Views: 212

Views: 212

Oleh: Billy Digdaya Christiawan (Siswa SMA Regina Pacis, Surakarta)

*Artikel ini merupakan karya tulis peraih Juara 1 dalam “Lomba Esai Siswa Tingkat Nasional” yang diselenggarakan oleh HMP Ganesha Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tanggal 21 Mei 2025.

 

PENDAHULUAN

Dalam Pertemuan Menteri Kebudayaan G20 di Salvador da Bahia, Brasil tanggal 8 November 2024, Fadli Zon mengatakan budaya adalah jembatan untuk membangun pemahaman, mengesampingkan perbedaan, dan mendorong persatuan di zaman modern yang penuh tantangan. Kenyataan pahit bahwa perkembangan teknologi secara perlahan telah menggerus eksistensi warisan sejarah lokal perlu mendapat perhatian khusus untuk segera ditangani. Pengaruh negatif yang secara nyata dialami yaitu pemuda bersikap apatis terhadap kebudayaan di daerahnya sendiri (Rowse, 2014: 94-95). Mereka tidak berminat untuk mengenal dan mempelajari budaya bangsa yang bersifat adiluhung. Keberadaan video games, k- pop, dan anime menyebabkan kaum muda sering mengikuti tren kekinian sehingga mengabaikan aspek lokalitas yang membentuk jati diri bangsa.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 17.380 yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Keanekaragaman budaya seperti tarian, alat musik, dan seni pertunjukan menjadi ciri khas bagi masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal pada hakikatnya merepresentasikan keluhuran yang terkandung dalam Pancasila. Kalangan muda hendaknya peka dalam mempertahankan warisan para pendahulu bangsa yang apik tersebut. Pengetahuan dan kesadaran pemuda diperlukan untuk memahami dinamika sejarah kontemporer sejak dini.

Fakta di lapangan justru berkebalikan dengan kelestarian dan kesohoran budaya yang didambakan oleh masyarakat. Realitas yang terjadi saat ini memperlihatkan generasi muda yang kurang memperhatikan lokalitas budaya Indonesia. Laman resmi Universitas Gadjah Mada yang dirilis tanggal 20 Juni 2013 menampilkan kajian masalah tentang wayang yang ditinggalkan oleh pemuda (Universitas Gadjah Mada, 2013). Pemerhati kebudayaan, Indra Tranggono menjelaskan alasan kaum muda berjarak dengan wayang karena terbatasnya akses pembelajaran, durasi yang lama, dan tata bahasa dalam pementasannya dianggap rumit untuk dikuasai. Kondisi ini sungguh disesalkan apabila corak khazanah bangsa seperti wayang, gamelan, dan karawitan hilang akibat kemajuan zaman.

Wayang merupakan kebudayaan lokal yang membuktikan kecakapannya dalam beradaptasi dengan perubahan global (Anggoro, 2018: 123-133). UNESCO secara sah menetapkan wayang sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (Nurgiyanto, 2011: 18-34). Gelar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity diberikan pada tanggal 7 November 2003. Berbagai jenis wayang perlu dijaga keberadaannya di kalangan masyarakat seperti kulit, orang, golek, beber, dan klithik. Wayang orang sebagai salah satu bentuk pertunjukan yang memadukan unsur seni tari, drama, dan gamelan hingga kini tetap lestari melalui keberadaan kelompok-kelompok budayawan seperti Sriwedari di Surakarta, Ngesti Pandawa di Semarang, serta Bharata di Jakarta.

Wayang Orang Sriwedari sebagai ikon Kota Surakarta menjadi objek sejarah yang berperan mengupayakan usaha dalam menjawab tantangan budaya di era digital. Pertunjukan ini awalnya berkembang secara sederhana di kalangan masyarakat lokal dan bertahan hingga sekarang. Pementasan seni tradisional yang menyajikan kolaborasi gamelan dan keterampilan olah tubuh mempunyai daya tarik tersendiri. Wayang Orang Sriwedari mampu memberikan hiburan edukatif dalam penyampaian nilai-nilai luhur bangsa. Dukungan teknologi publikasi, adaptasi alur cerita, dan lakon yang variatif menjadi kekuatan lebih untuk menarik minat pemuda dalam mempelajari khazanah kebudayaan di tengah arus globalitas (Widawati, Wawancara Pribadi: 11 April 2025).

