Oleh: Dadan Adi Kurniawan

Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret

Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id

 

 

 

“Hasil suatu tafsir akan beragam tergantung dari sudut pandang siapa, sebagai apa, dalam keadaan apa, dan untuk apa”

“Memperluas tafsir berbaik sangka akan membantu menenangkan jiwa dan pikiran kita, sekalipun dugaan baik sangka kita ternyata salah”

 

 

A. Pengantar

Pernahkah kita salah paham dengan teman atau seseorang dalam menilai atau menanggapi suatu masalah? Apa yang kita tafsirkan ternyata tidak sama dengan yang dipersepsikan teman kita. Kita mengira alasannya sepele ternyata kompleks. Atau sebaliknya, kita mengira kompleks ternyata sepele. Ternyata “tafsir” (interpretation) kita mengenai suatu hal terkadang meleset. Bisa disebabkan karena tafsir kita “terlalu sempit”, bisa pula sebaliknya, tafsir kita “terlalu liar” (kemana-mana). Namun biasanya lebih disebabkan karena sempitnya pemikiran dan “sudut pandang” (point of view) yang kita miliki.

Sebagai contoh pertama misalnya pandangan mengenai alasan “mengapa ada mahasiswa yang lulusnya lama (skripsinya tidak selesai-selesai)?” Tafsir sempit langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya karena mahasiswa yang bersangkutan malas mengerjakan. Tetapi jika sudut pandangnya kita perlebar, tafsirnya akan menjadi luas dan kompleks meskipun bersifat “kemungkinan-kemungkinan” alias “bisa saja”. Pertama, bisa saja yang bersangkutan memang tipikal pemalas, meskipun tidak ada kesibukan lainnya. Pemalas dalam arti sifat bawaan. Bisa juga malas karena terpuruk, belum selesai dengan dirinya sendiri. Kedua, bisa saja sambil bekerja sehingga kesulitan membagi waktu, tenaga dan pikiran untuk mengerjakan skripsi. Ketiga, bisa saja waktunya habis untuk pacaran atau nongkrong-nongrong dengan temannya. Keempat, bisa saja sulit konsentrasi karena situasi rumah/kos yang tidak mendukung (terlalu ramai, anggota keluarga sering cekcok, suasana rumah tidak nyaman). Kelima, bisa saja tidak memiliki semangat mengerjakan karena sendirian (jarang ngumpul atau tidak ada teman seperjuangan karena sudah pada lulus).

Keenam, bisa saja sebagai bentuk solidaritas alias sengaja menunggu teman-teman lainnya (bestie atau pacar) agar lulusnya bareng, pekewuh kalau lulus duluan. Ketujuh, faktor dosen semisal sulit ditemui untuk melaksanakan bimbingan, standar permintaan dosen terlalu tinggi, permintaannya gonta-ganti, dan berbagai keruwetan lainnya. Kondisi ini bisa saja menyebabkan mahasiswa down dan putus asa di tengah jalan. Kedelapan, bisa jadi karena faktor perizinan tempat penelitian dan pengambilan datanya memang susah. Kesembilan, bisa jadi memang tidak ingin lulus terlalu cepat karena ingin mengoptimalkan beasiswa yang diterima. Kesepuluh, bisa jadi ingin menjadi mahasiswa abadi banyak temannya di kampus, daripada kalau di rumah gabut, pekewuh sama orang tua dan tetangga. Kesebelas, bisa jadi orang tuanya memang tidak mempermasalahkan mau lulus cepat atau lama. Dana biaya kuliah dari orang tua ready every day. Keduabelas, mahasiswa yang bersangkutan memang berniat mulia yakni ingin menjadi “donatur abadi” bagi pihak kampus.

Sebagai contoh yang kedua misalnya terkait tanggapan orang-orang terhadap “musik’ berbeda-beda? Mengapa ada yang suka, ada yang tidak, ada yang menghalalkan, ada yang mengharamkan? Jawabannya tentu berbeda-beda, tergantung sudut pandang. Bagi seorang hafidz (penghafal Al Quran) “mendengarkan musik” dianggapnya tidak baik karena akan mengganggu proses menghafalnya. Jawaban yang berbeda akan muncul ketika ditanyakan kepada seorang “musisi sejati” (a true musician). Baginya musik adalah hidupnya, nafasnya, profesinya, dasar penghidupan bagi keluarganya. Musik adalah segalanya.

Jawaban akan lain lagi ketika kita bertanya kepada penikmat “musik bersyarat”. Bagi orang-orang tertentu, tidak semua musik dianggap baik. Ada “musik-musik tertentu” yang baik dan ada “musik-musik tertentu” yang tidak baik. Musik yang baik adalah musik yang bisa membawa pengaruh positif dalam hidup para pendengarnya, misalnya lirik lagu mampu menginspirasi untuk bangkit dari keterpurukan, menumbuhkan rasa percaya diri dalam menjalani hari-hari, mengajak seseorang untuk berbuat kebaikan, mengingatkan seseorang pada Sang Penciptanya, membuat seseorang semangat bekerja demi keluarganya, dan lain-lain. Adapun musik yang dianggap tidak baik misalnya menjadikan seseorang keras kepala, menjadikan seseorang lembek dan cengeng (baperan), menjadi seseorang berani melawan orang tua, menjadikan seseorang liar, dan gara-gara sibuk dengan musik sering kali menjadikan seseorang lupa akan tugas dan kewajiban-kewajiban utamanya.

Di lain pihak, “penyuka semua genre musik” akan memberikan jawaban yang berlainan lagi. Mereka akan mengatakan bahwa semua musik pada dasarnya baik, apapun jenisnya. Semua tergantung penyikapan kita terhadapnya, apakah akan diambil mentah-mentah semuanya, atau selektif dalam mengambil sisi positifnya saja. Jawaban akan semakin berbeda ketika ditanyakan kepada “pihak kapitalis” berkedok pemroduksi dan penjual musik. Bagi mereka tidak peduli musik itu baik atau buruk, dampaknya seperti apa, yang terpenting bagi mereka adalah bisa menghasilkan banyak cuan. Pendapat yang berbeda-beda pasti masih banyak dan beraneka ragam, misalnya saja ketika kita tanyakan kepada pihak sekolah musik, peneliti musik, atau kita tanyakan ke tetangga kita yang sering terganggu karena suara bising musik yang diperdengarkan oleh tetangga sebelahnya.

