Views: 691
Views: 691
Oleh: Dadan Adi Kurniawan
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret
Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id
“Yen kesel leren, yen mumet ditinggal ngopi, ning ojo lali sesuk dibaleni lan diteruske kanti tlaten ngasi rampung”
(Kalau capek istirahat, kalau pusing ditinggal ngopi, tetapi jangan lupa besuk kembali diteruskan secara tekun sampai selesai)
PENDAHULUAN
Hallo sobat Pendidikan Sejarah FKIP UNS. Ada yang kesulitan atau bingung menyusun tugas akhir skripsi (Kualitatif)? Tenang, Anda tidak sendirian. Dulu penulis juga pernah merasakannya. Kebingungan dan kesulitan adalah hal wajar yang banyak dialami mahasiswa, terutama ketika akan mengajukan judul, memulai pembuatan proposal dan proses penyusunan skripsi. Untuk bisa paham, butuh proses bingung. Untuk bisa benar, butuh proses salah. Untuk merasakan manis, butuh merasakan pahit. Untuk bisa berdiri, butuh terjatuh. Dan untuk bisa selesai, harus dimulai. Berikut secuil “coretan alternatif sederhana” yang penulis susun dalam rangka membantu memudahkan rekan-rekan mahasiswa dalam menyusun skripsi, khususnya Penelitian Kualitatif di Program Studi S1 Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret. Semoga bermanfaat.
PAHAMI DULU PERBEDAAN PENELITIAN KUALITATIF, KUANTITATIF, HISTORIS, DAN PTK
Pengkategorian dan pemaknaan jenis-jenis penelitian skripsi di Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS memiliki ciri khasnya sendiri. Sebagai contoh, di luar, Penelitian Historis itu bagian dari Penelitian Kualitatif. Kualitatif dan Kuantitatif lebih bersifat wujud pengemasannya. Namun di Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS sedikit berbeda. Berikut penulis sajikan garis besar perbedaan jenis-jenis penelitian skripsi menurut kaca mata “tradisi” di Prodi pendidikan Sejarah FKIP UNS.
a. Dari Segi Waktunya:
• Kualitatif = Masa Kini (bisa diamati saat sedang penelitian)
• Kuantitatif = Masa Kini
• PTK =Masa Kini dan Ke Depan (bisa diamati ketika sedang penelitian)
• Historis = Masa Lampau (kejadiannya sudah lewat sehingga tidak bisa diobservasi)
b. Dari Segi Sifat Alamiah Tidaknya:
• Kualitatif = Memotret Kondisi Alamiah saat ini (benar-benar apa adanya, tidak boleh diarahkan)
• Kuantitatif = Memotret Kondisi Alamiah saat ini (benar-benar apa adanya, tidak boleh diarahkan)
• Historis = Memotret Kondisi Alamiah di masa lampau (benar-benar apa adanya sesuai sumber yang ada)
• PTK = Awalnya memotret Kondisi Alamiah, tetapi kemudian Tidak Alamiah lagi (justru ada Intervensi/Tindakan/Campur Tangan agar kondisinya menjadi seperti yang diharapkan).
c. Dari Segi Metode Utama dan Penyajiannya:
• Kualitatif = Wawancara, Observasi, Studi Dokumen. Disajikan secara deskriptif analitis.
• Kuantitatif = Penyebaran Angket, pakai Program Penghitungan menggunakan rumus. Disajikan secara kuantitatif (tentu juga tetap deskriptif).
• PTK = Observasi, Wawancara, Tes, Penyebaran Angket, Studi Dokumen. Disajikan secara campuran.
• Historis = Studi Dokumen, Wawancara, Studi Pustaka. Disajikan secara deskriptif analitis.
KRITERIA JUDUL SKRIPSI KUALITATIF PENDIDIKAN SEJARAH
Karena Prodinya Pendidikan Sejarah, maka segala judul kualitatif yang diajukan “tidak boleh keluar dari ruang lingkup atau koridor Pendidikan Sejarah”. Ini sangat penting diperhatikan, karena belakangan terdapat beberapa judul skripsi mahasiswa yang sebenarnya tidak diperbolehkan di Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS.
Beberapa contoh nyatanya adalah judul-judul yang mengangkat tema “Periwisata”. Semisal “Strategi Pengelolaan Pariwisata Kampung X di Desa A Kabupaten Z”. Kenapa judul ini tidak diperbolehkan?? Karena judul tersebut tidak relevan dan tidak ada hubungannya dengan ruang lingkup bidang garapan Prodi Pendidikan Sejarah UNS. Judul tersebut lebih tepat diajukan di Prodi D-III Pariwisata.
Judul tersebut bisa diajukan di Prodi Pendidikan Sejarah UNS jika diubah menjadi misalnya “Strategi Pengelolaan Kampung X sebagai Destinasi Wisata Sejarah di Kabupaten Z”. Atau bisa juga diubah menjadi misalnya “Peranan Pokdarwis dalam Mengembangkan Desa Wisata X untuk Menanamkan Kesadaran Sejarah Masyarakat di Desa Z”.
Judul-judul tersebut bisa diajukan dengan syarat jika obyek yang dikaji “benar-benar memuat unsur/nilai/edukasi sejarah”. Jika yang dikaji merupakan jenis wisata/pariwisata alam atau lainnya yang “sama sekali tidak mengandung unsur sejarah/edukasi sejarah”, maka tidak bisa diajukan. Biarkan tempat tersebut menjadi obyek kajian Prodi lain yang relevan.
CONTOH -CONTOH JUDUL SKRIPSI KUALITATIF YANG IDEAL
A. Contoh-Contoh Judul Kualitatif dalam Pembelajaran Sejarah di Kelas
Dalam konteks Penelitian Kualitatif, contoh judul yang kurang ideal misalnya “Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2024/2025”. Judul seperti ini belum memperlihatkan variabel masalah yang spesifik. Pembelajaran sejarah itu merupakan sesuatu yang masih general, di mana di dalamnya memuat banyak aspek. Judul yang demikian akan menyulitkan peneliti mencari teori/konsep yang tepat. Tidak hanya itu, judul tersebut juga memaksa peneliti meriset semua aspek pembelajaran sejarah. Pembelajaran sendiri melingkupi banyak aspek seperti pendidik, peserta didik, proses, RPP/Modul Ajar, sistem evaluasi, metode, model, media, alat/teknologi, sumber belajar, pendekatan, prasarana, dll. Apakah iya semua aspek tersebut akan diteliti bersamaan dalam satu penelitian (satu judul)?
