Views: 306
Views: 306
Oleh:
Amarros Afiq Muhammad, Amaya Onieksa Addien, Ameylia Bunga Indah Heryanti,
Anggraini Putri Kusumawardani, Anggito Judhanto Suryo Guritno, Anida Farisa Rahmawati & Anisa Caroline
(Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta Angkatan 2021)

A. WAYANG
Dari sudut pandang terminologi, wayang berasal dari kata wayangan atau bayangan yang berarti sumber ilham, yang dimaksud ilham di sini adalah ide dalam menggambarkan wujud tokohnya. Selanjutnya, berbeda dari yang pertama, pendapat ini menyebutkan bahwa kata wayang berasal dari kata wad dan hyang, yang artinya adalah leluhur (Aizid, 2013: 21). Wayang adalah sebuah kata bahasa Jawa yang berarti ”bayang” atau bayang-bayang yang berasal dari akar kata ”yang” dengan mendapat awalan ”wa” menjadi kata ”wayang”. Kata-kata didalam bahasa Jawa mempunyai akar kata “yang” dengan herbagai variasi vokalnya antara lain adalah: ”layang”, ”dhoyong”, ”puyeng”, ”reyong”, yang betarti: selalu bergerak, tidak tetap, samar-samar dan sayup-sayup. Kata ”wayang”, ”hamayang” pada waktu dulu berarti mempertunjukkan ”bayangan” (Mulyono, 51: 1979). Lambat laun menjadi pertunjukan bayang-bayang. Kcmudian menjadi seni pentas bayang-bayang atau wayang. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, wayang berarti sesuatu yang dimainkan seorang dalang (Haryono, 543: 1984).
Wayang merupakan seni pertunjukan tradisional yang memegang peranan penting dalam kehidupan budaya Indonesia. Lebih dari sekadar hiburan, wayang merupakan cermin dari nilai-nilai, kebijaksanaan, dan spiritualitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah wayang dapat ditelusuri kembali ke masa prasejarah di Nusantara, namun perkembangannya yang paling signifikan terjadi pada zaman kerajaan Hindu-Buddha. Pertunjukan wayang umumnya mengambil tema-tema epik seperti Ramayana dan Mahabharata yang membawa cerita tentang kepahlawanan, persahabatan, konflik moral, dan kemenangan atas kejahatan. Cerita-cerita ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengajaran moral yang mendalam kepada penontonnya.
Wayang dikenal dengan dua jenis utama: wayang kulit dan wayang golek. Wayang kulit menggunakan boneka kulit yang dipotong tipis dan diwarnai secara tradisional dengan pewarna alami. Boneka ini kemudian diproyeksikan di layar putih dengan bantuan lampu minyak atau lampu modern. Wayang golek, khususnya populer di Jawa Barat, menggunakan boneka kayu yang digerakkan oleh tangan dalang. Di samping itu, ada pula wayang orang, yang melibatkan aktor manusia yang mengenakan kostum khas dan memainkan tokoh-tokoh wayang dengan gerakan, dialog, dan tarian.
Dalang atau pemain wayang memiliki peran sentral dalam pertunjukan wayang. Mereka tidak hanya mengendalikan boneka-boneka tersebut, tetapi juga berperan sebagai narator, pencerita, dan bahkan kadang-kadang sebagai penasehat moral. Mereka harus mahir dalam memainkan berbagai suara dan menangkap nuansa emosional setiap tokoh wayang untuk membangun dramatisasi yang tepat dalam cerita. Pertunjukan wayang juga tidak lepas dari musik gamelan yang mengiringinya. Gamelan terdiri dari berbagai instrumen seperti gongs, metalofon, kendang, dan suling, yang bersama-sama menciptakan nuansa musikal yang khas. Musik gamelan tidak hanya menambah keindahan pertunjukan, tetapi juga memegang peran penting dalam mengatur tempo dan suasana dalam cerita yang dipersembahkan.
