Views: 1338
Views: 1338
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret
Email: dadan.adikurniawan@staff.uns.ac.id
— “Puncak Manfaat Belajar Sejarah Menjadikan Kita Lebih Dewasa (Bijak)” —
PENDAHULUAN
Tulisan sederhana ini menguraikan tentang manfaat atau guna belajar sejarah. “Belajar” sendiri bisa diartikan sebagai tahap atau proses seseorang mengikuti, mencerna dan memperoleh sesuatu yang berharga, baik yang bersifat informasi, pengetahuan maupun pengalaman. Dalam artikel ini, dibahas manfaat apa saja yang kita peroleh setelah belajar sejarah. Seluruh uraian dalam tulisan ini merupakan opini penulis yang tentunya bersifat subjektif, didasarkan atas pengetahuan dan pengalaman pribadi. Bila ada poin yang sepakat silahkan ambil, bila ada yang salah atau kurang tepat silahkan sanggah, buang atau hiraukan. Tulisan ini memang tidak bertujuan untuk memuaskan semua pihak, melainkan sekedar sharing ringan atas secuil pengetahuan dan pengalaman penulis.
Pertama-tama, mestilah kita definisikan dahulu apa itu “sejarah“. Telah ada banyak pengertian atau definisi dari para pakar tentang apa itu sejarah. Singkatnya, sejarah adalah cerita atau kisah tentang kejadian/peristiwa masa lampau. Cerita atau kisah ini ada yang sudah “ditulis” (berwujud tulisan) dan ada yang “belum ditulis” (masih berupa cerita lisan). Sejarah bukanlah “peristiwa masa lalu” itu sendiri, melainkan “kisah atau cerita” yang dirangkai sebagai buah hasil rekonstruksi atas peristiwa masa lalu tersebut. Keduanya adalah dua hal yang berbeda. Untuk itu wajar jika satu peristiwa sejarah bisa ditulis dalam banyak versi sejarah (cerita/kisah). Artinya, meskipun kejadinya hanya sekali tetapi penulisan kisah/ceritanya bisa berkali-kali dan berbeda-beda. Jika pernah mendengar istilah “dekonstruksi sejarah“, itu artinya yang dibongkar, dirombak dan ditulis ulang bukanlah peristiwanya (karena sebuah peristiwa hanya terjadi sekali) melainkan cerita/kisah atas tafsir peristiwa yang sudah terjadi. Penulisan ulang sejarah didasarkan atas temuan sumber, data, teori, dan tafsir baru yang berbeda dari sebelumnya.
Yang kedua, mengenai peristiwa sejarah. Sejarah tak melulu berkaitan dengan peristiwa besar, yang punya dampak nasional, internasional atau global. Sejarah bisa mengisahkan tentang peristiwa skala besar, sedang atau kecil, entah di desa atau di kota, entah kisah tentang orang-orang pusat atau orang-orang pinggiran, entah para pejabat pemerintahan atau rakyat biasa, entah aktivitas sehari-hari atau kejadian di waktu tertentu, entah yang berkaitan dengan bidang politik, sosial, ekonomi, budaya ataupun bidang lainnya.
Yang ketiga, sejarah umumnya mengangkat peristiwa yang menarik dan penting. Standar menarik tidaknya dan penting tidaknya peristiwa yang akan ditulis sebenarnya bersifat relatif (subjektif). Bisa jadi peristiwa tertentu tidak menarik dan tidak penting menurut si A, tetapi dianggap menarik dan penting menurut si B. Begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, menarik tidaknya sebuah judul atau uraian sejarah yang disusun seseorang sebenarnya bersifat relatif. Masing-masing memiliki argumentasi dan “selera” yang berbeda.
