Views: 224

Views: 224

Oleh:
Anissa Fajar Lutfiah, Anisya Nour Rahmadani, Annisaa Diah Putri Kesdu, Annissa Shafa Kamila,
Aryasatya Maulana Prameisaka, Aulia Maratusshofiah & Brina Elberta Lutfia Rosalina
(Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta Angkatan 2021)

Keraton Cirebon, Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta merupakan beberapa contoh dari pelestarian sejarah lokal yang menjadi cagar budaya nasional bahkan mendunia. Sejarah lokal adalah sejarah yang sangat penting untuk dikaji karena menurut (Hariyono, 2017:162) yang mengutip buku klasik yang disunting oleh Taufik Abdullah (1985:15) ditulis bahwa sejarah lokal merupakan sejarah dari suatu “tempat”, suatu “locality” yang mana batasannya dinyatakan oleh “perjanjian” yang diajukan oleh penulis sejarah. Carol Kemmens (2003:ix) juga berpendapat bahwa “local history is the study of the past events, or people or groups, in a given geographic area. The focus of the local history can be the place itself, the people who lived there or events that took place in a particular location”. Perbedaan antara sejarah lokal dan sejarah daerah dapat dibedakan secara konseptual dengan bantuan dua pengertian sejarah lokal diatas yang disampaikan oleh dua ahli. Sebuah peristiwa yang terjadi, sudah terjadi maupun yang akan terjadi tidak dapat dibatasi secara administratif. Setiap peristiwa selalu terjadi sehingga sulit untuk membedakan antara aspek yang diharapkan (intended result) dan aspek yang tidak diharapkan (unintended result). Sehingga dalam kondisi seperti ini dibutuhkan “imajinasi sejarah” (Hariyono,2017:162).

Sejarah lokal merupakan hal penting untuk dikaji dan dilestarikan, ada beberapa manfaat jika sejarah lokal dilestarikan. Salah satu contohnya adalah sejarah lokal dapat menjadi objek pembelajaran sejarah. Materi sejarah lokal dapat menjadi bahan penghubung antara siswa dan banyak macam peristiwa sejarah di lingkungannya. (Muhammad, dkk., 2020:88). Kajian sejarah lokal dapat menjadi fasilitas bagi para siswa untuk memicu proses integrasi nasional sebagai suatu peristiwa sejarah yang dapat dikaji. Pemanfaatan materi dari sejarah ini bahkan terdapat di tingkat pendidikan apapun, sehingga dapat memungkinkan para siswa untuk mempelajari budaya dan peninggalan yang ada di sekitar mereka. (Muhammad, dkk., 2020:88). Dari beberapa pengertian diatas, bisa disimpulkan bahwa sejarah lokal memiliki beberapa manfaat penting dan salah satu diantaranya adalah menjadi objek pembelajaran sejarah yang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk para siswa dalam meningkatkan minat sejarah sejak dini.

Sejarah lokal dapat juga menjadi bahan untuk pembangun kesadaran sejarah. Pada jurnal yang ditulis oleh (Muhammad, dkk., 2020:91) mengutip penelitian yang dilakukan oleh Aktekin (2010) yang membahas mengenai tempat dan tujuan sejarah lokal yang ada dalam pendidikan sejarah. peneliti mengamati literatur yang relevan guna memperoleh manfaat yang potensial dan masalah menggunakan sejarah lokal di sekolah. Sejarah lokal juga dapat bersumber dari mana saja, menurut (Muhammad, dkk., 2020:92) mengutip penelitian Syahputra dkk (2018) yang memanfaatkan nilai-nilai tradisi lisan Selimbur Caye, ditemukan bahwa penerapan pembelajaran sejarah berdasarkan tradisi lisan Selimbur Caye sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran sejarah para siswa. Sejarah lokal merupakan sesuatu yang biasanya sangat ikonik dan identik dengan suatu daerah atau ciri khas yang dimiliki oleh suatu daerah atau suatu tempat tersebut. Sehingga hal ini dapat menjadi penting untuk dibahas agar potensi dari berbagai daerah dapat di ekspos keluar dan menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas.