Secara budaya, wayang bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga merupakan simbol dari kekayaan intelektual, estetika, dan spiritualitas masyarakat Indonesia. Pertunjukan wayang sering kali dihubungkan dengan ritual keagamaan atau upacara adat, dan menjadi sarana penting dalam memperkuat identitas budaya lokal serta membangun solidaritas sosial. Wayang telah menjadi tradisi dan budaya yang telah mendasari dan berperan besar dalam membentuk karakter serta eksistensi Bangsa Indonesia. Wayang tidak hanya pertunjukan yang bersifat menghibur, tetapi juga sarat akan nilai-nilai falsafah hidup. Dalam cerita wayang, tiap-tiap tokohnya merupakan refleksi atau representasi dari sikap, watak, dan karakter manusia secara umum. Ada yang baik dan jahat, ada kebatilan dan keburukan. Pertunjukan wayang bukan semata-mata hiburan tetapi lebih bersifat seremonial keagamaan (Haryono Timbul, 34: 2008).
Dalam konteks modern, wayang terus beradaptasi dan berkembang. Meskipun terdapat tantangan dari arus globalisasi dan perubahan zaman, praktik wayang tetap hidup dan terus menarik minat generasi muda untuk belajar dan menghargai warisan budaya yang berharga ini. Dengan demikian, wayang tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai simbol dari kedalaman dan kekayaan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dipertahankan untuk masa depan.
Asal usul wayang tidak tercatat secara akurat dalam sejarah. Bermula dari zaman kuno ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut paham animisme dan dinamisme. Dalam alam kepercayaan animisme dan dinamisme ini diyakini bahwa roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup, dan semua enda itu bemyawa serta memiliki kekuatan. Roh-roh itu bisa bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung, dan lain-Iain. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka terus dipuja dan dimintai pertolongan. Untuk memuja roh nenek moyang ini, selain melakukan ritual tertentu, juga diwujudkan dalam bentuk gambar dan patung. Roh nenek moyang yang dipuja lni disebut hyang atau dahyang (Wibisana dan Herawati, 2010: 15). Orang dapat berhubungan dengan para hyang Ini untuk meminta pertolongan dan perlindungan, melalui seorang medium yang disebut syaman. Ritual pemujaan roh nenek moyang, hyang dan syaman lnilah yang merupakan asal mula pertunjukan wayang. Hyang menjadi wayang, sedangkan syaman menjadi dalang. Ritual kepercayaan ini menjadi jalannya pentas. Adapun ceritanya adatah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa asli yang hingga sekarang masih dipakal. Jadi dapat dikatakan wayang berasat dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia di sekitar tahun 1500 SM (Wibisana dan Herawati, 16: 2010). Wayang terus mengikuti perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari zaman animisme sampai masuknya agama Hindu sekitar abad VI. Bangsa Indonesia mulai bersentuhan dengan peradaban tinggi dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan sepeti Kutai, Tarumanegara, bahkan Sriwiiaya yang besar dan jaya. Pada masa itu wayang pun berkembang pesat dan mandapat fondasi yang kukuh sebagai suatu karya seni yang bermutu tinggi. Pertunjukan roh nenek moyang tersebut dikembangkan dengan cerita yang lebah berbobot, yaitu “Ramayana” dan “Mahabharata”. Mulai abad X hingga abad XV, pada zaman pemerintahan Prabu Erlangga, Raja Kahuripan (967-1012) yakni ketika kerjaan Jawa timur sedang makmur-makmurnya. Kraya sastra yang menjadi bahan cerita wayang ditulis oleh para pujangga, antara lain nskah sastra kitanb Ramayana Kakawin berbahasa jawa kuno ditulis pada masa pemerintahan Raja Diah Balitung (989-910). Naskah ini merupakan gubahan dari kitab Ramayaba karangan pujangga India Walmiki (Aizid, 2013: 24). Wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan terhadap masyarakat. Pada masa abad 10 hingga 15 telah ditulis berbagai cerita tentang wayang. Pada masa Kerajaan Kediri, Singasari, dan Majapahit kepustakaan wayang mencapai puncaknya seperti tergambar pada dinding-dinding candi, karya sastra yang ditulis oleh Empu Sendok, Empu Sedan. Empu Panuluh, Empu Tantular, dan Iain-laln. Karya sastra wayang yang terkenal dari zaman Hindu. antara lain Baratayudha, Arjuna Wiwaha, dan Sudamala. Selain itu, juga telah diiringi gamelan dan dalam tatanan pentas yang bagus dengan cerita ”Ramayana’ dan “Mahabharata”. Pergelaran wayang memang dapat mencapai mutu seni yang tinggi sampai digambarkan hananonton ringgit manangis asekel yang artinya adalah tontonan yang yang sangat mengharukan.