Keempat, siapa yang boleh belajar sejarah dan mengambil manfaat dari sejarah? Siapapun boleh belajar sejarah, menyenangi sejarah, menikmati sejarah dan berpendapat soal sejarah. Sejarah bukanlah milik dosen sejarah, guru sejarah, pemandu museum, atau pihak tertentu yang pekerjaaanya berkecimpung di bidang sejarah. Sejarah bukanlah milik mereka yang secara formal berlatar belakang jurusan ilmu/pendidikan sejarah. Siapa pun boleh belajar sejarah. Siapapun boleh bergumul, bercandu, membaca, dan menulis sejarah. Berkaitan dengan kualitas tulisan sejarah (sebagai sebuah karya), biarkan publik luas yang menilainya. Masyarakat bisa menilai kualitas tulisan sejarah seseorang dari aspek keketatan penulis dalam memegang teguh prinsip metodologis. Sebagai contoh misalnya terkait kekayaan sumber yang digunakan, kemampuan menafsir, kedalaman menganalisis, kepresisian data yang dicantumkan, kemampuan seberapa jauh menjaga jarak (netralitas), kelugasan kalimat yang digunakan, kemenarikan model penyajian tulisan, dan aspek-aspek lainnya.
MANFAAT BELAJAR SEJARAH
Berikut adalah 12 poin ideal manfaat belajar sejarah dan belajar dari sejarah versi penulis. Untuk mencapai seluruh poin ini, bukanlah hal mudah. Penulis sendiri tidak memposisikan diri sebagai orang yang sudah mampu mencapai 12 poin manfaat ini, melainkan orang yang masih belajar dan berusaha untuk terus belajar. Untuk mencapai semua poin tersebut, seseorang dituntut tidak hanya “belajar tentang sejarah” (learn about history), tetapi juga “belajar dari sejarah” (learn from history). Jika sudah belajar tentang sejarah dan belajar dari sejarah, harapannya bisa “belajar untuk sejarah” (learn for history) yakni belajar untuk mencipta atau mewariskan sejarah yang gemilang ke depannya. Keduabelas poin ideal manfaat belajar sejarah dan belajar dari sejarah tersebut antara lain:
1. Terlatih Berfikir Detail
Seseorang yang belajar sejarah secara serius akan terlatih mengenal berbagai detail unsur peristiwa seperti nama peristiwa, nama-nama tokoh yang terlibat, profesi atau kedudukan para tokoh, peranan para tokoh, nama tempat, nama benda, nama bangunan, dan berbagai keterangan waktu seperti tanggal, jam, hari, bulan, tahun, dan abad. Meskipun bukan tujuan utama belajar sejarah (karena sering kali dianggap koridor hafalan), tetapi mengetahui detail unsur sejarah sangatlah penting. Untuk mencapai level manfaat yang lebih tinggi, seseorang harus lebih dahulu memahami detail data historisnya. Akan sangat riskan bila analisis dan pengambilan kesimpulan tidak diawali/disokong dengan ketersediaan detail data yang memadai. Belajar sejarah melatih diri menjadi manusia yang cermat, detail dan jeli.
2. Terlatih Berfikir Kronologis
Dengan belajar sejarah, seseorang terlatih berfikir kronologis yakni memahami runtutan atau urut-urutan kejadian/peristiwa. Berfikir kronologis menghindarkan kita tidak mudah cepat memvonis sesuatu hanya gara-gara melihat pucuk peristiwa akhirnya saja atau membaca judul beritanya saja. Seseorang yang berfikir kronologis akan melihat runtutan kejadian demi kejadian secara utuh (holistik) dari awal hingga akhir, sehingga mendapatkan informasi yang jelas dan terang.
3. Terlatih Memahami Hukum Kausalitas
Dengan belajar sejarah, seseorang terlatih memahami hubungan sebab-akibat dan hubungan pengaruh-dampak. Sebuah peristiwa lekat dengan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Sebuah kejadian umumnya mempengaruhi keadaan setelahnya. Keadaan setelahnya kemudian juga berdampak pada kondisi setelahnya, demikian seterusnya. Tidak heran bila muncul pernyataan “keadaan hari ini dipengaruhi keadaan kemarin, keadaan kemarin dipengaruhi keadaan kemarinnya lagi, dan keadaan kemarinnya lagi dipengaruhi keadaan kemarinnya lagi, demikian seterusnya“. Ini menunjukkan bahwa keadaan kemarin, hari ini dan hari esok adalah rangkaian peristiwa yang saling mempengaruhi atau dipengaruhi.
