Views: 38
Views: 38

Surakarta, 22 Mei 2025 telah terselenggara dengan sukses acara Seminar Nasional yang mengangkat tema ‘Rekonstruksi Narasi Sejarah dalam Buku Ajar Sekolah: Antara Fakta, Interpretasi, dan Kebutuhan Kurikulum’ bertempat di Ruang Aula Lantai 3 Gedung F FKIP UNS. Acara yang digelar oleh Program Studi S1 Pendidikan Sejarah UNS bersama HMP Ganesha ini merupakan acara tahunan yang telah berjalan selama 2 tahun berturut-turut.
Seminar yang dihadiri berbagai elemen–guru, mahasiswa, penulis buku ajar sekolah–ini digelar sebagai upaya menyikapi penulisan ulang sejarah Indonesia yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan. Melalui seminar ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi antara akademisi, guru, dan pembuat kebijakan dalam pengembangan buku ajar sejarah yang kritis, berimbang dan inklusif.
Acara dibuka pukul 08.30 WIB dan dilanjutkan dengan penyampaian sambutan-sambutan luar biasa. Muhammad Faiz Qasthalani selaku Ketua Umum HMP Ganesha menyampaikan sambutannya kepada hadirin seminar, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Dr. Musa Pelu, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Program Studi S1 Pendidikan Sejarah. Tak hanya itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dr. Imam Sujadi, M.Si. juga turut memberikan sambutan sekaligus membuka acara Seminar Nasional Pendidikan Sejarah 2025.
Acara seminar yang dihadiri guru sejarah, mahasiswa pendidikan sejarah, penulis buku ajar sekolah, dan para akademisi di bidang sejarah ini tentunya menghadirkan pembicara-pembicara yang ahli dalam bidang kependidikan dan kesejarahan, antara lain Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum. selaku Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan, Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma, M.Pd yang merupakan Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), dan yang terakhir adalah Rendra Rizky Yulianto, mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2021. Adapun moderator yang memandu jalannya diskusi dalam seminar ini adalah Bapak Hasan Ashari S.Pd., M.Pd., yang merupakan salah satu dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS.
Sebelum memasuki pembahasan inti terkait rekonstruksi narasi sejarah, Prof..Dr. Nunuk Suryani M.Pd. selaku keynote speaker menyampaikan materi secara daring melalui Zoom terkait arah kebijakan pemerintah untuk mendukung program prioritas pengembangan SDM guru, penguatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru, pnguatan pendidikan literasi, numerasi, dan sains teknologi, serta program Ditjen GTK-PG. Selain itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan tersebut juga menyinggung soal model kompetensi guru yang bertujuan memberikan bekal untuk guru dalam mengajar, pengembangan instrumen, pengembangan materi, dan kegiatan yang lainyang bisa mendukung hal tersebut.
Selanjutnya, pembicara pertama yakni Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum. memaparkan materi mengenai ‘Buku Teks Pelajaran Sejarah: Konstruksi, Pendidikan Sejarah, dan Kurikulum’. Direktur Sejarah dan Permuseuman tersebut menjelaskan bagaimana sejarah nasional disusun dengan metodologi sejarah sehingga narasi sejarah terbentuk bukanlah hasil rekayasa namun berdasarkan data-data sejarah yang valid dan ditafsirkan oleh para sejarawan yang terlibat, kemudian dibentuk dalam sebuah kurikulum, dilakukan seleksi materi, dan dijadikan sumber penulisan buku ajar. Namun, tak dapat dipungkiri, historiografi buku teks pelajaran sejarah tetap dipengaruhi oleh tujuan pendidikan dan kebijakan politik pemerintah. Hal ini dapat dilihat pada nilai-nilai kejuangan menurut interpretasi penguasa yang dituangkan dalam historiografi sejarah nasional.
Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma, M.Pd. sebagai pembicara kedua menjelaskani soal ‘Dialektika Sejarah dari Masa ke Masa’. Presiden AGSI tersebut memulai pembahasannya dengan mengulik kembali arah keberjalanan sejarah Indonesia, posisi sejarah dalam perundang-undangan yang cukup lemah, pergulatan visi sejarah dalam kurikulum pendidikan nasional dari 1945–sekarang, serta posisi mata pelajaran pada Kurikulum Merdeka dari jenjang SD–SMA/SMK. Setelahnya, Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma M.Pd., menjelaskan tentang implementasi pendidikan sejarah yang dapat dilihat dari kurikulum (rasional, tujuan, dan materi), buku teks (narasi), pembelajaran oleh guru atau dosen sejarah di kelas, dan sumber belajar (narasi alternatif). Selain itu, beliau menyampaikan penarasian sejarah seharusnya inklusif, mengakomodasi semua kebangsaan, tokoh lokal, peran Indonesia dalam kancah global, serta bersifat multidimensional dan aktual.
Pemaparan terakhir dari Rendra Rizky Yulianto yang mengangkat masalah narasi pada buku ajar sekolah yang bersifat tunggal, sentralistik (dominasi Jawa-sentris) dan dominasi narasi heroik, serta kontroversi bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun. Temuan tersebut berdasarkan pengalaman Rendra selama melakukan PLP. Mahasiswa semester 8 tersebut sekaligus menyampaikan harapan dan upaya revisi Sejarah Nasional Indonesia.
Setelah pemaparan materi berakhir, Bapak Hasan Ashari, S.Pd., M.Pd., selaku moderator membuka sesi tanya jawab. Hadirin sangat antusias untuk bertanya, namun karena keterbatasan waktu, hanya tiga orang yang diberi kesempatan untuk bertanya. Pertanyaan yang disampaikan antara lain mengenai sejarah nasional yang ditulis berlandaskan ideologi dan eksistensi kelompok marjinal dalam narasi sejarah nasional.
Setelah semua pertanyaan terjawab, acara berlanjut ke penyerahan doorprize untuk para penanya, penyerahan kenang-kenangan kepada pembicara, sesi dokumentasi, dan ditutup oleh MC. Demikianlah acara Seminar Nasional Pendidikan Sejarah 2025 ‘Rekonstruksi Narasi Sejarah dalam Buku Ajar Sekolah: Antara Fakta, Interpretasi, dan Kebutuhan Kurikulum’ telah terlaksana. Dengan adanya seminar ini, diharapkan dapat mendorong kesadaran kritis civitas akademika dan masyarakat pendidikan terhadap bagaimana narasi sejarah dalam buku ajar tidak pernah lepas dari bingkai ideologis, kurikulum, dan perspektif tertentu. Melalui diskusi yang mendalam, peserta diharapkan mampu menilai narasi sejarah yang tidak hanya akurat dan berimbang, tetapi juga relevan dengan realitas kontemporer dan keberagaman lokal. Tak hanya itu, diharapkan forum ini menjadi langkah awal bagi terbentuknya kolaborasi berkelanjutan antara akademisi, guru, dan pemangku kebijakan dalam merumuskan buku ajar sejarah yang lebih kontekstual dan inklusif.