Wayang seolah-olah identik dengan Ramayan dan Mahabharata. Namun, diketahui bahwa Ramayana dan Mahabharata versi India sudah banyak mengalami perbedaan.Perbedaan yang sangat menonjol dari keduanya adalah falsafah yang melandasi cerita itu, Iebih-lebih setelah masuknya agama Islam. Falsafah Ramayana dan Mahabharata yang Hinduisme diolah sedemikian rupa sehingga menjadi berwarna nilai-nilai Islam. Hal ini antara lain tampak pada kedudukan dewa, garis keturunan yang patriarkat, dan sebagainya.
B. WAYANG SUKET

Gambar 1. Wayang Suket Gatotkaca Sumber : Dokumen Tim Penulis, 27 Mei 2024
Wayang, sebagai salah satu kebudayaan asli Indonesia yang diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, tidak hanya memiliki nilai tinggi bagi masyarakat Indonesia tetapi juga merupakan sebuah fenomena seni yang melintasi berbagai bidang kreatif seperti seni pertunjukan, musik, sastra, dan seni rupa. Seni wayang, baik itu wayang kulit, wayang golek, wayang beber, wayang wong, atau wayang suket, adalah warisan turun-temurun yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, mencerminkan kekayaan budaya dan kreativitas bangsa. Salah satu contoh yang menonjol adalah wayang suket, yang dibuat dari jerami atau rumput liar yang tumbuh di pinggiran sawah, menciptakan sebuah karya seni yang tidak hanya memanfaatkan bahan alami tetapi juga terjalin erat dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal. Dengan demikian, wayang suket bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga sebuah simbol dari kekayaan alam dan keberagaman budaya Indonesia.
Menurut berbagai sumber, pada awalnya Wayang Rumput, atau Wayang Suket, merupakan bentuk seni yang dibuat terutama untuk tujuan permainan atau sebagai media penyampaian cerita perwayangan kepada anak-anak di desa-desa di dataran Jawa. Seni ini pertama kali muncul sebagai cara yang menyenangkan untuk mendidik dan menghibur anak-anak, memberikan mereka kesempatan untuk belajar tentang kisah-kisah tradisional dalam konteks yang ringan dan menarik. Ada juga pandangan yang menyebutkan bahwa Wayang Suket awalnya dibuat oleh para gembala sebagai bentuk hiburan dalam waktu luang mereka. Ketika para gembala, atau bocah angon, menjaga hewan ternak seperti kerbau, sapi, atau kambing yang sedang makan rumput, mereka akan menggunakan rumput yang tersedia di sekitar mereka untuk membuat wayang mini, menirukan aksi para dalang dengan bahan yang sederhana namun kreatif ini.
Nama Wayang Suket sendiri berasal dari kata “suket,” yang dalam bahasa Jawa berarti rumput, yang menjadi bahan utama dalam pembuatan wayang ini. Kesenian Wayang Suket, yang dulunya mungkin hanya dikenal di kalangan masyarakat desa, kini telah berkembang dan dikenal secara luas. Transformasi ini memungkinkan Wayang Suket untuk menjadi bagian dari seni pertunjukan yang lebih terstruktur dan formal, tidak hanya sebagai permainan anak-anak tetapi juga sebagai bentuk seni yang dihargai oleh berbagai kalangan.