Sejarah lokal merupakan suatu hal yang penting serta menarik untuk dibahas, karena sejarah lokal dapat membangun kesadaran sejarah masyarakat. Masyarakat dapat secara mudah menerima ketika di dalam cerita sejarah atau sejarah lokal terdapat hal-hal yang harus diperhatikan (moral value). Secara logis, jika tidak ada moral value yang harus dipelajari maka masyarakat akan sulit menerima cerita sejarah. (Muhammad, dkk., 2020:91). Local History atau sejarah lokal juga dapat menjadi jati diri masyarakat sehingga masyarakat dapat lebih mengenal dirinya sendiri. Sejarah lokal diharapkan dapat menjadi solusi dari kurangnya kesadaran masyarakat terhadap sejarah sehingga harapannya mulai muncul komunitas kecil bahkan hingga komunitas besar sejarah hingga nantinya dapat juga menumbuhkan memori kolektif dari masyarakat, rasa kebersamaan, dan rasa untuk saling menjaga satu sama lain di dalam wilayah yang sama. (Muhammad, dkk., 2020:91). Budaya yang masih kental dan eksis hingga saat ini salah satunya terdapat di Cirebon yang menyimpan cerita sejarah panjang. Menurut Sucipto, 2010 Kota Cirebon memiliki beberapa nama julukan yang mendeskripsikan daerah ini. Dari catatan Tome Pires (1513) mengatakan bahwa Cirebon berasal dari kata Chorobon. Sedangkan menurut naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Arya Carbon tahun 1720 Masehi, Cirebon berasal dari kata Caruban yang kemudian berubah menjadi Carbon lalu berubah lagi menjadi Cerbon yang pada akhirnya menjadi Cirebon (Dewi dan Anisa, 2009: 57). Julukan lain yang diberikan adalah karena hasil bumi dari kota ini. Terletak di tepi pantai timur Kerajaan Sunda, Pakuan Padjajaran atau di pesisir Utara Jawa (Nurlatifah, 2015: 47), sehingga Cirebon juga dijuluki dengan sebutan Kota Udang, karena Cirebon terkenal dengan hasil perikanan laut. Diperkuat oleh pernyataan dari Bapak Agung yang menyebutkan bahwa, Cirebon berasal dari kata Ci yang berarti air dan rebon yang berarti udang, sehingga tidak diragukan lagi bahwa Cirebon menjadi daerah penghasil udang dengan kualitas baik (Wawancara Bapak Agung, 27 Mei 2023).

Geografis Cirebon yang pelabuhan laut (Pelabuhan Tanjung Mas) membuat daerah ini menjadi pusat perdagangan dan perniagaan bagi masyarakat setempat maupun bagi pendatang di Cirebon. Laut kala itu menjadi jalan bagi para penjelajah untuk melakukan ekspedisi atau tujuan tertentu. Nusantara (Indonesia) yang terletak diantara dua samudra dan dua benua menjadi jalan penghubung dagang internasional bagi penjelajah dari Spanyol, Portugis, Eropa, dan Tiongkok. Salah satu penjelajah terkenal yang pernah singgah di Nusantara khususnya pernah menapaki wilayah Cirebon adalah Laksamana Cheng Ho yang berasal dari Tiongkok. Laksamana Cheng Ho ketika singgah di Cirebon banyak memberikan bekal pengetahuan seputar pelabuhan dan kerajaan, selain itu Cheng Ho yang bertolak ke Cirebon juga membawa pengaruh bagi kebudayaan di Cirebon itu sendiri (Caroline & Goeyardi, 2024 : 2).