4. Terlatih Memahami Pola Sejarah
Dengan banyak belajar sejarah, seseorang akan menemukan “pola sejarah” (historical pattern). Pola ini ditemukan dari banyaknya peristiwa sejarah serupa yang berulang (di waktu yang berbeda), baik di tempat yang sama maupun di tempat yang berbeda. Meski berbeda waktu dan tempat, tetapi tipikal kejadiannya hampir sama atau bahkan sama. Sebagai contoh misalnya: lengsernya presiden Soekarno, Soeharto, dan Abdurahman Wahid sama-sama lengser oleh bangsanya sendiri. Contoh lainnya misalnya: setiap mendekati atau sebelum pelaksanaan pemilihan umum, para calon kontestan Pemilu selalu mendekati dan merayu rakyat untuk meraup suara, tetapi setelah terpilih menjadi pejabat (pemimpin), sebagian dari mereka kerap lupa pada rakyat. Tradisi ini menjadi ritual wajib dan terus berulang dalam sejarah Pemilu. Kecakapan membaca pola sejarah menyebabkan sejarawan terkadang dikenal sebagai “peramal” masa depan. Peramal dalam konteks ini bukanlah kemampuan membaca sesuatu yang goib, melainkan kemampuan memprediksi sesuatu yang sedang atau akan terjadi dikarenakan sudah terbiasa membaca banyak pola serupa dalam sejarah.
5. Menyadarkan Bahwa Sejarah Tak Mungkin Memuaskan Semua Pihak
Jika menulis sejarah bertujuan untuk memuaskan semua pihak, tampaknya merupakan sesuatu yang mustahil, apalagi penulisan-penulisan sejarah yang bertema sensitif dan para pelakunya masih hidup. Akan ada pro-kontra, setuju dan tidak setuju, cocok dan tidak cocok, mendukung dan menyalahkan, diuntungkan dan dirugikan, puas dan tidak puas. “Tak ada satu orang sebaik apapun di dunia ini yang lepas dari celaan atau ketidakcocokan dengan orang lain di sekitarnya“. Mungkin pernyataan tersebut tepat sebagai gambaran terhadap sebaik-baiknya tulisan sejarah karya manusia. Sebaik apapun tulisan sejarah tetap akan ada pihak-pihak yang kurang puas atau kurang cocok, sekalipun kadarnya hanya kecil.
Sejarah versi rezim penguasa kerap kali kurang diterima masyarakat atau kelompok yang merasa dirugikan. Sejarah versi rezim penguasa juga acapkali mendapatkan kritikan tajam dari segenap kalangan akademisi yang melihat adanya kebohongan-kebohongan sejarah di dalamnya. Sudah bukan rahasia lagi bila di banyak tempat dan dari masa ke masa, muncul “sejarah yang dipesan” oleh para penguasa sebagai alat legitimasi dalam melanggengkan kekuasaaan. Banyak ditemui pula para rezim penguasa membuat proyek “sejarah resmi” sebagai alat politik praktis untuk menopang kelanggengan dan berbagai kepentingan. Alhasil munculah “sejarah-sejarah tandingan” dari berbagai kelompok atau kalangan yang merasa dirugikan. Muncul pula sejarah-sejarah “versi pelaku” dan “versi korban” (atau yang merasa jadi korban). Masing-masing punya tafsir sendiri, punya versi sejarah sendiri. Masing-masing merasa benar karena memiliki alasan, tujuan dan kepentingan sendiri.
Pada akhirnya benturan antarnarasi sejarah tak dapat dihindari. Untuk itu, penulisan sejarah yang bertujuan untuk memuaskan semua orang (100%) adalah tantangan yang sangat sulit dicapai bahkan mustahil. Untuk itu, belajar sejarah menyadarkan kita bahwa pro-kontra merupakan sesuatu yang lumrah dan sudah terjadi sejak lama. Belajar sejarah menjadikan kita “tidak mudah kagetan” dan “tidak mudah nggumunan” (tidak mudah takjub). Karena fenomena-fenomena kekinian sejatinya sudah banyak dicontohkan dalam sejarah sebelumnya.
