Views: 51
Views: 51
Oleh: Nasta Ayundra Oktavian Mahardi (Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2021)
Tulisan ini akan menceritakan kisah seorang pangeran Jawa dari Yogyakarta bernama Raden Mas Dorojatun (Hamengku Buwono IX, 1940-1988) selama masa pendidikannya di Belanda. Menjadi hal lumrah di Vorstenlanden jika putra-putranya dikirim untuk menempuh studi di Belanda, mulai sekitar tahun 1900 sampai seterusnya. Di antara keempat kerajaan, Pakualaman yang paling progresif mengirim para pangerannya ke Belanda untuk belajar. Berbeda halnya dengan Yogyakarta yang masih memiliki pandangan konservatif terhadap pendidikan putra-putra raja, yang mencerminkan sikap dari Hamengku Buwono VII (Monfries, 2018: 45).
Kebijakan berubah ketika Hamengku Buwono VIII naik takhta. Hal ini didasari atas pengalaman Sultan saat masih menjadi Putra Mahkota yang bepergian ke Eropa, kemudian mulai tahun 1919 Sultan mengirim putra-putranya untuk bersekolah di Belanda (Poeze, 1986: 280). Sultan lebih banyak lagi mengirim putra-putranya dalam rentang waktu antara tahun 1920-an sampai 1930-an. Dorojatun bersama saudaranya, Tinggarto, dikirim ke Belanda pada awal tahun 1930 sebagai langkah strategi Sultan untuk membiasakannya terhadap masyarakat, budaya, dan intelektual Barat (Monfries, 2018: 45). Sebuah visi dari Sultan yang melihat jauh ke depan ketika memutuskan Dorojatun dan saudaranya untuk menuntut ilmu dalam lingkungan barat.

Gambar 1. Hamengku Buwono VIII dengan para putranya pada tahun 1920-an. Dorojatun di sebelah kiri depan. Sumber: KITLV
Sebelum beranjak ke Belanda, Dorojatun kecil masuk taman kanak-kanak Frobel di Bintaran Kidul, Gondomangan, di seberang Sungai Code dekat Kraton. Setelahnya ia kemudian pindah ke Eerste Europese Lagere Shool B atau Sekolah Dasar Atas Eropa di Kampenstraat yang sekarang merupakan Jalan Kaliurang dan menyelesaikannya pada pertengahan tahun 1925 (Sudarmanto, 1992: 154). Saat di sekolah dasar, Dorojatun masuk ke dalam gerakan kepanduan Indonesia, nantinya ia juga akan dikenal sebagai Bapak Pramuka. Pemilihan kepanduan sebagai salah satu ekstrakurikuler utamanya memberi bukti lebih jauh mengenai kepribadiannya dan bisa saja sikap ideologisnya. Kegiatan kepanduan menekankan sebagai kegiatan di luar ruangan laki-laki yang menyehatkan dan penanaman kuatnya pada hierarki, kedisiplinan serta pengetahuan praktis. Biasanya dari sini banyak orang tertarik karena menjadi wadah yang tepat untuk mereka yang suka menanggapi peraturan, mencintai kebugaran fisik, dan senang menjalani rangkaian prosedural.
Dorojatun lalu melanjutkan pendidikannya di Hoogere Burger School (Sekolah Menengah Atas bagi orang Eropa dan elite pribumi) di Semarang pada tahun 1925. Namun karena iklim Semarang yang panas, memuat Dorojatun pada tahun 1928 pindah menuju Hoogere Burger Shool di Bandung. Saat di Bandung, Dorojatun tinggal bersama keluarga Belanda yang sebagian besar berprofesi sebagai guru. Di sana ia bersama saudaranya tinggal bersama seorang perwira militer Belanda bernama Letnan Kolonel de Boer. Oleh ayahnya, Sultan berpesan kepada keluarga Belanda tersebut untuk memperlakukan anak-anaknya seperti anak-anak pada umumnya. Sultan ingin Dorojatun menjadi sosok yang disiplin dan sederhana. Dorojatun dan saudaranya tidak pernah mendapatkan servis dari pelayan-pelayan istana saat tinggal bersama keluarga Belanda tersebut (Roem dkk., 1988: 22, 28, 167).
Setelahnya pada bulan Mei tahun 1930, Sultan mengirim Dorojatun bersama Tinggarto ke Belanda untuk pendidikan yang lebih tinggi. Dorojatun yang berusia 17 tahun saat itu pergi melalui jalur laut. Perjalanannya dikawal oleh keluarga Hoffalnd yang kepala keluarganya merupakan direktur pabrik gula di Gesikan, dekat dengan Yogyakarta (Sudarmanto, 1992: 155).