Dari semua jenis alasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa ‘tafsir’ tentang satu hal sangatlah beragam, tergantung dari sudut pandang siapa, sebagai apa, dalam keadaan apa, dan untuk apa. Untuk itulah di dalam coretan kali ini penulis mencoba mengajak belajar bersama bagaimana bermain “tafsir” dan “sudut pandang” terutama dalam melihat dan menilai sebuah kejadian, kebiasaan, aktivitas, atau budaya yang umum kita jumpai di sekeliling kita sehari-hari. Penulis mencoba menyajikan tafsir atas dua sisi yang berkebalikan. Berbagai tafsir dari sudut pandang berbeda dilakukan untuk mendapatkan berbagai “kemungkinan-kemungkinan” terkait penyebab, alasan, tujuan atau motif yang melingkupinya. Hasilnya adalah kumpulan tafsir dari yang bernada positif, negatif, dan netral. Tentu masing-masing orang memiliki alasan, tujuan, motif, dan pengalaman yang berbeda.

Berikut adalah berbagai tafsir atas gambaran kasus, aktivitas, kebiasaan, atau budaya mutakhir yang penulis anggap menarik dan menggelitik. Basis “permainan tafsir” dilakukan berdasarkan pengamatan rasional, pengalaman, pengetahuan, dan keyakinan. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan “berbaik sangka” (husnudzan) dan pendekatan “berburuk sangka” (su’udzan). Adapun bidang-bidang yang diangkat seputar dunia pendidikan (pembelajaran) di sekolah atau kampus, lingkungan pertemanan (pergaulan), sosial masyarakat, hingga perihal agama.

Tujuan akhir dari tulisan ini supaya kita memiliki “cakrawala tafsir” yang lebih luas. Setidaknya menjadikan kita terbiasa berlatih memperbanyak “kamus tafsir berbaik sangka”, meskipun dalam kasus-kasus tertentu kita juga perlu mengeluarkan “kamus tafsir berburuk sangka”. Memperluas “tafsir berbaik sangka” akan membantu menenangkan jiwa dan pikiran kita, sekalipun dugaan baik sangka kita ternyata salah. Kata pepatah bijak, jika jawaban atas suatu permasalahan begitu sulit ditebak, dari pada menduga yang tidak-tidak, lebih baik menduga yang baik-baik saja. Jika pun baik sangka kita salah, setidaknya kita telah berusaha “menekan dosa”.

Berikut adalah paparan contoh-contoh kumpulan tafsir atas berbagai masalah atau fenomena yang terjadi di sekeliling kita sehari-hari. Tafsir-tafsir yang disajikan bersifat “segala kemungkinan-kemungkinan” yang menyelimutinya. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

 

B. Cakrawala Tafsir dalam Kebudayaan Populer Dewasa Ini

1. Mengapa Aktif Bertanya/Berpendapat?

Aktif (Banyak Tanya/Berpendapat):

  • Memang ‘murni’ karena tidak tahu tentang hal yang ditanyakan sehingga bertanya.
  • Memang ingin sharing berbagi pengetahuan dan pengalaman, agar tumbuh kembang bersama.
  • Sekedar ingin ‘ngetes’ atau ‘menguji’ kemampuan si teman atau si guru/dosen.
  • Ingin mencari ‘perhatian’ teman maupun guru/dosen supaya terkesan pintar atau menonjol.
  • Menunjukkan eksistensi diri bahwa ia ‘hadir’ dan ‘berkontribusi’ di kelas itu.
  • Demi mendapatkan nilai yang baik.
  • Karena ‘keterpaksaan’ akibat tidak ada yang bertanya/berpendapat, sehingga jatuhnya lebih bertujuan menghargai guru/dosen.
  • Tanda kalau tidak ‘bisu’ dan ‘tuli’ sehingga memanfaatkan anugerah pendengaran dan mulutnya untuk nyengkuyung (gotong royong) serta ‘menghidupkan’ pembelajaran. Bayangkan kalau setiap kelas dan setiap pertemuan tidak ada satu pun yang bertanya, tentu sangat tidak mengenakan. Krik-krik.
  • Tanda bersyukur bahwa manusia diberi akal pikiran oleh Tuhan untuk ‘digunakan’, bukan hanya untuk ‘dipajang’ dan ‘di bawa’ ke sana ke mari.
  • Bawaan ‘aktif’ sejak lahir (bayi) yang berketerusan.

Pasif (Tidak Pernah atau Minim Bertanya/Berpendapat):

  • Tidak menguasai materi sehingga tidak tahu dan bingung mau bertanya atau berpendapat apa.
  • Takut salah atau keliru saat bertanya maupun berpendapat.
  • Tidak percaya diri (malu atau sulit berbicara) di depan orang banyak.
  • Memang meniatkan diri “rela berkorban” agar pembelajaran ‘berimbang’. Bila ada yang aktif, maka harus ada yang pasif. Jika semuanya bertanya/berpendapat, tidak akan cukup waktu. Artinya sebagian sengaja “menekan ego” demi menjaga keseimbangan kelas.
  • Meniatkan diri sengaja “tidak ingin merepoti” teman lainnya maupun si guru/dosen.
  • Tidak tertarik pada topik materi yang sedang dibahas.
  • Karena uneg-uneg atau pertanyaan yang sama sudah terwakili oleh lainnya.
  • Memang karakternya apatis dan malas bertanya/berpendapat.
  • Bawaan ‘pasif’ sejak lahir (bayi) yang berketerusan.

 

2. Mengapa Pembelajaran Banyak Slengek’an (Guyonan)?

Banyak Slengek’an/Guyonan:

  • Diniatkan agar peserta didik tidak pekewuh, tidak canggung, atau takut jika ada hal-hal yang mau ditanyakan, mengeluarkan pendapat, didiskusikan. Guru/dosen layaknya ‘rekan’ atau “partner belajar”.
  • Agar suasana lebih nyantai, rileks, tidak tegang.
  • Pendidik memang tidak nyaman melihat wajah-wajah peserta didik spaneng/tegang. Pendidik memiliki filosofi bahwa salah satu bentuk syukur kepada Tuhan adalah “bahagia menjalani takdir”, dan tanda bahagia itu adalah “murah senyum”.
  • Siasat atau strategi “ngolor waktu” karena si guru/dosen tidak menguasai materi pembelajaran, sehingga waktunya dihabiskan untuk guyonan.
  • Memiliki modal (bakat) guyonan/slengek’an/ndagel.
  • Tanda si guru/dosen memang karakter sehari-harinya slengek’an dan banyak guyonan.
  • Tanda kalau lingkungan pertemanan (circle) si guru/dosen tersebut juga didominasi orang-orang tipikal humoris dan slengek’an.
  • Strategi si guru/dosen dalam mengecek apakah kelas yang diampu bisa ‘diajak’ guyonan atau tidak. Karena tidak semua kelas bisa guyonan. Ada kelas-kelas yang tipikal orang-orangnya serius/spaneng.

