Oleh: Nasta Ayundra Oktavian Mahardi (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNS Angkatan 2021)

Judul : Samber Nyawa: Kisah Perjuangan Seorang Pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Mangkunegara I (1726-1795).
Penulis : Merle Calvin Ricklefs
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit : 2021
Jumlah halaman : xlvi + 578 halaman
ISBN : 978-623-241-997-1
Buku ini merupakan biografi dari sosok flamboyan, Pangeran Senior dari Surakarta bernama Raden Mas Said atau biasa dikenal Mangkunegara (1726-1795). Sosok Mangkunegara merupakan sosok yang tidak pantang menyerah dan terus berjuang meskipun pada akhirnya ia mengalami kekalahan dan menjadi Pangeran Senior di Surakarta. Buku ini merupakan terjemahan dari buku aslinya yang berjudul Soul Catcher: Java’s Fiery Prince Mangkunegara 1, 1726-1795 yang diterbitkan oleh National University of Singapore pada 2018. Ricklefs dalam mekonstruksi kehidupan Mangkunegara menggunakan sumber-sumber primer seperti penggunaan arsip kolonial Belanda seperti catatan pejabat VOC dan arsip-arsip Jawa seperti Serat Babad Pakunegaran. Sumber yang disebut terakhir ini adalah catatan autobiografi yang ditulis oleh Mangkunegara pada masa damainya serta sudah tinggal di Surakarta pada tahun 1757. Dalam kesempatan ini, resensi buku akan difokuskan terhadap topik yang menurut penulis cukup penting. Topik ini adalah Perang Suksesi Jawa Ketiga yang berlangsung pada 1749-1757 yang melibatkan Mangkunegara, Mangkubumi, Pakubuwono II & III, serta VOC.
Perang Suksesi Jawa Ketiga (1749-1757)
Masa perebutan kekuasaan atau sukesi dalam kerajaan Mataram sering terjadi semenjal meninggalnya Sultan Agung (bertahta 1613-1645). Sebelum perang suksesi jawa yang ketiga ini, terdapat dua perang suksesi Jawa yakni tahun 1704-1708 dan 1719-1723. Setelah perang suksesi Jawa kedua, perdamaian sempat tercipta namun tidak bertahan lama karena pada tahun 1749 mulai pecah perang suksesi Jawa ketiga. Perang ini mempertemukan Pakubuwono II (bertahta 1726-1742) dengan bantuan Vereenidge Oostindische Compagnie (VOC) yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Timur Laut Jawa bernama van Hohendorff (menjabat 1748-1754) melawan Mangkunegara yang saat itu juga berkoalisi dengan Mangkubumi (1717-1792). Mangkubumi sendiri merupakan anak dari Amangkurat IV sekaligus paman dari Mangkunegara.
Mangkunegara dan Mangkubumi adalah lawan yang memperebutkan tahta kekuasaan Mataram yang setelah peristiwa Geger Pecinan (1742) Pakubuwono II banyak ditinggal oleh rakyatnya karena ia condong menudukung VOC dalam peristiwa tersebut. Oleh Mangkunegara dan Mangkubumi digunakanlah kesempatan ini untuk membangun aliansi untuk melawan Pakubuwono II dan VOC. Aliansi ini dibentuk karena Mangkunegara dan Mangkubumi melihat jika Pakubuwono II dan VOC juga membangun suatu aliansi untuk mengamankan suksesi keraton Kasunanan yang sudah berpindah dari Kartasura ke Surakarta (1745).
Mangkubumi melihat Mangkunegara sebagai sosok pemimpin militer yang cakap. Pernyataan ini juga divalidasi oleh Nicolaas Hartingh, Gubernur Jenderal Timur Laut Jawa yang menjabat 1745-1761. Dalam Kort Verhaal (KV) memoar yang ditulis oleh Nicolaas Hartingh untuk periode Perang Suksesi Jawa Ketiga, meneyebutkan jika Mangkunegara “Meskipun berperawakan kecil, semangat dan gairahnya terpancar dari matanya”. Aliansi ini semakin kuat dimana putri dari Mangkubumi, Ratu Bendara, dinikahkan oleh Mangkubumi dengan Mangkunegara. Hal ini lazim dilakukan oleh kaum elite Jawa untuk menikahkan anak maupun kerabatnya dengan aliansi-aliansinya untuk memperkuat posisi dan kedudukan politik mereka.