Untuk itu diperlukan pemfokusan aspek dari pembelajaran sejarah. Judul di atas bisa diubah menjadi misalnya “Pemanfaatan Teknologi Modern dalam Pembejaran Sejarah di SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2025/2026”. Judul ini fokus meneliti sejauh mana pemanfaatan teknologi modern yang digunakan guru maupun siswa dalam pembelajaran sejarah. Beberapa hal yang bisa dipertanyakan misalnya mengapa guru dan siswa memanfaatkan teknologi modern dalam pembelajaran, teknologi modern apa saja atau yang seperti apa yang digunakan, seperti apa manfaatnya, apa saja kendalanya. Judul tersebut juga bisa dibuat misalnya “Internalisasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Surakarta”. Judul ini fokus meneliti bagaimana proses penanaman karakter ke dalam diri siswa lewat pembelajaran sejarah, karakter apa saja yang ditanamkan, bagaimana cara atau strategi internalisasi (penanamannya), dan apa saja kendalanya.
Contoh lain terkait judul-judul skripsi kualitatif dalam pembelajaran sejarah misalnya “Implementasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Project Based Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Siswa di SMA Negeri 1 Surakarta”. Judul ini fokus meneliti mengapa pembelajaran didesain berbasis PJBL, keterampilan seperti apa yang diperoleh, proyek-proyeknya apa saja, bagaimana guru mendesain pembelajaran berbasis PJBL, kendala-kendala apa saja yang dialami guru dan siswa dalam menerapkan model belajar PJBL.
Judul lain berikutnya yang terbilang spesifik terkait pembelajaran sejarah misalnya “Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kerangka Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Surakarta”. Judul ini fokus meneliti sejauh mana bukti-bukti realisasi bahwa pembelajaran sejarah sudah berdiferensiasi, seperti apa konsep dan tujuan pembelajaran berdiferensiasi sesuai pedoman Kurikulum Merdeka, bagaimana kendala dan strategi guru dalam menerapkan pembelajaran sejarah berdiferensiasi.
Contoh judul kualitatif berikutnya yang masih berkaitan dengan pembelajaran sejarah misalnya “Pemanfaatan Sumber Belajar Digital dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Surakarta”. Penelitian ini fokus mengkaji bagaimana guru mendesain pembelajarannya berbasis sumber belajar digital, sumber-sumber digital apa saja yang digunakan, bagaimana cara kerja pemanfaatannya dalam pembelajaran, kendala-kendala apa saja yang dialami guru dan siswa dalam memanfaatkan sumber belajar digital.
Contoh terakhir judul kualitatif misalnya “Internalisasi Nilai Nasionalisme dan Patriotisme dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Surakarta”. Judul ini meneliti bagaimana cara penanaman dua nilai (nasionalisme dan patriotisme) dalam diri siswa melalui pembelajaran sejarah, nilai nasionalisme dan patriotisme itu sendiri yang seperti apa, apa tujuan menanamkan dua nilai tersebut, kendala-kendala apa yang dihadapi. Dalam penelitian kualitatif di sekolah (pembelajaran di kelas), batasan-batasan kelas, batasan tahun, dan batasan lingkup lainnya bisa diuraikan/ditegaskan di dalamnya (tidak di judul).
B. Contoh-Contoh Judul Kualitatif Selain Pembelajaran di Kelas
Adapun contoh judul-judul kualitatif dalam konteks di luar pembelajaran di kelas adalah sebagai berikut. Sebagai contoh pertama judul yang masuk kategori tidak ideal misalnya “Eksistensi Candi Menggung di Lereng Lawu Kabupaten Karanganyar”. Judul-judul yang diawali kata “eksistensi” (sesuatu yang ada, sesuatu yang eksis/hidup/berkibar) memang agak problematis. Semua penelitian yang subyeknya bisa diteliti sebenarnya secara otomatis eksis, sehingga sebenarnya tidak perlu ada kata “eksistensi”. Untuk itu sebaiknya dihindari saja. Agar lebih ideal, judul tersebut bisa diubah misalnya menjadi “Analisis Situs Cagar Budaya Candi Menggung Sebagai Tempat Pemujaan Agama Hindu dan Destinasi Wisata Sejarah di Karanganyar”. Judul ini fokus meneliti status Candi Menggung sebagai bangunan cagar budaya, bagaimana fungsinya sebagai tempat pemujaan dan destinasi wisata sejarah. Peneliti dengan gampang akan mencari teori dan konsep-konsep tentang (1) Candi, (2) Cagar Budaya, (3) Tempat Pemujaan, (4) Wisata Sejarah.
Contoh berikutnya dari judul kualitatif yang tergolong tidak ideal misalnya “Peranan Komunitas Solo Societeit (SS) di Surakarta“. Judul ini tergolong masih terlalu luas. Peneliti harus menyepesifikan peranan komunitas SS dalam bidang apa dan untuk/bagi siapa. Oleh sebab itu judul tersebut bisa dibuat misalnya menjadi “Peranan Komunitas Solo Societeit dalam Mengeksplorasi Sejarah Lokal Sebagai Penguatan Kesadaran Sejarah Masyarakat Surakarta”. Dengan judul yang demikian, fokusnya lebih jelas karena memotret peranan SS dalam mengeksplorasi sejarah lokal (local history) dalam rangka menguatkan kesadaran sejarah. Bagi siapa? Bagi masyarakat Surakarta. Masyarakat Surakarta yang mana? Pembatasannya bisa dilakukan di isi latar belakang. Dengan judul tersebut, teori dan konsep yang digunakan peneliti menjadi jelas yakni (1) Komunitas Sejarah, (2) Sejarah Lokal, (3) Kesadaran Sejarah.
Selain judul tersebut, judul lain yang bisa diajukan misalnya “Sinergisitas Komunitas Solo Societeit dan Pemerintah Kota Surakarta dalam Upaya Melestarikan Sejarah dan Budaya Lokal Kota Surakarta”. Teori dan konsepnya jelas yakni (1) Sinergisitas, (2) Pelestarian, (3) Sejarah Lokal, (4) Budaya Lokal. Peneliti akan mudah dalam membuat proposal, karena teori dan konsep-konsep tersebut sangat banyak di dalam literatur ilmiah.
