Views: 65
Views: 65

Seorang sejarawan muda Madiun yang terkenal dan memiliki hobi membaca, beliau merupakan Akhlis Syamsal Qomar, S.Pd., M.Pd. Beliau merupakan alumni Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret angkatan 2015. Sejak kecil beliau sudah tertarik pada dunia sejarah, sehingga beliau memutuskan untuk masuk di Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret. Beliau menyelesaikan studinya pada tahun 2019 dengan skripsi yang beliau angkat membahas tentang Perlawanan Raden Ronggo Prawirodirjo III Terhadap Belanda Tahun 1810 dan Relevansinya bagi Pengembangan Materi Mata Kuliah Sejarah Lokal. Beliau kemudian melanjutkan studi S2-nya di kampus almamater dengan fokus kajian sejarah lokal.
Beliau merupakan sejarawan muda yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Beliau telah menerbitkan buku best seller dengan judul “Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirdjo III dari Madiun, sekitar 1779-1810”, yang diterbitkan oleh KPG pada tahun 2022. Buku ini merupakan karya ketiga dari Trilogi Madiun raya. Dua buku sebelumnya berjudul Antara Lawu dan Wilis: Arkeologi, sejarah, dan Legenda madiun raya Berdasarkan Catatan Lucien Adam (Residen Madiun 1934-1938) yang telah terbit pada tahun 2021 dan buku berjudul Kisah Brang Wetan Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan (2021) yang merupakan terjemahan daru sumber terbitan awal abad ke-20 dalam Bahaa Belanda dan Bahasa Jawa. Dalam ketiga buku ini, beliau memiliki peranan yang berbeda-beda, yang pertama dalam buku berjudul Antara Lawu dan Wilis, beliau berperan sebagai Kontributor. Sedangkan di buku Kisah Brang wetan, beliau berperan sebagai ahli aksara. Sementara, pada buku Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta beliau berperan sebagai penulis utama.
Beliau merupakan seorang pekerja keras dan ulet dalam membangun spesifikasi keahlian, khususnya dalam mengangkat sejarah lokal. Beliau juga memiliki prinsip bahwa sebagai sejarawan atau seseorang yang bergerak di bidang sejarah haruslah memiliki sebuah keahlian atau spesifikasi. Tidak harus menguasai semua, namun harus memiliki sesuatu yeng benar-benar dikuasai. Jika ada yang bertanya tentang sejarah di Kota Solo misalnya, beliau mungkin tidak begitu menguasai, namun berkaitan dengan sejarah Kota Madiun beliau juaranya.
Dari kisah Akhlis Syamsal Qomar ini kita bisa belajar bahwa sebagai sejarawan dan orang-orang yang bergerak di bidang sejarah kalau bisa harus memiliki spesifikasi, tidak harus semua paham tapi harus memiiki sesuatu yang dikuasai. Selain itu, menjadi seorang sejarawan haruslah suka membaca dan sering-sering pergi ke tempat-tempat bersejarah untuk melihat secara lagsung, bukan hanya menghapal tahun dan nama-nama saja.
Berikut beberapa artikel mengeni kesuksesan beliau:
- Akhlis Syamsal Qomar: Sejarawan Muda yang Rajin Blusukan, biasa diakses melalui link https://radarmadiun.jawapos.com/madiun/801210271/akhlis-syamsal-qomar-sejarawan-muda-yang-rajin-blusukan
- Membaca Soedjatmoko, Melusuri Madiun yang bisa diakses melelui link https://kempalan.com/2022/10/08/membaca-soedjatmoko-menelusuri-madiun/
- Pemuda Madiun luncurkan Buku Banteng Terakhir kesultanan Yogyakarta yang bisa diakses melalui link https://jatim.solopos.com/pemuda-madiun-luncurkan-buku-banteng-terakhir-kesultanan-yogyakarta-ini-isinya-1444890
- Tulisan yang ditulis oleh Akhlis Syamsal Qomar yang berjudul Telaah Jaringan Tegalsari dalam Proses Islamisasi di Wilayah Madiun Selatan https://alif.id/read/asq/telaah-jaringan-tegalsari-dalam-proses-islamisasi-di-wilayah-madiun-selatan-b242011p/





