Oleh:
Mifta Huljanah, Muh Luqman Aji Santoso, Muhammad Dzaki Najmi Fuadi, Muhammad Rafi,
Muhammad Syafnat Fu’aini, Muthiah Rosita Sugito & Nabila Fathiyannisa Nisrina
(Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta Angkatan 2021)

Museum Perumusan Naskah Proklamasi terletak di Jalan Imam Bonjol 1, Menteng, Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, jalan ini disebut Jalan Meiji Dori. Sebelum menjadi Munasprok, gedung ini merupakan kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda. Ia adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda selama Perang Pasifik. Laksamana Muda Tadashi Maeda sendiri merupakan sosok yang mempunyai peranan penting dalam kemerdekaan Indonesia, dimana ia mengijinkan rumahnya dijadikan tempat perumusan teks proklamasi Indonesia (Adryamarthanino dkk, 2021). Ia rela mempertaruhkan nasibnya demi mengizinkan rumahnya sebagai tempat perumusan teks proklamasi. Selain itu, kediaman Laksamana Maeda juga dirasa aman karena rumah tersebut memiliki hak imunitas terhadap Angakatan Darat Jepang (Adryamarthanino & Ningsih, 2022).
Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai 1 kita sebut dengan lantai bersejarah, kita sebut dengan lantai bersejarah karena semua Rangkaian peristiwa perumusan naskah Proklamasi itu terjadi di lantai 1 semuanya sedangkan lantai 2 itu dulunya hanyalah kamar-kamar tidur atau ruangan-ruangan tempat istirahatnya keluarga Tadashi Maeda, jadi kalau kita lihat Bagaimana ruangan-ruangan yang ada di museum ini itu
memang disesuaikan dengan keadaan ketika Maeda menempati bangunan ini kemudian di bagian belakang museum itu juga ada sebuah bunker yang atau ruang bawah tanah yang merupakan bagian juga dari bangunan ini dulunya, hingga saat ini keberadaan bunker masih ada (Aidil, 2024).
A. Sejarah Bangunan
Tidak ada informasi yang jelas tentang kapan persis gedung ini dibangun karena kurangnya catatan yang menunjukkan tanggal, bulan, dan tahun pembangunannya. Akan tetapi, diperkirakan bahwa gedung tersebut dibangun sekitar tahun 1920. Informasi tentang pemilik aslinya juga sangat terbatas. Namun, surat pengukuran No. 955 tanggal 21 Desember 1931 menyebutkan bahwa pemilik gedung adalah PT. Asuransi Jiwasraya Nilmy (Nederlands Levenzekerring Maatschappij), yang merupakan eks Hak Pakai Bangunan No. 1337/Menteng dengan lahan seluas 4380 meter persegi. Surat ukur Eigendom Ver Pounding No. 956 No. 17758 juga menjelaskan bahwa luas bangunan adalah 283 meter persegi. Sebelum Perang Pasifik meletus, gedung ini digunakan sebagai Konsulat Jenderal Inggris, dan fungsi ini tetap berlanjut sampai Jepang menduduki Indonesia. Pada zaman Hindia Belanda, gedung ini berlokasi di Jalan Nassau Boulevaard, namun selama pendudukan Jepang, nama jalan tersebut diubah menjadi Meiji dori, sesuai dengan kebijakan Jepang untuk men-Jepang-kan negara yang mereka kuasai. Gedung ini juga pernah menjadi tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda dan keluarganya, yang saat itu bertugas sebagai kepala kantor penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. Berdasarkan dokumentasi foto yang diberikan oleh Ibu Satzuki Mishima, di antara penghuni gedung terdapat Sugimura, Hirako, dan beberapa pembantu rumah tangga yang dikelola oleh Ibu Satzuki Mishima sebagai sekretaris urusan rumah tangga Maeda (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985 : 5).