Contoh berikutnya lagi terkait judul kualitatif di luar pembelajaran di kelas misalnya “Revitalisasi Kawasan Gunung Kemukus di Kabupaten Sragen”. Judul ini juga tergolong belum menunjukkan masalah yang spesifik. Selain itu juga kurang sesuai dengan ruang lingkup kajian di Prodi Pendidikan Sejarah. Agar menjadi ideal dan masuk kriteria kajian di Prodi Pendidikan Sejarah, maka judul tersebut bisa diubah misalnya menjadi “Kebijakan Revitalisasi Kawasan Gunung Kemukus dalam Menunjang Wisata Sejarah, Budaya dan Religi di Kabupaten Sragen”. Judul ini fokus meneliti upaya pemerintah setempat dalam merevitalisasi kawasan Gunung Kemukus dalam rangka menopang tiga hal yaitu wisata sejarah, wisata budaya dan wisata religi. Beberapa hal yang bisa dipertanyakan misalnya bagaimana dasar pembuatan kebijakan revitalisasi, seperti apa wujud revitalisasinya, bagaimana dampak revitalisasi terhadap wisata sejarah, budaya dan religi. Teori dan konsepnya jelas yaitu (1) Kebijakan, (2) Wisata Sejarah, (3) Wisata Budaya, (4) Wisata Religi.
Contoh judul kualitatif terakhir yang termasuk kurang ideal misalnya “Peranan Rumah Arca Universitas Veteran bagi Mahasiswa dan Siswa SMA”. Judul masih tergolong umum. Belum terlihat peranan Rumah Arca sebagai apa dan dalam hal apa. Obyek sasarannya pun masih umum yakni untuk mahasiswa dan siswa SMA yang mana? Agar menjadi ideal, judul tersebut bisa digeser dan dispesifikkan menjadi misalnya “Peranan Rumah Arca Universitas veteran Sebagai Sumber Belajar Sejarah Siswa SMA Negeri di Kabupaten Sukoharjo”. Dengan judul yang demikian, peranannya menjadi jelas yakni rRumah Arca sebagai sumber belajar sejarah. Targetnya adalah siswa SMA di Kabupaten Sukoharjo. Siapa saja mereka? Tentu siswa-siswi dari SMA di Sukoharjo yang pernah berkunjung ke Rumah Arca (Laboratorium) Universitas veteran. Bagaimana cara mengetahuinya? Bisa survei langsung, melihat buku tamu pengunjung, atau dmenanyakan langsung ke pihak pengelola Rumah Arca, serta menanyakan langsung ke pihak guru sejarah di sekolah-sekolah terkait. Demikianlah gambaran sekaligus contoh-contoh judul Historis dan Kualitatif. Semoga bisa membantu dalam memformulasikan judul yang ideal (baik).
Catatan: Namun demikian, perlu diketahui bahwa dalam dunia penelitian di perguruan tinggi, sering kali ACC atau penerimaan judul skripsi pada akhirnya kembali ke “selera masing-masing pembimbing”. Cocok di pemikiran si A belum tentu diterima oleh Pembimbing B, C, D, atau lainnya. Untuk itu diperlukan adanya konsultasi dan komunikasi yang baik antara mahasiswa dan Pembimbing Skripsi untuk mencapai solusi dan sebuah kesepakatan.
Jika mahasiswa mengalami kebingungan dan benar-benar tidak berani menghadap pembimbing, segera sharing dengan teman sejawat lainnya, atau bisa juga konsul dengan dosen lain yang dirasa mampu memberi solusi/jalan keluar. Jangan biarkan kebingungan akut ditanggung sendiri, karena akan berpotensi stress, dan akhirnya mandek. Jika tak segera ditangani, biasanya mahasiswa akan sulit bangkit dari rasa malas yang sudah terlanjur mandarah daging. Skripsi terbengkalai, impian ke KUA terhalang, keluarga pun meradang.
BAGAIMANA CARA MENYUSUN SKRIPSI KUALITATIF?
BACA DULU BUKU PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI
Untuk menyusun Proposal Skripsi (BAB 1-3) atau lebih-lebih bagi yang sudah terjun jauh dalam penyusunan skripsi, pastikan Anda sudah membaca dengan cermat Buku Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan FKIP UNS. Banyak kasus, mahasiswa menyusun skripsi tetapi giliran ditanya sudahkah membaca buku pedoman penulisan skripsi? Jawabnya “belum membaca pak/bu” atau “sudah membaca tetapi baru sekilas pak/bu“. Hal-hal teknis mendasar yang harusnya sudah gamblang tetapi sering kali masih salah hanya gara-gara belum mencermati buku pedoman penulisan skripsi. Akhirnya memperlama/memperlambat proses pembimbingan. “Sebelum pergi ke medan laga, kita pelajari dulu aturan mainnya”.
KEMUDIAN BACA BUKU-BUKU BABON METODOLOGI KUALITATIF
- Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- John W. Cresswell. Penelitian Kualitatif dan Desain Riset: Memilih di antara Lima Pendekatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (terjemahan)
- John W. Cresswell. 30 Keterampilan Esensial untuk Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka pelajar (terjemahan)
- Norman K. Denzim dan yvonna S. Lincoln. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif Untuk Penelitian Bersifat: Eksploratif, Enterpretif, Interaktif, dan Konstruktif. Bandung: Alfabeta.
- Sugiyono. Metode Penelitian (Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, R&D, dan Penelitian Pendidikan). Bandung: Alfabeta.
- Haris Herdiansyah. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
- Robert K. Yin. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Catatan: Jangan sampai penelitiannya Kualitatif, tetapi buku-buku yang dicantumkan malah buku-buku Metodologi Historis.
RINCIAN PENJELASAN TIAP BAB (BAB I – TOTALAN)
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
- Berisi runtutan keadaan/fenomena-fenomena yang menstimulus (merangsang, menggugah) peneliti ingin mengangkat judul dan mengungkap misteri di dalamnya.
- Latar belakang masalah menyajikan keadaan-keadaan/fenomena yang tidak sesuai antara seharusnya dan kenyataannya (konsep Das sollen–Das sein: harusnya begini, realitanya begitu). Kesadaran kita menemukan keadaan-keadaaan yang tidak sejalan tersebut menggugah kita untuk meneliti/mengkaji lebih jauh supaya mengetahui penyebabnya.
- Ciri khas latar belakang yang salah (tidak beres) adalah jika latar belakang tersebut sudah menjawab rumusan masalah. Kalau sesuatu yang mau diteliti sudah terjawab dengan jelas dilatar belakang, artinya penelitian sudah tidak perlu diteruskan lagi. Untuk apa, wong sudah terjawab. Mestinya latar belakang hanya menyampaikan cuilan-cuilan fakta yang dianggap rancu (sebagai masalah), bukan menyampaikan rangkaian fakta sebagai sebuah jawaban atas apa yang akan diteliti.
- Agar efektif, pembuatan latar belakang masalah sebaiknya diawali dengan membuat “Kerangka Dasar”. Kerangka ini menekankan ingin ditarik dari mana, ke mana, lalu ke mana, dan berakhir di mana. Penulisan latar belakang secara langsung, memanjang dan mengalir begitu saja, biasanya tidak akan terstruktur (kurang menyambung dan runtut). Akan lebih efektif jika disusun dahulu kerangka dasarnya (poin-poin utama). Jika kerangka dasar atau polanya sudah tersusun, tinggal dikembangkan menjadi paragraf.