 

PEMBAHASAN

Surakarta yang dikenal dengan istilah Vorstenlanden di era kolonialisme Belanda menyimpan harmonisasi kekayaan sejarah dan budaya di dalamnya (Tandjung, 2002: 13). Kota ini memiliki slogan utama yaitu Solo The Spirit of Java. Hal tersebut semakin mempertegas identitas Surakarta sebagai wilayah yang berkomitmen dalam mempertahankan martabat kebudayaan (Pemerintah Kota Surakarta, 2001: 136). Keagungan tradisi yang berpadu dengan semangat modernitas menjadikan Surakarta sebagai pusat pelestarian nilai-nilai moral Jawa seperti andhap asor, gotong royong, dan tepa salira (Mardiyah, 2022: 1). Sebagai kota budaya, pertunjukan seni tradisional secara rutin dilaksanakan guna melestarikan kebudayaan daerah sekaligus menarik minat wisatawan.

1. Wayang Orang Sriwedari: dari Seni Istana ke Hiburan Komersial

Wayang Orang Sriwedari merupakan kekayaan budaya Kota Surakarta di bidang seni pertunjukan yang mampu dikenal secara luas dari masa lampau hingga saat ini. Prasasti Wimalasmara (930M) dan Balitung (907M) pada zaman Kerajaan Mataram Kuno menyebut pergelaran wayang orang dengan istilah Jawa Kuno yakni wayang wwang (Ruastiti, et al., 2021: 34). Perjalanan waktu yang panjang mendorong kesenian ini dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan lain seperti Majapahit, Singasari, dan Mataram Islam. Sri Susuhunan Amangkurat I pada tahun 1731 turut menggarap wayang orang sebagai seni istana dalam penanaman karakter luhur. Hal ini memperkuat pengembangan wayang orang sebagai kebudayaan fundamental khas Jawa dalam lingkup keraton.

Dinamika kebudayaan wayang orang berlanjut hingga terjadi kekacauan politik yang melibatkan antar anggota kerajaan dalam perseteruan internal. Puncaknya ditandai dengan Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang mengakibatkan Mataram Islam terpecah menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta (Hapsari & Kurniawan, 2021: 63-72). Traktat tersebut kurang efektif dalam menanggulangi konflik internal kerajaan sehingga mendorong diadakannya Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757. Kesepakatan ini menetapkan keputusan untuk mendirikan Kadipaten Mangkunegaran sebagai monarki baru (Wasino, 2014: 24). Rangkaian peristiwa tersebut telah menciptakan reformasi bagi perkembangan wayang orang yang lebih pesat di Surakarta.

G. P. A. A. Mangkunegara I yang memerintah pada tahun 1757-1796 merupakan tokoh yang mempunyai kontribusi besar terhadap pengembangan wayang orang di Surakarta (Hersapandi, 1991: 3). Beliau dianggap sebagai kreator dari seni pertunjukan tradisi tersebut di kalangan Mangkunegaran. Kesenian ini diterima dengan baik oleh kalangan bawah dan bangsawan setempat sehingga mendapat julukan Wayang Orang Mangkunegaran. Pergelaran ini sebagai pengembangan dari beksan wireng yang lebih dahulu berkembang di Mangkunegaran. Wireng adalah tarian klasik keraton yang dilakukan oleh dua orang penari guna menggambarkan suasana peperangan dan keprajuritan (Sumarni, 2004: 1-14).

Wayang Orang Mangkunegaran dipentaskan pertama kali pada tahun 1760. Lakonnya diperankan oleh para abdi dalem istana yang semuanya merupakan penari pria dengan kemampuan apik (Wardani & Widiyastuti, 2013: 54). Pergelaran yang indah tersebut menjadi tradisi internal Mangkunegaran dan hanya disajikan untuk para bangsawan. Mangkunegara I menciptakan Wijanarka sebagai lakon pertama dalam pementasan Wayang Orang Mangkunegaran (Pribadi, 2011: 31). Pertunjukan wayang orang ini berfungsi sebagai hiburan yang menyampaikan ajaran-ajaran kehidupan di kalangan kerabat Mangkunegaran.

Mangkunegara IV yang memerintah pada tahun 1853-1881 turut melakukan pengembangan wayang orang lebih lanjut. Beliau menunjukkan perhatian yang besar terhadap Wayang Orang Mangkunegaran melalui kegiatan berlatih secara rutin guna meningkatkan kualitas para aktornya. Kebudayaan ini diwariskan ke masa pemerintahan Mangkunegara V pada tahun 1881-1896 yang menjadikannya sebagai inovator dalam Wayang Orang Mangkunegaran. Perubahan dan pembaruannya meliputi penari, model pementasan, rias busana, lakon, dan fungsi (Paneli, 2017: 74-97). Perkembangan wayang orang ini sesuai dengan nilai estetika seni istana dan mulai dipertontonkan kepada masyarakat.