Setelah kemerdekaan, bangunan ini ditempati pihak-pihak yang berbeda yang pertama dari pihak Inggris, ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia bangunan ini oleh Inggris dijadikan markas militer sampai akhirnya pada tahun 1949 terjadilah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh belanda sehingga bangunan bekas kolonial Belanda yang dulu punya penjajah diambil alih pemerintah Indonesia yang disebut aksi nasionalisasi ketika itu. Tapi pihak Indonesia tidak menggunakan bangunan ini secara langsung melainkan menyewakan bangunan ini, paling lama menyewa gedung ini adalah Inggris selama 20 tahun, dari 1961 sampai 1981 dijadikan rumah duta besar inggris sampai akhirnya tahun 1982-1983 sebagai kantor perpustakaan nasional sebelum akhirnya munculah ide bangunan ini dijadikan sebuah museum, dan baru diresmikan dijadikan museum pada tanggal 24 november 1992. Untuk usia bangunan ini sudah hampir 100 tahun karena dibangun pada tahun 1927 tapi sebagai museum baru sekitar 31 tahun (Aidil, 2024).
Pada tanggal 28 Desember 1981, gedung ini diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Selama beberapa waktu, pengelolaan gedung ini dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta. Tahun 1982, gedung tersebut digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai kantornya. Setelah itu, pada tahun 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu, Prof. Nugroho Notosusanto, memberikan perintah kepada Direktur Museum untuk mengubah gedung bersejarah tersebut menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Pada tanggal 26 Maret 1987, gedung ini akhirnya diserahkan kepada Direktorat Museum Umum, Direktorat Jenderal Kebudayaan, untuk tujuan digunakan sebagai tempat perumusan Teks Proklamasi (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985: 5).
B. Ruangan Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Museum Perumusan Naskah Proklamasi memiliki jadwal buka khusus untuk perawatan dan pelestarian koleksi. Setiap hari Senin dan hari libur nasional, museum ditutup untuk kegiatan ini. Pada hari-hari tersebut, petugas ahli di bidang kebersihan dan konservasi museum melakukan berbagai pekerjaan penting. Koleksi dilapisi dengan cairan atau bahan khusus untuk menjaga keawetannya. Hal ini juga menjadi alasan mengapa beberapa koleksi tidak boleh disentuh, karena keringat dan zat asam dari tangan pengunjung dapat merusak koleksi. Selain itu, renovasi dan pengecatan ulang dilakukan pada bagian museum yang catnya sudah memudar atau rusak. Upaya-upaya dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa koleksi museum tetap terawat dengan baik dan dapat dinikmati oleh pengunjung selama bertahun-tahun yang akan datang (Aidil, 2024).
Lantai 1 Museum Rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda difokuskan pada koleksi furnitur, selaras dengan fungsi aslinya sebagai hunian Laksamana Muda Tadashi Maeda. Koleksi yang dipamerkan di sini merupakan replika, bukan furnitur asli milik Laksamana Muda Tadashi Maeda. Dikarenakan Laksamana Muda Tadashi Maeda hanya tinggal di rumah ini hingga tahun 1945. Jangka waktu yang panjang antara tahun 1945 hingga museum didirikan pada tahun 1992, menyebabkan beberapa kali pergantian penghuni di gedung ini. Ketika museum didirikan, kondisi gedung ini kosong tanpa furnitur, bahkan di lantai atas yang dulunya berfungsi sebagai tempat peristirahatan pun tak ada kasur atau perabotan lainnya. Satu-satunya yang tersisa hanyalah lemari tembok yang masih utuh. Pengunjung museum dapat melihat langsung koleksi replika furnitur ini, merasakan atmosfer hunian Laksamana Muda Tadashi Maeda, dan memahami sejarah singkat penggunaan gedung ini (Aidil, 2024).
Menelusuri keberadaan barang-barang peninggalan masa lampau di Museum Perumusan Naskah Proklamasi merupakan sebuah usaha berkelanjutan. Pihak museum terus berupaya mencari informasi valid tentang keberadaan benda-benda bersejarah tersebut. Kemungkinan besar, beberapa barang telah berpindah tangan entah dibawa oleh penghuni terdahulu, mengalami kerusakan, atau bahkan dibuang. Upaya pelacakan ini menemui kendala minimnya informasi akurat. Sumber informasi utama yang diandalkan museum saat ini adalah kesaksian dari pelaku sejarah, seperti asisten rumah tangga Laksamana Tadashi Maeda, Ibu Satsuki Mishima. Beliau, yang masih hidup saat museum digagas di tahun 1980-an, menjadi saksi kunci kondisi rumah dan barang-barang di dalamnya (Aidil, 2024). Tim museum yang gigih melacak Ibu Satsuki di Jepang, akhirnya berhasil membawanya kembali ke Indonesia setahun kemudian. Kesaksian beliau yang masih tajam dan foto-foto yang beliau simpan menjadi landasan penting dalam memetakan tata pamer museum, merekonstruksi suasana persis seperti era Maeda. Upaya rekonstruksi ini dilakukan dengan cermat, menyamakan segala bentuk dan tata letak barang-barang agar sesuai dengan kondisi aslinya. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman imersif bagi pengunjung, seolah-olah mereka menjelajahi rumah Laksamana Maeda di masa lampau (Aidil, 2024).