- Contoh cara kerja membuat “Kerangka Dasar” latar belakang Penelitian Kualitatif. Contoh judul misalnya “Implementasi Prinsip Merdeka Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Surakarta“. Kerangka Dasar yang bisa disusun: (1) Munculnya kurikulum baru nasional yakni Kurikulum Merdeka (KM), (2) Kurikulum Merdeka mendorong adanya kebebasan ekspresi belajar (merdeka belajar) bagi siswa, (3) Prinsip merdeka belajar berorientasi pada cara belajar yang disesuaikan dengan karakter dan tipikal masing-masing siswa, (4) SMA Negeri 1 Surakarta turut menerapkan Kurikulum Merdeka, (5) SMA Negeri 1 Surakarta mengusung slogan sekolah inklusif dan berdiferensiasi, (7) Terkenal sebagai percontohan sekolah pelopor merdeka belajar siswa, (8) Kerap mendapat kejuaraan karena siswa-siswinya sangat ekspresif dan kreatif, (9) Belum ada penelitian tentang tema ini (eksplorasi literature review). Dari sembilan poin kerangka ini, masing-masing poin bisa dikembangkan menjadi 1-3 paragraf. Selebihnya tinggal dipoles dengan fokus penelitian, batasan-batasan ruang lingkup penelitian, dan urgensi penelitian.
- Untuk Penelitian Historis dan Kualitatif, sebaiknya di bagian menjelang akhir latar belakang dicantumkan beberapa literature review (penelitian terdahulu) semisal 4-5 penelitian. Pencantuman beberapa penelitian terdahulu bertujuan sebagai State of the Art yakni mempertegas kesenjangan/masalah (gap penelitian). Selain itu untuk memperlihatkan “posisi peneliti” yakni bahwa peneliti layak untuk meneruskan penelitian karena masih menemukan “celah” yang tersisa. Memperlihatkan posisi peneliti apakah skripsinya bertujuan “melengkapi” puzzle yang masih kosong atau untuk “menyanggah” (menolak) hasil-hasil penelitian yang sudah ada.
- Memberikan ketegasan batasan ruang lingkup penelitian meliputi: (a) fokus masalah, (b) subyek, dan (c) tempat. Di latar belakang masalah harus memberikan ketegasan fokus masalah yang diteliti. Uraian fokus masalah di latar belakang harus lebih detail dibandingkan dengan di Rumusan Masalah. Rumusan Masalah berisi kalimat tanya, sedangkan fokus masalah di latar belakang berisi uraian ruang lingkup atau batasan masalah yang akan dikaji. Terkait ketegasan batasan subyek, contohnya seperti dari sekolah tersebut kelas mana saja yang akan diteliti, apakah siswa-siswi di kelas 10, kelas 11, kelas 12 atau semuanya. Misal penelitiannya bersubyek “Masyarakat”, maka masyarakat yang mana yang dimaksud? Nah subyek-subyek ini harus dijelaskan (ada pembatasan yang lebih tegas). Adapun terkait ketegasan batasan tempat, contohnya seperti dari sekolah di Surakarta, kira-kira SMA mana saja yang akan diteliti. Atau jika batasannya adalah wilayah, kira-kira batasnya kabupaten, kota atau kelurahan mana saja.
- Di bagian akhir latar belakang terdapat “Urgensi Penelitian”. Sebagai misal urgensinya untuk dunia pendidikan di SMA/Perguruan Tinggi, atau urgensinya di luar dunia pendidikan (disesuaikan dengan fokus/tempat penelitian).
- Latar Belakang Masalah harus didukung dari “Sumber-Sumber yang Memadahi”. Terkadang ditemui sebuah Latar Belakang Masalah sangat minim sumber. Hanya berisi asumsi/pendapat pribadi. Pada Penelitian Kualitatif, diperlukan sumber wawancara awal, sumber observasi, atau sumber dokumen serta sumber-sumber pelengkap lainnya. Tujuannya agar temuan-temuan masalah yang diajukan di latar belakang benar-benar bersandar dari sumber di lapangan atau hasil-hasil penelitian ilmiah, bukan dari asumsi subjektif peneliti secara sepihak. Banyak kasus, mahasiswa belum turun ke lapangan, tetapi sudah mengklaim bahwa di sekolah/kelas tersebut ada masalah yang layak diteliti.
B. Rumusan Masalah: Idealnya 2-3 poin rumusan (jangan hanya 1 rumusan masalah).
C. Tujuan Penelitian: Hal yang mudah sehingga tidak perlu penulis jelaskan.
D. Manfaat Penelitian: Bedakan antara “Manfaat Teoritis” dan “Manfaat Praktis”. Biasanya kebalik-balik.
BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENELITIAN RELEVAN
Bagian ini biasanya paling rawan tindakan plagiat (copy paste mentah-mentah). Hasil Turnitin di Bab 2 biasanya paling tinggi. Meskipun menyajikan teori-teori atau konsep-konsep milik para pakar, tetapi harus selalu “DIPARAFRASE” yakni didaur ulang dengan kalimat sendiri tanpa merubah maknanya. Ketika sudah diparafrase dengan kalimat sendiri, tetap harus mencantumkan sitasi/sumbernya dari mana. Bagaimana pun, tulisan yang Anda daur ulang tersebut merupakan buah pikir orang lain.
A. Kajian Teori/Tinjauan Pustaka: (1) Carilah beberapa Teori atau Konsep yang relevan (misalnya saja 2-4 teori/konsep). Teori/Konsep disesuaikan dengan judul dan rumusan masalah. Jangan asal tempel. Diperhitungkan benar apakah teori/konsep tersebut nantinya akan berguna/berfungsi atau hanya sekedar tempelan saja. Teori/Konsep berguna sebagai “Pisau Analisis/Pisau Pembedah”. Teori/konsep ini membantu peneliti menyusun Bab 4 secara detail dan analitis. (2) Tiap Teori/Konsep harus diperkuat dengan sumber babon yang valid dan juga sumber-sumber penguat lainnya. Sehingga bagian ini jangan “miskin sumber”. Harus banyak baca buku, skripsi, dan jurnal penelitian sebelumnya.
