buku ini juga tidak tebal, mungkin paling tebalnya menyentuh 150-an halaman. Layout buku ini tak menjenuhkan karena tidak hanya disajikan huruf per huruf namun juga ada gambar atau foto yang mendukung sehingga tak membuat pembaca jenuh. Tidak jarang pembaca mendapat “bonus” berupa map poster berupa perjalanan karier suatu tokoh tertentu. Harga buku ini juga relatif murah. Jika membeli buku baru, harganya berkisar dari 75 ribu sampai 100 ribu. Dan buku ini mudah dicari di gerai buku terdekat, offline maupun online store.
Penulis juga memiliki pengalaman dalam memperoleh buku ini. Teman-teman dapat mencari buku ini melalui marketplace di aplikasi Facebook. Karena tidak jarang ditemukan buku-buku seri Tempo baik kondisi baru maupun bekas dengan harga yang pasti miring dan dapat ditawar harganya. Hal ini tentu memudahkan juga bagi teman-teman yang ingin membeli buku tapi budget pas-pasan.
Penulis dapat merekomendasikan bagi teman-teman yang ingin belajar sejarah untuk membaca buku terbitan Tempo ini karena alasan-alasan di atas. Buku ini cukup manjur selain dikemas secara ringkas, namun tetap berbobot, juga tak banyak menghabiskan waktu. Cocok bagi generasi teman-teman mahasiswa. Selain itu, buku ini juga ringan untuk dibawa ke mana-mana sehingga dapat dibaca di mana saja teman-teman sedang berada.
2. Historia
Selanjutnya adalah majalah Historia. Historia merupakan majalah sejarah online pertama di Indonesia yang menyajikan konten sejarah dalam bentuk populer. Historia menghadirkan berbagai kisah dan informasi menarik tentang sejarah yang dikemas secara ciamik. Seperti dengan Buku Seri Tempo, Historia juga menggabungkan teknik jurnalisme dengan metode penelitian sejarah. Hal ini mereka lakukan untuk mengemas dengan menarik cerita masa lalu agar relevan dengan pembaca di masa kini.

Tema yang digarap oleh tim Historia sangat luas, tidak terfokus terhadap peristiwa politik besar tetapi juga kisah-kisah kecil atau terlupakan (meminjam istilah Prof. Henk, sejarah pinggiran) seperti kisah tentang tradisi, kehidupan lokal, cerita sosial, kuliner, dan sejarah di tiap-tiap daerah (sejarah lokal).
Pihak Historia melihat pentingnya hubungan antara masa lalu dengan masa kini dalam memberitakan sejarah, sehingga mereka melakukan mengaitkan kejadian saat ini dengan peristiwa di masa lalu. Mereka juga kerap meluruskan fakta sejarah yang beredar di masyarakat jika terdapat kesalahan persepsi atau mitos keliru yang masih berkembang. Mengapa laman ini direkomendasikan setidaknya ada beberapa alasan yang akan dijabarkan di sini.
Historia menyajikan sebuah cerita sejarah tidak dalam format kaku seperti tulisan-tulisan akademis. Mereka mengemas cerita sejarah dengan format kekinian dengan bahasa populer, disertai ilustrasi, alur naratif, sehingga para pembaca dapat dimudahkan. Dilihat secara visual, laman website milik Historia sangat menarik. Dapat dibuktikan dengan adanya tambahan gambar, video, dan podcast yang mendukung isi konten yang sedang ditampilkan.
Narasi yang dibangun oleh tim Historia juga dikurasi dan disunting secara ketat sehingga kualitas tulisan yang dihasilkan tetap terjaga (konsisten). Untuk mengaksesnya, cukup mudah. Teman-teman pembaca dapat mencari di mesin pencarian Google lalu ketik “Historia.id”. Oleh karenanya, artikel keluaran Historia sangat menjadi rekomendasi bagi teman-teman pembaca.
Selain suguhan konten berupa artikel, Historia juga memiliki konten berupa video yang diunggah melalui YouTube. Maka tidak mengherankan jika kita membuka artikel Historia, di tampilannya juga dapat ditemukan video terkait yang seirama dengan pembahasan pada artikel itu. Jenis video yang dibuat juga bermacam-macam, mulai video singkat sejarah atau hasil diskusi dengan para pakar sejarah.
Dengan kombinasi antara artikel dan video yang bermutu, maka Historia dapat penulis rekomendasikan bagi teman-teman untuk menjadi rekan belajar. Teman-teman yang berminat dalam hal tulis-menulis juga dapat mengirim tulisannya di lama ini karena tim Historia membuka kesempatan bagi siapa saja yang memiliki tulisan untuk dapat ditampilan di lama mereka.
3. Jas Merah di Mojok.co
“Jas Merah” merupakan salah satu program video di bawah naungan Mojok.co yang secara khusus membahas topik-topik sejarah, tokoh, dan peristiwa sejarah dengan sudut pandang fresh dan reflektif. Julukan “jas merah” diperoleh merujuk ke pepatah milik Bung Besar: jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah.