Dominan Spaneng/Serius (Minim Slengek’an/Guyonan)

  • Diniatkan agar menjaga wibawa, marwah, dan tidak disepelekan oleh peserta didik baik di kelas maupun luar kelas.
  • Pendidik memang lebih nyaman dengan kondisi pembelajaran tipe serius.
  • Tanda kalau si guru/dosen benar-benar menguasai materi, sehingga tidak terbesit untuk ‘mengakali’ pembelajaran dengan guyonan.
  • Pendidik memiliki pandangan bahwa kalau pengen “full guyonan” tempatnya ada sendiri seperti di acara standup comedy atau sejenisnya.
  • Memang tidak punya bakat guyonan/slengek’an/ndagel.
  • Tanda si guru/dosen memang karakter sehari-harinya tipikal spaneng dan serius.
  • Tanda kalau lingkungan pertemanan (circle) si guru/dosen tersebut juga didominasi orang-orang tipikal serius/spaneng.

 

3. Mengapa Selalu Memilih Duduk di Depan?

Memilih Duduk di Depan:

  • Memang sengaja supaya mendapatkan penjelasan dan pemahaman yang lebih jelas (hak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman). Di belakang bisa jadi atau biasanya berpeluang lebih berisik sehingga mengganggu konsentrasi belajar.
  • Memang memiliki ‘mentalitas’ ingin menguji diri sendiri, menantang diri, membiasakan diri berani di depan.
  • Barang kali “penglihatannya minus”, sehingga jika duduk di belakang, tulisan di PPT atau papan tulis yang ditampilkan kurang terbaca jelas.
  • Mencari tempat yang lebih nyaman semisal di depan lebih dekat dengan pintu atau kipas angin.
  • Supaya “dikira pintar” oleh teman-temannya atau orang tertentu (yang sedang dilirik).
  • Supaya mendapatkan “perhatian khusus” dari guru/dosen.
  • Karena guru/dosennya ‘menarik’ sehingga betah duduk di depan.
  • Tanda kalau kemungkinan memiliki suara pelan (soft), sehingga jika ingin bertanya atau dimintai berpendapat takut tidak kedengeran.
  • Untuk menjaga keseimbangan. Masak iya semua duduk di belakang dan kursi depan dibiarkan kosong. Di sinilah muncul niat “rela berkorban” dari sebagian orang untuk duduk di depan.

Memilih Duduk di Belakang:

  • Merasa tidak pantas karena masih ada teman-teman lain yang lebih pintar dan pantas duduk di barisan depan.
  • Diselimuti rasa takut atau tidak percaya diri jika sewaktu-waktu ditanya atau disuruh maju.
  • Lebih memilih duduk bareng teman-teman dekatnya (satu circle) yang kebetulan semuanya senang duduk di belakang.
  • Supaya tidak ketahuan atau lebih leluasa bermain HP dan ngobrol.
  • Tanda kalau “penglihatannya normal” alias tidak terganggu, sehingga dari belakang pun tetap terlihat jelas.
  • Mencari tempat yang lebih nyaman semisal di belakang lebih dekat dengan jendela, pintu, atau kipas angin.
  • Untuk menjaga keseimbangan. Masak iya mau duduk di depan semua. Kursi yang disiapkan sampai belakang lalu untuk siapa? Di sinilah niat “rela berkorban” dari sebagian orang untuk duduk di belakang.
  • Tanda kalau kemungkinan memiliki suara keras/lantang, sehingga jika ingin bertanya atau dimintai berpendapat tidak kawatir karena akan kedengeran sampai depan.
  • Sengaja ‘merendah’ supaya dikira mahasiswa biasa-biasa saja.

 

4. Mengapa Memilih Banyak Diam Saat di Kelas?

Banyak Bicara:

  • Tertarik dengan lawan bicara (nyambung dan nyaman).
  • Topik pembahasan menarik.
  • Menguasai materi sehingga percaya diri untuk banyak berbicara.
  • Memang tipikal cerewet atau suka bercerita (ekstrovert).
  • Pengen diperhatikan atau mencari perhatian audiens.
  • Tahu sejak awal bahwa bagi yang aktif akan berpengaruh ke nilai, sehingga semangat untuk aktif.
  • Memang perlu penjelasan panjang lebar supaya tidak salah paham.
  • Tanda bahwa sedang tidak ‘sariawan’, sehingga on fire.
  • Tanda bahwa sudah sarapan sehingga amunisi tenaga sedang penuh.

Banyak Diam:

  • Malas menanggapi lawan bicara yang dianggapnya tidak nyambung atau ngeselin.
  • Topik pembahasan tidak menarik.
  • Memang karakternya pendiam dan pemalu (introvert).
  • Tidak menguasai materi sehingga takut untuk banyak berbicara.
  • Tahu sejak awal bahwa kalau pun aktif tidak akan berpengaruh ke nilai, sehingga malas untuk aktif.
  • Memang memutuskan untuk lebih banyak menempatkan diri sebagai “pendengar yang baik” meskipun sebenarnya mumpuni untuk berbicara.
  • Sedang ‘sariawan’ yang berkepanjangan, sehingga kurang nyaman jika banyak bicara.
  • Tanda bahwa belum sarapan sehingga amunisi tenaga sedang low battery.

 

5. Mengapa Selalu Datang Terlambat?

Selalu Terlambat:

  • Memang kebiasaan, habit, dan karakter moloran, menggampangkan, menyepelekan, tidak menghormati lainnya.
  • Karena ada sebab tak terduga, mendadak, urgent, dan penting (meskipun wagu masak iya bisa ‘ngepasi’ terus setiap pertemuan atau pas ada acara).
  • Tanda kalau memiliki “kesibukan lainnya”.
  • Tanda kalau tidak punya jam. Atau sebenarnya punya cuma “jam mati”.
  • Bisa jadi karena sudah tahu bakal tetap diizinkan masuk kelas.
  • Sengaja ingin “memberikan ujian” kesabaran kepada guru/dosen. Masak iya selama satu semester lancar-lancar terus. Kurang menantang. Ada orang-orang yang “rela berkorban” datang telat untuk meningkatkan pengalaman para pendidik, bahwa tidak semua kelas itu karakternya disiplin.
  • Jika konteksnya yang sering datang terlambat adalah si guru/dosen, bisa jadi tanda kalau si guru/dosen sedang “menguji kesabaran” peserta didiknya.
  • Supaya aturan/hukuman yang telah disakati ada yang melanggar. Kalau semua disiplin, aturan dan hukuman yang telah dipersiapkan selamanya tidak akan terpakai. Jatuhnya menjadi semacam hukum yang mubadzir (sia-sia).