Ruang pertemuan atau ruang tamu ini menjadi saksi bisu momen bersejarah ketika Laksamana Tadashi Maeda menyambut tiga tokoh penting: Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo, untuk merumuskan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 1945. Di kediamannya yang megah, Maeda didampingi oleh tiga asisten pribadinya yang setia. Ibu Satsuki Mishima, sekretaris pribadinya yang sebelumnya bekerja sebagai asisten rumah tangga, memiliki kamar khusus yang disediakan untuknya. Mioshi, penerjemah dan juru bicara, menemani Maeda saat menyambut para tokoh kemerdekaan. Sedangkan Nishijima bertanggung jawab atas urusan kedinasan dan militer, menjadi penghubung Maeda dengan Gunseikan (pemerintah militer Jepang). Mayoritas pegawai Maeda adalah orang pribumi, menunjukkan rasa hormatnya terhadap budaya dan masyarakat Indonesia (Aidil, 2024).
Sejak kedatangannya di Indonesia pada tahun 1930-an, Maeda telah banyak menjalin hubungan baik dengan para tokoh nasional, termasuk Soekarno dan Mohammad Hatta. Pengalamannya sebagai mata-mata di masa awal penjajahan Jepang memberinya pengetahuan mendalam tentang Indonesia, termasuk kelemahan Belanda yang kemudian dimanfaatkan Jepang untuk merebut kekuasaan. Istri Maeda, keturunan campuran Jepang dan Indonesia (diaspora), lahir di Bojonegoro, Jawa Timur. Pertemuan mereka mengantarkan mereka ke jenjang pernikahan dan dikaruniai seorang putra bernama Nishimura Toaji. Atas kontribusinya dalam mendukung kemerdekaan Indonesia, Maeda dianugerahi Bintang Nararya, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada mereka yang berjasa bagi bangsa Indonesia. Ruang dengan segala kisahnya, menjadi pengingat akan peran penting Maeda dalam perjalanan panjang kemerdekaan Indonesia. Keberadaannya menjadi bukti nyata persahabatan dan rasa saling menghormati antara dua bangsa, dan semangat kemerdekaan yang berkobar di dalam jiwa para pejuang Indonesia (Aidil, 2024).
Bapak Maeda, seorang perwira dan samurai Jepang, memiliki peran penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia di rumahnya. Alasan utama keterlibatannya berakar dari janji Jepang melalui Perdana Menteri Koiso pada September 1944 untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, dengan syarat membantu Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Meskipun Jepang kalah perang, Bapak Maeda tetap berpegang teguh pada janji tersebut. Ia terikat oleh kode etik samurai dan rasa hormatnya kepada tokoh-tokoh Indonesia yang telah menjalin hubungan dekat dengannya (Aidil, 2024).
Kecintaannya terhadap budaya Jawa dan keinginannya untuk membantu Indonesia merdeka menjadi pendorong kuat baginya. Meskipun membantu Indonesia berisiko besar, Bapak Maeda tidak gentar. Ia rela dipenjara dan diadili di Grogol atas tuduhan pengkhianatan negaranya. Namun, dengan pembelaan dari para asistennya, tuduhan tersebut tidak terbukti. Bapak Maeda hanya memfasilitasi pertemuan para tokoh Indonesia di rumahnya dan tidak ikut campur dalam proses perumusan kemerdekaan. Keterlibatan Bapak Maeda merupakan bukti nyata persahabatan dan komitmennya terhadap kemerdekaan Indonesia. Dia adalah contoh teladan seorang samurai yang menjunjung tinggi janji dan berani melawan arus demi membantu bangsa lain (Aidil, 2024).