Ketika Kerajaan Padjajaran berada di puncak kejayaan, Pangeran Walangsungsang diangkat sebagai Adipati Cirebon dengan dengan gelar Cakrabuwana. Pangeran Walangsungsang merupakan putra dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang. Kemudian, Pangeran Walangsungsang mendirikan Keraton Kasepuhan tahun 1430 sebagai pusat pemerintahan serta untuk menyebarkan Agama Islam (Sucipto, 2010: 478). Kasepuhan berasal dari kata “sepuh” yang berarti tua. Pangeran Walangsungsang terus menerus membenahi sarana pemerintahannya. Pangeran Walangsungsang memiliki putri yang bernama Nyi Ratu Pakungwati. Pada saat yang telah direncanakan, beliau menikahkan putrinya dengan sepupunya yaitu Syarif Hidayatullah yang merupakan putra dari Larasantang adik dari Pangeran Walangsungsang. Ketika usia Pangeran Walagsungsang semakin lanjut, beliau mengalihkan kekuasaannya kepada anak dan menantunya pada tahun 1479. Sejak saat itu, Keraton Kasepuhan dikenal dengan nama Dalem Agung Pakungwati. Menantunya yaitu Syarif Hidayatullah juga diberi gelar susuhunan atau sunan oleh Pangeran Walangsungsang. Syarif Hidayatullah lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Setelah pernikahannya, Sunan Gunung Jati tinggal dan menetap di Dalem Agung Pakungwati (Bochari dan Kuswiah, 2001).

Cirebon merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Padjajaran, sehingga ketika Pangeran Walangsungsang memegang wilayah Cirebon, beliau masih mengirim upeti ke Kerajaan Padjajaran. Namun setelah Pangeran Walangsungsang mengalihkan kekuasaannya ke Sunan Gunung Jati, tepatnya tahun 1482 beliau membuat maklumat kepada Prabu Siliwangi untuk tidak mengirim upeti lagi ke Kerajaan Padjajaran karena Kasepuhan Cirebon sudah menjadi negara yang merdeka (Dewi dan anisa, 2009: 60). Ketika masa pemerintahannya, Sunan Gunung Jati mendirikan Masjid Agung Cipta Rasa yang terletak di sebelah Barat Dalem Agung Pakungwati. Selain itu, beliau juga banyak melakukan pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan pelabuhan. Sejak saat itu, wilayah Cirebon menjadi pusat pengembangan Agama Islam khususnya di Jawa Barat (Nurlatifah, 2015: 48).

Sunan Gunung Jati wafat pada abad ke-16. Kemudian tahta kerajaan digantikan oleh cicit dari Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Mas Mochamad Arifin dengan diberikan gelar Panembahan Pakungwati I. Gelar pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati yang memiliki hati yang luhur, cantik, memiliki tubuh yang kokoh serta setia mendampingi suami baik dalam hal islamiyah, pemimpin negara, maupun sebagai pengayom rakyat (Nurlatifah, 2015: 48). Pangeran Mas Mochammad Arifin mendirikan keraton baru pada tahun 1529 yang terletak di sebelah Barat Dalem Agung Pakungwati yang pada saat ini lebih dikenal dengan nama Keraton Pakungwati atau Keraton Kasepuhan (Sudianto, 2022: 275).

Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun oleh Sunan Gunung Jati mengalami kebakaran pada tahun 1549. Pada saat itu Ratu Pakungwati yang telah lanjut usia juga turut memadamkan api. Namun ketika api berhasil dipadamkan Ratu Pakungwati wafat. Sejak kejadian hal tersebut, nama beliau dimuliakan dan tidak digunakan lagi menjadi nama keraton (Nurlatifah, 2015: 48). Selain berdiri Keraton Kasepuhan, juga terdapat Keraton Kanoman. Keraton Kasepuhan sebagai tempat tinggal saudara yang lebih tua atau saudara sepuh, sedangkan Keraton Kanoman untuk tempat tinggal yang lebih muda (Rosmalia, 2018: 76).