Karakteristik dan ciri khas “Jas Merah” dapat diamati dari narasi yang reflektid dan kritis. Video-video dalam konten “Jas Merah” tidak hanya menyajikan dalil sejarah semata, tetapi mencoba mengupas sebab-akibat, motif, dan implikasi dari peristiwa sejarah. Kemudian dalam konten “Jas Merah”, muncul istilah pendekatan kliping. Pendekatan ini dilakukan dengan menggunakan potongan koran atau arsip sebagai bahan konten. Metode ini sangat melekat dengan sang pembawa acara, Muhidin M. Dahlan atau kerap disapa Gus Muh, yang dikenal sebagai “tukang kliping”.
Selain membahas peristiwa dan tokoh-tokoh besar, konten “Jas Merah” kerap membawakan peristiwa lokal atau tokoh tak terkenal menjadi pokok bahasan. Salah satunya ketika mereka mengangkat judul “Pak Jagus dari Klaten”. Dengan narasi kritis yang dibawa dan menjadi ciri khasnya, konten “Jas Merah” dapat membuka ruang bagi interpretasi alternatif terhadap narasi sejarah. Tampilan yang tidak monoton dengan didukung ilustrasi, audio, dan visual pendukung memberi pengalaman menonton konten sejarah yang lebih hidup.
Untuk mengakses konten-konten “Jas Merah” juga tidak sukar. Teman-teman dapat melakukannya secara mandiri dengan membuka aplikasi YouTube, kemudian meluncur ke bagian mesin pencarian lalu ketik “Jas Merah Mojok.co”. Maka akan tersaji berbagai konten menarik tentang peristiwa dan tokoh sejarah yang diulas dan diramu sedemikian rupa.
Keunggulan lainnya dalam konten ini adalah disediakannya akses sumber yang digunakan. Teman-teman dapat membeli arsip atau dokumen yang digunakan dalam proses pembuatan konten dengan mengakses “Warung Arsip” yang juga dikelola oleh tim yang sama. Hal ini tentu semakin memudahkan teman-teman belajar sejarah atau melakukan penelitian sejarah. Harga arsip yang ditawarkan juga tidak mahal, sehingga tetap ramah di kocek mahasiswa.
Demikian seuprit kiat-kiat belajar dari penulis. Cara ini kerap penulis gunakan selama masa perkuliahan dan secara garis besar cukup memuaskan. Karena penulis menyadari dalam waktu yang tidak banyak ini, kita diminta untuk dapat memiliki pengetahuan sebagai bekal dalam belajar di kelas. Maka cara-cara alternatif ini dapat menjadi solusi (meski tidak selalu) agar proses belajar dapat lebih efisien dan tepat sasaran. Semoga cara ini dapat membantu teman-teman sekalian.
Ojo kesel sinau!


Judul ini sangat relevan untuk generasi yang butuh info padat dan praktis, salah satunya dalam belajar sejarah. Terima kasih atas artikelnya.