Wayang Orang Mangkunegaran mengalami kemunduran seiring dengan melemahnya perekonomian kadipaten tersebut. Biaya pementasan yang besar menghambat penyelenggaraan wayang orang secara rutin seperti saat kejayaan Mangkunegaran. Hal tersebut menyebabkan abdi dalem yang menjadi pemeran wayang orang diberhentikan guna mengefisienkan biaya. Mereka yang dipensiunkan membentuk kelompok-kelompok kecil dan melakukan pertunjukan di luar lingkungan istana (Sayid, 1981: 54). Motivasi terhadap unsur estetika justru menimbulkan perkembangan seni wayang orang yang signifikan di kalangan publik (Pribadi, 2011: 53). Hal ini membuka peluang bagi seni wayang orang untuk beradaptasi dengan dinamika sosial dan budaya yang lebih luas.

Ramainya antusiasme masyarakat terhadap wayang orang menarik perhatian seorang pengusaha Tionghoa bernama Gan Kam pada tahun 1895 (Dewi, 2006: 317-327). Beliau membentuk kelompok wayang orang komersial yang bersumber dari Mangkunegaran setelah diizinkan oleh Mangkunegara V. Pergelaran yang dilakukan Gan Kam menggunakan model panggung proscenium ala Opera Barat dengan layar depan dan kanvas yang dilukis secara natural (Rosmiati & Rafia, 2021: 348-363). Gan Kam turut menarik tarif bayaran bagi penontonnya sehingga melahirkan nama Wayang Tobong yang berlangsung di sebuah bangunan besar dengan muatan 200 orang di selatan Pasar Singosaren (Wibowo, Wawancara Pribadi: 12 April 2025). Kepengurusan Wayang Tobong dilanjutkan oleh putra Gan Kam bernama Go Tiek Swan hingga berkembang pesat dan dinikmati masyarakat luas.

Paku Buwono X melaksanakan pembangunan Taman Sriwedari pada tahun 1901-1907 sebagai tempat rekreasi rakyat (Riyanto, et al,. 2008: 90). Go Tiek Swan turut mempersembahkan pentas wayang orang pada acara pernikahan putra Paku Buwono X. Hal ini menimbulkan ketertarikan Raja Surakarta terhadap kesenian wayang orang yang memukau. Pertunjukan tersebut menjadi sarana hiburan bagi masyarakat di daerah Sriwedari sehingga melahirkan nama Wayang Orang Sriwedari. Awalnya wayang orang tampil menggunakan panggung terbuka hingga tahun 1928 dibangun Gedung Wayang Orang Sriwedari berkapasitas 500 penonton dan diperluas dua kali lipat pada tahun 1951.

Penyelenggaraan Wayang Orang Sriwedari secara komersial dimulai pada tahun 1911 guna mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Perkembangan seni pertunjukan ini sangat pesat karena dipoles dengan indah oleh kreator dan senimannya. Wayang Orang Sriwedari memperoleh kesempatan masuk ke siaran Solosche Radio Vereeniging dan disambut hebat oleh masyarakat (Ferdiyanah, 2017: 309-327). Epos Ramayana dan Mahabharata yang ditampilkan oleh kelompok wayang orang ini sangat elok sehingga tercipta sebuah ungkapan “Tekan Solo durung komplit yen durung nonton Wayang Wong Sriwedari” (Puguh, 2023: 4-10). Progresivitas Wayang Orang Sriwedari berhasil memunculkan bintang-bintang legendaris seperti Darsi Pudyorini, Rusman Hardjowibakso, dan Soerono Ronowibakso.

Wayang Orang Sriwedari mencapai puncak kejayaanya pada tahun 1960- 1970 dengan Srikandi Edan dan Gathotkaca Gandrung sebagai lakon yang fenomenal. Grup wayang orang ini juga sering diundang untuk tampil di dalam Istana Negara sebagai bentuk kekaguman Presiden Soekarno pada masa pemerintahannya (Dilogo, 2014: 102). Memasuki tahun 1980, Wayang Orang Sriwedari mulai mengalami kemunduran yang ditandai dengan menurunnya jumlah penonton (Azhari, 2015: 175-185). Hal ini disebabkan karena kemampuan regenerasi pemain yang buruk disertai masuknya sarana hiburan lain seperti bioskop, televisi, dan gawai (Waluyo, 2010: 11-21). Lengangnya gedung besar tanpa penonton menjadi realitas yang memilukan bagi Grup Wayang Orang Sriwedari.