Dalam perjalanan sejarahnya, Keraton Kasepuhan Cirebon mengalami akulturasi pada masa pra-islam yaitu masa hindu-budha serta dengan budaya Cina, Eropa, dan Jawa. Kehidupan dan beragam benda peninggalan di Keraton sarat dengan unsur mistis simbolik yang divisualisasikan pada arsitektur, warna bangunan, ukiran dan hiasan. Benda-benda yang terdapat didalamnya menggambarkan bahwa Keraton ini memiliki nilai-nilai budaya yang tinggi. Salah satu benda yang menyita perhatian publik adalah Kereta Singa Barong yang terdiri dari masing-masing budaya yang pernah ada dan berkembang di Cirebon terutama Keraton ini. Singa Barong berasal dari bahasa Cirebon yakni “Singa” diambil dari kata “Singarani” berarti memiliki “nama”, sedangkan “Barong” yang berarti bebarengan atau bersama-sama” Jadi penamaan “Singa Barong” ini mencerminkan bahwa pemberian nama tersebut dilakukan secara bersama-sama atau sinergis oleh masyarakat Cirebon. Selain itu, diketahui bahwa Singa Barong ini merupakan kendaraan pusaka yang dibuat tahun 1549 M oleh Panembahan Losari. Sementara itu, juru ukirnya adalah seorang seniman bernama Ki Nata Guna (Iryana, dkk., 2023 : 29).

Kereta Singa Barong merupakan bentuk representasi dalam berperilaku sosial manusia dan berpengaruh pada tatanan kehidupan manusia selanjutnya. Sejak keraton mengalami keruntuhan, maka Kereta Singa Barong sudah bukan seutuhnya milik keraton namun dimiliki secara publik untuk dapat dilestarikan. Selama 2 abad, Kereta Singa Barong diadopsi oleh masyarakat sebagai media komunikasi atau media gambar untuk meningkatkan perekonomian yang dilakukan dalam usahaa bidang insutri baitik, wayang kulit, lukis kaca, topeng, dan lain sebagainya. Kereta ini pada awalnya digunakan untuk mengangkut hasil pertanian maupun binatang hasil berburu. Seiring berjalannya waktu dalam memasuki era kolonial yang mempengaruhi gaya hidup pada golongan bangsawan dan kemudian menempatkan fungsi kereta bukan sekadar transportasi angkut namun juga bagian dari “regalia”. Para raja di Jawa termasuk Sultan Cirebon menjadikan kereta menjadi sebuah kebanggaan (Sumino, 2012 : 82). Seperti halnya pada Kereta Kencana Singa Barong dibuat pada tahun 1649 digunakan sebagai alat transportasi dalam menjalankan tugas kenegaraan maupun aktivitas sehari-hari, apabila dalam peringatan bulan besar tanggal 1 Suro (muharram) kereta ini digunakan oleh Ratu Pakungwati untuk kirab keliling Kota Cirebon. Kereta ini juga menjadi bagian dari ritual kerajaan yakni dalam pernikahan atau ketika kirab sultan, hal ini menjadi bukti dari peran simbolik kereta (Mukhoyyaroh, 2021: 176).

Kereta Singa Barong memiliki karakteristik yang membedakannya dengan objek seni lain. Benda dengan nilai magis-religi ini diyakini bahwa didalamnya terdapat tiga mahkluk mitologi yaitu naga, gajah, dan buraq dengan masing-masing memiliki makna tersendiri (Mukhoyyaroh, 2021 : 176). Kereta Singa Barong Cirebon tidak hanya memiliki desain unik, tetapi juga tersimpan makna yang mencerminkan interaksi budaya Cirebon dengan beberapa negara lain. Ukiran-ukiran yang menghiasi bagian tubuh hewan pada kereta ini tidak hanya sekedar dekorasi semata. Setiap detail tersebut mengandung simbol-simbol yang merepresentasikan adanya koneksi budaya antara Cirebon dengan negara-negara lain seperti China, India, dan Mesir. Kehadiran unsur-unsur visual dari budaya asing tersebut menggambarkan terjalinnya persahabatan dan pertukaran budaya yang terjadi dimasa lalu. Hal ini memperkaya kekayaan visual dan makna filosofis yang terkandung dalam Kereta Singa Barong. Keberadaan unsur-unsur tersebut menunjukkan bahwa Cirebon tidak terisolasi, melainkan terhubung dengan dunia luar melalui jalur perdagangan dan pergerakan budaya. Kereta ini dibuat dengan memperhatikan ukiran, warna, sejarah, serta tindakan spiritual yang mengiringi proses pembuatannya menjadikan kereta ini memiliki kekuatan magis serta dengan bentuk yang khas.