Bapak Maeda memang mempersilakan rumahnya untuk digunakan, namun beliau tidak terlibat sama sekali dalam proses perumusan yang berlangsung di sana. Beliau hanya menyediakan fasilitas yang dibutuhkan, dan perlu diketahui bahwa rumah tersebut bukan milik pribadi melainkan rumah dinas. Ketiga pahlawan kita kembali dari Rengasdengklok pada pukul 10 malam, saat Jepang telah memberlakukan jam malam dengan tujuan yang jelas: membatasi pergerakan rakyat Indonesia. Jepang mulai menyadari pergerakan kaum muda Indonesia untuk meraih kemerdekaan, yang dilarang keras pada masa itu. Tempat-tempat pertemuan mereka, seperti Menteng 31 (sekarang Gedung Joeang), Gedung Mikrobiologi UI di Cikini, dan beberapa gedung lainnya, termasuk Hotel des Indes, telah dijaga ketat oleh tentara Jepang dan Kempetai (polisi militer Jepang). Jam malam ini memaksa para tokoh Indonesia mencari alternatif tempat pertemuan baru (Aidil, 2024).
Kebetulan, Pak Maeda mengizinkan menggunakan rumahnya. Oleh karena itu, hikmah dari situasi sulit di Jakarta saat itu adalah rumah Pak Maeda menjadi tempat paling aman. Ruang Perumusan Naskah Proklamasi menyimpan cerita menarik di balik momen kemerdekaan Indonesia. Naskah yang kita kenal sekarang bukan tanpa revisi, dan tahun yang tertera bukan tahun 1945, melainkan tahun Jepang. Hal ini karena saat itu Jepang menerapkan kalender mereka sendiri. Proses perumusan naskah penuh dengan perdebatan. Terlihat dari coretan pada naskah tulisan tangan Bung Karno, menandakan bahwa ketiga tokoh proklamator, yaitu Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo, berdiskusi mencari kata yang tepat untuk mewakili momen bersejarah ini (Aidil, 2024).
Kata “penyerahan” dicoret karena Jepang tidak menyerahkan kemerdekaan kepada Indonesia. Kata “pengambilan” pun dipertimbangkan, namun berisiko karena Indonesia saat itu dilarang merdeka. Akhirnya, dipilihlah kata “pemindahan” yang lebih netral. Kata “diusahakan” juga dicoret karena maknanya kurang tegas. Kemerdekaan adalah sesuatu yang harus segera diwujudkan, bukan diupayakan. Oleh karena itu, dipilihlah kata “diselenggarakan” yang lebih menunjukkan kepastian. Kecepatan proses perumusan naskah didorong oleh berbagai faktor (Aidil, 2024).

Gambar 1. Pertemuan Soekarno, Moh. Hatta, dan Achmad Soebardjo Sumber: Dokumen Tim Penulis, 28 Mei 2024
Berita kekalahan Jepang yang diterima pada 14 Agustus sore mendorong para pemuda mendesak Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus menjadi titik krusial, di mana Bung Karno diculik oleh para pemuda. Di sanalah kesepakatan antara para pemuda dan Achmad Soebardjo tercapai, dengan jaminan Soebardjo bahwa kemerdekaan akan diproklamasikan pada 17 Agustus. Naskah proklamasi sebenarnya sudah disiapkan sejak sidang BPUPKI ke-2. Namun, karena situasi yang mendesak dan baru pulang dari Rengasdengklok, naskah tersebut tidak ada yang membawa. Naskah yang kita kenal sekarang dibuat pada 17 Agustus pagi, di rumah Laksamana Tadashi Maeda (Aidil, 2024).
Rumah Rengasdengklok, tempat bersejarah di mana kesepakatan kemerdekaan Indonesia dibicarakan, adalah milik seorang Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Momen perumusan naskah proklamasi merupakan bukti semangat dan perjuangan para pahlawan kemerdekaan dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Naskah ini bukan hanya dokumen sejarah, tetapi juga simbol tekad bangsa Indonesia untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri (Aidil, 2024).
C. Bunker
Museum Perumusan Naskah Proklamasi, yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta, memiliki sejumlah ruangan yang bersejarah, termasuk sebuah bunker di halaman belakang museum. Bunker, menurut Frostburg State University, adalah tempat perlindungan bawah tanah yang diperkuat, yang biasanya digunakan selama perang (Fikri, 2023). Bunker ada sejak zaman Belanda. Dibangun untuk melindungi pejabat Belanda dari bom musuh. Walaupun Jakarta, yang saat itu masih dikenal sebagai Batavia, adalah pusat pemerintahan yang tidak mungkin dibombardir, namun bunker terus dibangun untuk mengantisipasi (Yustiana, 2015).