Namun timbul pertanyaan setelahnya mengapa Sultan menyekolahkan putra-putranya di lingkungan Barat sejak kecil hingga dewasa, bahkan memberangkatkannya ke Belanda? Ternyata Sultan memiliki strategi perjuangan, sama seperti masyarakat Jepang yang sesudah dipaksa oleh Barat untuk membuka diri dari isolasi budaya, mulai mempelajari secara tekun dan serius kekuatan serta kelemahan kebudayaan dari masyarakat Barat. Seperti halnya strategi perjuangan yang akan digunakan oleh Dorojatun ketika menjadi penerus ayahnya, seperti tersirat dalam surat Sultan kepada sang anak ketika ia masih bersekolah di Bandung. Isinya sebagai berikut (Parera, 1991: 49).
“Selama di Negeri Belanda, bukalah pintu hatimu seluas-luasnya. Berupayalah agar kau benar-benar menyelami sifat-sifat orang Belanda. Karena di masa depan kau selalu akan berurusan dengan mereka.”
Isi surat ini ditulis oleh layaknya seorang panglima tempur yang kenyang pengalaman bertempur yang ditujukan kepada penggantinya. Dengan bekal ilmu dan pengalaman di Belanda, Dorojatun dapat mengatasi berbagai persoalan yang mengharuskannya untuk berhadap-hadapan dengan Belanda saat nanti menggantikan posisi sang ayah sebagai Sultan Hamengku Buwono IX.
Selayang Pandang di Belanda
Kondisi ekonomi di Belanda kian memburuk saat tahun pertama Dorojatun datang. Pendapatan nasional per kapitanya turun sebesar 17% antara tahun 1929 hingga 1934 Penurunan pendapatan nasional ini juga mempengaruhi pendaftaran di Fakultas Indologi, fakultas yang dimasuki oleh Dorojatun, Universitas Leiden, berhenti selama beberapa waktu (Monfries, 2018: 46). Jumlah mahasiswa Indonesia di Belanda juga mengalami penurunan peminat, dampak yang sama akibat dari tidak stabilnya kondisi ekonomi nasional. Dari 175 orang pada tahun 1931, kemudian jatuh sekitar 100 orang pada tahun 1940 (Poeze, 1986: 278). Kebanyakan dari mereka adalah para elite kecil, putra-putra dan sebagian anak perempuan dari para aristokrat atau keluarga terhormat dari golongan orang Tionghoa dan Arab kaya di Hindia.
Dorojatun tidak terkena dampak dari kondisi tersebut, karena segala kebutuhan dari biaya dan sebagainya yang berkaitan dengan studinya sudah tercukupi dengan baik walaupun tidak tergolong mewah. Ia diberi uang saku oleh ayahnya yang nominalnya tidak besar, setidaknya jika dilihat dari kebutuhannya guna mengambil beberapa pekerjaan sampingan selama liburan. Dorojatun juga mengikuti berbagai kegiatan mahasiswa saat di Universitas Leiden (Monfries, 2018: 46-47).
Masa Persiapan di Haarleem
Saat menginjakkan kakinya di Belanda, Dorojatun tinggal di Harleem, sebuah kota kecil di selatan Amsterdam selama empat tahun. Sama seperti Dorojatun, Tan Malaka juga pertama kali datang ke Belanda di kota Haarlem, namun ia datang jauh sebelum Dorojatun tiba yakni pada akhir tahun 1913 (Tempo, 2023: 101). Dorojatun bersama saudaranya tinggal di rumah seorang kepala sekolah di Haarlem bernama Mourik Broekman. Di Haarlem, Dorojatun mengikuti kurikulum HBS-B, yang menjadi wadah bagi siswa yang tidak mempelajari kesusastraan kuno agar dapat masuk ke jenjang universitas. Jika dilihat dari para siswanya, rata-rata mereka merupakan kalangan keluarga kerajaan atau keluarga kaya dari penjuru Nusantara.