Pemerintah dan budayawan wayang melakukan revitalisasi untuk menghidupkan Wayang Orang Sriwedari pada awal tahun 2000. Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengangkat para pemain menjadi Pegawai Negeri Sipil guna menjamin kesejahteraan pelaku seni. Yayasan Senawangi selaku pemerhati wayang turut merekrut penari-penari muda sebagai upaya regenerasi Wayang Orang Sriwedari (Wibowo, Wawancara Pribadi: 12 April 2025). Perbaikan tersebut menghasilkan dampak positif dengan peningkatan penonton secara bertahap hingga kembali populer di masa kini. Langkah strategis yang telah diupayakan menjadi nilai keberlanjutan untuk eksistensi Wayang Orang Sriwedari.

2. Wayang Orang Sriwedari dalam Modernisasi

Di era modern, Wayang Orang Sriwedari mampu kembali terkenal dengan peningkatan ekonomi aktornya, berkolaboasi bersama sekolah-sekolah seni, dan mengadakan pementasan setiap hari dari Senin-Sabtu dengan durasi yang lebih singkat yakni selama 2,5 jam. Tantangan pandemi Covid-19 turut ditanggulangi dengan baik menggunakan sarana teknologi yang memadai. Pemanfaatan platform YouTube untuk melakukan live streaming dalam pergelarannya semakin menumbuhkan pengetahuan masyarakat akan keberadaan mereka. Kreativitas dan kemahiran yang dituangkan dalam pementasan memberi sentuhan baru terhadap penampilannya. Komitmen Wayang Orang Sriwedari untuk beradaptasi dengan tantangan zaman mencerminkan kompetensi mereka sebagai pelaku budaya.

Laju globalisasi dan kebudayaan lokal merupakan dua hal berbeda yang dapat dikolaborasikan sesuai kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai aslinya. Rekonstruksi keterampilan turut dilakukan Wayang Orang Sriwedari dengan melibatkan teknologi dalam menjaga relevansi dan eksistensi kesenian tradisional. Penggunaan sistem pencahayaan panggung modern dan layar tradisional yang artistik menciptakan penampilan spektakuler. Lightning effect yang dikelola secara profesional akan menimbulkan ketertarikan bagi penonton yang menyaksikannya (Sucahyo, Wawancara Pribadi: 12 April 2025). Hal ini membuktikan modernisasi mampu mengembangkan budaya lokal ke arah yang lebih dinamis dan gemilang.

Transformasi digital melalui fasilitas modern seperti Air Conditioner (AC) dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk membeli tiket pertunjukan wayang orang turut mengoptimalkan kenyamanan penonton. Metode pembayaran yang mudah semakin meningkatkan kualitas service experience pengunjung. Grup Wayang Orang Sriwedari mempromosikan kebudayaan lokal melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram guna menjangkau kaum muda. Video interaktif berdurasi singkat tentang wayang orang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu pemuda untuk menonton pementasan secara langsung. Pengelola Wayang Orang Sriwedari menyediakan Linktree untuk menunjang aksesibilitas terhadap informasi penting seperti rekam jejak dan jadwal lakon.

Penampilan merupakan aspek utama dalam pementasan seni panggung dan perlu disesuaikan dengan minat pemuda di zaman sekarang. Kreativitas pemain muda dalam mengemas alur cerita, olah tubuh, dan penggunaan bahasa yang mudah dipahami mampu mendominasi keseluruhan pertunjukan. Pemain Wayang Orang Sriwedari menambahkan sentuhan tren masa kini sepeti velocity dan dagelan tanpa menghilangkan nilai-nilai moral yang melekat dalam pertunjukannya. Sesi Gara-gara Repat Punakawan yang khas saat intermeso turut menjadi bagian menarik yang menyita perhatian penonton muda akibat mengandung gelak tawa di dalamnya (Fitria, 2023: 123-138). Pihak Wayang Orang Sriwedari menyajikan sinopsis setiap adegan dalam bahasa Indonesia dan Inggris melalui layar LCD agar penonton mudah memahami alur cerita (Ramatha, et al., 2024: 42-49).

