Gender adalah suatu konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat mengenai peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum adam sering diidentikkan dengan perannya sebagai pelindung, pengayom, dan pemimpin dalam masyarakat sedangkan kaum hawa adalah kelompok dengan tipikal lemah lembut, suka dikasih sayangi, dan mengedepankan afektif dalam berpikir dan bertindak. Perbedaan antara keduanya ini mengakibatkan masyarakat memiliki suatu pandangan yang menempatkan kaum laki-laki yang harus menampilkan sifat maskulin dan kaum perempuan yang harus menampilkan sifat feminim. Keberadaan pandangan tentang gender ini tidak hanya ditemui dalam kehidupan di lingkungan sosial saja akan tetapi dalam lingkup pembelajaran juga terdapat bias gender antara kaum laki-laki dan perempuan. Pembelajaran sejarah misalnya, dimana dalam pembelajaran sejarah terkadang masih ditemukan dikotomi antara kaum laki-laki dan perempuan yang menyebabkan salah satu pihak merasa dikesampingkan.

Nggibah Akademis yang dilaksanakan pada tanggal 20 November 2024 menyoal mengenai masalah narasi gender dalam pembelajaran sejarah di Indonesia. Dua narasumber yang menjadi pembicara dalam Nggibah Akademis kali ini adalah Yasmin Nindya Chaerunissa, S. Pd., M. Pd. dan Ardeti Jeni Abdillah, S. Pd., M. Pd. Narasumber pertama adalah dosen program studi S1 pendidikan sejarah UNS dan narasumber kedua adalah mahasiswa yang tengah menempuh studi doktoral di program studi S3 pendidikan sejarah UNS. Latar belakang dipilihnya kedua narasumber di atas untuk mengisi acara Nggibah Akademis kali ini dikarenakan kedua narasumber memiliki rekam jejak dalam penelitian tentang gender dalam pembelajaran sejarah, dimana narasumber pertama melakukan riset tentang gender dalam pembelajaran sejarah untuk tesisnya di Universitas Pendidikan Indonesia. Narasumber kedua saat ini juga tengah fokus mengadakan studi penelitian tentang gender dan merancang sebuah produk untuk pembelajaran sejarah yang mendudukkan gender dalam persamaan atau ekuilibrasi.

Pembahasan mengenai bias gender dalam pembelajaran sejarah sepertinya tidak akan pernah ada ujungnya. Menurut narasumber, orang Indonesia sendiri sebenarnya kalau mau mencapai kesetaraan gender maka langkah awal yang harus dilakukan adalah mengubah pemikiran manusia Indonesia. Salah satu cara mengubah pemikiran adalah melalui pembelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah. Pembelajaran sejarah tentunya harus mulai memperhatikan konten-konten dalam buku teks dan sumber belajar lainnya yang menempatkan porsi yang sama untuk kaum laki-laki dan perempuan. Contoh masalah dalam pembelajaran sejarah yang tidak ramah gender seperti penekanan tokoh-tokoh pahlawan laki- laki daripada perempuan.

Narasumber juga menambahkan tentang adanya sumbangsih yang tidak kecil dari kaum perempuan terhadap sejarah bangsa Indonesia. Faktor yang menyebabkan jarangnya pemunculan tokoh-tokoh pahlawan perempuan dalam materi sejarah salah satunya karena sumber sejarah tentang hal tersebut sangat minim. Keadilan gender juga harus diimbangi dengan keadilan geografis, artinya untuk pembelajaran sejarah jangan terlalu Jawa sentris karena hal tersebut akan berdampak terhadap munculnya rasa inferiority dari masyarakat di daerah lain yang merasa daerahnya kurang diperhatikan dalam sejarah bangsa Indonesia. Sejarah adalah mata pelajaran yang dapat berkontribusi dalam mengubah mindset tentang gender salah satunya dengan mengajarkan bahwa semua pihak berjuang untuk mengisi sejarah bangsa Indonesia baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan dan yang berasal dari Jawa maupun luar Jawa.

Penutup dari Nggibah Akademis kali ini adalah kutipan dari Pramoedya Ananta Toer dimana keadilan akan terwujud jika adil telah dimulai sejak dari pikiran. Pikiran yang adil akan mendorong seseorang berbuat adil dalam realitas kehidupannya. Pembelajaran yang adil adalah salah satu cara melatih berpikir yang adil. Sampai jumpa di Nggibah Akademis edisi berikutnya…

Komentar