Pada masa Laksamana Muda Tadashi Maeda, Bunker ini adalah tempat di mana dahulunya Laksamana Maeda menyimpan barang-barang berharganya seperti dokumen penting kenegaraan ketika ia menjabat sebagai kepala penghubung Angkatan Laut dan Darat Jepang (Alayya, 2023). Bunker ini memiliki ukuran sekitar lebar 5 meter x panjang 3 meter x tinggi 1,5 meter, bunker tersebut memiliki ruang yang cukup besar untuk sekitar sepuluh orang yang bersembunyi di dalamnya. Pada masa sekarang, bunker ini sudah tidak digunakan hanya sebagai koleksi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, pengunjun bisa turun ke dalam bunker karena disediakan tangga logam untuk akses turun. Dulu di dalam bunker terdapat lorong untuk kabur, namun ketika dijadikan museum, lorong itu ditutup. Dapat dilihat ada lubang kecil seukuran badan manusia yang telah ketutup. Lubang bunker berukuran sekitar 50 cm x 50 cm. Saat ini bagian mulutnya sudah disemen, ketika pertama kali dibuat mungkin bentuknya tidak seperti itu (Susantio, 2017).
Bunker ini menjadi saksi peninggalan zaman Belanda yang masih hingga saat ini, bahkan menjadi saksi bisu perjalanan Bangsa Indonesia meraih Kemerdekaan Indonesia pada Tahun 1945. Meskipun bunker ini tidak digunakan secara langsung dalam proses perumusan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, keberadaannya menunjukkan betapa sulitnya keadaan dan ancaman yang dihadapi oleh para pejuang kemerdekaan. Bunker ini juga menunjukkan betapa pentingnya tempat yang aman di tengah-tengah konflik.

Gambar 2. lubang bunker yang ketutup Sumber: Dokumen Tim Penulis, 28 Mei 2024
D. Hubungan Museum Perumusan Naskah Proklamasi dengan Museum lain
Sejarah manusia pada dasarnya adalah serangkaian perjuangan manusia untuk mempertahankan eksistensinya, serta dalam rangka perjuangan untuk menggapai cita-citanya (Susilo dkk, 1991). Dalam kazanah Museum Kemerdekaan Indonesia, dapat kita lihat bahwasanya rangkaian peristiwa yang terjadi adalah sebuah rentetan kejadian yang saling berurutan mulai dari masa-masa perjuangan hingga kemerdekaan Indonesia. Dimana dalam hal ini bisa kita pahami secara seksama saat mengunjungi musuem-museum yang saling terkait. Dalam Museum perumusan naskah proklmasi ini kita diahadapkan dengan suasana saat penulisan naskah proklamasi yang mana terjadi di kediaman Laksamana Maeda. Museum ini hanya menceritakan sebagian dari proses kemerdekaan Indonsesia. Walaupun dijelaskan secara runtut namun rasanya saat berkunjung disini kurang afdal bilamana tidak berkunjungann di Musuem lainnya yang saling berhubungan dengan peristiwa kemerdekaan Indonesia.
Dalam memahami peristiwa sejarah khususnya peristiwa kemerdekaan Indonesia dapat kita pahami dengan berkunjung di beberapa museum yang berkaitan dengan museum perumusan naskah proklmasi ini. Rangkaian ini dimulai dari Museum Kebangkitan Nasional dimana dulunya adalah Gedung STOVIA yang menjadi saksi atas berdirinya organisasi Budi Utomo yang mengilhami gerakan untuk merumuskan gerakan masa pegerakan nasional. Organisasi Budi Utomo ini lahir pada tanggal 20 Mei 1908 di Museum ini atau dulunya adalah STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Dalam Musueum ini kita disajikan beberapa interior pada masanya dan juga kita diperlihatkan bagaimana perjuangan dr Soetomo dan teman-teman saat berada di STOVIA dalam memperjuangankan semangatnya dan menuangkan gagasannya dalam Budi Utomo. Museum ini berada di Jalan Abdul Rachman Saleh No. 26, Kacamatan Senen, Jakarta Pusat.