Ketenaran Wayang Orang Sriwedari berhasil memikat perhatian wisatawan mancanegara. Pertunjukan pada tanggal 27 Desember 2024 memperoleh kunjungan dari warga negara asing yang antusias dengan kesenian tradisional tersebut. Leon Knappich dan Patricia Biernacki yang berasal dari Jerman sangat menikmati alunan gamelan dan kostum para pemain Wayang Orang Sriwedari (Arthadarshana, 2024: 26). Seorang wisatawan perempuan dari Thailand bernama Illya Sumanto turut menyaksikan pementasan wayang orang dan terkesan dengan nuansa budaya Jawa di dalamnya (Widawati, Wawancara Pribadi: 11 April 2025). Kehadiran para turis telah memberikan tendensi kepada Wayang Orang Sriwedari sebagai budaya lokal yang mengandung daya tarik internasional.

3. Integrasi Wayang Orang Sriwedari dalam Pembelajaran Sejarah

Wayang Orang Sriwedari yang sarat dengan moralitas dan filosofi luhur perlu diperkenalkan dengan cara yang relevan supaya dapat dinikmati anak-anak muda. Proses pembelajaran di sekolah perlu menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap wayang orang sejak dini. Kesenian wayang orang dapat dipandang hanya sebagai tontonan hiburan jika tidak terintegrasi dalam pembelajaran sejarah sehingga filosofi dan pesan moral yang membentuk jati diri pemuda Indonesia mengalami degradasi. Pembelajaran adalah proses interaksi antara guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan positif dengan memanfaatkan potensi minat, bakat, kemampuan dasar, lingkungan, dan sumber belajar yang kredibel (Pohan, 2020: 1). Instruksional yang ideal dapat diwujudkan melalui penerapan Student Centered Learning dan variasi model pembelajaran guna menghindari kejenuhan (Rahman, 2018: 22). Hal tersebut akan meningkatkan penguasaan siswa terhadap keterampilan abad-21 yakni collaboration, communication, creativity, dan critical thinking dalam kesehariannya.

Pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia dengan melaksanakan Kurikulum Merdeka (Kumer) yang bersifat inklusif (Jasiah, et al., 2018: 7683-7689). Pendekatan unggulan dalam kurikulum tersebut adalah peran guru sebagai fasilitator yang mengarahkan murid untuk mempelajari materi-materi esensial secara merdeka. Hal ini sesuai dengan salah satu komponen yang digaungkan dalam Kumer yaitu pembelajaran berdiferensiasi. Differentiated learning merupakan pengajaran efektif dengan memberikan beragam cara sebagai upaya menyampaikan informasi baru kepada peserta didik dalam komunitas ruang kelasnya (Safarati & Zuhra. 2023: 15-26). Pembelajaran berdiferensiasi turut memberikan ruang kepada siswa untuk bebas dalam mengekspresikan hal-hal yang mereka pelajari sehingga mempermudah ketercapaian tujuan nasional (Ramdhani, et al., 2024: 1044-1049).

Guru mata pelajaran sejarah SMA Regina Pacis Surakarta menerapkan metode pembelajaran berdiferensiasi dalam asesmen siswa kelas X dan terbukti sukses dalam meningkatkan motivasi belajar (Wulandari, Wawancara Pribadi: 22 April 2025). Materi yang diujikan adalah penelitian sejarah dan bertujuan untuk mendorong insan muda menciptakan konten, proses, dan produk tentang warisan sejarah di Surakarta. Setiap individu dibagi ke dalam 7-8 kelompok yang diwajibkan berproses untuk meneliti dan mengeksplor objek sejarah pilihan mereka secara bebas. Pelajar perlu membuat produk sebagai bukti historiografi setelah melakukan tahapan heuristik, verifikasi, dan interpretasi yang menjadi indikator penilaian. Hasil akhir yang dapat dipilih sesuai kreativitas masing- masing grup yaitu esai, video, infografis, atau komik. Langkah akhir dalam evaluasi ini adalah kegiatan presentasi yang mengharuskan setiap individu aktif dan memahami materi sejarah yang mereka kaji.