Seiring waktu, Wayang Suket telah beradaptasi dengan perkembangan zaman, menjadi salah satu contoh seni kontemporer dalam dunia pewayangan. Meskipun tetap mempertahankan elemen-elemen tradisional yang membuatnya khas, Wayang Suket kini juga mencakup aspek-aspek inovatif yang mencerminkan dinamika dan perubahan dalam seni pertunjukan. Perkembangan ini menunjukkan bagaimana seni tradisional dapat terus beradaptasi dan relevan dalam konteks budaya modern, sekaligus mempertahankan akar dan nilai-nilai budaya yang mendasarinya. Ada enam tahap utama dalam pembuatan wayang suket, yang masing-masing memerlukan perhatian dan keterampilan khusus untuk menghasilkan karya seni yang berkualitas:
1. Menyiapkan Bahan dan Alat
Langkah pertama adalah mencari dan menyiapkan bahan utama, yaitu suket kasuran, yang merupakan jenis rumput khusus yang digunakan dalam pembuatan wayang suket. Suket ini harus dibersihkan secara menyeluruh untuk menghilangkan kotoran dan debu, lalu dijemur di bawah sinar matahari agar lebih tahan lama dan siap digunakan. Pilihlah suket yang berukuran kecil dan sesuai untuk detail yang diinginkan dalam wayang. Selain bahan utama, persiapkan juga berbagai alat yang diperlukan, seperti gunting untuk memotong, usuk (sejenis paku kecil) untuk memberikan lubang, pipa untuk menempelkan bagian-bagian, palu untuk memadatkan anyaman, golok untuk memotong, lem untuk merekatkan bagian-bagian, dan gerenda untuk penghalusan.
2. Membuat Wayang
Proses pembuatan wayang suket melibatkan penganyaman yang dibagi menjadi dua bagian utama. Penganyaman pertama meliputi pembuatan struktur dasar wayang dari kepala, badan, hingga kaki. Setelah struktur dasar selesai, tahap berikutnya adalah penganyaman bagian tangan, yang memerlukan teknik khusus untuk memastikan tangan dapat bergerak dengan baik dan sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
3. Pemasangan Bagian Tangan
Pada tahap ini, bagian bahu dan tangan wayang akan dipasang menggunakan engsel yang terbuat dari suket yang telah dipelintir menjadi tali. Engsel ini dibuat dengan membuat lubang menggunakan usuk, lalu tali suket akan dikaitkan pada lubang tersebut untuk menyatukan bagian bahu dan tangan, memungkinkan gerakan yang fleksibel pada bagian tersebut.
4. Pemipihan Wayang
Setelah seluruh bagian wayang selesai dianyam, langkah berikutnya adalah pemipihan. Wayang dipipihkan menggunakan palu untuk memadatkan dan merapikan anyaman, memastikan bahwa seluruh bagian wayang kokoh dan tidak mudah terlepas. Pemipihan ini juga berfungsi untuk memberikan kekuatan dan kestabilan pada bentuk wayang yang sudah jadi.
5. Membuat Gapit dari Bambu
Gapit adalah bagian penting dari wayang yang berfungsi untuk memberikan bentuk lengkungan pada wayang suket. Gapit dibuat dari bahan bambu yang dipotong dan dibelah menjadi beberapa bagian sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Untuk membentuk lengkungan pada gapit, bambu dibantu dengan lem cair untuk memberikan fleksibilitas dan kestabilan. Setelah gapit selesai dibuat, pasang gapit pada wayang dan tambahkan tali pada beberapa bagian untuk memastikan gapit tetap pada tempatnya dan tidak terlepas.
6. Memasang Gapit
Tahap akhir adalah memasang gapit pada wayang. Ini dilakukan dengan mengikat gapit ke wayang suket menggunakan suket yang telah dipelintir menjadi tali pengikat. Tali ini memastikan gapit terpasang dengan kuat dan stabil pada wayang, mencegahnya dari kemungkinan terlepas dan memastikan bahwa wayang siap untuk digunakan dalam pertunjukan.