Selalu Tepat Waktu:

  • Memang kebiasaan, habit, dan karakter disiplin.
  • Tanda kalau longgar, tidak ada atau tidak memiliki kesibukan lainnya.
  • Tanda kalau meskipun ada kesibukan tetapi selalu memprioritaskan, bertanggung jawab, berkomitmen, menghormati orang lain.
  • Tanda kalau punya jam dan “jamnya hidup”.

 

6. Mengapa Ingin Tampil Paling Menonjol di Dalam Kerja Kelompok?

Ingin Paling Menonjol:

  • Memiliki rasa percaya diri karena memang punya ‘sesuatu’ (kapasitas dan ide kreatif) yang ingin ditonjolkan.
  • Terkadang memang perlu ada yang tampil inisiatif dan menonjol untuk menginspirasi anggota lainnya supaya lebih bekerja keras, lain dari pada yang lain, dan tidak mudah puas sehingga hasilnya lebih optimal.
  • Supaya dianggap paling pintar dan paling mumpuni oleh teman-temannya.
  • Ingin membuktikan bahwa dia bisa, dia mampu, dan dia paling tepat/pantas dibanding lainnya.
  • Ingin mendapatkan nilai paling baik (paling unggul) dibanding lainnya.

Ingin Terlihat Biasa Saja:

  • Sadar bahwa yang terpenting dalam kerja kelompok adalah keselarasan, kesimbangan, dan keberlangsungan. Kalau semua adu kemenonjolan kapasitas, ditakutkan malah muncul masalah dan akan memperngaruhi kekompakan tim. Untuk itu lebih memilih untuk ‘mengalah’, menekan ego individual.
  • Yang terpenting sudah menjalankan tugas dan kewajiban dengan baik.
  • Tidak tertarik mendapatkan ‘pengakuan’ (validasi) dari orang lain.
  • Tidak punya ambisi lebih untuk lebih baik dari yang lainnya.
  • Apatis, tidak mau ‘mikir’, cenderung ‘manut’ dan ‘ngikut’ (pasif).
  • Memang ‘kosong’, tidak memiliki kapasitas atau kompetensi untuk ditonjolkan dibanding teman-temannya.

 

7. Mengapa Teman Kita Sikapnya Berubah?

  • Bisa jadi “tidak ada yang berubah”, melainkan perasaan kita saja yang sedang sensitif. Ada hal-hal yang sebenarnya sepele tetapi karena kita sedang baperan akhirnya merasa ada yang berubah.
  • Bisa jadi teman kita memang proses ingin merubah diri menjadi lebih baik. Teman kita mulai sadar dan membuat aktivitas-aktivitas baru yang dinilainya lebih produktif dan bermanfaat. Tidak lagi menghabiskan waktunya untuk nggrombol main ke sana kemari yang kurang jelas. Kitanya saja yang masih begini-begini, tidak ada kemajuan (perubahan).
  • Bisa jadi teman kita memang sedang ada masalah pribadi, sehingga sedang menutup diri kepada siapapun. Mungkin tidak akan selamanya, hanya saat kena masalah ini saja. Ketika masalahnya nanti selesai, ia akan kembali seperti semula.
  • Bisa jadi teman kita menemukan “lingkaran pertemanan baru” yang menurutnya lebih asik dan bermanfaat, sehingga intensitas dengan kita perlahan mulai dikurangi.
  • Bisa jadi teman kita mulai memiliki “kesibukan baru” seperti pekerjaan sampingan, hobi baru, atau lainnya sehingga waktu untuk main-mainnya mulai terbagi. Tidak bisa sama lagi seperti sebelumnya.
  • Bisa jadi teman kita mulai menjadi “orang penting” sehingga disadari atau tidak disadari berubah menjadi angkuh dan sombong.
  • Bisa jadi tanpa disadari kita sendiri yang justru mulai berubah sehingga teman kita mulai menjauhi bahkan meninggalkan kita.
  • Bisa jadi hanya salah paham karena mendapat informasi dari “pihak ketiga” yang mungkin keterangannya tidak lengkap atau malah ditambah-tambahi (dilebih-lebihkan).
  • Bisa jadi hanya gara-gara komunikasi yang kurang jelas dan tidak sengaja misalnya salah tulis, salah mengklik, salah mengirim, dan sejenisnya.

 

8. Mengapa Suka Nongkrong Bersama Teman-Teman?

Suka Nongkrong Bersama:

  • Memang hobi (kesukaan) untuk ngumpul, menyambung silaturahmi, sharing pengetahuan dan pengalaman.
  • Sebagai wadah melepaskan penat, membuang kebosanan, berkeluh kesah, dan mendapatkan masukan (solusi).
  • Ada kepentingan tertentu semisal membahas pekerjaan, tugas, atau lainnya.
  • Sedang ada yang diincar dari salah satu orang-orang tersebut, misal ingin dijadikan gebetan atau sedang ingin nagih hutang.
  • Memiliki cukup waktu longgar untuk nongkrong bersama.
  • Tanda memiliki “jaringan nongrong” bersama.
  • Tanda memiliki kemampuan finansial untuk nongkrong bareng (jika tempatnya di warung/kafe).

Tidak Suka Nongkrong Bersama:

  • Memang tidak hobi atau tidak memiliki ketertarikan untuk nongkrong bersama (cenderung lebih suka sendiri/menyendiri).
  • Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti diajak nggibah, membicarakan kejelekan orang lain, mabuk, kriminal, dan sejenisnya (meskipun sebenarnya nongkrong tidak selalu ke arah itu).
  • Sedang memiliki hubungan yang tidak baik dengan salah satu atau dengan semua teman-temannya tersebut.
  • Tidak memiliki waktu cukup karena memiliki kesibukan lainnya yang utama dan dianggapnya lebih bermanfaat.
  • Tidak ada kepentingan tertentu untuk diobrolkan bersama (selalu bisa diatasi sendiri).
  • Tanda tidak memiliki kemampuan finansial untuk nongkrong bareng (jika tempatnya di warung/kafe).

 

9. Mengapa Segala Aktivitas Dibuat Status (Dipublish)?

Selalu Dipublish:

  • Ada sesuatu yang ‘menarik’ untuk dipublish/diperlihatkan ke publik.
  • Untuk tujuan “menginspirasi dan mengedukasi” orang lain.
  • Memiliki “rasa percaya diri” yang tinggi.
  • Untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan popularitas.
  • Sebagai wujud ‘eksistensi’ dan ‘pemberitahuan’ ke publik atau ke “orang-orang tertentu”.
  • Untuk “melampiaskan kegelisahan” dan uneg-uneg yang mengganjal di pikiran/hati. Kalau belum dibuat status, hati akan terasa sesak, beban, dan mengganjal.
  • Bertujuan untuk ‘pamer’ (aktivitas, tempat, kepunyaan, jaringan, status pekerjaan, dll).
  • Ingin mendapatkan ‘pengakuan’ (validasi) atas segala yang dilakukan.
  • Tidak atau minim teman yang nyaman di “dunia nyata” untuk diajak bercerita.
  • Tanda kalau punya waktu ‘longgar’ (nganggur) untuk edit-edit dan upload-upload di medsos.
  • Tanda kalau punya pulsa.
  • Tanda kalau aktif di media sosial.