6. Menyadarkan Adanya Dialektika, Ketersambungan, dan Keterputusan Sejarah
Seperti yang sudah penulis singgung di awal, bahwa kemarin, hari ini dan hari esok adalah rangkaian kehidupan yang saling berkaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Apa yang terjadi hari ini dipengaruhi hari kemarin dan apa yang terjadi hari esok dipengaruhi kondisi hari ini. Sejarah umat manusia yang umurnya sudah ribuan tahun ini sejatinya berisi rentetan hasil “aksi-reaksi” dari sejarah yang satu dengan sejarah lainnya, dari sejarah sebelum dan setelahnya, dari sejarah di tempat yang satu dan tempat lainnya. Untuk itulah dengan belajar sejarah, bisa melatih diri memiliki rasa penasaran yang tinggi terutama dalam melihat fenomena-fenomena mutakhir di sekeliling kita. Sebagai contoh misalnya: rasa penasaran untuk mengetahui mengapa di Indonesia ada 6 agama resmi, mengapa korupsi di Indonesia sulit dihilangkan, mengapa bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, mengapa ada banyak monumen atau patung-patung pahlawan di sekitar kita, mengapa setiap tanggal 10 November diperingati hari pahlawan, mengapa Yogyakarta menjadi daerah istimewa, mengapa Jakarta menjadi ibukota negara, mengapa sebagian nama-nama jalan di sekitar kita menggunakan nama pahlawan, mengapa banyak masjid di Jawa yang model atapnya mirip Masjid Agung Demak, mengapa di sekitar wilayah Prambanan banyak ditemukan candi, mengapa transportasi kereta api Indonesia berpusat di Jawa, dan masih banyak lainnya. Seseorang yang banyak belajar sejarah memiliki rasa penasaran untuk mengidentifikasi dan mempertanyakan kondisi saat ini dan hubungannya dengan masa lalu.
Dalam konteks historiografi, tulisan sejarah saat ini merupakan buah reaksi dari tulisan sejarah sebelumnya. Tulisan sejarah sebelumnya juga buah reaksi dari tulisan lebih sebelumnya, demikian seterusnya. Ada keterkaitan sejarah dari waktu ke waktu baik disengaja (disadari) maupun tidak disengaja (tidak disadari). Keterkaitan aksi-reaksi sejarah ini bisa dalam bentuk sitasi “saling menguatkan” (mengutip), “saling melengkapi” (temuan data baru yang selaras), maupun dalam bentuk “saling menyanggah” (temuan baru yang berbeda). Riwayat aksi-reaksi tulisan sejarah ada yang berkutat masalah substansi (konten sejarah) maupun aspek metodologis (cara kerja).
Adanya aksi-reaksi dalam perjalanan historiografi melahirkan apa yang disebut “ketersambungan sejarah” (historical continuity) dan “keterputusan sejarah” (historical discontinuity). Ada sejarah yang terus berlanjut dari masa ke masa, namun juga sebaliknya, ada sejarah yang terputus di periode tertentu. Sebagai contoh misalnya: budaya korupsi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda terus berlanjut ke masa orde lama, orde baru dan reformasi. Contoh sebaliknya misalnya hilangnya budaya gotong royong memasak oleh segenap warga di sebuah kampung X karena tergantikan dengan sistem pemesanan via catering modern. Ada budaya-budaya yang secara fisik sudah berubah (sudah hilang) tetapi secara kandungan nilai masih sama. Artinya, di satu sisi mengalami keterputusan sejarah tetapi di sisi yang lain masih tercipta ketersambungan sejarah.