B. Penelitian Yang Relevan: (1) Suguhkan 5-8 Penelitian yang Relevan (minimal baca 5 Skripsi yang relevan). Kalau aturan terbaru, Penelitian Relevan bisa dimasukkan ke latar belakang di Bab 1 (sama saja dengan Literature Review, jumlahnya 4-5 saja). (2) Konteks “relevan” terutama berkaitan dengan variabel atau fokus penelitian. Bukan semata-mata karena sama tempatnya. (3) Setiap penelitian relevan disampaikan: identitas nama dan tahun, garis besar isi penelitian, letak persamaan, dan letak perbedaan. Jangan terlalu pelit untuk menguraikan “letak perbedaannya”. (4) Pastikan anda sudah membaca terlebih dahulu penelitian-penelitian relevan yang anda cantumkan tersebut. Jangan sampai berani mengklaim “berbeda”, padahal baru sekilas atau bahkan sama sekali belum membacanya.
BAB III METODE PENELITIAN
Berikut beberapa catatan penting dalam menyusun BAB 3:
1. Hindari Bab 3 yang Terlalu Teoritis
Sering sekali Bab 3 hanya dipenuhi deskripsi teoritis yakni kalimat-kalimat definisi/pengertian saja seperti Metode Penelitian adalah bla bla bla, Sumber Primer adalah bla bla bla, Sumber Lisan adalah bla bla bla, Teknik Pengumpulan Data adalah bla bla bla, Wawancara adalah bla bla bla, Teknik Analisis adalah bla bla bla, Prosedur Penelitian adalah bla bla bla, dsj. Padahal Bab 3 harusnya seimbang antara Deskripsi Teoritis dan Deskripsi Aksi. Tiap bagian/sub dari Bab 3 idealnya diawali dahulu dengan deskripsi teoritis secukupnya, kemudian diikuti deskripsi Aksi yang detail.
Contoh singkatnya sebagai berikut: Deskripsi Teoritis: Wawancara adalah bla bla bla, Wawancara terdiri dari 3 jenis yaitu bla bla bla, Tujuan Wawancara adalah bla bla bla. Deskripsi Aksi: Mencantumkan siapa saja yang diwawancarai, masing-masing statusnya sebagai apa, wawancara dilakukan di mana, mengapa memilih mereka, wawancara dilakukan dengan ketemu langsung atau via zoom/telp. Peneliti menyiapkan tidak instrumen yang berisi daftar pertanyaan. Instrumen tersebut disusun berdasarkan apa. Disebutkan pula kesulitan/kendala apa saja yang dialami saat melakukan wawancara.
Contoh lainnya misalnya: Deskripsi Teoritis: Teknik pengumpulan data adalah bla bla bla. Studi Dokumen adalahbla bla bla. Deskripsi Aksi: Nama spesifik dokumennya apa saja, masing-masing dokumen secara garis besar memuat apa, dokumen tersebut diperoleh di mana, cara memperolehnya secara langsung atau online, portal utamanya apa, diperoleh dengan cara difotocopy, difoto atau dicatat, dll.
Catatan: (1) Semua bagian di Bab 3 (Tempat dan Waktu Penelitian, Metode, Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Sampling, Teknik Analisis, dll) harus seimbang antara Deskripsi Teoritis dan Deskripsi Aksi (riil di lapangan), (2) Deskripsi Teoritis didasarkan pada Buku-Buku Babon Metodologi Penelitian yang relevan. Untuk itu banyak baca Buku Metodologi Kualitatif (Minimal 3 buku babon). Di perpustakaan Prodi/Pusat atau toko buku offline/online ada banyak buku metodologi penelitian (Kualitatif, Historis, Kuantitatif, PTK, RnD). Pada dinding Perpustakaan Prodi juga terdapat bingkai-bingkai yang berisi foto cover buku-buku metodologi penelitian, meskipun jumlahnya terbatas.
2. Bisa Membedakan antara Data, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan Data
Data adalah informasi rigit yang dibutuhkan. Data bisa dimaknai sebagai jenis, semisal data kuantitatif (angka-angka/jumlah), atau kualitatif (kata-kata/kalimat). Data juga bisa dimaknai sebagai rincian informasi rigit yang dibutuhkan/dikejar sesuai rumusan masalah. Misal data tentang tempat tanggal lahir, nama waktu kecil, identitas keluarga, sekolah waktu kecil, jumlah korban perang, rincian riwayat pekerjaan, tahun meninggal, dll. Rincian data yang diperlukan diturunkan dari tiap poin rumusan masalah. Rumusan pertama menurunkan sejumlah rincian data yang dibutuhkan. Rumusan kedua juga menurunkan sejumlah rincian data yang diperlukan, dst.
Sumber Data adalah sumber-sumber yang di dalamnya memuat data/informasi yang kita butuhkan. Contoh Sumber Data Penelitian Historis yaitu: a. Sumber Primer, yang terdiri dari: (1) Arsip, (2) Koran (sezaman), (3) Informan (Pelaku Sejarah/Saksi Mata); b. Sumber Sekunder, yang terdiri dari: (1) Informan Non Pelaku/ Non Saksi Mata, (2) Pustaka seperti buku, jurnal, artikel, skripsi, tesis, disertasi. Catatan: Arsip dalam konteks ini adalah dokumen penting (statis) yang mengandung nilai/informasi historis. Contohnya seperti surat keputusan, surat undangan, surat-menyurat, berbagai jenis laporan, memoar/catatan pribadi, notulensi rapat, foto, peta, poster jaman dahulu, nota, kwitansi, video kegiatan jaman dahulu, dll. Adapun Contoh Sumber Data Penelitian Kualitatif yaitu: a. Narasumber/Informan (orang); b. Tempat dan Peristiwa (kondisi tempat dan aktivitas/kejadian); c. Dokumen (Sifatnya bisa Tertulis/Visual seperti Modul Ajar, Silabus, Laporan Daftar Kelulusan, Hasil Angket Online, Video, Poster, dll); d. Pustaka (buku, jurnal, artikel, skripsi, tesis, disertasi).
Teknik Pengumpulan Data adalah cara/strategi dalam menemukan dan mendapatkan sumber data.
Contoh Teknik Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif yaitu: a. Wawancara (untuk mengeluarkan data/informasi di dalam pikiran seseorang); b. Observasi (untuk melihat kondisi tempat dan berbagai aktifivitas/kejadian). Menonton/mencermati video di dalam sebuah laptop atau HP masuknya bukan mengobservasi, tetapi melakukan Studi Dokumen, karena video masuk kategori file dokumen. Observasi itu maksudnya mengamati kondisi riil di lapangan yang alamiah saat itu; c. Studi Dokumen (pembacaan dan penelaahan untuk menemukan data/informasi di dalam dokumen seperti Modul Ajar, Silabus, Laporan Daftar Kelulusan, Daftar Nilai, Lembar Jawaban PTS/PAS, Video, Poster, dll); d. Studi Pustaka (pembacaan dan penelaahan untuk menemukan data/informasi di buku-buku, jurnal, artikel, skripsi, tesis, disertasi); e. Penyebaran Angket (Meski kurang familiar di dalam penelitian kualitatif, tetapi sebenarnya teknik penyebaran angket bisa dilakukan). Dalam konteks ini bukan angket yang dihitung secara Kuantitatif, melainkan instrumen pengumpul data berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan diisi responden dan dianalisis secara kualitatif. Angket Kualitatif tidak menggunakan skala angka 1-4 layaknya angket kuantitatif. Tipe jawaban yang disediakan adalah bentuk uraian sesuai keinginan responden. Angket kualitatif (baik cetak maupun online) ini semacam “pengganti wawancara langsung”.