Gambar 3. Pintu Masuk Museum Kebangkitan Nasional Sumber: Dokumen Tim Penulis, 28 Mei 2024
Sejak berdirinya Budi Utomo, mulailah bermunculan organisasi-organisasi ataupun perkumpulan-perkumpulan yang menjadi awal mula dari persatuan dan kesatuan bangsa menuju kemerdekaan Indonesia. Adanya berbagai macam organisasi yang bermuculan tersebut, munculah dentuman yang menginisasi terjalinnya ikatan secara mendalam dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Peristiwa tersebut terjadi pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesisch Club-gebouw (IC) atau sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya No 106, Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Dalam peristiwa tersebut memunculkan ikrara yanb dikenal dengan Sumpah Pemuda serta Lagu Indonesia Raya juga pertama kali diperdengarkan kepada khalayak ramai. Dalam Museum tersebut terdapat beberapa diorama atupun beberapa patung yang menujukan tegangnya pada masa-masa sumpah pemuda tersebut. Ada beberapa Interior yang masih asli di pertontonkan di Museum tersebut sehingga kita seakan dibawa untuk masuk kedalam khitmatnya kongres pemuda II dan juga masa-masa Sumpah Pemuda.

Gambar 4. Bagian Depan Museum Sumpah Pemuda Sumber: Dokumen Tim Penulis, 28 Mei 2024
Pada masa pendudukan Jepang, gerakan Indonesia sudah mulai bersatu dan meninggalkan sifat kedaerahan karena sudah adanya berbagai macam organisasi dan khususnya adalah sumpah Pemuda. Pada masa Jepang inilah mulai dibentuk organisasi persiapan kemerdekaan serta organisasi kepemudaan yang mana pada awalnya untuk menarik simpati rakyat Indonesia, padahal sebenarnya digunakan Jepang sebagai bagian dari perencanaan bantuan militer miliknya. Akan tetapi memang, keberjalanannya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para pemuda Indonesia. Gerakan Indonesia pada masa pendudukan Jepang adalah gerakan bawah tanah yang mana biasanya memanfaatkan kelengahan Jepang dalam mengontrol organisasi ataupun perkumpulan kepemudaan. Khususnya kumpulan pemuda di Menteng 31.
Perkumpulan pemuda di Menteng 31 ini awalnya adalah markas Asrama Angkatan Baru Indonesia yang dipimpin oleh Soekarni dan Chairul Saleh. Gedung ini pada awalnya ditutup saat masa pen dudukan Belanda tepatnya pada tanggal 1 Maret 1934, akan tetapi pada masa pendudukan Jepang tahun 1944 dibuka kembali menjadi asrama pemuda (Susilo dkk, 1991). Gedung Menteng 31 ini digunakan oleh para pemuda revolusioner untuk kegiatan perumusan kemerdekaan dan juga untuk kursus politik yang mana pengajarnya adalah tokoh-tokoh bangsa seperti Ir Soekarno, Moh Hatta, Soebardjo Soediro, Sutan Sahrir, dan sebagainya (Susilo dkk, 1991). Dikarenakan hal tersebut Asrama tersebut diganti nama menjadi Asrama Indonesia Meredeka yang sekarang diubah menjadi Museum Gedung Joang 45. Dalam museum tersebut terdapat beberapa perlatan-peralatan peninggalan pejuang kemerdekaan seperti baju perang, senjata, dan sebagainya. Serta ada patung tokoh dan diorama perjuangan tahun 1945-1950an. Disana ada juga koleksi mobil dinas presiden pertama serta ada juga mobil yang menjadi saksi peristiwa Cikini. Museum Gedung Joang 45 berada di Jalan Menteng Raya 31, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Gambar 5. Bagian Depan Gedung Joang 45 Sumber: Dokumen Tim Penulis, 28 Mei 2024
Dalam Gedung Joang inilah para pemuda menjadikan markas Revolusioner menuju Kemerdekaan dan melatarbelakangi terjadinya peristiwa Rengasdengklok. Dimana para pemuda Menteng 31 yang berada di Gedung Joang 45 ini merencakan untuk mempercepat kemerdekaan karena telah mendengar berita kekalahan Jepang dan saat itu juiga berusaha menjauhkan Soekarno-Hatta dari hasutan Jepang. Maka dari itu, pada tanggal 16 Agustus 19456 peristiwa Rengasdengklok terjadi. Setelah adanya penculikan tersebut, Ahmad Soebarjdo berani menjamin kepada para pemuda untuk segera melakukan Proklamasi dengan secepatnya dan kemudian para pemuda beserta Soekarno-Hatta berangkat menuju Rumah Laksamana Maeda. Disanalah terjadi diskusi pemikiran untuk merancang naskah teks proklamasi. Rumah tersebutlah yang sekarang menjadi Museum bernama Museum Perumusan Teks Proklamasi yang mana dalan tulisan ini menjadi fokus utama pembahasan. Dalam museum tersebut terdapat beberapa ruangan yang berisikan diorama dalam penyusunan naskah proklamasi yang terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 sampai 17 Agustus 1945 dini hari. Yang mana, saat kita berada dalam ruangan-ruangan dalam museum tersebut kita seakan dibawa terjun dalam merumuskan naskah proklamasi. Museum tersebut berada di Jl. Imam Bonjol No.1, RT.9/RW.4, Menteng, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat.