Minim Mempublish:

  • Memang berkarakter ‘malas’ upload-upload.
  • Tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup.
  • Menjaga serta membatasi “ruang privasi” supaya tidak semuanya diketahui publik.
  • Tidak ada yang “dirasa menarik” untuk dipublish dan diberitahukan ke publik.
  • Tidak ada yang dirasa bisa “menginspirasi dan mengedukasi” orang lain.
  • Menjaga aurat supaya tidak menimbulkan aib dan fitnah.
  • Memang jarang aktif di media sosial.
  • Tanda kalau tidak punya waktu untuk edit-edit dan upload di media sosial. Mungkin memiliki kesibukan lainnya.
  • Kuota pulsanya terbatas, sehingga digunakan untuk hal-hal yang lebih utama.
  • Meski jarang publish, bukan berarti tidak scroll-scroll dan melakukan “pergerakan bawah tanah” (stalking, via pesan, dll). Meskipun berandanya nol, tidak pernah atau jarang buat status (publish pemberitaan aktivitas), tetapi banyak juga yang sepanjang hari dan sepanjang waktu lengket dengan gadget untuk bermedia sosial. Terkadang malah lebih ‘nekat’ dalam mantengin layar HP. Sedangkan yang suka upload-upload (bikin status), ya sebatas upload kemudian ditinggal aktivitas lainnya. Ada pula yang seharian sibuk upload status sekaligus juga sibuk mantengin HP untuk bermedia sosial. Ada yang deretan statusnya menyerupai “jahitan benang”. Biasanya yang demikian terbagi ke dua hal. Pertama, karena memang tuntutan pekerjaan. Kedua, karena nganggur (tidak ada kerjaan lainnya).

 

10. Mengapa Suka Memberikan Like di Media Sosial?

Suka Memberikan Like di Medsos:

  • Sebagai bentuk penghargaan pada berita atau konten tersebut karena menarik, berbobot, dan memberi manfaat.
  • Ada maksud ‘khusus’ dari pemberi like kepada si pemilik konten.
  • Menunjukkan pada orang lain (teman yang mengikuti/publik) bahwa ia telah melihat, dan respect pada konten tersebut.
  • Membantu teman dalam memajukan usahanya (bagi yang sudah kenal atau sudah ada janjian).
  • Memang tipikal peng-like (banyak sekali yang diberi like, terlepas yang disukai atau tidak disukai, dikenal atau tidak dikenal). Mungkin semacam “orang gampangan” dalam memberikan like. Bisa dimaknai punya jiwa pesedekah (murah memberi) untuk kemajuan konten, bisa juga dimaknai ‘murahan’.

Tidak Suka Memberikan Like di Medsos:

  • Memang tidak tertarik pada konten tersebut. Bisa jadi karena bukan kesukaannya, tidak penting, atau karena receh.
  • Tidak ingin menimbulkan ‘tafsir’ yang tidak-tidak jika dilihat oleh si pemilik konten yang diberinya like.
  • Tidak ingin diketahui oleh teman-temannya atau siapapun bahwa ia sebenarnya pernah melihat konten tersebut.
  • Memang bukan tipikal yang mudah memberi like. Sekedar lihat dan tahu saja. Hanya akan memberikan like kepada konten-konten tertentu saja yang dianggapnya benar-benar bermutu dan urgent. Bahasa lainnya, bukan “orang gampangan” untuk memberikan like. Bisa dimaknai punya jiwa pelit (tidak suka memberi), bisa juga dimaknai ‘tidak murahan’.
  • Memang apatis dan masa bodoh pada konten-konten yang ada.
  • Memang jarang aktif di media sosial.

 

11. Mengapa Suka Berdandan?

Lebih Memilih Sering Berdandan:

  • Lebih percaya diri dan merasa lebih ganteng/cantik saat keluar dan dilihat orang (meskipun di mata sebagian orang lain justru dianggap aneh/menor sehingga menjadi kurang cantik/ganteng).
  • Untuk mengimbangi dan mengikuti tren teman-teman di sekitarnya (terutama di circle-nya).
  • Supaya ‘diterima’ di lingkungan pertemanan yang mayoritas berdandan.
  • Sesuatu yang ‘terpaksa’ karena kondisi, semisal karena tuntutan pekerjaan.
  • Sekali berdandan, jika kemudian tidak berdandan biasanya ada yang terasa kurang.
  • Memiliki kemampuan finansial untuk membeli makeup/kosmetik/peralatan berdandan.

Lebih Memilih Tidak Berdandan:

  • Memang “tidak tertarik” karena merasa tidak nyaman. Merasa lebih percaya diri jika tampil apa adanya alias natural (meskipun di mata sebagian orang lain dianggap katrok, polos, tidak modis, tidak mengikuti tren, terlihat kurang cantik/ganteng).
  • Pekewuh karena lingkungan pertemanan/kerja mayoritas tidak berdandan (natural).
  • Tidak cocok dan merusak kulit/badan, sehingga memutuskan untuk tidak berdandan.
  • Tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli makeup/kosmetik/peralatan berdandan.

 

12. Mengapa Apa-Apa (Diusahakan) Sendiri?

Memilih Apa-Apa Sendiri:

  • Merasa lebih nyaman kalau beraktivitas secara independen sehingga tidak pekewuh, tidak terikat, dan lebih bebas sesuka hati. Bahasa lainnya adalah “nyaman dengan kesendirian”, kesendirian untuk beraktivitas.
  • Sanggup untuk menjalani atau menyelesaikan sendiri.
  • Bisa jadi tanda kalau tidak punya teman (atau dijauhi teman-temannya).

Memilih Apa-Apa Bareng-Bareng:

  • Tanda memiliki teman dan diterima oleh teman-temannya tersebut.
  • Sengaja meniatkan diri melatih kebersamaan dan kekompakan.
  • Bisa jadi tanda kalau tidak bisa melakukan secara sendirian alias ‘ketergantungan’ harus selalu bersama-sama.