Rentetan aksi-reaksi menunjukkan adanya “dialektika sosial” antarpersonal, antarkelompok, antarrezim, atau antarbangsa. Setiap zaman terus tercipta dialog, perdebatan dan perang argumentasi untuk menelorkan sejarah yang lebih baik, lengkap dan bermutu. Bagi yang sudah punya tulisan sejarah tetapi masih malu-malu untuk menerbitkannya (lantaran tidak kunjung percaya diri karena merasa masih banyak kurangnya), sebaiknya mindset tersebut lekas dibuang. “Tugas kita menghasilkan karya sebaik mungkin. Perkara masih banyak kurang atau bolong-bolongnya, biarkan menjadi tugas sejarawan-sejarawan lain untuk menambal atau membenarkannya”. Paling tidak kita sudah berani memulai, meskipun tulisan tersebut menyisakan PR untuk generasi setelahnya. Biarlah tulisan kita menjadi bagian dari “proses dialektika sejarah”. Agar ada yang disempurnakan, maka harus ada yang lebih dulu memulai. Agar ada yang dikritisi, maka harus ada karya yang berselimut kekurangan.
7. Mengenal dan Mengetahui Dunia Sejarah
Seseorang yang banyak belajar sejarah, lama-kelamaan akan banyak tahu berbagai hal tentang “dunia sejarah“. Dunia sejarah dalam konteks ini bukanlah kisah tentang masa lalu itu sendiri melainkan, hal-hal lain yang melingkupinya. Semakin banyak bergumul dengan berbagai jenis bacaan sejarah, seseorang akan banyak tahu tentang berbagai bidang garapan sejarah seperti sejarah politik, sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah pendidikan, sejarah kesehatan, sejarah kebudayaan, sejarah perkotaan, sejarah perkebunan, sejarah industri, sejarah militer, sejarah transportasi, sejarah perburuhan, dan masih banyak lainnya. Tidak hanya itu, kita juga akan mengenal tentang sejarah lokal, sejarah regional, sejarah nasional, dan sejarah global.
Dari sisi penulisnya, kita menjadi kenal nama-nama sejarawan baik dalam negeri atau luar negeri, latar belakang pendidikannya, berbagai karyanya, dan spesialisasinya. Kita menjadi tahu berbagai nama-nama penerbit buku sejarah, kota terbit, tahun terbit, judul karya-karya yang diterbitkan, dan karakter karya-karya yang diterbitkan. Kita juga mengetahui bagaimana sejarawan saling berkompetisi dan saling melengkapi, bagaimana antar sebagian sejarawan juga terjadi gesekan. Dengan membaca banyak tulisan sejarah, kita menjadi tahu di mana jaringan-jaringan studi dan ruang diskusi sejarah diselenggarakan, bagaima tipe atau gaya penulisan masing-masing sejarawan.
8. Memahami Cara Kerja Sejarah
Dengan belajar sejarah, menjadikan kita paham akan metodologi atau cara kerja penelitian sejarah. Metodologi ini berkaitan tentang langkah-langkah penelitian, jenis sumber yang digunakan, di mana tempat memperoleh sumber, dengan cara apa sumber tersebut diperoleh dan dikumpulkan, instrumen apa yang diperlukan dalam pengumpulan sumber, bagaimana cara membaca sumber, bagaimana cara mengkritisi sumber, bagaimana cara menganalisis data, bagaimana cara mengeksplanasi tulisan, bagaimana cara menarik kesimpulan, bagaimana gaya menyajikan tulisan, dan masih banyak lainnya.
Cara kerja inilah salah satu “pegangan kuat” dalam menilai objektivitas (keilmiahan) suatu tulisan sejarah. Semakin jelas, detail, rasional, dan disiplin metodologinya maka semakin bisa dipertanggungjawabkan kualitas tulisannya. Perkara hasil tulisan nantinya akan banyak diterima atau ditolak publik, itu urusan lain. Penerimaan karya di kalangan pembaca lebih berkaitan dengan tingkat literasi masyarakatnya. Bisa jadi penulisnya sudah melek metodologi tetapi masyarakat pembacanya yang belum melek. Atau bisa jadi sebaliknya, masyarakatnya yang sudah melek metodologi tetapi penulisnya yang belum melek.