Pada pelaksanaannya terdapat kelompok siswa yang melakukan penelitian terhadap Wayang Orang Sriwedari. Mereka ingin menimba ilmu sekaligus pengalaman baru tentang lokalitas Surakarta yang mengandung keluhuran. Produk akhir mereka adalah infografis yang berisi tentang perkembangan Wayang Orang Sriwedari dari awal berdiri hingga saat ini tanpa tergerus oleh zaman. Kelompok ini memperoleh hal menarik berupa modernisasi alur cerita wayang tanpa meninggalkan moralitas pewayangan seperti kesetiaan dan keberanian. Kesan istimewa turut mereka rasakan saat terdapat sentuhan komedi yang menghalau kebosanan dalam pergelaran wayang orang. Joshua Ho selaku ketua kelompok tersebut mengemukakan bahwa kebebasan dalam menggali Wayang Orang Sriwedari menjadi keunggulan dalam asasmen sejarah yang berbasis inklusivitas proyek karena mampu membangun karakter positif dalam pribadi setiap siswa (Ho, Wawancara Pribadi: 22 April 2025).

Pemahaman kebudayaan lokal yang mendalam dapat ditanamkan melalui pengajaran sejarah berbasis role playing. Bermain peran merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam memerankan seorang tokoh atau kejadian sesuai topik pembahasan. Kelebihan role playing yaitu melatih pelajar memahami isi materi secara mendalam, menumbuhkan inisiatif dan daya kreatif individu, serta memberikan pengalaman menarik secara langsung (Oktivianto, et al., 2018: 113-118). Kegiatan pembelajaran sejarah yang melibatkan proses role playing mampu membentuk pribadi siswa yang giat meningkatkan motivasi dan hasil belajarnya (Kristin, 2018: 171-176). Dalam praktiknya metode bermain peran akan menjadikan instruksional sejarah lebih hidup, menarik, dan kontekstual (Asmara, 2019: 105-120).

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari yang menampilkan performa artistik memukau membuka peluang strategis untuk diintegrasikan ke dalam model pembelajaran role playing sebagai sarana peningkatan pemahaman dan keterampilan pelajar. Kegiatan ini akan meingkatkan minat belajar siswa terhadap kebudayaan wayang orang seperti pengetahuan umum, kemampuan olah tubuh, penggunaan bahasa, tata rias, dan variasi lakon melalui outing class secara mandiri atau berkelompok. Hal ini turut memampukan kaum muda untuk mengaplikasikan pengalamannya saat menonton Wayang Orang Sriwedari secara nyata yang diolah menggunakan kreativitasnya. Metode bermain peran yang menyajikan cerita pewayangan sesuai untuk dijadikan agenda penilaian sumatif akhir semester karena melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Tujuannya adalah mencapai iklim pembelajaran yang menarik, relevan, dan nilai-nilai luhur kesenian wayang orang tetap melekat dalam diri pemuda di era globalisasi yang penuh tantangan dalam melestarikan warisan sejarah bangsa.

KESIMPULAN

Wayang Orang Sriwedari yang berdiri pada tahun 1910 hadir sebagai kebudayaan yang berharga bagi bangsa Indonesia. Di era kontemporer, grup seni tersebut selalu konsisten memelihara kualitasnya dan berkolaborasi dengan kemajuan zaman untuk menjangkau insan muda. Penampilan yang dikemas secara modern dengan kandungan nilai-nilai tradisi menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi sekarang. Wayang Orang Sriwedari menjadi simbol keperkasaan dan kepiawaian budaya tradisional yang menginspirasi. Pertunjukan ini berhasil menjembatani warisan leluhur dan semangat modernisasi dalam satu panggung yang memikat.

Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga eksistensi kearifan lokal sebagai bagian dari identitas bangsa di era globalisasi. Wayang Orang Sriwedari merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang mengandung kekuatan historis dan moral. Pelestarian seni tradisional ini mencerminkan kepedulian terhadap warisan leluhur yang sangat berharga. Keterlibatan aktif pemuda menjadi kunci dalam menjaga eksistensi kesenian tradisional di tengah urgensi maraknya budaya asing. Wayang orang dapat hidup dan relevan bagi generasi masa kini hingga mendatang melalui gerakan apresiasi serta partisipasi.