Setiap tahap dalam pembuatan wayang suket ini memerlukan ketelitian dan keterampilan khusus untuk memastikan bahwa wayang yang dihasilkan tidak hanya estetis tetapi juga fungsional dan tahan lama.
C. ASAL USUL
Kemunculan wayang sendiri terdapat dua versi yang beredar di masyarakat. Versi pertama yang muncul di masyarakat menyebutkan bahwa wayang pertama kali lahir di Pulau Jawa, tepatnya berada di Jawa Timur. Pendapat mengenai hal tersebut dikemukakan oleh peneliti sarjana Barat, di antaranya, yaitu Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Para peneliti tersebut berpendapat bahwa seni wayang memiliki hubungan yang erat mengenai keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, terkhusus orang Jawa. Dalam pewayangan terdapat tokoh yang cukup penting, yaitu Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Tokoh pewayangan tersebut hanya ada dalam pewayangan Indonesia dan tidak ada di dalam pewayangan negara lain. Penamaan dalam pewayangan semuanya berasal dari bahasa Jawa Kuno dan bukan menggunakan bahasa daerah lain. Versi kedua dalam kemunculan wayang menyebutkan bahwa Indialah tempat lahirnya wayang yang dibawa bersama saat penyebaran agama Hindu ke Indonesia. Peneliti yang mendukung pernyataan tersebut ialah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Ressers. Sebagian besar kedua kelompok ini adalah sarjana inggris. Pewayangan diperkirakan muncul di Indonesia saat zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kerajaan Kahuripan (967-1012). Saat itu, kerajaan di Jawa Timur sedang mengalami kejayaan dan karya sastra para pujangga sudah menulis wayang sejak abad ke-10. Pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910) terdapat naskah sastra kitab Ramayana Kakimpoi yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno, yang merupakan gubahan dari kitab Ramayana yang berasal dari India. Selain menerjemahkan, para pujangga Jawa juga menggubah dan menceritakan kembali Ramayana dan Mahabarata dalam bahasa Jawa Kuno dengan memasukkan falsafah Jawa ke dalamnya. Pada pemerintahan raja Airlangga, wayang sudah dibuat sebuah pagelaran dan dipertontonkan karena terdapat beberapa prasasti yang menyebutkan “Mawayang” dan “Aringgit” yang bermaksud sebagai pertunjukan wayang (Ardhi, 2010).
Salah satu jenis wayang yang ikut berkembang di masyarakat adalah wayang suket. Wayang suket adalah kreasi yang cukup berbeda di antara jenis wayang kulit. Wayang suket merupakan hasil kreativitas dari Kasan Wikrama Tunut atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Gepuk yang sekarang diteruskan oleh cucunya, yaitu Badriyanto. Selain dari dua cucu Mbah Gepuk, tidak ada lagi pengrajin wayang suket hal tersebut menyebabkan wayang suket berada di ambang kepunahan. Wayang suket merupakan wayang khas yang berasal dari Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, tepatnya di Kabupaten Purbalingga. Wayang suket dibuat oleh Mbah Gepuk dengan menggunakan rumput yang kemudian dianyam sehingga membentuk karakter tokoh yang nyaris sama dengan wayang yang dibuat dengan kulit. Rumput yang digunakan dalam pembuatan wayang suket adalah rumput kasuran yang banyak ditemukan di wilayah Banyumas dan tumbuh saat bulan Syura saja. Kerajinan wayang suket saat ini diteruskan oleh Badriyanto yang merupakan cucu dari Mbah Gepuk dan hanya Badrianto saja yang menjadi penerus untuk melestarikan dan membuat wayang suket.