9. Tidak Mengulangi Kesalahan yang Sama
Untuk mencapai manfaat ini, kita perlu belajar sejarah secara imbang dan holistik (utuh). Tidak hanya belajar yang baik-baik saja tetapi juga hal-hal yang dianggap tidak baik. Tujuan belajar masa lalu yang dianggap tidak baik bukan berarti ingin menjadi manusia atau warga negara yang tidak baik. Justru tujuannya supaya kita mengetahui seluk beluk dan faktor-faktor mengapa peristiwa yang dianggap tidak baik itu bisa terjadi. Tujuan lebih lanjutnya adalah supaya kita bisa mengantisipasi jangan sampai kejadian tidak baik tersebut terjadi lagi di masa yang akan datang. Bahasa kerennya adalah supaya kita “tidak mengulangi kesalahan yang sama”.
Sebagai contoh ilustrasi di atas adalah saat kita belajar tentang komunisme bukan berarti kita ingin membangkitkan kembali komunisme. Ketika kita belajar tentang PKI bukan berarti ingin menjadi PKI dan menghidupkannya lagi. Ketika kita belajar tentang fasisme bukan berarti kita ingin mendirikan kembali negara fasis. Logika ini persis seperti ketika kita belajar tentang setan bukan berarti kita ingin menjadi setan, melainkan supaya kita bisa terhindar dari tipu muslihat dan perilaku seperti setan. Kemampuan antisipasi tersebut bisa dilakukan ketika kita sudah belajar dan memahami seluk beluk sifat-sifat setan. Belajar tentang sejarah korupsi bukan berarti ingin menjadi koruptor, melainkan agar bisa mengetahui cara-cara mencegah tindakan korupsi. Oleh karena itu, belajar tentang berbagai kegagalan, kemunduran, keburukan, kekurangan, konflik, perang, dan hal-hal buruk sejenisnya sangatlah penting. “Agar tidak jatuh di kubangan yang sama, harus memahami dan menyadari benar kunci-kunci kesalahan di masa lalu“.
10. Menghindarkan Diri Menjadi Manusia Bersumbu Pendek
Manusia “bersumbu pendek” adalah manusia yang mudah tersulut emosi dan mudah membuat kegaduhan di masyarakat sehingga bisa merugikan pihak-pihak tertentu. Mereka yang bersumbu pendek biasanya belajar sejarah secara pincang yakni hanya dari perspektif atau sudut pandang kelompoknya. Mereka hanya membaca sumber-sumber internal dan mengubur sumber-sumber penting di luar kelompoknya. Prinsip hidupnya lebih menonjolkan “rasa ngotot” untuk menang dan benar sendiri. Jargon andalannya adalah “pokoke” dan “tidak mau tahu“. Mereka sulit diajak berdiskusi dan bermusyawarah dengan ilmu serta kepala dingin. Dengan budaya yang demikian terbangunlah fanatisme yang berlebihan, yang hanya siap menerima hal-hal baik yang menguntungkan kelompoknya saja. Mereka sulit membuka mata dan membesarkan telinga guna mendengar pendapat dari kelompok lain. Dampaknya, mereka mudah dimanfaatkan, terprovokasi dan membuat kegaduhan.
Oleh karenanya, belajar sejarah secara berimbang dan holistik (utuh) sangatlah penting. Berimbang dan holistik merujuk pada pentingnya belajar tentang sisi putih dan sisi gelap, sisi kekurangan dan sisi kelebihan. Keutuhan dan keseimbangan seorang manusia di dunia secara fitrah meliputi yang baik dan yang buruk, yang suci dan yang kotor, yang positif dan yang negatif, keunggulan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Kesadaran akan konsep ini sangat penting agar tidak ada lagi pihak-pihak yang dengan gampangnya melakukan pebredelan atau pencekalan terhadap sumber atau pustaka-pustaka yang “dianggap kiri” dan “dianggap bertentangan” dengan ideologi Pancasila. Fenomena tersebut menunjukkan kebelumdewasaan mereka. Pencekalan atau pembredelan sumber-sumber belajar sejarah menunjukkan bahwa mereka belum bisa membedakan antara kepentingan “menuntut ilmu” dan tujuan “melakukan gerakan“.