 

13. Mengapa Selalu Mengalah?

Selalu Mengalah:

  • Memiliki “kedewasaan diri” (mengelola egoisme) supaya tidak memperpanjang masalah.
  • Mengalah tidak berarti kalah, melainkan mengalah untuk menjadi ‘pemenang’ (berhasil menakhlukan ego), momong temannya yang belum dewasa.
  • Karena memang posisinya salah, sehingga sadar diri jika tetap keras kepala malah akan disalahkan.
  • Karena memang jiwanya penakut sehingga jadi “bahan kelahan” oleh teman-temannya.
  • Tidak punya pilihan.
  • Termakan “cinta buta”, sehingga setiap ada masalah selalu yang mengalah (merasa salah).

Tidak Mau Mengalah (Menangan):

  • Sedang memperjuangkan hal yang memang harus diperjuangkan (kebenaran) sehingga pantang mengalah.
  • Tidak/belum memiliki kedewasaan diri sehingga egoisme (rasa ingin benar dan menang sendiri) masih tinggi.
  • Memiliki sikap berani dan keras kepala untuk menantang teman-temannya, sehingga teman-temannya yang justru takut dan selalu mengalah.
  • Miliki daya tawar untuk bertahan (tidak kalah/harus mengalah).

 

14. Mengapa Suka Berterus Terang (Blak-Blakan)?

Suka Blak-Blakkan:

  • Karakternya memang tidak pekewuhan (pakai rasa).
  • Memiliki mental berani jujur apa adanya.
  • Tidak suka ngrasani (membicarakan di belakang).
  • Tidak nggubris jika bakal ada yang tersinggung dan marah atau tidak.
  • Supaya masalahnya jelas dan terang sejak awal sehingga cepat selesai.
  • Tidak sanggup memendam masalah/informasi sendirian.

Suka Dipendam:

  • Tidak punya tempat atau teman untuk bercerita/berkeluh kesah.
  • Malu atau takut menceritakan kepada orang lain (introvert).
  • Merasa bisa menyelesaikan masalah sendiri.
  • Tidak ingin memperpanjang masalah/urusan hingga ke pihak-pihak lain.

 

15. Mengapa Pelit (Tidak Mau Berbagi) kepada Orang Lain?

Pelit Berbagi:

  • Memang tidak punya rezeki yang cukup untuk membayari/dibagikan.
  • Ada kebutuhan lain yang lebih mendesak (utama) dan perlu dicukupi lebih dulu.
  • Orang yang dibantu tipikal rese, menyebalkan, dan tidak tahu balas budi.
  • Hanya kepada orang-orang tertentu saja seperti saudara, teman dekat, pacar, atau lainnya.
  • Karakternya memang pelit bin meledit.

Dermawan (Suka Berbagi):

  • Karena punya rezeki cukup untuk membayari/dibagikan.
  • Meyakini bahwa membantu orang adalah ibadah sehingga mendapat pahala.
  • Meyakini bahwa ketika sering membantu orang lain, kelak juga akan dibantu orang lain saat mengalami kesulitan.
  • Bahwa rezeki yang dimiliki hanya ‘titipan’, jika dikasih lebih (cukup), tanda bahwa rezeki tersebut untuk membantu hamba lainnya. Kalau nekat tidak dikeluarkan, titipan rezeki tersebut akan ‘dipaksa’ keluar oleh Sang Maha Pemberi Rizki lewat jalur yang tak terduga (biasanya kesialan).
  • Karena orang yang dibantu tipikal baik hati, bertanggung jawab, dan tahu terima kasih.
  • Meskipun yang dibantu tidak tahu terima kasih, ia tidaklah mempermasalahkan, karena niat membantu adalah tanpa mengharap sesuatu apapun entah itu materi, penghormatan, terima kasih, perhatian dan lainnya. Intinya niat membantu ya membantu saja secara ikhlas atas dasar kemanusiaan. Tidak mengharap untuk dikembalikan, ditolong, dihormati. Tidak pula memikirkan supaya dapat pahala atau surga. Menempatkan bersedekah sebagai bentuk ibadah yang benar-benar ikhlas, tidak layaknya transaksi jual beli atau barter yang tentu menginginkan keuntungan. Sama sekali tidak. Tujuan membantu atau berbagi ya benar-benar karena nurani yang dilandasi ajaran dari ‘Pusat’. Bahkan tidak meminta imbalan apapun dari ‘Pusat’. Inilah “setulus-tulusnya ikhlas”.
  • Memang karakternya dermawan, suka berbagi, ringan berbagi. Mau pas kaya atau sedang kekurangan, tetap mengusahakan berbagi semampunya.

 

16. Mengapa Semua Tidak Ikut Demo ke Jalan?

Ikut Demo:

  • Demo dengan “kesadaran penuh”, benar-benar untuk memperjuangkan sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja agar menjadi lebih baik, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
  • Memang memiliki keberanian dan nyali untuk turun ke lapangan dengan segala resiko yang akan diterima/dihadapi.
  • Hanya “ikut-ikutan demo” untuk meluapkan gairah sebagai anak muda.
  • Ikut demo untuk keperluan “dibuat status” di media sosial dan sebagai ‘validasi’ sudah merasa ikut berjuang.
  • Ikut demo karena ada “pihak yang menyuruh dan menyewa” untuk kepentingan praktis sekelompok pihak/golongan tertentu.

Tidak Ikut Demo:

  • Tidak ikut demo bukan karena tidak mau melainkan karena ada keperluan/pekerjaan/kesibukan lain yang juga perlu diperjuangkan dan sangat penting (sulit untuk ditinggalkan), apa lagi sebagai kepala keluarga. Kalau semua demo, siapa yang bekerja di pasar, membajak di sawah, jaga di rumah sakit, mengajar di sekolah, menjadi sopir bus, yang jaga penjara, dll.
  • Memang tidak memiliki keberanian turun ke lapangan dengan segala resiko yang dihadapi, tetapi tetap ikut mendoakan dan mendukung barisan yang turun demo agar misinya sukses.
  • Memiliki kesadaran “bagi tugas” bahwa tidak semua perjuangan harus lewat demo turun ke jalan melainkan ada jalan perjuangan-perjuangan lainnya seperti lewat tulisan, pendidikan, media sosial, forum-forum diskusi, dll.
  • Memang tidak tertarik demo dan cenderung apatis (masa bodoh).