Wayang suket sedang berada di ambang kepunahan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti kurangnya minat pemerintah dan perkembangan zaman yang telah mengubah peradaban dan budaya, sehingga mempengaruhi minat masyarakat terhadap seni pertunjukkan wayang dan upaya pelestarian ataupun penelitian yang berkaitan dengan wayang. Generasi penerus bangsa, khususnya anak muda di Purbalingga, tempat lahirnya wayang suket, masih banyak yang belum mengenal wayang suket. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Globalisasi menjadi salah satu faktor yang berperan besar. Globalisasi yang harusnya bisa menjadi jalan untuk memperkenalkan wayang suket malah menjadi alasan tergusurnya kebudayaan tersebut. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan tur yang menyenangkan dan informatif yang menawarkan kesempatan untuk belajar tentang wayang suket. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa orang-orang Purbalingga, terutama generasi muda, memahami wayang suket sebagai produk sampingan dari budaya asli daerah. Ini akan menanamkan rasa kepemilikan di wayang suket dan mendorong tindakan untuk mempertahankannya (Suswandari, 2021).
D. JENIS
Wayang suket merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang unik dan menarik perhatian. Terbuat dari bahan sederhana, yaitu rumput, wayang ini memiliki nilai estetika dan filosofis yang tinggi. Wayang suket, seperti namanya, adalah wayang yang terbuat dari suket atau rumput. Bahan utama yang sering digunakan adalah rumput kasuran, jenis rumput yang tumbuh pada bulan Sura atau Suro. Meskipun terlihat sederhana, pembuatan wayang suket memerlukan keterampilan dan ketelitian yang tinggi. Setiap bagian wayang, mulai dari kepala hingga kaki, dibuat dengan detail dan mengikuti karakteristik tokoh pewayangan. Secara umum, wayang suket dapat dikategorikan berdasarkan beberapa aspek, antara lain:
1. Berdasarkan Daerah Asal:
a. Wayang Suket Purbalingga: Merupakan salah satu jenis wayang suket yang terkenal. Wayang suket Purbalingga memiliki ciri khas pada pola anyaman dan bentuk tubuh yang mengikuti gaya wayang Surakarta. Penemu wayang suket Purbalingga yang terkenal adalah Kasan Wikrama Tunut atau Mbah Gepuk.
b. Wayang Suket Yogyakarta: Wayang suket Yogyakarta memiliki karakteristik yang berbeda dengan wayang suket Purbalingga. Bentuk tubuh wayang suket Yogyakarta cenderung lebih gemuk dan bervariasi dalam hal ekspresi wajah.
c. Wayang Suket Lainnya: Selain Purbalingga dan Yogyakarta, wayang suket juga ditemukan di daerah-daerah lain di Jawa, seperti Solo, Klaten, dan sebagainya. Masing-masing daerah memiliki ciri khas dan gaya pembuatan wayang suket yang berbeda-beda.
2. Berdasarkan Fungsi:
a. Wayang Suket sebagai Alat Permainan: Wayang suket sering digunakan sebagai alat permainan anak-anak. Anak-anak dapat belajar tentang cerita pewayangan sambil bermain wayang suket.
b. Wayang Suket sebagai Media Pendidikan: Wayang suket juga dapat dijadikan media pendidikan untuk mengajarkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak, seperti kejujuran, keberanian, dan kesabaran.
c. Wayang Suket sebagai Objek Seni: Wayang suket memiliki nilai estetika yang tinggi dan dapat dijadikan objek seni. Banyak seniman yang menggunakan wayang suket sebagai media untuk mengekspresikan kreativitas mereka.
3. Nilai Budaya dan Filosofis Wayang Suket
a. Wayang suket memiliki nilai budaya dan filosofis yang sangat kaya. Beberapa di antaranya adalah:
b. Penghubung Antar Generasi: Pembuatan dan pertunjukan wayang suket menjadi sarana untuk melestarikan budaya dan tradisi leluhur.
c. Media Pendidikan Karakter: Wayang suket mengajarkan nilai-nilai luhur seperti kesabaran, ketelitian, dan kerja sama.
d. Simbol Kecerdasan Lokal: Wayang suket menunjukkan kecerdasan lokal dalam memanfaatkan bahan alam untuk menciptakan karya seni yang bernilai.
e. Refleksi Kehidupan: Cerita-cerita pewayangan yang dibawakan melalui wayang suket seringkali menjadi refleksi dari kehidupan manusia.