Selama yang dipelajari adalah koridor “menuntut ilmu” (meluaskan wawasan, pengetahuan dan kesadaran) harusnya didorong, bukan dicekal. Lain cerita jika masyarakat yang membaca atau mempelajari tentang PKI, komunisme, fasisme, setanisme, dan korupsiisme bertujuan untuk melakukan sebuah gerakan, pendirian, dan pemberontakan yang secara jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang telah disepakati. Pelarangan masyarakat dalam meningkatkan literasi sejarah perihal tema-tema yang “dianggap kiri” dan hanya membolehkan bacaan yang “dianggap kanan” versi mereka, hanya akan menjadikan literasi masyarakat menjadi pincang dan parsial. Literasi yang pincang dan parsial berpeluang rentan terprovokasi dan mudah dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab demi mencapai kepentingan mereka.
Belajar sejarah secara berimbang dan holistik juga bisa menumbuhkan hati yang legowo, siap menerima fakta-fakta masa lalu sekalipun tidak sesuai keinginan kita. Manusia bukanlah Dewa atau Tuhan yang Maha Sempurna, melainkan tempatnya salah dan lupa. Manusia tempatnya putih dan hitam dalam satu diri sekaligus. Korelasinya adalah bahwa sejarah yang kita pelajari selama ini bukanlah sejarah buatan Tuhan melainkan sejarah “buatan pemikiran manusia” yang memotret rekam jejak tindak-tanduk, tafsir, pemikiran dan perbuatan manusia. Untuk itu menjadi hal yang wajar jika sejarah perjalanan umat manusia tidak sepenuhnya suci (putih), melainkan juga diwarnai jejak hitam sekalipun itu tokoh terkemuka, tokoh besar, tokoh agama, maupun tokoh yang diidolakan selama ini. Sejarah tak melulu yang baik-baik, serba cemerlang, soal prestasi, kejayaan, kehebatan, dan kepahlawanan. Sejarah yang manusiawi juga berkutat pada sisi gelap kehidupan seperti maraknya kejahatan, kekejaman, keserakahan, pengkianatan, keburukan, kemunduran, kekurangan, dan lain sejenisnya. Kita letakkan sejarah secara “manusiawi”.
Oleh karenanya, belajar sejarah secara berimbang dan holistik melatih diri menjadi lebih dewasa dan tidak mudah “naik tensi”. Kedewasaan melahirkan sikap terbuka atas berbagai kekurangan dan kelebihan dari jejak para leluhur kita, para pemimpin bangsa kita, para pemimpin organisasi kita, para pemimpin golongan kita dan tokoh-tokoh yang kita dambakan selama ini. “Memuja sepantasnya, membenci secukupnya“. Kebiasaan menerima dua sisi yang berkebalikan melatih diri tidak mudah fanatik, tidak mudah sombong, tidak arogan, tidak mudah menghakimi secara membabi buta, dan tidak mudah terprovokasi.
11. Meningkatkan Aksi Nyata
Seseorang yang memiliki kesadaran sejarah berpeluang besar melakukan aksi-aksi yang lebih nyata. Aksi nyata tidak selalu dalam artian ikut demo, ikut organisasi, ikut rapat, atau ikut gerakan-gerakan ramai. Aksi nyata bisa diwujudkan melalui banyak cara di bidangnya masing-masing dan sesuai batas kapasitasnya masing-masing. Sebagai contoh misalnya melalui tulisan ilmiah, konten media sosial, ceramah di kelas, produksi barang, kedisiplinan kerja, ketaatan sebagai warga negara, atau melalui berbagai terobosan kritis edukatif lainnya. Aksi nyata bisa bersifat protes, kritikan, masukan, solusi, percontohan, pemikiran, karya, dan wujud lainnya.