 

17. Mengapa Bersedekah/Berinfak Perlu Diperlihatkan?

Sedekah/Berinfak Diperlihatkan:

  • Karena iman sudah mendekati ‘kokoh’. Mau yang disedekahkan besar atau kecil, mau dilihat orang atau tidak dilihat orang, tidak dipedulikan. Niat sudah lurus ke ‘pusat’. Dirasani atau tidak, tidak mempengaruhi sedikitpun pada niat, mental dan iman.
  • Untuk memberikan inspirasi, edukasi, dan menggerakkan lainnya agar tergugah untuk ikut sedekah/berinfak. Bayangkan jika semua orang bersedekah secara senyap dan sembunyi-sembunyi, tentu akan menghambat semangat gotong royong bersedekah. Memang sebagian perlu diperlihatkan dengan niatan positif.
  • Sebagai bentuk ‘pertanggungjawaban’ terutama jika dilakukan oleh pihak pendistribusi atau yang diamanahi menyerahkan bantuan secara kolektif. Sebagian perlu diperlihatkan untuk ‘transparansi’ pertanggungjawaban kegiatan.
  • Ingin ‘pamer’ bahwa ia mampu bersedekah, sehingga akan dianggap orang sholeh/sholehah, dermawan/dermawati (mendapatkan pengakuan/validasi).

Sedekah/Berinfak Disembunyikan:

  • Takut terjebak riya’ (pamer) dikarenakan merasa iman masih labil.
  • Ditakutkan belum siap mental jika dilihat orang lain, karena akan berpotensi dirasani dan dijadikan bahan gunjingan (dianggap sok atau sombong).
  • Melatih hati lebih tulus semata-mata karena Tuhan, bukan karena penilaian orang.
  • Malu jika dilihat orang lain karena yang disedekahkan/diinfakan hanya kecil.
  • Memang tidak ingin diketahui dengan alasan tertentu (kasus khusus).

 

18. Mengapa Kalau Jumat’an Memilih Duduk di Belakang?

Jumatan Selalu Duduk Paling Depan:

  • Niat baik untuk berusaha menjaga konsistensi dan iman (mengamalkan anjuran agar lebih awal dan memenuhi bagian depan dahulu).
  • Mentalitas bahwa harus selalu di depan agar pahalanya paling banyak dibanding jamaah yang lain. Masuk golongan “pemburu pahala”.
  • Agar dikira sholeh (untuk laki-laki) atau sholehah (dalam artian barisan terdepan di tempat jamaah putri).
  • Karena memang petugas/takmir masjid setempat, sehingga tiap jumat standby duduk di baris paling depan.

Jumatan Selalu Duduk Di Belakang:

  • Bagi para Kyai/Ulama senior memiliki niat tidak ingin ‘mengganggu’ fokus dan mental khotib muda, takut merusak konsentrasi saat menyampaikan khutbah.
  • Memang memiliki ‘mentalitas’ datang telat/mepet sehingga dapatnya sisa kosong di belakang, karena baris depan sudah penuh.
  • Memang memiliki mentalitas duduk di belakang supaya dapat sambil mainan HP, ngobrol dengan temannya, dan keluarnya lebih gampang, serta bisa duluan.

 

19. Mengapa Kalau Tarawih Selalu Tidak Full Sebulan?

Tarawih Penuh Sebulan:

  • Niat baik menjaga konsistensi dan iman.
  • Tanda kalau memiliki waktu longgar (tidak ada tuntutan mendesak) atau sengaja berkomitmen melonggarkan waktu agar bisa Tarawih.
  • Ingin dilihat orang lain supaya dianggapnya sholeh (untuk laki-laki) dan sholehah (konteks penuh untuk jamaah putri sesuai jumlah maksimal kodrat wanita).

Taraweh Tidak Penuh Sebulan:

  • Sengaja agar tidak dikiranya wajib. Sesuatu yang sunnah tidak boleh diposisikan/digeser menjadi atau setara wajib. Jatuhnya “kriminalitas ibadah”. Dari ‘pusatnya’ saja tidak ‘diwajibkan’, melainkan ‘disunnahkan’.
  • Memang ada “halangan penting” yang membuat tidak penuh sebulan.
  • Tuntutan pekerjaan pada malam hari, sedangkan bekerja juga ibadah, terutama para kepala keluarga.
  • Memang karakternya malas sholat Tarawih, sehingga banyak yang bolong.

 

20. Mengapa Sebagian Pesantren Memilih Tidak Mengadakan Program Sholat Tahajud Bersama Setiap Malam?

Mewajibkan Tahajud Bersama Setiap Malam:

  • Memilih setiap hari tanpa jeda diniatkan untuk semat-mata melatih konsistensi dan menjaga keimanan.
  • Untuk pencitraan agar pesantrennya dipandang “sangat agamis” sehingga dipercaya masyarakat dan santri/siswanya banyak.

Tidak Mewajibkan Tahajud Bersama Setiap Malam:

  • Lebih memilih ‘sewajarnya’ saja. Memang melarang sesuatu yang sunnah digeser menjadi wajib. Itu dianggap sesuatu yang ‘kriminal’ dalam ibadah. Tuhan saja tidak memberatkan sebegitunya. Tuhan menganjurkan, bukan mewajibkan.
  • Sebaik-baiknya Tahajud adalah sendirian, bukan bareng-bareng (berjamaah). Tujuannya supaya bisa benar-benar ‘intim’ mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Untuk edisi bareng-bareng (jamaah) utamanya yang wajib, sudah ada jadwalnya sendiri yakni sholat fardhu lima waktu.

 

21. Benarkah Makan Daging Ayam itu Halal (versi Islam)?

  • Tergantung, daging ayamnya busuk atau tidak?
  • Jika pun daging ayamnya baik, matinya disembelih atau tidak?
  • Jika pun matinya disembelih, disembelihnya di bagian yang dianjurkan syari’at atau tidak?
  • Jika pun disembelih di bagian yang dianjurkan syari’at, alat dan cara menyembelihnya sudah benar atau belum? Jangan-jangan pisaunya tidak tajam sehingga menyiksa si ayam.
  • Jika pun sudah disembelih dengan alat dan cara yang dianjurkan, nyembelihnya sambil membaca doa atau tidak?
  • Jika pun sudah membaca doa, doa yang dipakai sesuai yang diajarkan dalam Islam atau tidak?
  • Jika pun disembelih pakai doa sesuai yang diajarkan (disyari’atkan), itu ayam milik sendiri atau hasil maling/mencuri?

 

22. Apakah Benar Kita Bisa Melihat Karena Punya Mata?

  • Sebenarnya kalau kita punya mata normal, belum tentu bisa melihat juga, paling mentok bisa melihat gelap. Itu terjadi jika tidak ada “cahaya/terang”, entah dari sinar matahari atau pun sinar cahaya buatan manusia. Tanpa ada cahaya terang sedikitpun, yang ada seluruh alam raya ini hanya gelap dan tidak bisa melihat benda apapun, sekalipun mata kita normal. Sehingga dengan kata lain, kita bisa melihat bukan semata-mata karena punya mata normal melainkan karena ada “cahaya terang”.
  • Mata Fisik yang normal belum tentu bisa melihat nurani atau nur (petunjuk), karena ini tugasnya “Mata Batin” (Mata Hati). Untuk bisa melihat petunjuk, maka Mata Batin juga butuh cahaya, tetapi bukan cahaya fisik seperti sinar matahari atau lampu center, melainkan “cahaya iman”.