Bagian-bagian dalam kereta tersebut antara lain yakni kepala yang berbentuk naga namun memiliki tanduk rusa dengan belalai gajah yang melilit senjata trisula (Sumino, 2012 : 84). Hal ini melambangkan akulturasi yang berkembang di daerah Cirebon seperti “Naga” yang bagi orang cina sebagai lambang kesuburan dan pembawa berkah. Mitologi naga bagi orang Tionghoa dipercaya sebagai “putera langit” karena menyerupai angin dan dapat bergerak dengan cepat, serta kerap dianggap seperti “dewa langit”. Naga dalam visualisasi Kereta Kencana Singa Barong ini terbagi menjadi dua bagian yakni pada bagian depan terdapat dua ekor sedangkan empat ekor menjadi tiang penopang pada kereta. Hiasan yang terdapat dalam kereta Singa Barong ini dominan dengan hiasan ala Tiongkok daripada nuansa seni hindu-budha (seni hias hindu-budha lebih banyak diterapkan pada kereta kencana Paksi Naga Liman). Pengaruh seni hias Tiongkok ini dianggap lebih menarik dari seni hias dari kebudayaan lain, hal ini dikarenakan kala itu Raja (pemimpin) hingga rakyatnya terinspirasi oleh motif unik yang terdapat pada kain sutera dan benda impor dari Cina yang dibawa oleh Putri Ong Tien.

Kilas balik mengenai Putri Ong Tien yang digadang-gadang sebagai permaisuri dari Sunan Gunung Jati. Dalam karya berjudul “Anyon Tien (teratai Merah Gunung Jati)” dilihat dari sudut pandang Putri Ong Tien sebagai putra kaisar yang mendambakan Sunan Gunung Jati dan berusaha mendapatkan cintanya. Pernikahan politik adalah sebutan bagi dua orang yang memiliki pengaruh besar dalam memajukan sebuah negara atau memenuhi kebutuhan negara, sehingga walaupun dalam kepentingan politik pun Putri Ong Tien berharap bahwa Sunan Gunung Jati dapat memberikannya kebahagiaan. De Graff, dkk dalam “Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI yang dikutip oleh Nur Alfiyah (2021) bahwa tahun 1448-1449 adalah masa kemunduran Cina di Jawa. Sedangkan RM. Hafid Permadi mengutarakan mengenai pernikahan antara Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien ini mempererat hubungan antara Cina dan Cirebon, di saat itu pula Cina memberikan bantuan berupa persenjataan dan menjalin hubungan dagang. Hubungan antara Cina dan Cirebon saat ini dapat dilihat bahwa disamping makam Sunan Gunung Jati terdapat beberapa barang dengan motif dari Cina, yang konon dibawa oleh Putri Ong Tien ketika ke Cirebon. Selain itu perlengkapan tersebut juga kini dipamerkan di Museum Keraton Kasepuhan Cirebon (Alfiyah, 2021 : 2-4).

Gambar 1. Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati Sumber: Dokumentasi Pribadi Pada 27 Mei 2024

Penempatan singa dalam Singa Barong ini mendapat dua pandangan yang berbeda mengenai lebih merujuk pada motif hindu-budha atau singa dari representasi orang Tiongkok, yang mana keduanya memiliki perbedaan yang cukup tervisualisasikan. Apabila diamati singa barong kini menggunakan kalung yang mengisyaratkan bahwa binatang ini telah dipelihara dan dikendalikan oleh manusia, dalam konteks ini adalah raja sebagai pemimpin dengan karakter berani, berwibawa, berkuasa, dan memiliki status bangsawan, sehingga dapat disimpulkan bahwa motif singa barong ini cenderung terpengaruh oleh seni Tiongkok (Sofiyawati : 313).