Aliansi ini memberikan impact yang nyata bagi Pakubuwono II dan Kompeni. Suksesi tahta dari Pakubuwono II kepada Pakubuwono III juga tak luput dari sasaran Mangkunegara dan Mangkubumi. Namun, Nicolaas Hartingh yang bertanggungjawab pada wilayah Jawa bagian Selatan ini akhirnya dapat “mengamankan” proses suksesi kepada Pakubuwono III dan raja Kasunanan Surakarta pertama yang dilantik oleh Kompeni adalah Pakubuwono III (bertahta 1749-1788) yang saat itu baru berumur 17 tahun. Mangkubumi oleh rakyat dan para kerabat termasuk Mangkunegara, diangkat menjadi Sunan Kabanaran di desa Kabanaran. Oleh Mangkubumi, Mangkunegara diangkat menjadi “Patih” kerajaan yang baru ini walaupun secara administari, kerajaan ini tidak memiliki “izin” dari VOC. Penobatan ini untuk mengganggu strategi Kompeni.
Namun aliansi ini tidak berjalan dengan baik, ada beberapa alasan yang menjadi latar belakang perseteruan antara Mangkunegara dan Mangkubumi. Posisi Mangkubumi sebagai raja semakin kuat di kerajaan barunya itu dan Mangkunegara di posisi sebagai pemimpin pasukan. Ini juga tercermin dari penggunaan strategi pertempuran yang berbeda, Mangkubumi yang lebih suka menerapkan strategi “Tabrak” langsung berbeda dengan Mangkunegara yang lebih menunggu dan mencari momen untuk menghabisi musuhnya. Lalu peristiwa ketika Mangkunegara melakukan tindakan yang membuat kecewa istrinya sekaligus putri dari Mangkubumi, Ratu Bendara, yakni ketertarikan Mangkunegara terhadap perempuan-perempuan. Mangkubumi yang melihat seperti ini pada akhirnya merasa kecewa dan marah, sehingga hubungannya dengan Mangkunegara menjadi renggang.
Perpisahan antara kedua sosok ini menjadi nyata pada tahun 1752 dan 1753 dengan adanya berbagai macam pertempuran diantara pasukan-pasukan mereka. Melihat hal ini, Kompeni merasa ini akan menjadi keuntungan karena melihat pasukan Mangkubumi yang mengalami kekalahan melawan pasukan Mangkunegara. Disini ada peluang jika Mangkunegara dapat beraliansi dengan VOC, namun permintaan Mangkunegara yang sangat sulit dikabulkan ini yang menjadi penghalang besar. Permintaannya berupa ia ingin menjadi raja di Kasunanan Surakarta, hal yang tidak bisa dilakukan oleh VOC karena Kompeni-lah yang menjamin suksesi di Kasunanan Surakarta. Di momen inilah, Mangkubumi melalui Syeikh Ibrahim, sosok dari Turki, menggunakan jalur negosiasi pada akhirnya mencapai kesepakatan untuk membagi kerajaan Jawa melalui Perjanjian Giyanti (1755) yang menobatkan Mangkubumi menjadi Sultan Hamengkubuwono I (bertahta 1755-1792) di wilayah separuh yang sudah dibagi. Perjanjian ini juga bertujuan untuk meredam dan melemahkan perlawanan Mangkunegara yang terus berkobar, walaupun pada akhirnya ia harus berjuang sendirian melawan Pakubuwono III, VOC, dan Mangkubumi.
Namun Pakubuwono III merasa terintimidasi oleh Mangkubumi yang baru saja dinobatkan sebagai Sultan Hamengkubuwono I. Mangkubumi masih memiliki keinginan untuk menguasai seluruh wilayah Mataram. Akhirnya Pakubuwono III melakukan negosiasi dengan Mangkunegara yang saat itu ia menyebutnya menjadi kakang atau kakak laki-laki untuk momong dan menjaganya karena Pakubuwono III merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Berkat inilah Mangkunegara bisa melakukan perdamaian yang kelak akan membagi lagi wilayah Mataran menjadi tiga bagian, Perjanjian Salatiga (1757). Mangkunegara datang ke Surakarta dengan memiliki 4.000 cacah dan membangun sebuah istana disana dan diangkat sebagai Pangeran Senior.


Buku ini sangat bagus