Saat di HBS-B, Dorojatun mempelajari berbagai mata pelajaran seperti ilmu pengetahuan alam, fisika, matematika, sejarah, geografi, perniagaan. Selain itu terdapat mata pelajaran bahasa Eropa yang meliputi Belanda, Jerman, Perancis, dan Inggris. Di sana Dorojatun bukan seorang siswa yang istimewa, hal ini terjadi karena faktor kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan utamanya. Dorojatun juga mengikuti berbagai kegiatan luar, seperti menjadi pemain bola lokal di sana, yang membuatnya tidak bisa fokus dalam masa studinya (Monfries, 2018: 47).

Gambar 2. Dorojatun saat bersekolah di Belanda. Sumber: (Repro) Takhta Untuk Rakyat
Masa-masa studinya di Haarlem penuh lika-liku. Seperti nilainya yang naik dan turun, terdapat mata pelajaran yang nilainya baik dan kurang. Secara keseluruhan, Dorojatun dan saudaranya mengalami kesulitan akademik di Haarlem. Namun tanpa diduga keduanya berhasil lolos dalam ujiannya dan pindah ke Fakultas Indologi di Universitas Leiden. Saat mendaftar, Dorojatun tidak menyertakan gelar kebangsawanannya (Monfries, 2018: 48).
Lembaran Baru di Leiden
Saat di Leiden, Dorojatun masuk Fakultas Indologi dengan mengambil konsentrasi terhadap pokok ekonomi. Fakultas ini sebetulnya tidak banyak menarik para pelajar dari Indonesia (Poeze, 1986: 279). Namun Dorojatun menikmati masa-masa perkuliahannya di Leiden, pada tahun-tahun berikutnya ia menikmati perkuliahannya dengan Dr J.J. Schrieke, guru favoritnya, dalam mata kuliah hukum konstitusional dan administratif (Roem dkk., 1982: 31).
Universitas Leiden saat itu menjadi kampus paling terkemuka di dunia yang memiliki fokus khusus terhadap kajian mengenai Hindia Timur. Fakultas Indologi merupakan sebuah usaha kooperatif antara Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra & Filosofi. Fakultas ini memiliki banyak pakar ternama yang dikutip dalam berbagai karya ilmiah terkait sejarah Indonesia sampai saat ini. Sebut saja Snouck Hurgronje, J.H. Boeke, J.J. Schrieke, C.C. Berg, P.J. Zoetmulder, H.J. de Graaf, dan J.C. van Leur. Semuanya memiliki konsentrasi yang sama, yakni terhadap Indonesia tetapi kajian mereka memiliki perbedaan seperti fokus mereka terhadap hukum, arkeologi, bahasa Jawa, sejarah Jawa, dan penulisan sejarah Indonesia (Monfries, 2018: 50-51).
Saat di Leiden, Dorojatun bersama saudaranya tinggal di belakang gereja besar Protestan yang berada di seberang kanal dari bangunan induk universitas dan dekat dengan perpustakaan utama. Di Leiden ia juga bukan seorang mahasiswa yang istimewa. Ia bahkan gagal pada usaha pertamanya dalam ujian kandidat di bidang Ekonomi pada Mei tahun 1937, namun ia mengulanginya lagi pada bulan Desember dan dinyatakan lulus. Kemudian ia melanjutkan ke program doktorandus. Sejak saat itu Dorojatun ingin mengurangi kegiatan ekstrakurikulernya agar tidak mengganggu kelancaran studinya (Monfries, 2018: 54).
Kegiatan Dorojatun selain mendatangi ruang kelas untuk mengikuti perkuliahan beraneka-ragam. Selain merampungkan kursus bahasa Inggris di sebuah lembaga bimbingan, ia bergabung dengan perhimpunan mahasiswa dan laskar mahasiswa di Leiden (Poeze, 1986: 281). Ia juga bergabung dalam komunitas debat di bawah binaan J.J. Schrieke bernama “Krishna” (Roem dkk., 1982: 43). Saat liburan, Dorojatun juga mengambil beberapa pekerjaan untuk mengisi waktunya.
Kembali ke Yogyakarta
Saat tersiar akan adanya peperangan di tanah Eropa (Perang Dunia Pertama), Sultan meminta putra-putranya di Belanda untuk pulang ke Jawa. Dorojatun saat itu sedang berlibur dan tidak ada di tempat, ia menerima telegram dari ayahnya beberapa pekan dan kemudian langsung mencari kapal pertama yang tersedia. Kendaraan laut tersebut hanya dapat membawa seorang pangeran, sehingga Dorojatun menaikinya seorang diri (tidak bersama saudaranya). Karena kepulangannya secara tiba-tiba, tesis Dorojatun yang hampir selesai untuk gelar doktorandusnya turut dibawa ke Jawa dan tak pernah selesai untuk dikumpulkan. Dokumen tersebut hilang dan tersisa judulnya saja, yakni The Political Contract between the Sunan of Solo and the Dutch Goverment (Monfries, 2018: 60).