Kaum muda di zaman modern dapat berpartisipasi aktif dengan memanfaatkan teknologi untuk membuat konten digital dan menyebarkannya ke media sosial sebagai aksi mempromosikan budaya lokal. Penyelenggaraan pembelajaran sejarah yang inovatif mempu menghidupkan rasa cinta pemuda terhadap kebudayaan tradisional. Ketertarikan kelompok muda kepada Wayang Orang Sriwedari dapat menciptakan momentum untuk senantiasa melindungi keberadaan kesenian lokal tersebut. Generasi muda akan mampu menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa di era modern yang relevan melalui pendekatan kreatif. Pada keberlanjutannya akan menciptakan pribadi anak muda yang memiliki pengetahuan mendalam untuk mempelajari kesenian wayang Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

Buku

Dilogo, S.K. (2014). Antara Solo dan Oslo. Vertical Grafika. Yogyakarta. Pemerintah Kota Surakarta. (2001). Mosaik Otonomi Daerah, Menuju Kota

Surakarta yang Mandiri dan Berbudaya. Pemkot Surakarta. Surakarta Pohan, A. E. (2020). Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah. Sarnu Untung. Purwodadi-Grobogan.

Rahman, T. (2018). Aplikasi Model-model Pembelajaran dalam Penelitian Tindakan Kelas. Pilar Nusantara. Semarang.

Riyanto, T., Rumsari, T., Wulandari, S., Nurani, S., & Prayitno, A. (2008). Cagar Budaya Kota Solo. Pemerintah Kota Surakarta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Surakarta

Rowse, A. L. (2014). Apa Guna Sejarah. Komunitas Bambu. Depok.

Ruastiti, N. M., ST, S., Sudirga, I. K., Kar, S., & Yudarta, I. G. (2021). Wayang Wong Milenial: Inovasi Seni Pertunjukan pada Era Digital. Jejak Pustaka. Yogyakarta.

Sayid, R. M. (1981). Ringkasan Sejarah Wayang. Pradnya Paramita. Jakarta. Tandjung, K. M. (2002). Rumah Solo. Times Editions. Singapura.

Wardani, N. E. & Widiyastuti, E. (2013). Jenis-jenis Teater Wayang di Surakarta. UNS Press. Surakarta.

Wasino. (2014). Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896- 1944. Kompas. Jakarta.

Jurnal

Anggoro, B. (2018). Wayang dan Seni Pertunjukan: Kajian Sejarah Perkembangan Seni Wayang di Tanah Jawa sebagai Seni Pertunjukan dan Dakwah. Jurnal Sejarah Peradaban Islam, 2 (2), 123-133.

Asmara, Y. (2019). Pembelajaran Sejarah Menjadi Bermakna dengan Pendekatan Kontektual. Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial- Humaniora, 2(2), 105-120.

Azhari, D. M. (2015). Eksistensi Wayang Orang (Studi Deskriptif Eksistensi Kelompok Wayang Orang Sriwedari Surakarta, di Surakarta). Journal Unair, 4 (2), 175-185.

Dewi, N. K. (2006). Wayang Orang Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) Ekspresi Etnis Cina Menjawa. Jurnal Gelar, 4(2), 317-327.

Ferdiyanah, S. N. H. (2017). Peranan Mangkunegara VII dalam Mengembangkan Kebudayaan Jawa 1918-1942. Avatara: e-Journal Pendidikan Sejarah, 5(2), 309-327.

Fitria, T. N. (2023). The Performance of Wayang Orang Sriwedari Surakarta: A Cultural Preservation. Jurnal Humaya: Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya, 3(2), 123-138.

Hapsari, I., & Kurniawan, D. F. (2021). Kostum Pertunjukan Wayang Orang Serial Mahabarata Gaya Surakarta. TEXTURE Art and Culture Journal, 4(2), 63- 72.

Jasiah, J., Maisura, M., Susilo, C. B., Trinova, Z., & Yuniendel, R. K. (2023). Pembelajaran Diferensiasi di Tengah Kurikulum Merdeka. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(10), 7683-7689.

Kristin, F. (2018). Meta-Analisis Pengaruh Model Pembelajaran Role Playing terhadap Hasil Belajar IPS. Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 8(2), 171-176.

Nurgiyantoro, B. (2011). Wayang dan Pengembangan Karakter Bangsa. Jurnal Pendidikan Karakter, 1(1), 18-34.

Oktivianto, O. I., Hudaidah, H., & Alian, A. (2018). Pengaruh Implementasi Model Pembelajaran Role Playing dengan Media Film terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik dalam Pelajaran Sejarah Materi Perang Palembang Kelas X di SMA Srijaya Negara Palembang. JP (Jurnal Pendidikan): Teori dan Praktik, 3(2), 113-118.

Paneli, D. W. W. (2017). Transformasi Pertunjukan Wayang Orang Komunitas Graha Seni Mustika Yuastina Surabaya. Journal of Art, Design, Art Education And Culture Studies (JADECS), 2(2), 74-97.