E. EKSISTENSI DI ERA SEKARANG
Wayang suket memiliki filosofi yang sangat besar dan dalam. Suket sering dianggap sebagai tumbuhan hama yang kerap diinjak hingga dicabuti. Namun, setelah beberapa saat, suket kembali tumbuh dan berkembang dengan baik. Meski dianggap sebagai tanaman yang tidak berguna, suket yang dibentuk sebagai wayang akan sangat berguna. Dibalik keunggulan wayang suket, terdapat problematika yang terjadi pada generasi muda.
Tantangan dan Pelestarian Wayang Suket
Meskipun memiliki nilai yang tinggi, wayang suket menghadapi beberapa tantangan dalam pelestariannya, seperti:
1. Kurangnya Peminat: Minat generasi muda terhadap wayang suket semakin menurun.
2. Sulitnya Mendapatkan Bahan Baku: Rumput kasuran sebagai bahan utama pembuatan wayang suket semakin sulit ditemukan.
3. Kurangnya Dukungan Pemerintah: Perhatian pemerintah terhadap pelestarian wayang suket masih kurang.
Perkembangan modernisasi melunturkan rasa cinta pada kebudayaan tradisional di Indonesia. Melemahnya keinginan masyarakat untuk mengenal serta melestarikan wayang suket menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat, yang mana dapat membahayakan eksistensi dari wayang suket dalam jangka waktu yang panjang. Pelestarian budaya asli Indonesia perlu diterapkan pada generasi muda khususnya di era revolusi industri 4.0. Generasi muda merupakan subjek utama dalam pelestarian wayang suket karena mereka yang akan meneruskan tradisi dan memastikan kelangsungan atau kehancuran wayang suket di masa depan. Saat ini, pelestarian wayang suket sedikit terancam dan tidak menutup kemungkinan bahwa wayang suket akan semakin terlupakan sebagai budaya dan kesenian asli Indonesia. Generasi muda merupakan harapan besar dalam pelestarian wayang suket di masa depan, terutama jika mereka mau mencintai dan berpartisipasi dalam melestarikan tradisi ini.
Wayang sebagai kebudayaan khas Indonesia memiliki berbagai nilai yang terkandung di dalamnya, seperti nilai gotong-royong, nilai kebersamaan dan kesatuan, nilai budi pekerti, nilai kesenian, nilai pendidikan, nilai politik, nilai tanggung jawab, dan nilai kemandirian. Namun, eksistensi wayang di era modern kian menurun karena beberapa sebab, yaitu generasi muda tidak memahami cerita yang dibawakan oleh dalang dalam pagelaran, bahasa yang digunakan tidak dipahami, pembawaan wayang yang dianggap kuno dan kurang terpadu dengan kebudayaan saat ini, serta waktu pagelaran yang relatif lama. Pelaku pelestarian wayang seharusnya lebih mendekatkan wayang suket kepada generasi muda dengan memahami latar belakang keinginan serta harapan dari generasi muda tentang wayang suket. Hal ini dikarenakan dengan tetap memaksakan secara murni wayang suket atau apa adanya tentang wayang suket kepada generasi muda sangat sulit untuk terwujud. Generasi muda tidak bisa membuka diri apalagi memahami dan mencintainya. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya wawasan baru tentang wayang suket kepada generasi tanpa menghilangkan nilai-nilai serta pakem dari wayang suket. Perpaduan kebudayaan kuno dan modern tentunya membuat generasi muda akan lebih membuka diri untuk menerima, memahami, dan mencintai wayang suket. Untuk melestarikan wayang suket, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak, seperti pemerintah, seniman, dan masyarakat. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
1. Menyelenggarakan Workshop dan Pelatihan: Melalui workshop dan pelatihan, minat masyarakat terhadap pembuatan wayang suket dapat ditingkatkan.