Simbol Trisula yang terdapat dalam kereta tersebut dipahami sebagai senjata dewa. Trisula berasal dari kata”Tri” yang berarti “tiga” dan “sula” yang berarti “tajam” . Tajam dalam arti tajamnya alam pemikiran manusia, yaitu Cipta, Rasa, dan Karsa. Trisula banyak dikenal dalam kepercayaan Hindu dan sebagai senjata dari Dewa Siwa. Trisula memiliki tiga panah (tombak) yang digunakan untuk menyerang maupun bertahan (Mukhoyyaroh, 2021 : 179). Dalam representasi dari sifat Dewa Siwa bahwa ketika menjadi pemimpin harus memiliki cipta, rasa, dan karsa yang tajam, serta bagi masyarakat harus belajar dalam mengolah batin untuk hingga alam pikiran nya tajam.

Gambar 2. Kereta Singa Barong Sumber: Dokumentasi Pribadi Pada 27 Mei 2024

Buraq menjadi bagian dari badan singa barong adalah hewan yang dipercayai oleh umat islam sebagai kendaraan spiritual, karena digunakan untuk Isra Mi’raj oleh Rasulullah. Realitanya buraq tidak mudah untuk dikelompokkan dalam suatu jenis binatang. Dalam islam terdapat sebuah rukun iman, sehingga mitologi buraq yang dikendarai oleh Nabi untuk hijrah adalah hal yang sulit diterka dengan akal, namun hal ini dapat dipercayai karena berlandaskan rukun iman tersebut (Sumino, 2012 :85). Sementara itu Gajah yang disimbolkan dalam kereta tersebut juga menjadi binatang yang dianggap magis. Gajah dalam kepercayaan hindu dianggap sebagai kendaraan Dewa Indra yang memiliki simbol kekuatan dan kejantanan. Belalai Gajah yang dibuat dalam kereta tersebut adalah representasi Dewa Ganesha yang mana dalam hindu dipercaya sebagai pembawa keselamatan dan mendeskripsikan karakter pemimpin yang gagah, ulet, dan memiliki sikap luhur (Mukhoyyaroh, 2021 : 179), selain itu Belalai gajah yang ada pada kereta tersebut melambangkan hubungan persahabatan antara Cirebon dan India. Dalam kereta Singa Barong juga terdapat sayap paksi yang merupakan simbol persahabatan dengan negara Mesir yang memiliki corak Agama Islam (Iswandi, dkk., 2022: 270).

Kereta Singa Barong, apabila dilihat dari unsur garis maka akan terlihat guratan garis yang kuat. Motif yang ada pada Singa Barong berbentuk seperti perlambangan kosmos, wadasan, dan megamendung. Banyak motif fauna yang diterapkan seperti kupu-kupu atau phoenix memunculkan pola simetris dan asimetris seperti yang ada pada naga Jawa yang bagian depannya tidak terlihat simetris antara kiri dan kanan yang melambangkan naga betina dan naga jantan. Kereta Singa Barong menggunakan empat warna yaitu hitam pada badan Singa Barong yang melambangkan nafsu lauwamah yang berarti mampu mengatasi berbagai kesulitan dan menjadi penyeimbang. Warna merah pada bagian pengisi mata, gusi, lidah, kuku yang memiliki arti sebagai simbol amarah atau angkara murka. Warna emas pada bagian sayap, singgasana kereta, gigi sebagai lambag nafsu Sufiyah atau memiliki sifat yang baik dan kekuatan yang abadi. Warna hijau yang melabangkan sifat mulhimah atau kemampuan untuk dapat menghalangi nafsu yang buruk (Sofiyawati, 2017: 323).

Disisi lain terdapat mitos yang berkembang di masyarakat mengenai Kereta Singa Barong. Salah satu mitos yang tersebar adalah bagi orang yang sudah lama menikah namun belum memiliki keturunan terdapat kepercayaan, apabila mengusap alat vital Kereta Singa Barong maka akan mendapatkan keturunan. Dalam hal ini tidak semua masyarakat mempercayainya karena bersinggungan dengan agama. Selain itu, juga terdapat kejadian-kejadian saat mengunjungi Kereta Singa Barong. Salah satu kejadiannya terjadi pada salah satu anak pada rombongan sekolah SMP Sumedang yang tiba-tiba mengalami kesurupan dan mengatakan terdapat putri cantik sedang duduk di kereta. Kejadian lain telah dialami salah satu pengunjung adalah ketika berfoto di depan Kereta Singa Barong, gambar orangnya tampak namun keretanya tidak tampak di foto (Iswandi, dkk., 2022: 270).