Aksi Nyata sebagai wujud kesadaran sejarah tak melulu diaplikasikan dalam bidang atau tempat-tempat seperti museum, situs, monumen, dinas arsip, atau bidang-bidang yang berkaitan dengan sejarah. Aksi nyata bisa diimplementasikan di berbagai bidang dan aspek kehidupan. Hanya saja aksi nyata tersebut dilandasi kesadaran sebagai buah hasil memetik pengetahuan, pengalaman, hikmah, moralitas, filosofi dan nilai-nilai berharga dari belajar sejarah. “Pengetahuan melahirkan pemikiran, pemikiran melahirkan kesadaran, kesadaran melahirkan empati dan simpati, sedangkan empati dan simpati melahirkan aksi”.
12. Menjadi Bijak
Puncak ma’rifat belajar sejarah adalah melatih diri menjadi “BIJAK” (to be wise). Bijak dalam berfikir, bersikap dan berbuat. Bijak adalah keputusan yang paling tepat (atau setidaknya mendekati paling tepat). Ia sudah ditakar dari banyak aspek, perspektif dan berbagai kemungkinan. Bijak adalah putusan terbaik, teradil, dan terarif. Bisa dikatakan bijak apabila:
- Tidak gegabah menghakimi benar salah atas sesuatu hal sebelum melacak detail permasalahan dan melihatnya dari banyak sudut pandang;
- Terhindar dari tindakan mendewakan atau mengkhultuskan seseorang. Setiap diri seseorang, kelompok, golongan atau organisasi pasti memiliki celah kekurangan, betapapun hebat dan supernya manusia tersebut. Setiap diri yang putih terdapat hitamnya, dan setiap diri yang hitam ada putihnya. Hanya kadar atau tingkatannya yang membedakan. Ada yang putihnya lebih banyak, atau hitamnya yang lebih dominan. Hal ini penting mengingat seringkali ditemukan orang atau kelompok yang saking fanatiknya enggan menerima kritik apalagi bersedia mengkritik kekurangan personal, kelompok, golongan, partai, atau organisasi yang diikuti/dipujanya;
- Tidak sedikit-sedikit menganggap kelompoknya maha benar, di lain sisi menghina dan merendahkan kelompok lain hanya gara-gara berbeda pandangan, aliran, atau mahdzab. Tidak mudah mengkotak-kotakkan dan membawa-bawa identitas kelompok untuk memperlebar jurang perbedaan dan perselisihan. Ketidaksetujuan atau ketidakcocokan pandangan antarindividu atau antarkelompok disikapi secara wajar, tenang dan arif sebagai sebuah rahmat dan kekayaan, bukan sebuah musibah. Justru banyaknya perbedaan dalam jejak perjalanan bangsa dijadikan sebagai bahan refleksi dan pendewasaan;
- Tidak mudah mengutuk dan mencap buruk orang/kelompok lain. Setiap diri seseorang, kelompok, partai, organisasi yang jahat dan sekejam apapun pasti juga memiliki sisi lain yang positif yang bisa diambil inspirasi/teladan secukupnya;
- Tidak mudah terdoktrin. Orang bijak akan terbuka pintu-pintu adilnya. Sebaliknya, orang yang mudah terdoktrin dan memiliki fanatisme tinggi akan mudah membenci. Jika ia mendapati secuil hal negatif yang dibencinya maka semua hal seolah-olah menjadi nampak negatif semuanya. Orang yang belajar sejarah secara benar akan terhindar dari sifat seperti ini. Ia akan menilai sesuatu secara proporsional, tidak dibesar-besarkan, juga tidak disederhanakan. Ia mampu mengambil sisi-sisi positif dari sesuatu yang terlihat negatif, dan sebaliknya, bisa menemukan sisi-sisi negatif dari sesuatu yang terlihat positif. Inilah pentingnya belajar tentang sejarah, belajar dari sejarah dan belajar untuk sejarah. “Belajar masa lalu adalah seni menatap masa depan“.


Bisa menambah perspektif pembaca😉