2. Membuat Produk Turunan: Wayang suket dapat dijadikan produk turunan seperti souvenir atau aksesoris untuk menarik minat pasar yang lebih luas.
3. Memanfaatkan Teknologi: Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan wayang suket melalui media sosial dan platform digital lainnya.
Selain itu, dapat pula dilakukan untuk menjaga eksistensi wayang suket sebagai identitas budaya Indonesia melalui penayangan wayang suket di bioskop. Pada proses penayangan wayang suket di bioskop, akan diambil peran masyarakat dan pemerintah yang bersinergi untuk mengembangkan kesenian wayang. Bekerja sama dengan pengrajin wayang, wayang suket akan banyak diproduksi karena kepopulerannya, sehingga terjadi peningkatan ekonomi daerah pengrajin. Peran pemerintah adalah mendukung penayangan wayang dengan membantu menyuplai dana dan membantu sosialisasi kepada masyarakat tentang pelestarian wayang dengan penayangan di bioskop, sehingga pemerintah akan lebih mudah untuk mengatasi permasalahan punahnya kebudayaan wayang. Peran masyarakat secara tidak langsung telah melestarikan kebudayaan yang hampir punah serta masyarakat akan lebih senang dan nyaman untuk menonton budayanya sendiri di bioskop dan merasa wayang sudah tidak lagi terasa kuno. Penayangan wayang suket di bioskop juga akan menambah minat masyarakat untuk menonton wayang suket dan wayang suket terhindar dari kepunahan. Wayang suket juga akan mengajarkan masyarakat sebuah kreativitas bahwa rumput kering yang semula tidak berguna, menjadi wayang yang bernilai kesenian yang tinggi. Wayang akan tetap dilestarikan oleh masyarakat bangsa kita sendiri. Wayang akan menjadi kesenian yang menyesuaikan masa modernisasi yang sedang dialami bangsa kita (Rahmawati, 2018).
DAFTAR PUSTAKA
Aizid, R. (2013). Mengenal Tuntas Sejarah Dan Tokoh-Tokoh Wayang Atlas Pintar Dunia Wayang. Diva Press
Alfaqi, Mifdal Zusron. (2022). Eksistensi dan Problematika Pelestarian Wayang Kulit pada Generasi Muda Kec. Ringinrejo Kab.
Kediri. Jurnal Praksis dan Dedikasi (JPDS) Vol. 5 No. 2.
Andaningrum, Ratna Purwi. (2017). WAYANG SUKET KARYA BADRIYANTO: KAJIAN PROSES DAN ESTETIKA BENTUK. (Skripsi,
Universitas Negeri Semarang)
Ardhi, Y.P. (2010). Wayang Kulit sebagai Media Dakwah : Studi pada Wayang Kulit Dalang Ki Sudardi di Desa Pringapus Semarang.
(Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Haryono, T. (2008). Seni pertunjukan dan seni rupa dalam perspektif arkeologi seni. ISI Press Solo.
Mulyono, S. (1983). Simbolisme dan Mistisisme dalam wayang. Jakarta: Gunung Agung.
Rahmawati, Anita. (2018). Pelestarian wayang suket (wayang yang terbuat dari rumput kering) kepada masyarakat melalui metode
penayangan wayang di Bioskop. Universitas Sebelas Maret.
Subagya, T. (2013). Nilai-nilai estetis bentuk wayang kulit. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 11(2).
Suswandari, Meidawati. (2021). Eksistensi Wayang Suket Sebagai Identitas Budaya Kota Satria. Kawruh: Journal of Language
Education, Literature, and Local Culture Vol. 3 No 1.
Suwarno, B., Haryono, T., Soedarsono, R. M., & Soetarno, S. (2014). Kajian bentuk dan fungsi wanda wayang kulit purwa gaya
Surakarta, kaitannya dengan pertunjukan. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 12(1).
Wibisana, Bayu dan Nanik Herawati. 2010. Teater Rakyat Jawa. Yogyakarta: Intan Pariwara.