Sebuah Kesimpulan
Tahun-tahun terakhir Dorojatun di Belanda dapat dinilai sebagai produk pribumi yang berhasil dalam studinya dan siap untuk mengemban peran sebagai Sultan berikutnya, menggantikan ayahnya. Ia dibekali dengan studi-studi mengenai hukum kolonial, ekonomi, administrasi publik, dan berbagai mata kuliah yang ia tempuh selama pendidikannya di Belanda. Poin paling pentingnya adalah ia juga memahami sistem Belanda secara keseluruhan dan cakap dalam bahasa Belanda. Bahkan para pejabat Belanda dengan pede jika Dorojatun akan menjadi seorang Sultan yang berkompeten.
Ayahnya bisa merasa puas terhadap hasil dari strateginya untuk mengirim putra-putranya ke Belanda untuk belajar mempelajari masyarakat dan kebudayaan Belanda. Dengan perbekalan yang sangat baik dari Belanda, Sultan yakin bahwa Dorojatun dengan segala kecakapannya dapat mempromosikan kepentingan Keraton Yogyakarta untuk menangani persoalan dan hubungannya dengan pemerintah kolonial Belanda (Monfries, 2018: 61).

Gambar 3. Pelantikan Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1940. Di sampingnya adalah Gubernur Yogyakarta, Lucien Adam. Sumber: KITLV
Akan tetapi alih-alih memiliki pemikiran Belanda, Dorojatun justru memiliki sikap Anti-Belanda. Saat penobatannya sebagai Sultan Hamengku Buwono IX pada 18 Maret 1940, para pejabat Belanda kaget dengan pernyataan serius dari Sultan bahwa, “Sekalipun aku telah menempuh pendidikan Barat, aku adalah dan tetap seorang Jawa”. Keseriusannya ini ia buktikan saat ia menyatakan bahwa Yogyakarta akan berdiri di belakang Republik Indonesia dengan status Daerah Istimewa yang langsung bertanggungjawab kepada Presiden Sukarno. Selo Soemadrjan kemudian berpendapat bahwa Sultan Hamengku Buwono IX dengan segala kelayakannya dari semua aspek dapat disebut sebagai Sultan Agung Modern (1989: 116-117).
Daftar Pustaka
Monfries, J. (2018). Raja di Negara Republik: Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX dari Yogyakarta. Terjemahan Uswatun Hasanah. Yogyakarta: Penerbit Biography.
Parera, F. M. (1991). Ketokohan Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Reformator Budaya dan Perintis Orde Baru. Prisma: Di Atas Panggung Sejarah Dari Sultan ke Ali Moertopo, Edisi Khusus 20 Tahun Prisma, 41-80.
Poeze, H. (1986). In het Land van de Overheerser, Indonesiers in Nederland 1600-1950, jilid I. Dordrecht: Foris.
Roem, M., Lubis, M., M. Kustiniyati, & Maimoen, S. (1982). Takhta Untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Soemardjan, S. (1989). In Memoriam: Hamengkubuwono I, Sultan of Yogyakarta, 1912-1988. Indonesia, 47, 115-17.
Sudarmanto, Y. B. (1992). Jejak-jejak Pahlawan Dari Sultan Agung hingga Sultan Hamengkubuwono IX. Jakarta: Grasindo.
Tempo. (2023). Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.


Mantap
Tulisan ini saya dalam kerangka umumnya mensadur karya Dr. Monfries dalam “Raja di Negera Republik” yang terbit tahun 2018 dalam bahasa Indonesia. Mengapa mengambil topik ini karena ada beberapa hal.
1. Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX adalah tokoh idola saya.
2. HB IX merupakan tokoh yang disegani dalam tiap zaman, sebelum kemerdekaan (masa Belanda & Jepang) dan setelah kemerdekaan (di bawah Sukarno dan Soeharto).
3. HB IX adalah contoh produk Jawa dari kalangan elite istana, tetapi memiliki pengetahuan Barat. Sebuah kombinasi yang serasi dan ini dibuktikan saat HB IX mulai memimpin Yogyakarta dari 1940-1988.
Sehingga tulisan ini saya persembahan kepada tokoh idola saya dan kepada Dr. Monfries tentunya.
Nasta