- Apakah semua Teknik Penelitian harus Digunakan?? Tidak semua teknik harus digunakan semua (disesuaikan dengan kebutuhan).
- Apakah “Studi Dokumen” dan “Dokumentasi” merupakan dua hal yang sama?? Studi Dokumen dan Dokumentasi merupakan dua hal yang berbeda. Studi Dokumen itu teknik/cara pengumpulan data, yakni dengan membaca dan menelaah berbagai keterangan di dalamnya. Adapun Dokumentasi merupakan proses melakukan pendokumentasian kegiatan semisal merekam video menggunakan HP atau kamera. Sering kali mahasiswa kebalik-balik saat ujian. Tidak mampu membedakan keduanya.
- Apakah “Dokumen” vs “Studi Dokumen” itu sama? Berbeda! Dokumen itu sumber data (sesuatu yang di dalamnya memuat/mengandung informasi yang kita butuhkan), sedangkan Studi Dokumen itu teknik/cara pengumpulan data, yakni dengan membaca dan menelaah berbagai keterangan di dalamnya.
- Data, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan Data merupakan tiga hal yang berbeda. Kemampuan membedakan ketiganya sangat penting. Banyak sekali mahasiswa yang tidak mampu membedakan tiga hal ini. Sebagai analogi, Informan si A adalah Sumber Data. Apa yang ada dalam pikirannya (otaknya si A) yang berkaitan dengan topik kita adalah Data. Sedangkan cara bagaimana mengeluarkan isi pikiran atau informasi dari dalam otak si A tersebut adalah Teknik Pengumpulan Data.
- Wawancara, Observasi, Studi Dokumen, Studi Pustaka, Angket, dan Tes, semuanya ini bukanlah Sumber Data, melainkan “TEKNIK PENGUMPULAN DATA”. Begitu pun sebaliknya, Informan/Orang, Tempat dan Peristiwa, Dokumen, dan Pustaka, kesemuanya ini bukanlah Data maupun Teknik Pengumpulan Data, melainkan “SUMBER DATA”.
- Lalu “DATA” yang mana? Data itu ya informasi rigit/detail yang kita cari/kita butuhkan untuk bahan pelaporan/penulisan. Di dalam pikiran seseorang ada data/informasi. Di dalam Arsip/Dokumen ada data/informasi. Di dalam buku/jurnal/skripsi/artikel ada data/informasi. Di dalam sebuah tempat/situs/bangunan/artefak terdapat data/informasi. Hanya saja, tidak semua informasi secara otomatis bisa menjadi data yang relevan (yang kita butuhkan). Sebagian harus disaring dan dibuang karena tidak berkaitan dengan tema yang kita teliti.
3. Bab 3 yang Menggantung
Sebelum Penelitian (pengambilan data) di lapangan selesai, biasanya Bab 3 Kualitatif bisa dikatakan belum FINAL. Bisa jadi hal-hal yang sudah direncanakan sebelumnya meleset. Misalnya: pada saat pembuatan Proposal (Bab 3), kita mencantumkan 5 orang yang akan diwawancarai, tetapi ternyata realisasinya hanya mampu mewawancari 3 orang. Atau sebaliknya, targetnya 5 orang ternyata realisasinya bisa mewawancarai 8 orang. Contoh lainnya yaitu pada saat pembuatan Proposal (Bab 3), kita menargetkan bisa memperoleh sumber dokumen A, B, C, dan D, tetapi realisasinya kita hanya memperoleh dokumen A dan B. Atau sebaliknya, kita malah memepeloreh dokumen yang jauh lebih banyak dari pada perkiraan sebelumnya. Oleh sebab itu, pasca selesai penelitian di lapangan, kita harus memoles kembali Bab 3, sesuai perkembangan terakhir (final) yang dialami di lapangan. Dengan kata lain, sebelum Bab 4 selesai, Bab 3 masih bisa berubah-ubah.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian Kualitatif, secara garis besar berisi dua hal yaitu (1) Hasil Penelitian dan (2) Pembahasan. Berikut penjelasannya:
- Hasil Penelitian
- Menyuguhkan (mendeskripsikan) berbagai temuan di lapangan seperti: hasil wawancara, hasil observasi, hasil studi dokumen, dan studi pustaka.
- Sifatnya bukan analisis, melainkan lebih ke “sajian deskripsi”. Sajian yang bersifat analitis (mendalam) tempatnya di Pembahasan.
- Yang sangat disayangkan, masih banyak ditemui Bab 4 Hasil Penelitian (Kualitatif) yang isinya 70%-80% hanya dari hasil Wawancara, baik yang disajikan dengan kutipan langsung (tanpa diparafease) maupun kutipan tidak langsung (sudah diparafrase). Harusnya, data yang disajikan berasal dari sumber yang lebih variatif. Tidak over dominan wawancara saja. Bisa dari hasil observasi, studi dokumen, dan studi pusaka.
- Pembahasan
- Menguliti/menganalisis lebih mendalam terkait temuan-temuan di lapangan yang dianggap penting dan menarik.
- Tidak perlu semua hal dibahas (biasanya mahasiswa bingung karena semuanya dianggap penting), melainkan fokus pada beberapa hal yang benar-benar penting dan menarik.
- Karena dalam menganalisis memerlukan beberapa teori/konsep, maka bagian ini menyerap banyak sumber buku, jurnal, skripsi, tesis. Bagian ini menganalisis secara teoritis temuan penting di lapangan.
- Bagian ini tidak lagi mencantumkan hasil wawancara, observasi dan dokumen. Sumber-sumber ini tempatnya di Hasil Penelitian.
- Sering kali peneliti Kualitatif mengalami kebingungan, karena bagian Pembahasan isinya sering tumpang tindih atau mengulang lagi apa yang sudah disajikan di Hasil Penelitian. Hasil wawancara seringkali dimasukkan lagi di Pembahasan. Data yang sudah sudah disuguhkan di Hasil Pembahasan disuguhkan kembali di Pembahasan. Ini sesuatu yang keliru. Fenomena ini menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang belum bisa membedakan antara Hasil Penelitian dan Pembahasan.