 

23. Kenapa di Dunia Ini Ada Orang Baik dan Orang Buruk?

  • Supaya Malaikat pencatat amal baik dan amal buruk ada pekerjaan, tidak nganggur.
  • Supaya Pak Ustad/Pendeta/Biksu dan para tokoh agama punya pekerjaan.
  • Supaya keberadaan kitab-suci dan ajaran Tuhan yang di bawa para nabi ada gunanya.
  • Supaya bapak ibu guru punya pekerjaan dalam mendidik siswa siswinya menjadi orang baik, yang tidak baik dididik menjadi baik.
  • Supaya orang tua atau keluarga memiliki pekerjaan mendidik dan melindungi anak-anaknya dari kejahatan.
  • Supaya Surga dan Neraka besuk sama-sama ada yang menempati.
  • Supaya petugas-petugas di Surga dan Neraka besuk ada pekerjaan untuk mengurusi penduduknya masing-masing.
  • Supaya orang-orang sabar (orang baik) teruji kesabarannya, dengan mendapat cobaan dari orang-orang buruk.
  • Supaya orang-orang buruk mendapat peluang pertolongan dari orang-orang baik.
  • Supaya hidup lebih bewarna, ada gesekan-gesekan, ada geger-gegernya, ada konflik-konfliknya, yang buruk ada yang ketarik menjadi baik, yang baik ada yang ketarik menjadi buruk. Intinya ada warna-warni ujian. Tidak flat (datar). Jika flat, bisa dibayangkan betapa menjenuhkannya hidup ini.

 

24. Mengapa Sebagian Doa Belum/Tidak Dikabulkan?

Ada Doa yang Dikabulkan:

  • Tanda pernah/sering berdoa.
  • Tanda bahwa punya Tuhan, Sang Pengabul Doa.
  • Tanda bahwa Tuhan Maha Memiliki segala apa yang diinginkan hambanya.
  • Tanda bahwa ia disayang dan keinginannya didengar dan dikabulkan Tuhan.
  • Bisa juga tanda bahwa Tuhan sedang menguji lewat “jalur kenikmatan” (di antaranya doa-doanya selalu/banyak dikabulkan).
  • Ingin melihat apakah setelah diberi nikmat (dikabulkan), hambanya tersebut tetap syukur atau kufur.

Ada Doa yang Belum/Tidak Dikabulkan:

  • Tanda kalau hanya seorang manusia biasa, bukan TUHAN. Manusia biasa tidak bisa mewujudkan segala apa yang diinginkannya. Kalau TUHAN, Maha Segalanya, apapun bisa diwujudkan sekehendak-Nya.
  • Tanda “banyak dosa” sehingga perlu ‘dibersihkan’ atau ‘ditipiskan’ (dikurangi) dahulu. Dosa yang sudah menumpuk menjadi ‘pengganjal’ terkabulnya doa. Pembersihan dosa secara umum diperoleh dengan dua cara. Pertama, dari si manusia itu sendiri dengan cara tobat, banyak berbenah, dan meningkatkan ibadah. Kedua, langsung dari ‘Pusat’ yakni dengan cara banyak diberi ujian berat, rasa sakit, rasa pilu, tangis, dan doanya ditahan/tidak dikabulkan. Ketika semua itu sudah terlewati, dosanya sudah menipis, barulah [sebagian] doa-doa tadi dikabulkan.
  • Bukan karena banyak dosa, melainkan Tuhan memang ingin menguji “kualitas kesabaran” untuk meningkatkan “kelas, derajat, atau level” keimanan seseorang. Ibarat kata, yang tadinya kelas ringan akan naik menjadi kelas medium, atau yang awalnya kelas medium menjadi kelas berat. Untuk “naik kelas” pasti dibutuhkan ‘ujian’. Dan salah satu ujian naik kelas tersebut adalah tidak setiap doa langsung dikabulkan. Dia perlu melewati serangkaian ujian berat dahulu agar bisa “naik kelas”. Naik kelas pertanda “naik kualitas”.
  • Tanda kalau kurang kerja keras, usahanya belum pol-polan, kurang kencang doanya, kurang ikhlas doanya, atau memang karena selama ini “malas berdoa” (meminta).
  • Bisa jadi Tuhan hanya ‘dilibatkan’ (hanya diingat) ketika kita memiliki hajat/keinginan semata. Artinya Tuhan hanya dilibatkan untuk memenuhi “nafsu-nafsu duniawi” semata. Tujuan utamanya bukan penghambaan ke Tuhan, tetapi lebih ke supaya “keingianan duniawi”nya terkabul. Sehingga posisinya “keinginan duniawi” dinomorsatukan dahulu, baru Tuhan disusulkan dan dilibatkan untuk memenuhi keinginan duniawi tersebut. Ini sejenis ‘kriminalisasi’ dalam ibadah doa, karena polanya kebalik. Harusnya penghambaan terhadap Tuhan dinomorsatukan dulu, baru kepentingan hajat-hajat (keinginan duniawi) menyusul untuk dimintakan. Ingat Tuhannya dulu, baru ingat hajatnya. Ibarat Tuhan adalah pemilik perusahaan, mestinya yang didekati, disembah, dipuja dan dimintai tolong adalah pemilik perusahaannya dulu, bukan perusahaannya itu sendiri.
  • “Yang diinginkan” (versi manusia) belum tentu “yang butuhkan” saat ini (versi kaca mata Sang Pengabul Doa). Bisa jadi apa yang kita inginkan tersebut dibutuhkannya masih 1 tahun yang akan datang, 2 tahun yang akan datang, 10 tahun yang akan datang, atau malah sebenarnya kita tidak membutuhkannya. “Apa yang diinginkan belum tentu apa yang dibutuhkan”. Manusia pada dasarnya memiliki banyak ‘ingin’. Ingin ini, ingin itu.
  • “Yang diinginkan” (versi manusia) belum tentu “yang terbaik” untuknya (versi kaca mata Sang Pengabul Doa). Bisa jadi jika setiap keinginan manusia langsung dikabulkan justru akan berdampak buruk. Bisa jadi kita menjadi sombong, menjadi angkuh, semakin rakus, dan lupa pada Sang Penciptanya.
  • Tanda Tuhan ingin melihat hambanya, apakah akan “berputus asa” atau tetap “menjaga asa”, apakah masih “punya harapan” atau akan “putus harapan”. Tuhan ingin melihat apakah hambanya akan “meninggalkan-Nya”, atau “tetap bersama-Nya”.

Komentar