Gambar 6. Depan Museum Perumusan Naskah Proklamasi Sumber: Dokumen Tim Penulis, 28 Mei 2024
Setelah Naskah Proklamasi dirumuskan sampai pagi hari di Rumah Laksamana Maeda, pada tanggal 17 Agustus 1945 terjadilah pembacaan Naskah Proklamasi di Kediaman Soekarno yang mana berada di Jalan Pegangsaan Timur 56 atau sekarang menjadi Gedung Pola, Jalan Proklamasi 56. Memang dalam peristiwa Kemerdekaan Indonesia, terjadi beberapa peristiwa penting yang menjadi alur satu kesatuan membentuk pola yang menghantarkan Indonesia menjadi Negara yang merdeka. Maka sudah selayaknya kita terus mengenang sejarah kemerdekaan dan mengambil nilai-nilai nasionalisme dari peristiwa tersebut. Museum Perumusan Naskah Proklamasi adalah salah satu dari Museum penting yang wajib kita kunjungi saat mengenang masa-masa Kemerdekaan Indonesia. Terhubungnya museum Naskah proklmasi dengan museum-museum lainnya menjadi signal bahwa tidak mudah dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Dan sudah selayaknya kita menjadi bagian dari pejuang dalam mempertahakan kedaultan Indonesia yang saat ini sudah berumur 79 tahun merdeka.
DAFTAR PUSTAKA
Alaya, S. I. (2023). Bunker Peninggalan Belanda di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menyimpan Rute Rahasia Bawah Tanah?.
Diakses dari: https://radartegal.disway.id/read/659183/bunke r-peninggalan-belanda-di-museum-perumusan-n askah-proklamasi-menyimpan-rute-rahasia-bawa h-tanah
Adryamarthanino,V. Nailufar, N. N. (2021). Museum Perumusan Naskah Proklamasi: Sejarah, Perkembangan, dan Isinya. Diakses dari :
https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/1 6/150755079/museum-perumusan-naskah-prokl amasi-sejarah-perkembangan-dan-isinya?page=al l .
Adryamarthanino,V. Ningsih, W. L. (2022). Peran Laksamana Maeda dalam Kemerdekaan Indonesia. Diakses dari:
https://www.kompas.com/stori/read/2022/03/0 4/130000379/peran-laksamana-maeda-dalam-ke merdekaan-indonesia?page=all
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. (1985). Penelitian Museologis Pendirian museum perumusan Naskah Proklamasi
Jakarta 1985/1986. Jakarta.
Fikri, D. T. (2023). Mengulik Bangunan yang Disebut Bunker, Apa Saja Peruntukannya?. Diakses dari:
https://nasional.tempo.co/read/1736363/mengu lik-bangunan-yang-disebut-bunker-apa-saja-peruntukannya.
Susantio, D. (2017). Bunker Rahasia Zaman Belanda di Museum Perumusan Naskah Proklamansi.
Diakses dari: https://www.kompasiana.com/djuliantosusantio/598b9d38f5591f5b8e46da52/ada-bunker-buata n-zaman-belanda-di-museum-perumusan-naska h-proklamasi?page=all#section1
Susilo, dkk. (1991). Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta.
Wawancara Aidil (Edukator Museum) 28 Mei 2024. Yustina, K. (2015). Kisah Bunker Misterius di Jantung Jakarta. Diakses dari:
https://travel.detik.com/domestic-destination/d-2992383/kisah-bunker-misterius-di-jantung-jakar ta