- Untuk memudahkan pemahaman, Anda bayangkan saja bahwa Hasil Penelitian ibaratkan “obrolan ringan“ jam 8 pagi hingga jam 16.00 sore. Adapun Pembahasan adalah “obrolan berat“ setelah jam 23.00 malam hingga larut pagi. Obrolan malam ini menindaklanjuti beberapa temuan penting dari apa yang sudah dilaporkan di obrolan siang. Temuan-temuan penting tersebut dikuliti lagi secara mendalam seperti mengapa bisa demikian, mengapa tidak berjalan semestinya, mengapa yang seharusnya begini tetapi fakta di lapangan begitu, mengapa bisa seberhasil itu, apa rahasia kuncinya, faktor-faktornya meliputi apa saja, dll.
- Obrolan malam yang berat berorientasi akhir untuk menghakimi (memvonis), apakah temuannya positif (baik/sesuai yang seharusnya) ataukah negatif (jelek/tidak sejalan dengan yang diharapkan). Penghakiman tersebutlah yang pada akhirnya menuntut untuk didalami lebih detail faktor-faktor penyebabnya serta hubungan sebab-akibatnya.
- Proses analisis/pendalaman faktor-faktor atau hubungan sebab-akibat tersebut harus disandarkan pada dua hal yaitu: (1) teori-teori/konsep-konsep para pakar (biasanya di dalam buku babon) dan (2) hasil-hasil penelitian yang ada sebelumnya (skripsi, tesis, jurnal).
- Berikut contoh analisis di Pembahasan berdasarkan teori para pakar, misalnya: “Berdasarkan teori Motivasi Belajar yang dicetuskan si A (2021: 13), guru memiliki peranan sentral yang banyak mempengaruhi semangat belajar siswa. Dalam konteks ini menunjukkan bahwa temuan rendahnya semangat belajar di SMA Z dominan dipengaruhi oleh faktor guru sejarah yang cara mengajarnya belum optimal. Peran sentral guru sebagai arsitek pembelajaran juga dikuatkan pendapat si X (2020: 43) yang menyatakan bahwa rendahnya kreativitasnya siswa secara tidak langsung merepresentasikan kurangnya kreativitas guru di kelas tersebut”. Rendahnya semangat belajar sejarah di SMA Z secara teoritis juga bisa dilihat dari segi ketersediaan media belajar. Menurut teori Belajar si C (2024: 112), media belajar memiliki peranan penting dalam meningkatkan gairah belajar. Dengan demikian, penggunaan media belajar yang monoton di SMA Z turut mempengaruhi gairah siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sejarah.” Kebutuhan analisis (menilai suatu temuan berdasarkan teori pakar) masih bisa dikembangkan sesuai kebutuhan dari setiap butir temuan yang akan dikuliti/didalami/dianalisis.
- Adapun berikut adalah contoh penggunaan analisis berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu: “Temuan negatif berupa rendahnya motivasi belajar dalam pembelajarn sejarah ini nampaknya merupakan gelaja umum yang dijumpai di banyak sekolah. Hal ini sejalan dengan penelitian si A (2022: 68) yang menyatakan bahwa blablabla. Tidak hanya itu, penelitian si B (2023: 79) juga menguatkan dugaan tersebut, mengingat dalam kajiannya, si B menegaskan bahwa blablabla.” Tidak sampai di sini, kajian si C (2024: 16) yang berjudul XXXXXXX semakin menguatkan bahwa pembelajaran sejarah blablabla.” Kebutuhan analisis (membandingkan suatu temuan dengan hasil-hasil penelitian yang sudah ada sebelumnya) masih bisa dikembangkan sesuai kebutuhan dari setiap butir temuan yang akan dikuliti/didalami/dianalisis.
Catatan Bab 4:
- Perhatikan SPOK. Kalimat tidak perlu panjang-panjang dan njelimet. Buatlah kalimat yang lugas yang mudah dipahami (meminimalisir multitafsir).
- Satu halaman terdiri dari 3-4 paragraf. Satu paragraf terdiri dari 4-6 kalimat (tidak terlalu singkat, dan tidak terlalu panjang). Jangan satu halaman satu parafraf. Atau sebaliknya, satu halaman 6 paragraf (terlalu singkat-singkat).
- Antar kalimat atau antar paragraf dicek lagi apakah nyambung dan runtut. Sering kali dijumpai antarkalimat atau antarparagraf isinya loncat-loncat (tidak berkaitan).
- Akan lebih meyakinkan jika di Bab 4 dilengkapi dengan pranata-pranata berikut: tabel, gambar, bagan, peta, atau sejenisnya, guna memperkuat narasi yang dibangun. Tidak harus semua, melainkan beberapa pranata yang bisa diupayakan dan sinkron dengan narasi.
- Jangan lupa setiap tabel, bagan, gambar, peta atau sejenisnya tersebut dilengkapi keterangan dan sumber yang kredibel. Lihat di Buku Pedoman Penulisan Skripsi terkait letak penulisan keterangan judul tabel/gambar maupun sumbernya, apakah di atas gambar/tabel, ataukah di bawahnya.
- Setiap gambar, tabel, peta dan sejenisnya tersebut harus dibahas/dianalisis dalam deskripsi. Jangan sampai pranata-pranata tersebut seakan lepas (hanya ditempel) dan tidak ada kaitannya dengan narasi yang disusun/ditulis.
- Tabel di Bab 4 (dan juga di bab 3) dibuat spasi 1 (rapat) dan hanya garis horizontal saja (tidak perlu garis vertikal). Bagian ini sering sekali diabaikan mahasiswa.
- Tabel yang lebih dari 1 halaman, sebaiknya ditaruh di Lampiran. Di dalam ISI cukup disebutkan misalnya: “Terkait rincian jumlah pengunjung museum dalam 5 tahun terakhir, selengkapnya lihat Lampiran 7, halaman ……”
- Hindari membiasakan penggunaan sumber yang sama secara beruntun. Misalnya dalam 3-5 paragraf sumbernya itu-itu saja, bahkan beruntun (tidak diselingi dengan sumber lain yang berbeda). Sebagai contoh misalnya si A mencantumkan sumber bernama Sugiyono sebanyak 4-6 kali secara beruntun. Ini tandanya peneliti tidak melakukan Triangulasi Sumber. Peneliti terjebak pada sentrisme sumber tertentu, atau dalam konteks contoh ini adalah Sugiyonosentris.