Puguh, D. R. (2023). Wayang Orang Panggung Sebagai Hiburan Massa: Tinjauan dari Perspektif Sejarah. In Talenta Conference Series: Local Wisdom, Social, and Arts (LWSA), 6(2), 4-10.

Ramdhani, R. S., Sarifudin, D., & Darmawan, W. (2024). Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi terhadap Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sejarah. Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, 9(2), 1044-1049.

Ramatha, E. G., Musadad, A. A., & Isawati, I. (2024). Eksistensi Wayang Orang Sriwedari Sebagai Wisata Budaya Kota Surakarta. Candi: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah, 24(2), 42-49.

Rosmiati, A., & Rafia, I. (2021). Bentuk Tata Ruang Pentas Panggung Proscenium di Gedung Wayang Orang Sriwedari Surakarta. Ekpresi Seni, 23(2), 348- 363.

Safarati, N., & Zuhra, F. (2023). Literature Review: Pembelajaran berdiferensiasi di Sekolah Menengah. Jurnal Genta Mulia, 14(1), 15-26.

Sumarni, N. S. (2004). Beksan Wireng Mangkunagaran Tahun 1757-1987: Kajian Historis (Mangkunagaran Wireng Dance 1757-1987: A Historical Study). Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 5(3), 1-14.

Waluyo, B. (2010). Analisis Penyebab Kemunduran Wayang Orang Sriwedari.

Jurnal Pariwisata Indonesia, 5(2), 11-21.

Karya Tulis Ilmiah

Hersapandi. (1991). Wayang Wong Sriwedari Suatu Perjalanan dari Seni Istana Menjadi Seni Komersial 1901-1991. (Doctoral Dissertation, UGM).

Mardiyah, N., & Lestari, R. (2022). Sikap Tepa Salira Pada Remaja Jawa. (Doctoral Dissertation, UMS).

Pribadi, P. B. (2011). Dinamika Wayang Orang Mangkunegaran Dari Istana Ke Publik (1881-1895). (Doctoral Dissertation, UNS).

Majalah

Arthadarshana. (2024). Pelestari Tradisi dari Panggung Sriwedari. Arthadarshana Makna dalam Suara. Edisi Wayang Orang Sriwedari.

Situs Internet

Universitas Gadjah Mada. (2013). Wayang Ditinggal Generasi Muda. Diakses pada Jumat, 11 April 2025 dari https://ugm.ac.id/id/berita/7928-wayang- ditinggal-generasi-muda/

Wawancara

Ho, J. C. (2025). “Inklusivitas Asasmen dalam Pendidikan Sejarah”. Hasil Wawancara Pribadi: Senin, 22 April 2025, SMA Regina Pacis Surakarta. https://drive.google.com/file/d/1ueze10L2FYwdvfFaIhRYZanEyIq68HzX/ view?usp=drivesdk

Sucahyo, K. A. N. (2025). “Wayang Orang Sriwedari dan Generasi Muda”. Hasil Wawancara Pribadi: Sabtu, 12 April 2025. Gedung Wayang Orang Sriwedari. https://drive.google.com/file/d/1sVY- ucK2J3gMEsmBa_60RSAKjH9jiZNS/view?usp=drivesdk

Wibowo, D. (2025). “Sejarah, Perjalanan, dan Perkembangan Wayang Orang Sriwedari”. Hasil Wawancara Pribadi: Sabtu, 12 April 2025, Gedung Wayang Orang Sriwedari. https://drive.google.com/file/d/1ruHUbFHBO_- kWGgmKK03t2qNsCAMAFgl/view?usp=drivesdk

Widawati, S. (2025). “Wayang Orang Sriwedari dalam Pengaruhnya terhadap Integrasinya dalam Pembelajaran Budaya”. Hasil Wawancara Pribadi: Jumat, 11 April 2025, SMP Pangudi Luhur Bintang Laut Surakarta. https://drive.google.com/file/d/1s1iHXBY0oBuD46Nn3Qflvqf41THjQP_ F/view?usp=drivesdk

Wulandari, L. D. (2025). “Pembelajaran Sejarah Berdiferensiasi”. Hasil Wawancara Pribadi: Senin, 22 April 2025, SMA Regina Pacis Surakarta. https://drive.google.com/file/d/1ucMzI8DXdZupQWSz8iGOPfcVPQTA5 RLj/view?usp=drivesdk

Komentar