Kereta Singa Barong juga memiliki keunikan dari segi material pembuatannya. Diketahui bahwa kereta ini dibuat menggunakan kayu laban sebagai bahan utama yang kemudian kereta ini dibalut dengan cat yang terbuat dari campuran serbuk emas dan juga intan, sehingga memberikan kesan mewah dan elegan. Sementara itu, tenaga penggeraknya berasal dari empat ekor kerbau albino atau yang biasa disebut “kebo bule”. Yang menarik, meskipun kereta Singa Barong ini dibuat pada tahun 1549 Masehi, namun sudah dilengkapi dengan teknologi yang cukup maju zamannya, seperti power steering dan suspense. Pada alat kemudi terbentuk dari kayu dan baja dengan sistem hidrolik. Bagian depan kereta merupakan kepala naga yang dibuat dengan lidah yang menjulur, sedangkan di bagian belakang terdapat tempat duduk yang diatasnya diberi tandu untuk melindungi tempat duduk Sultan. Sedangkan di bagian kanan dan kiri terdapat sayap yang apabila dikeluarkan maka lidah pada kepala naga secara otomatis bergerak keluar masuk (Masruri, et al, 2023 : 84). Kereta Singa Barong memiliki empat roda. Dua roda yang terletak pada bagian belakang memiliki ukuran yang lebih besar dibanding dua roda yang terletak di bagian depan. Roda pada bagian belakang dikuatkan dengan ruji yang berjumlah sepuluh yang terbuat dari kayu, sedangkan pada bagian depan terdapat sepuluh roda depan. Penataan ruji dibuat secara melingkar mengikuti bingkai lingkaran yang selanjutnya menuju titik tengah sebagai pusat. Selain ditopang dengan ruji, roda juga diperkuat dengan adanya besi yang melingkar pada bagian luar roda.

Seiring berjalannya waktu dan keadaan kereta yang sudah tidak memungkinkan untuk digunakan maka mulai tahun 1942 pihak yang bersangkutan sepakat untuk memuseumkan kereta ini, namun pada kegiatan selanjutnya dengan menggunakan kereta replika yang dibuat pada tahun 1996. Kereta Singa Barong yang sudah dimuseumkan ini masih dirawat dengan baik. Dilihat dari bahan, ornamen, dan komponen kereta yang masih utuh telah membuktikan bahwa teknologi kala itu sudah maju dan mumpuni (Iryana, dkk., 2023 : 30). Kereta Singa Barong yang telah dimuseumkan ini tidak semata-mata hanya menjadi tontonan, namun layaknya “regalia” maka abdi dalem keraton memiliki ritual “jamasan” yaitu memandikan Kereta Singa Barong, setelah kereta tersebut dimandikan kemudian disimpan lagi dalam ruang museum kemudian diberikan wewangian berupa bunga dan dupa. Saat ini Kereta Singa Barong masih eksis dan menjadi bagian dari komoditas industri pariwisata dengan konsep wisata magis (Suharno, dkk., 2024 : 274). Selain merambah dalam eksistensi pariwisata, kereta ini juga sebagai transportasi juga meluas dalam bidang dakwah maupun budaya. Eksistensi Kereta Singa Barong memberikan batasan atau aturan dalam perilaku masyarakat. Selain itu dalam ranah budaya, Kereta Singa Barong dapat digunakan sebagai alat komunikasi untuk berdialog mengenai kekuasaan, kekuatan, kesaktian, kehebatan seniman, dan mewakili kelompok komunitas lain baik pada bidang sejarah, sosiologi, arkeologi, ekonomi, dan lain-lain (Sumino, 2012: 87).

Komentar