BAB V PENUTUP
Dua hal yang harus diperhatikan dalam menyusun bagian Kesimpulan di Bab V yaitu: (1) Pastikan menjawab secara garis besar seluruh rumusan masalah. Pada Kesimpulan Bab V, jangan hanya mengcopypaste bagian isi, melainkan direfleksikan dengan bahasa baru untuk menggambarkan “garis besar/temuan penting” dari tiap rumusan masalah yang sudah ditetapkan di BAB 1; (2) Bagian ini tidak perlu pencantuman sumber (buku, arsip, jurnal, koran, dll). Kesimpulan di Bab V murni kalimat baru hasil refleksi intisari BAB 4.
DAFTAR PUSTAKA
- Sebaiknya penyajian Daftar Pustaka dipisah-pisah sesuai jenis sumber. Misalnya: Sumber Dokumen, Sumber Buku, Sumber Jurnal, Sumber Skripsi dan Tesis, Sumber Artikel, dll.
- Pastikan seluruh sumber pustaka yang digunakan di BAB 1-4 dicantumkan di Daftar Pustaka. Jumlahnya persis (tidak kurang dan tidak lebih). Jangan sampai supaya kelihatan banyak, kemudian ditambah-tambahkan sendiri, padahal tidak ada atau tidak digunakan di BAB 1-4.
- Pencantuman sumber nama (sitasi sumber) di Bab 1-4 dan di Daftar Pustaka berbeda. Di Bab 1-4, penulisannya singkat dan mencantumkan halaman (jika ada). Adapun di Daftar Pustaka harus lengkap, tetapi tidak perlu mencantumkan halaman, kecuali jurnal dan koran.
- Di Bab 1-4, hanya mencantumkan satu kata dari nama terakhir seseorang. Misalnya Dadan Adi Kurniawan, maka pencantumannya hanya Kurniawan (bagian nama terakhirnya saja). Contoh: (Kurniawan, 2019: 14) atau Kurniawan (2019: 14).
- Adapun penulisan sumber di Daftar Pustaka haruslah lengkap. Berikut contoh-contohnya:
- Buku= Nama lengkap yang dibalik. (Tahun). Judul (miring). Kota Terbit: Penerbit. Contoh: Kurniawan, D. A. (2019). Sejarah Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Merdeka Press
- Jurnal= Nama lengkap yang dibalik. (Tahun). Judul artikel (tidak perlu miring). Nama Jurnal (miring), Volume (Nomor), halaman jurnal (dari halaman berapa sampai berapa). Contoh: Kurniawan, D. A. (2019). Sejarah Pendidikan di Indonesia. Jurnal Intelektual, 6(2), 42-53
- Skripsi/Tesis/Disertasi= Nama lengkap yang dibalik. (Tahun). Judul (miring). (Skripsi/Tesis, Prodi Fakultas Universitas). Contoh: Kurniawan, D. A. (2019). Sejarah Pendidikan di Indonesia. (Tesis, Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada).
- Artikel Non Jurnal= Nama lengkap yang dibalik. (Tahun). Judul (miring). Diakses dari: …. pada tanggal …. Contoh: Kurniawan, D. A. (2019). Sejarah Pendidikan di Indonesia. Diakses dari: www.sejpendindonesia.html pada tanggal 17 April 2025.
- Koran/Majalah= Nama Koran/Majalah (miring), edisi tgl/bulan/tahun, halaman. “Judul Topik”. Contoh: Kompas, 17 April 2025, hlm. 4, “Carut Marut Pendidikan di Indonesia”.
- Dokumen= Laporan Penerimaan Peserta Didik Tahun 2025. Diperoleh dari TU SMA Negeri X Surakarta.
LAMPIRAN
- Biasanya berisi berkas-berkas penting penguat narasi di BAB 4 atau penguat telah melaksanakan penelitian. Contoh jenis lampiran yaitu: dokumen, daftar rincian informan, transkrip wawancara, RPP/Modul Ajar, instrumen pengumpul data penelitian, dokumentasi kegiatan, dokumentasi wawancara, surat perizinan, dll.
- Lampiran bersifat sampling dan yang benar-benar penting saja. Jika sumber dokumennya banyak, dilampirkan saja sebagiannya (misal 4-6 dokumen). Jika transkrip wawancara ada banyak, dilampirkan sebagiannya saja. Jika semua dilampirkan secara utuh akan terlalu tebal. Jumlah halaman skripsi dibatasi supaya ideal (terdapat aturan dari FKIP). Lampiran selebihnya tetap dicetak untuk keperluan peneliti dan disiapkan saat ujian, kadang ditanyakan oleh penguji.
TOTALAN
- Totalan adalah tahap melengkapi dari halaman awal (cover) sampai akhir (lampiran), seperti halaman pengesahan, pernyataan keaslian, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dll, serta membuat draft artikel Jurnal.
- Yang paling sering dicek dari totalan adalah bagian Abstrak. Abstrak ini mencerminkan miniatur Skripsi. Dengan melihat Abstrak, sekilas pembaca bisa melihat sejauh mana garis besar dan kualitas skripsi. Untuk itu, buatlah dan konsultasikan Abstrak Anda sebaik dan sematang mungkin.
- Abstrak terdiri dari 4 bagian (alenia): (1) alenia yang berisi identitas, (2) alenia yang berisi rumusan/tujuan penelitian, (3) alenia yang memuat metode, sumber, teknik pengumpulan dan teknik analisis, (4) alenia terakhir yang memuat hasil penelitian.
- Sinkronitas Abstrak: (a) Hasil Penelitian di abstrak harus sinkron dengan Rumusan/Tujuan penelitian di abstrak. (b) Rumusan/Tujuan di abstrak harus sinkron dengan Kesimpulan di Bab 5. (c) Kesimpulan di Bab 5 harus sinkron dengan sub-sub di Bab 4. (d) Sub-sub di Bab 4 harus sinkron dengan Rumusan Masalah di Bab 1.
- Seluruh tubuh skripsi harus selaras dan senafas. Sering kali ditemui “abstrak yang cacat“ karena terdapat hal yang tidak sinkron. Rumusannya di Bab 1 berjumlah berapa, eh Kesimpulannya di Bab 5 berjumlah lain/berbeda, Kesimpulan di abstrak juga berlainan lagi. Abstrak yang demikian adalah contoh abstrak yang tidak sinkron/tidak konsisten, alias problematik.


Kamdulillah, mudah dimengerti😇
Terimakasih Pak Dadan, bisa menjadi referensi dalam penulisan skripsi saya 🙏
Terima kasih atas pencerahannya, Pak.
Terima kasih, Pak Dadan, telah memberikan penjelasan mengenai penyusunan skripsi historis dan kualitatif secara detail, semoga bermanfaat bagi mahasiswa terutama yang akan menyusun tugas akhir. 🙏
Apik ikih..saya suka…insyaAllah sangat bermanfaat…terimakasih